
Sore ini Evelyn tengah berada di ruang tamu sambil menikmati es krim yang baru saja dibelikan oleh Kenrick sambil menonton televisi, sedangkan Kenrick sedang pergi ke kantor karena ada pekerjaan yang harus laki-laki itu urus.
“Nyonya di depan ada dua tamu yang ingin menemui Anda,” ucap Jessie yang baru saja datang.
Mendengar seorang pelayan berbicara padanya membuat Evelyn menoleh ke arah Jessie sambil mengerutkan kening.
"Siapa?” tanya Evelyn mengerutkan keningnya. Kakinya yang semula luruh kini sudah turun karena jelas tak akan sopan jika di lihat oleh tamu.
“Katanya mereka adalah sahabat Nyonya,” ucap Jessie yang membuat Evelyn mengangguk dan kembali meluruskan kakinya karena kini ia tengah duduk di sofa panjang. Jika sahabatnya tentu ia tak usah memikirkan sopan santun lagi.
"Suruh mereka masuk,” perintah Evelyn yang segera membuat Jessie mengangguk patuh.
“Baik Nyonya,” ucap Jessie sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya benar-benar pergi untuk memanggil kedua tamu Evelyn untuk masuk, karena kini mereka menunggu di depan gerbang utama. Jelas memang tak bisa sembarang orang yang bisa masuk ke mansion tersebut, mengingat identitas Kenrick. Laki-laki tersebut juga begitu menjaga keluarganya.
Jessie memerintahkan pengawal yang berjaga di depan pintu mansion untuk memerintahkannya agar menghubungi penjaga di gerbang agar membawa kedua tamu Evelyn itu masuk. Mengingat jarak antara gerbang dan mansion yang cukup jauh.
Evelyn kini masih setia memakan es krim nya dengan santai sampai menonton televisi di depannya. Hingga tak lama dapat Evelyn dengar suara langkah kaki yang berjalan memasuki ruang keluarga. Evelyn segera menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sahabatnya yang kini tengah tersenyum ke arahnya.
“Bagaimana kabar mu Eve?” tanya Livi yang kini berjalan ke arah Evelyn bersama dengan Ivey. Ivey langsung memeluk Evelyn bergantian dengan Livi.
"Kau tenang saja, aku baik-baik saja,” ucap Evelyn dengan senyumannya memperlihatkan dirinya yang tampak begitu baik.
“Kau terlihat sangat baik,” uap Ivey dengan senyumannya sambil melihat Evelyn yang kini sudah seperti Nyonya rumah.
Evelyn menjawabnya dengan anggukan sambil tersenyum karena memang semenjak Kenrick datang Evelyn merasa begitu baik.
“Aku mendengar apartemenmu mengalami kebakaran saat kau masuk rumah sakit waktu itu,” ucap Ivey yang memang baru mengetahui tentang kebakaran tersebut. Padahal kejadiannya sudah terjadi beberapa waktu yang lalu.
"Benarkah apartemenku mengalami kebakaran? Wah sayang sekali.” Evelyn hanya menjawabnya dengan wajah tampa ekspresinya sambil terus memakan es krim yang kini berada dalam pelukannya.
Ivey menjawabnya dengan anggukan sedangkan Livi tengah asik memakan es krim miliki Evelyn.
“Kau tahu ekspresimu itu bukan seperti orang terkejut,” sarkas Ivey. Bahkan Ivey tak menyangka dengan ekspresi tersebut, ia pikir Evelyn akan heboh karena masih banyak barangnya yang berada di sana.
"Lalu aku harus seperti ini? Wah benarkah apartemenku kebakaran?” Evelyn membuat wajah terkejut yang dibuat-buat membuat kedua sahabatnya itu memutar matanya malas sedangkan Evelyn hanya tertawa.
"Kenrick yang melakukannya,” ucap Evelyn dengan santai saat melihat wajah kedua sahabatnya yang sudah tak enak di lihat.
“Tunggu bagaimana maksudmu?” tanya Ivey yang masih tak menyadari apa maksud dari ucapan Evelyn. Atau lebih tepatnya ia kini begitu terkejut mendengar fakta yang baru di ucapkan sahabatnya tersebut hingga ia begitu sulit mencerna ucapan dari Evelyn.
“Apa Kenrick yang membakarnya?” tany Livi memperjelas ucapan dari sahabatnya tersebut. Evelyn menjawabnya dengan anggukan sambil menghabiskan es krimnya, sedangkan kedua sahabatnya kini berhasil dibuat tercengang mendengar jawaban Evelyn yang begitu santai.
“Gila bagaimana dia melakukan itu dan mengapa?” tanya Livi yang tak habis pikir dengan tingkah dari suami sahabatnya itu.
“Bukankah kalian tahu alasan ku masuk rumah sakit? Dan karena itulah Kenrick melakukannya,” jelas Evelyn yang kini hanya membuat kedua sahabatnya geleng-geleng kepalanya. Tak menyangka jika Kenrick bisa melakukan hal segila itu karena lift mati yang mengakibatkan Evelyn masuk rumah sakit.
“Suamimu benar-benar gila,” ucap Livi yang dijawab dengan anggukan oleh Ivey.
“Dia sangat mencintaimu,” ucap Ivey kagum. Evelyn membalasnya dengan anggukan. Ia pun tahu sikap posesif Kenrick memang karena laki-laki tersebut yang begitu mencintainya. Perasaan takut kehilangan yang akhirnya membuatnya menjaga Evelyn dengan begitu ketat. Tak membiarkan wanitanya terluka sedikitpun.
“Dia memang benar-benar mafia,” kagum Livi yang sepertinya masih begitu mengagumi sikap Kenrick.
"Kua tahu itu,” ucap Evelyn yang membuat mereka mengangguk.
“kau benar-benar hidup seperti ratu sekarang,” kagum Ivey melihat bagaimana kehidupan Evelyn saat ini. sahabatnya yang dulu harus bekerja dengan keras untuk mendapatkan uang kini tak perlu melakukannya lagi. Bahkan hanya dengan duduk santai saja Evelyn bisa membeli apapun. Namun tentu di balik itu semua, ada Kenrick yang bekerja begitu keras untuk istrinya tersebut.
"Mungkin ini yang dinamakan seorang wanita akan menjadi ratu. Jika bertemu dengan laki-laki yang tepat.” Evelyn membanggakan Kenrick. Laki-laki yang dulu pernah ia jelek-jelekkan pada sahabatnya tersebut kini ia malah sudah berubah membanggakannya. Dunia memang berputar.
“Sepertinya aku juga harus mencari laki-laki seperti Kenrick,” ucap Livi yang kin malah mulai memimpikan laki-laki seperti Kenrick untuknya. Melihat kehidupan Evelyn yang begitu baik tentu ia menginginkannya juga. Memangnya siapa yang tak ingin ada di posisi Evelyn?
“Evelyn, bolehkah aku menjadi selir Kenrick,” ucap Ivey menawarkan diri. Namun jelas kini ai hanya bercanda juga mengatakan maksud tersembunyi di dalamnya. Jika Evelyn begitu beruntung memiliki Kenrick dan banyak orang yang rela bertukar posisi pada nya.
"Kau bukan kriterianya. Dia suka yang perawan,” canda Evelyn yang membalas ucapan Ivey.
“Kau memang sangat pintar mencari celah seseorang,” sinis Ivey yang lalu membuat kedua sahabatnya tertawa mendengar ucapan dari Ivey.
"Ayolah Ivey ini adalah fakta.” Evelyn dan Livi terkekeh melihat wajah kesal Ivey. Menggoda gadis itu memang sudah menjadi hobi mereka.
“Aku akan menggodanya awas saja kau,” ancam Ivey yang jelas hanya sebuah candaan. Ia tak akan mungkin melakukannya karena Evelyn adalah sahabatnya dan ia tak mungkin mengkhianati sahabatnya itu.
"Kau berani melakukan itu? Memang yakin Kenrick akan berminat?” tanya Evelyn dengan bangganya.
Ivey: Mengapa tidak? Kau sebentar lagi akan gemuk. Tidak akan langsing lagi aku akan datang dan merayu Kenrick.
"Aku berani bersumpah akan memasukkanmu ke kandang harimau Kenrick,” kejam Evelyn dengan tatapan tajamnya yang malah membuat Ivey tertawa mendengarnya.
“Kau sangat kejam setelah bersama Kenrick,” ucap Ivey dengan tawanya yang hanya membuat Evelyn menatapnya datar.
“Sepertinya laki-laki itu sudah mengajarinya menjadi kejam,” ucap Livi yang kini malah ikut menggoda sahabatnya tersebut.
"Kalian sangat menyebalkan.” Evelyn menatap kesal ke arah kedua sahabatnya itu yang kini sudah meledakkan tawanya.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Maaf ya cuma bisa up 1 bab untuk hari ini. Karena aku lagi kurang sehat jadi belum bisa untuk nulis.
Kalian jaga kesehatan ya.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.