Mafia's woman

Mafia's woman
Tak Mau Pisah



“Sean, apa kau akan terus mengawasi kita di sana? Apa kau tak memiliki pekerjaan?” pertanyaan yang begitu sarkas itu keluar dari mulut Kenrick. Kenrick kini tengah duduk di samping Evelyn, sambil bercerita banyak hal pada gadis tersebut namun Evelyn hanya meresponnya dengan anggukan.


Hal tersebut saja sudah membuat Kenrick kesal, dan kini ditambah dengan Sean yang malah terus melihat ke arah mereka sambil bersedekap dada dan menyilangkan kakinya di sofa. Benar-benar membuat Kenrick semakin kesal, padahal sedari tadi ia sudah menahan amarahnya karena Evelyn yang hanya merespon dengan anggukan atau dekheman.


“Harusnya kau sadar Tuan. Selama berada di New York kau begitu sibuk dengan Nyonya hingga kau lupa untuk memberitahu kantor New York untuk mempekerjakan ku. Dan pekerjaan ku di Las Vegas sudah kau serahkan semuanya pada Denis juga Niar,” ucap Sean bersungut kesal pada tuannya tersebut yang kini menelan ludahnya susah payah sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Evelyn yang mendengar keluhan Sean tersebut hanya menggelengkan kepalanya. Karena memang semenjak ia di bertemu dengan Kenrick dan Evelyn masih di rawak Kenrick memang tak pernah meninggalkannya, padahal Evelyn sudah sering mengusirnya namun laki-laki tersebut malah tak peduli.


“Aku akan melakukannya nanti,” sungut Kenrick kesal lalu kembali menghadap ke arah Evelyn sambil membukakan kulit jeruk Evelyn. Setelahnya ia menyodorkan buah jeruknya pada Evelyn, Evelyn hanya diam saja dan menerimanya. Ia masih tak memiliki tenaga rasanya untuk melawan Kenrick. Ia juga ingin melihat kesungguhan Kenrick.


“Maka untuk kali ini, biarkan saja aku berada di sini,” ucap Sean yang kini kembali menatap gerak-gerik kedua atasannya tersebut. Sebenarnya ia begitu terluka melihat hal tersebut karena bagaimanapun ia mencintai Evelyn namun melihat Evelyn yang tanpa lebih baik dari sebelumnya ia merasa begitu senang.


Di samping Evelyn, kini Kenrick menatap Sean dengan tatapan menyelidiknya saat melihat bagaimana Ekspresi yang Sean tampilkan untuk Evelyn.


“Bisakah kau tak tersenyum seperti itu?” tanya Kenrick dengan begitu ketus pada Sean yang kini hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan posesif dari Kenrick.


“Bisakah kau diam Kenrick? Kau terlalu banyak berkomentar,” ucap Evelyn yang sudah jengah melihat tingkah Kenrick. Mendengar ucapan Evelyn, kini Kenrick melihat ke arah Evelyn dengan tatapan memelasnya namun Evelyn hanya menghembuskan nafasnya kasar sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan tersebut.


 “Pergilah ke Kantormu dan bekerja dengan benar, bawa Sean bersamamu juga,” ucap Evelyn dengan begitu tegasnya seolah tak menerima bantahan.


“Tapi bagaimana dengan mu? Kau sendiri!” ucap Kenrick yang tak ingin untuk meninggalkan Evelyn sendiri di ruangannya.


“Kau bahkan menyiapkan banyak pengawal di luar, dan kau berkata aku sendiri?” tanya Evelyn dengan menatap Kenrick dengan tatapan seriusnya.


Memang selama dua hari Evelyn berada di rumah sakit, Kenrick memang meyiapkan banyak penjaga yang berjaga di depan kamarnya.


“Kau menjaga ku sudah seperti menjaga tahanan saja,” dengus Evelyn dengan kekesalannya pada Kenrick yang kini menggaruk tengkuknya mendengar ucapan Evelyn.


“Bawa mereka juga bersama mu. Dan kalian pergilah sekarang atau aku tak akan memaafkan kalian,” tegas Evelyn seolah tak menerima bantahan. Kenrick menghembuskan nafasnya kasar sambil berdiri dan hendak pergi begitu pula dengan Sean.


“Jaga dirimu, baik-baik. Aku pergi dulu, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku,” ucap Kenrick. Baru saja laki-laki itu hendak mencium kening Evelyn namun Evelyn segera menghindar membuat Kenrick menghela nafasnya kasar dan akhirnya hanya mengelus puncak kepala Evelyn sayang.


Setelah kepergian Kenrick juga Sean, Evelyn menghembuskan nafasnya kasar sambil menggelengkan kepalanya, Kenrick memang begitu posesif dan begitu keras kepalanya. Meskipun mendapatkan berbagai penolakan dari Evelyn namun laki-laki itu tak menyerah dan tetap saja berusaha untuk mendapatkan Evelyn.


Evelyn kini memilih untuk membaca majalan tentang kehamilan, hingga tak lama suara pintu dibuka membuat Evelyn mengalihkan tatapannya hingga dapat ia lihat Jessie bersama Nancy kini berdiri di depannya dengan senyuman harunya.


“Nyonya kau membuat ku khawatir,” ucap Jessie yang kini berjalan mendekat ke arah Evelyn yang membuat Evelyn tersenyum ke arah Jessie juga Nancy. Kenrick memang begitu keras kepala. Tahu jika Evelyn akan menoleh jika jarus dijaga oleh pengawal kini ia malah mengirim pelayannya untuk menjaga Evelyn. Sepertinya laki-laki tersebut memang tak ingin jika Evelyn sampai kabur lagi hingga mengirim dua pelayannya untuk menjaga Evelyn.


“Maaf sudah membuat kalian khawatir,” ucap Evelyn dengan senyuman tulusnya. Dapat Evelyn lihat di mata Jessie jelas tergambar surat khawatir layaknya seorang ibu pada anaknya. Memang jika bersama dengan wanita paruh baya tersebut ia seperti bersama dengan ibunya.


“Evelyn,” suara teriakan yang bersamaan dengan pintu yang terbuka membuat Evelyn segera menoleh dan mendapati kedua sahabatnya yang kini terlihat kebingungan melihat keberadaan Jessie juga Nancy.


Jessie dan Nancy cukup di buat terharu karena Evelyn bukan memperkenalkan mereka sebagai pelayan tapi sebagai keluarga.


“Kau baik-baik saja? Aku begitu khawatir saat mengetahui jika apartemen mu kebakaran,” ucap Livi yang kini sudah berdiri di samping Evelyn yang hanya tersenyum sambil mengelus tangan sahabatnya tersebut berusaha untuk menenangkan.


“Aku tak apa. Lift ku mati jadi saat sampai di atas perut ku kram dan beruntung ada Kenrick yang langsung membawa ku ke rumah sakit. Namun sayang karena amarahnya laki-laki itu malah membakar apartemen ku,” ucap Evelyn menjelaskan yang sontak membuat kedua sahabatnya menganga mendengar ucapan Evelyn. Tentu mereka tak terbiasa dengan info seperti itu. Berbeda dengan kedua pelayan Evelyn yang sudah terbiasa mendengar aksi gila dari tuannya itu apalagi jika sudah menyangkut miliknya yang begitu ia sayangi.


“Lalu bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Ivey khawatir.


“Aku sudah membaik, dan besok sudah diperbolehkan untuk pulang,” ucap Evelyn dengan senyumannya yang membuat kedua sahabatnya tersebut tersenyum senang mendengarnya.


“Baguslah jika begitu,” ucap Livi sambil mengelus perut Evelyn.


“Ah ya, kemarin Karel mencari mu ke rumah ku,” ucap Livi sambil berbisik pada Evelyn karena Livi tahu jika kedua perempuan yang berada di sana adalah pelayan meskipun Evelyn mengatakan jika mereka adalah keluarga. Dan Livi tak ingin membuat keributan jadi lebih baik ia berbisik saja pada Evelyn.


“Biarkan saja. Aku sudah melupakannya,” ucap Evelyn dengan senyumannya yang membuat Livi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Mereka terus saja berbincang banyak hal, terkadang mereka juga bercerita bagaimana Evelyn selama berada di Las Vegas dari cerita Jessie yang begitu menarik untuk mereka.


***


Thanks For Reading All.


Semoga kalian suka ya sama cerita ini.


Maaf ya cuma bisa up 1 bab untuk hari ini. Karena aku lagi kurang sehat jadi belum bisa untuk nulis.


Kalian jaga kesehatan ya.


Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.


Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.


Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.


So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.


See you next chapter all.