
Evelyn baru saja turun dari kamarnya bersama dengan keempat pelayan yang selalu setia mengikutinya. Kini Evelyn berjalan menuju ruang makan untuk sarapan pagi dan menemui suaminya yang pasti sudah ada di ruang makan. Karena saat terbangun tadi ia tak menemukan keberadaan suaminya itu di kamar.
“Apa Kenrick sudah keluar dari tadi?” tanya Evelyn pada Jessie yang kini berjalan di sampingnya.
“Sudah Nyonya,” ucap Jessie yang membuat Evelyn kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari pelayannya itu.
Jessie selalu setia berjalan di samping Evelyn sambil memapah ibu hamil itu untuk berjalan. Setelah sampai di lantai satu dengan lift yang sudah terbuka. Mereka segera berjalan ke arah ruang makan untuk menemui Kenrick.
Dan benar saja saat sampai di ruang makan ternyata disana sudah ada Kenrick
Namun keadaan hening juga atmosfer yang terasa berbeda membuat Evelyn yang baru saja masuk mengerutkan keningnya bingung. Dapat ia lihat kini Kenrick yang terus menatap ke arah depan dengan tatapan tajamnya. Evelyn sontak mengikuti arah pandang Kenrick yang bahkan membuat laki-laki tersebut tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun. Bahkan saat Evelyn datang.
“Ronald?” tanya Evelyn tak percaya saat melihat jika laki-laki yang berada di hadapan Kenrick ternyata adalah Ronald, sepupu sekaligus musuh Kenrick.
Keberadaan Ronald di rumahnya tentu saja membawa tanda tanya untuk Evelyn karena sebelumnya kedatangan Ronald ke rumahnya hanya membawa keburukan. Lalu untuk apa lagi sekarang laki-laki itu datang? Bahkan dengan begitu terang-terangan dan kini ia duduk di depan Kenrick.
“Duduklah,” perintah Kenrick yang kini membuat Evelyn semakin kebingungan. Namun tak urung ia tetap melakukan apa yang Kenrick perintahkan dan duduk di samping kanan laki-laki tersebut. Tempat yang biasanya ia duduki.
“Makanlah makananmu,” tegas Kenrick yang lagi-lagi hanya bisa Evelyn turuti. Walay rasanya kini ia makan dengan tidak nyaman karena dua laki-laki di sekitar nya yang kini terus saling menatap satu sama lain dengan tatapan begitu tajam.
Tak tahan lagi dengan apa yang kini dialaminya. Evelyn menghembuskan nafasnya kasar lalu meletakkan alat makannya dengan begitu keras hingga menciptakan suara yang sontak membuat kedua laki-laki tersebut menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejutnya.
“Apa yang kalian lakukan? Kalian mengganggu sarapan ku,” marah Evelyn dengan tatapan tajamnya menatap kedua laki-laki yang kini menatapnya dengan bingung dan penuh rasa bersalah.
“Kalian berbicara lah. Jika ada yang perlu diselesaikan maka bicara kan dengan baik. Kalian merusak mood pagi ku,” marah Evelyn yang setelahnya langsung meninggalkan Kenrick juga Ronald agar mereka bisa berbicara dan menyelesaikan masalah mereka.
Evelyn tak perlu merasa khawatir jika Kenrick diculik ataupun di pukuli oleh Ronald karena laki-laki itu lebih bisa menjaga dirinya. Akhirnya kini Evelyn memilih untuk menuju taman depan rumah nya.
“Kalian pergi saja. Aku ingin sendiri,” tegas Evelyn pada pelayan nya.
Mood nya kini benar-benar dibuat rusak oleh kelakuan Kenrick juga Ronald. Tak berani membantah Evelyn yang tengah berada dalam keadaan mood yang buruk. Tak ingin mengganggu Nyonya rumah nya itu akhirnya mau tak mau mereka langsung pergi dari sana dan membiarkan Evelyn untuk menenangkan diri.
Evelyn menghembuskan nafasnya kasar menikmati udara taman yang begitu menyejukkan dan dapat mengembalikan mood nya dengan baik.
“Mengapa kau hanya sendiri? Di mana Tuan Kenrick?” pertanyaan tersebut membuat Evelyn menoleh ke arah sampingnya yang kini sudah tak kosong lagi.
Seorang laki-laki kini duduk di samping Evelyn sambil mengerutkan keningnya bingung menatap Evelyn dengan penuh tanda tanya.
“Di dalam bersama Ronald,” ucap Evelyn santai.
Namun laki-laki di sampingnya yang tak lain adalah Sean kini memelototkan matanya lalu hendak beranjak dari tempatnya dan menghampiri Kenrick takut terjadi penyerangan di dalam sana. Namun baru saja ia berdiri, tangannya sudah ditahan oleh Evelyn.
“Biarkan saja, mereka butuh waktu untuk berbicara berdua,” ucap Evelyn dan menarik Sean untuk kembali duduk di tempatnya.
“Sudahlah Sean. Mereka akan baik-baik saja,” ucap Evelyn menenangkan.
Sean menghembuskan nafasnya kasar lalu menganggukkan kepalanya. Setidaknya itu yang saat ini dapat ia harapkan.
Sedangkan di dalam mansion, tepatnya di ruang makan kini mereka masih saja saling tatap seolah tak bosan dengan apa yang tengah mereka lakukan.
Kenrick menghembuskan nafasnya kasar sambil berdecak kasar. Ia sudah tak tahan lagi dengan keadaan sekarang. Bahkan ia membuat istrinya marah karena tingkah mereka yang begitu kekanakan ini.
“Ck! Cepat katakan. Apa yang kau inginkan?” tanya Kenrick dengan begitu sinisnya pada Ronald yang kini tersenyum dengan begitu lebar pada sepupunya itu.
“Kau menyerah juga hm?” tanya Ronald dengan senyuman licik nya yang membuat Kenrick hanya memutar bola matanya malas mendengar jika Ronald menganggap jika apa yang mereka lakukan adalah sebuah pertarungan.
“Cepat katakan apa yang kau inginkan?” tanya Kenrick yang mulai malas menanggapi Ronald yang menurutnya begitu kekanakan itu.
Ronald menghembuskan nafasnya dalam sebelum akhirnya ia memulai ucapannya yang cukup membuat Kenrick terkejut mendengarnya, “Aku ingin meminta maaf padamu.”
Ucapan yang begitu tak pernah Kenrick duga akan keluar dari mulut Ronald. Setelah permusuhan mereka yang begitu lama kini Ronald akhirnya meminta maaf? Kenrick tak bisa mempercayainya begitu saja. Kini bahkan Kenrick menaikkan sebelah alisnya. Lalu menyeringai dengan begitu sinisnya.
“Apa yang kau inginkan? Atau apa rencanamu?” tanya Kenrick menaikkan sebelah alisnya. Senyuman sinisnya mengembang dengan begitu sempurna.
“Tak ada. Kali ini aku tulus meminta maaf pada mu,” ucap Ronald sambil menundukkan kepalanya.
Setelah apa yang dia lakukan pada Kenrick ternyata ia sadar semua adalah kesalahannya yang ternyata hanya menghancurkan keluarganya sendiri dengan tingkah bodohnya itu.
“Kau pikir aku akan percaya begitu saja?” tanya Kenrick menaikkan sebelah alisnya.
Ronald menganggukkan kepalanya. Ia tahu, Kenrick pasti tak akan mempercayainya begitu saja. Apa lagi setelah apa yang telah ia lakukan pada laki-laki tersebut juga pada Evelyn/.
“Aku tahu, pasti sulit untuk mu mempercayaiku begitu saja. Setelah apa yang aku lakukan. Namun Kenrick percaya lah. Kali ini aku begitu tulus mengatakannya,” ucap Ronald tegas.
“Tentang kakakmu, bukan aku yang menghamilinya,” ucap Ronald yang kini langsung membuat Kenrick menatap Ronald tak percaya.
Kenrick kini sudah berdiri dari tempatnya lalu menghampiri Ronald. Dengan matanya yang sudah memerah karena amarahnya Kenrick mencekal kerah leher Ronald.
“Setelah apa yang kau lakukan pada kakak ku, kau mengatakan itu bukan anakmu?” tanya Kenrick dengan amarahnya.
Ronald sama sekali tidak melepaskan cekalan tangannya Kenrick dari kerah leher nya. Ia membiarkan saja Kenrick melampiaskan amarahnya. Ia tahu fakta yang baru saja ia katakan pasti begitu memukul telak Kenrick.
“Kakak mu di perkosa,” ucapan Ronald selanjutnya membuat Kenrick tercekat bahkan tangannya yang tadi mencekal Ronald begitu erat kini terlepas begitu saja. Kakinya terasa begitu lemas dan kini ia sudah bersimpuh di hadapan Ronald dan hal tersebut membuat Ronald terkejut langsung ikut bersimpuh di samping Kenrick.
***