Mafia's woman

Mafia's woman
Hancurnya Pernikahan



Steve tak ada hentinya menembaki orang-orang yang menghalangi jalan mereka. Hingga akhirnya Mereka sampai di ujung jalan menuju lift darurat yang hanya bisa digunakan oleh Kenrick dan orang-orang kepercayaannya.


“Nyonya ayo saya bantu,” ucap seorang wanita sambil menggapai tubuh Evelyn untuk membantunya.


Evelyn menoleh ke arah sumber suara yang ternyata disana sudah ada Jessie yang menunggu mereka. Melihat Evelyn yang kesusahan dengan gaunnya, wanita itu segera membantunya. Mereka segera memasuki lift tersebut dengan menghela napas lelah.


"Kenapa semua jadi begini?” tanya Evelyn dengan air matanya yang tak bisa lagi ia tahan. Ia benar-benar takut saat ini. Adegan yang sebelumnya hanya pernah ia tointon dalam sebuah film kini malah ia sendiri yang mengalaminya.


“Sepertinya mereka adalah orang-orang Ronald,” ucap Steve yang sontak membuat Evelyn menoleh ke arah laki-laki yang kini menyandarkan tubuhnya di dinding lift tersebut. Steve kini merasa benar-benar lelah setelah begitu banyak yang harus ia hadapai


"Semua ini salahku. Bahkan di hari pernikahanku semua jadi kacau,” ucap Evelyn dengan tangisnya. Keadaan ini ternyata semakin kacau.


“Tenanglah Nyonya,” ucap Jessie berusaha untuk menenangkan atasannya tersebut sambil mengelus pundak Evelyn.


“Tak perlu menyalahkan diri sendiri Nyonya. Semua sudah terjadi,” ucap Steve yang kali ini juga ikut menenangkan Evelyn.


"Bagaimana dengan Kenrick? Aku tidak mau kehilangan Kenrick,” ucap Evelyn dengan suaranya yang sudah bergetar. Ia tiba-tiba saja teringat dengan calon suaminya tersebut. Ia begitu takut terjadi sesuatu pada Kenrick.


“Percayalah Nyonya, tuan akan baik-baik saja,” ucap Steve dengan lembut. Bahkan kini ia juga tak tahu apa yang terjadi pada Tuannya. Namun ia yakin, jika Tuannya akan baik-baik saja mengingat laki-laki tersebut memang sering menghadapi situasi seperti ini.


“Tuan malah akan marah saat melihat Anda masih di sini,” tegas Jessie. Kini ia berharap nyonya tersebut tidak keras kepala seperti biasanya.


“Tempat ini tidak aman Nyonya. Tuan akan marah saat melihat Anda berada dalam bahaya,” kali ini Steve yang memberikan penegasan. Evelyn terdiam mencerna apa yang terjadi. Ia tak menyangka pernikahan yang ia harapkan akan indah malah seperti adegan film action.


"Tapi, aku tak akan pergi tanpanya," ucap Evelyn dengan air matanya yang terus saja meluncur.


"Nyonya untuk saat ini menurutlah. Tuan baik-baik saja. Ada Sean dan Max bersamanya," tegas Steve. Ia tentu tak ingin membuat tuan dan Nyonya nya tersebut berada dalam bahaya. Jika Evelyn berada di sana wanita tersebut hanya akan menambah pikiran Kenrick.


"Aku tak bisa berpikiran baik saat keadaan seperti ini. Ini semua kesalahanku dan sekarang aku menempatkan Mereka dalam masalah ini." Evelyn sudah menangis sejadi-jadinya, Jessie membawa wanita tersebut dalam pelukannya menenangkan Evelyn  dalam dekapannya.


"Bagaimana aku bisa meninggalkan Kenrick dalam bahaya?" Tanya Evelyn sambil menggelengkan kepalanya kuat. Ia begitu takut kehilangan Kenrick karena kesalahan yang ia perbuat.


"Nyonya, tuan bisa menjaga dirinya. Jika Anda menghampiri tuan itu  akan lebih bahaya!" Tanpa sadar Steve menggunakan nada tingginya pada Evelyn membuat Evelyn sadar jika Evelyn hanya beban untuk Kenrick. Evelyn langsung menumpahkan air matanya. Jessie yang kasihan melihat wanita tersebut segera memeluknya lagi.


"Maafkan aku Nyonya. Aku tidak bermaksud untuk membentakmu," seal Steve karena sudah berbicara tidak sopan pada atasannya sendiri dan membuat Evelyn tak berhenti menangis.


"Tidak, kau benar. Aku hanya beban untuk Kenrick," ucap Evelyn dengan sendu. Melihat hal tersebut membuat Steve jadi merasa bersalah.


"Tidak Nyonya, bukan itu maksudku," ucap Steve menyesal. Ucapannya begitu menyakiti Evelyn. Steve meraup wajahnya kasar.


"Sudahlah lebih baik sekarang kita segera pergi," tegas Jessie karena lift sudah hampir terbuka. Saat pintu mulai terbuka, Steve sudah siaga untuk melindungi dua wanita di belakangnya.


Evelyn akhirnya hanya mengangguk hingga tak lama Mereka akhirnya sampai di bagian belakang hotel. Di sana sudah ada mobil Kenrick yang menunggu. Mereka segera masuk ke dalam mobil. Steve sesekali melawan orang yang terus menghadang Mereka, sepertinya memang pasukan yang Ronald bawa begitu banyak.


 ***


Dalam perjalan suara tembakan tak ada hentinya terdengar membuat Evelyn memejamkan mata.


"Nyonya anda baik-baik saja?" Jessie menatap khawatir ke arah Evelyn saat melihat wajah wanita tersebut  yang sudah pucat.


"Aku baik-baik saja," ucap Evelyn menenangkan. Ia kini hanya tengah ketakutan juga merasa pusing.


Di belakang mobil Mereka, ada mobil lain yang mengikuti. Mereka tak lain adalah orang suruhan Ronald.


"Mengapa Ronald melakukan ini? Apa Ronald berusaha merebutku dari Kenrick?" Tanya Evelyn sambil sesekali melihat kebelakang. Ia benar-benar takut berada dalam keadaan seperti ini


"Ck! Aku mengatakan apa yang aku pikirkan," kesal Evelyn karena merasa diremehkan. Walau memang ia cukup percaya diri.


"Mengapa Anda bisa berpikir seperti itu Nyonya?" Tanya Steve yang akhirnya penasaran dengan pikiran atasannya tersebut.


"Apa Ronald mengatakan itu pada Nyonya?" Jessie juga ikut penasaran dengan asal dari pikiran Nyonya itu.


"Dia mengatakannya saat membantuku kabur.Dia juga menciumku di depan Kenrick," jelas Evelyn yang kini sontak membuat mereka terkejut, satu hal yang mereka tahu. Ronald begitu berani. Mencium Evelyn di depan Kenrick adakah cara bunuh diri paling tidak elit.


"Apa dia mengatakan jika dia ingin merebut Nyonya?" Tanya Steve penasaran yang Evelyn balas dengan gelengan. Steve dan Jessie sontak bingung mendengar nya.


"Tidak, ia hanya mengatakan menginginkanku. Sebagai balasan karena telah membantu ku untuk kabur," jelas Evelyn yang dijawab dengan anggukan mengerti.


"Aku tak yakin tentang hal itu hanya saja… Sepertinya ia masih tak terima dengan apa yang tuan lakukan," papar Steve menyampaikan pemikirannya. Evelyn diam sejenak sebelum menjawabnya dengan anggukan. Mungkin memang karena apa yang Steve ucapkan.


"Dan Apa karena itu tuan hingga membawa ******?" Tanya Jessie penasaran yang Evelyn balas dengan anggukan. Jika mengingat saat itu ia jadi begitu marah pada Ronald.


"Aku pikir saat itu ia hanya ingin membuat tuan marah," lagi-lagi kini Steve menengahi.


Evelyn menghela nafas gusar hingga mobil melaju dengan kecepatan penuh.


Steve terus menembak ke arah belakang hingga peluru tersebut mengenai ban mobil orang suruhan Ronald.


"Lebih cepat bawa mobilnya!" Perintah Steve dengan tegas.


Mereka berhasil kabur, hingga tak lama, Evelyn berhenti di sebuah hutan dan melihat sebuah mobil berwarna hitam menunggu.


"Siapa mereka Steve?" Tanya Evelyn dengan mengerutkan keningnya bingung melihat banyak pengawal yang berada di sana.


"Ayo turun Nyonya kita tak bisa pergi dengan mobil ini," ajak Steve pada Evelyn.


Steve mematikan ponselnya lalu segera meletakkannya di dalam mobil yang tadi Evelyn gunakan. Sebelumnya laki-laki itu sudah menghapus semua data yang berada di sana. Begitu pun dengan sopir yang ikut dengannya ia melakukan hal yang sama seperti Steve.


"Kalian tidak membawa ponsel bukan?" Tanya Steve pada kedua wanita tersebut.


Evelyn dan Jessie kompak menggeleng membuat Steve mengangguk lalu segera membantunya untuk masuk ke dalam mobil yang baru. Evelyn mengerutkan kening bingung saat mobil bukannya melaju ke depan tapi malah berputar arah. Mereka seperti memiliki rencana yang sudah matang.


****


Thanks For Reading All.


Semoga kalian suka ya sama cerita ini.


Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.


Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.


Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.


So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.


See you next chapter all.