
Evelyn dan Kenrick kini tengah berada di taman belakang mansion sambil melihat hewan peliharaan Kenrick yang kini sudah besar-besar. Beberapa hari lagi status mereka akan berubah menjadi suami istri secara sah di mata hukum dan agama mereka.
“Kenrick, kau sudah membebaskan pamanku?” tanya Evelyn tiba-tiba kala mengingat tentang pamannya yang masih belum ada kabar. Evelyn kini tengah bersandar pada dada bidang Kenrick dengan Kenrick yang mengelus puncak kepala wanita nya tersebut sayang.
“Sesuai permintaanmu, Sayang. Pamanmu akan datang untuk mengantarmu ke altar,” ucap Kenrick dengan tangannya yang masih mengelus puncak kepala Evelyn sayang. Kenrick memang meminta sudah membaskan paman wanita nya tersebut, bahkan Kenrick juga sudah memberinya pekerjaan di New York.
"Terima kasih Kenrick,” ucap Evelyn yang kini memejamkan matanya dan menikmati pelukan Kenrick yang begitu nyaman.
Bersama dengan Kenrick memang membuatnya merasa nyaman. Evelyn rasanya tak ingin untuk melepaskan pelukan mereka, takut jika Kenrick akan meninggalkannya.
“Apapun untukmu. Apa kau begitu mencintai pamanmu?” tanya Kenrick sambil menaikkan sebelah alisnya penasaran dengan jawaban apa yang akan Evelyn berikan padanya.
"Tentu saja! Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki,” jawab Evelyn dengan senyuman sendunya. Pamannya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Pamannya adalah orang yang telah merawatnya saat ia tak lagi memiliki orang tua.
“Bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Kenrick penasaran. Mereka menyadari meskipun mereka sudah beberapa bulan bersama mereka masih belum mengenal satu sama lain lebih dalam. Kenrick begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Evelyn.
"Mereka sudah meninggal dari aku berusia tujuh tahun,” ucap Evelyn dengan tatapan sendunya kala mengingat tentang kedua orang tuanya yang meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Ingatan Evelyn kembali pada kejadian yang menimpa keluarganya saat usianya baru menginjak tujuh tahun. Kala itu Evelyn bersama dengan keluarganya tengah berlibur saat liburan musim panas. Mobil yang dikendarai oleh keluarganya melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang kala itu hujan.
Mobil yang awalnya dipenuhi dengan tawa dan candaan dari keluarga tersebut harus berganti dengan ketegangan saat ayahnya mendapat telepon jika rekan ayahnya yang berprofesi sebagai detektif meninggal karena dibunuh. Karena terlalu terkejut dan bingung ayahnya sampai tak memperhatikan jalan hingga sebuah mobil bermuatan menabrak mobil keluarganya.
Ibu Evelyn yang melindungi dan memeluk Evelyn untuk menghindari benturan justru ia lah yang terkena benturan hingga mengakibatkan kedua orang taunay meninggal. Evelyn tahu jika hal tersebut ada hubungannya dengan kematian teman ayahnya tersebut. Namun Evelyn memilih untuk tidak mengetahuinya dan membiarkan hidupnya untuk maju tanpa melihat masa lalu. Meskipun ia begitu ingin untuk mengungkapnya.
Cerita tersebut mengalir begitu saja hingga tanpa sadar air mata Evelyn sudah mengalir membasahi pipi tirus dan putih milik gadis tersebut.
“Maaf membuatmu sedih,” ucap Kenrick sambil menangkup wajah Evelyn dan menghapus air mata wanitanya tersebut. Ia tahu pasti sulit bagi Evelyn untuk mengingat kembali kejadian yang menimpanya itu.
"Tak masalah. Kau sebentar lagi menjadi suamiku. Jadi kau harus mengetahuinya,” ucap Evelyn yang kini tersenyum dengan begitu lembut pada Kenrick, namun Kenrick tahu senyuman tersebut menyimpan banyak luka di dalamnya. Ditinggalkan kedua orang tua sedari kecil pasti menjadi pukulan yang berat untuk Evelyn.
“Paman adalah orang yang merawat ku selama ini,” ucap Evelyn dengan senyumannya. Kenrick mengulum bibirnya menatap Evelyn dengan tatapan seriusnya namun terkesan sinis dan arogan.
“Menjagamu adalah jaminan hidupnya,” ucap Kenrick yang membuat Evelyn tak mengerti dengan maksud dari ucapan laki-laki tersebut.
"Maksudmu?” tanya Evelyn menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman yang terasa begitu hambar dan penuh tanda tanya.
“Kau tahu jika pamanmu menjualmu?” tanya Kenrick dengan tatapan serisyunya pada Evelyn yang kini malah meledakkan tawanya mendengar ucapan Kenrick tersebut. Tentu saja ia mengetahuinya karena semua itu terjadi di depan wajahnya.
"Itu karena kau yang memaksaku ikut denganmu. Padahal aku sudah bilang akan membayarnya jika aku bekerja,” ucap Evelyn dengan sisa tanya dan berdecih pada Kenrick yang kini sama sekali tidak tertawa. Bahkan kini laki-laki tersebut sudah menatap Evelyn dengan begitu seriusnya. Evelyn terdiam tahu jika ada yang salah.
“Pamanmu benar-benar menjualmu dalam artian sebenarnya. Semua yang terjadi malam itu hanyalah drama. Aku yang membuat semuanya terlihat seperti itu,” ucap Kenrick serius. Evelyn terdiam dengan senyuman hambarnya sebelum gadis tersebut tertawa dengan hambar. Namun tak lama wanita tersebut menghentikan tawanya saat merasa jika Kenrick serius mengatakannya. Tak ada ekspresi yang laki-laki tersebut tampilkan selain rasa bersalahnya.
"Apa yang kau maksud Kenrick?” tanya Evelyn dengan kini menatap Kenrick dengan tatapan sendunya. Ia berharap jika apa yang Kenrick katakan hanyalah sebuah candaan. Namun melihat ekspresi laki-laki tersebut Evelyn tahu jika Kenrick kini tengah serius mengatakannya.
“Ini benar Evelyn. Saat itu pamanmu datang padaku dan menjualmu,” ucap Kenrick serius. Evelyn terdiam, tercekat mendengar ucapan Kenrick. Ia tak percaya jika paman yang selama ini menjaganya dengan baik dapat melakukan hal seperti itu?
"Tapi bagaimana bisa paman melakukan itu?” tanya Kenrick dengan senyuman yang mlah terlihat sendu. Kini Evelyn mengerti saat di penjara mengapa pamannya begitu merasa bersalah dan memintanya untuk pergi dan akan menjadikan dirinya saja sebagai bayaran atas apa yang ia lakukan.
“Dia membutuhkan uang untuk kesenangannya. Hutangnya juga sangat banyak. Tapi aku tahu kini ia begitu menyesal,” ucap Kenrick sambil memegang tangan Evelyn untuk memberikan ketenangan juga kekuatan pada wanitanya tersebut. Saat di penjara Kenrick memang begitu melihat bagaimana paman Evelyn yang sudah menyesali perbuatannya. Bahkan saat Kenrick mengeluarkannya dari penjaga, laki-laki tersebut malah menolak dan meminta agar Kenrick melepaskan Evelyn saja. Namun tentu Kenrick menolaknya dan malah melarang paman Evelyn untuk datang menemui Evelyn. Itulah sebabnya mengapa Paman Evelyn belum menemuinya hingga kini.
"Bagaimana bisa dia menukarku dengan uang? Dan mengapa kau menyembunyikan ini dariku?” tanya Evelyn dengan tanpa sadar kini air matanya sudah membanjiri pipi putihnya tersebut.
“Aku tak ingin membuatmu bersedih Evelyn. Saat itu aku datang ke club. Aku mendengar semua kesedihan yang tengah kau alami,” terang Kenrick menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
"Ah iya, aku ingat kau ada di sana,” ucap Evelyn yang samar-samar mengingat Kenrick walau saat itu ia tengah dalam keadaan sedikit mabuk namun ia cukup mengingatnya dengan baik.
“Ya, awalnya aku memang mau menjemputmu. Tapi aku mendengar semua yang kau bicarakan dengan sahabatmu. Jujur, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Disisi lain, aku merasa tidak tega karena kau baru saja dikhianati kekasihmu. Hingga aku membuat semua drama itu agar kau tidak semakin sedih,” ucap Kenrick jujur. Sebelumnya ia tak pernah memikirkan tentang perasaan orang lain. Namun berbeda saat ia mengenal Evelyn. Ia merasakan begitu banyak perasaan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Ia seperti orang tak memiliki rasa yang akhirnya mengerti sebuah rasa.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.