Mafia's woman

Mafia's woman
Rasa Pedih



Memikirkan Kenrick yang tak juga kunjung semakin membuat Evelyn khawatir. Bahkan kini wanita tersebut sudah kembali menangis. Belakangan ini Evelyn memang sedang begitu sensitif, sepertinya tamu bulanannya akan segera datang hingga membuatnya begitu sensitif.


Saat Evelyn tengah menangis di dalam kamarnya tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Mendengar suara pintu kamar yang terbuka Evelyn dengan segera mendongak berharap yang datang adalah Kenrick namun saat melihat yang datang adalah Maxi Evelyn menghembuskan nafasnya kasar.


"Jika kau datang hanya untuk menghinaku lebih baik kau pergi,” ucap Evelyn mengusir laki-laki paruh baya yang kini menatap Evelyn dengan datar tersebut. Evelyn memilih untuk mengalihkan pandangannya agar tak melihat laki-laki paruh baya yang sekarang pasti tengah mengejek nya tersebut.


“Kenapa? Apa aku tak boleh datang untuk itu?” tanya Maxi yang terdengar begitu mencemooh bagi Evelyn. Evelyn sontak melihat ke arah laki-laki paruh baya tersebut dengan tatapan sendunya.


"Apa salahku padamu Max? Kenapa kau sangat membenciku?” tanya Evelyn dengan lirih, ia tak memiliki tenaga hanya sekedar untuk beradu argumen dengan laki-laki paruh baya tersebut namun sepertinya perdebatan ini tidak dapat untuk di hindari. Evelyn tak tahu apa yang ia lakukan pada Maxi hingga laki-laki tersebut begitu membencinya.


“Sudah aku katakan bukan, apa yang membuatku membencimu. Kau selalu saja menciptakan masalah. Kau sungguh keras kepala!” sarkas Max yang begitu menohok bagi Evelyn. Sepertinya laki-laki tersebut memang begitu alih untuk berkata sarkas dan menyakiti hati orang. Atau memang semua keluarga ini memiliki mulut pedas yang sama?


"Ya kau benar aku memang keras kepala, tapi aku melakukan ini untuk Kenrick,” ucap Evelyn yang masih ingin membela dirinya. Evelyn melakukan semua ini memang untuk Kenrick namun cara nya begitu gegabah hingga membuat masalah baru.


“Untuk membuatnya marah atau untuk menambah masalahnya?” tanya Max dengan sinis.


"Aku tak tahu jika semua akan begini,” ucap Evelyn yang kini tanpa sadar air matanya sudah mengalir membasahi pipi putih wanita tersebut.


“Berhentilah bersikap sok tahu dan keras kepala. Sikapmu itulah yang mengakibatkan masalah ini,” ucap Max tegas. Mendengar ucapan Max, Evelyn terdiam, setelah kepergian Max wanita tersebut kembali menangis dalam malamnya. Rasa khawatirmu pada Kenrick semakin besar.


Saat jam sudah menunjukkan pukul satu lebih. Evelyn mendengar suara deru mobil yang memasuki kediaman mewah milik Kenrick. Evelyn begitu hafal dengan deru mobil yang sering digunakan Kenrick itu.


"Kenrick datang!” ucap Evelyn lalu air matanya.


Evelyn segera berlari menuruni tangga untuk memastikan jika Kenrick baik-baik saja . Saat sampai di depan ruang tamu Evelyn dibuat terkejut dengan pandangan yang tersaji di depannya.


"Kenrick,” ucapan Evelyn terhenti ia tak bisa lagi untuk mengeluarkan suaranya. Laki-laki tersebut kini baik-baik saja namun Evelyn menatap nanar pada Kenrick yang kini tengah mabuk sambil membawa seorang wanita dengan pakaian seksi.


“Nyonya, aku akan mengurus wanita itu,” ucap Sean saat melihat kedatangan Evelyn. Melihat Evelyn yang benar-benar kacau ia begitu kasihan melihat Nyonya nya tersebut dan kini Kenrick malah datang bersama seorang wanita.


Sean berjalan ke arah Kenrick dan melepaskan Kenrick dari wanita tersebut. Namun bukannya terlepas Kenrick justru memukul rahang Sean. Kenrick begitu marah karena Sean mengganggu kesenangannya sedangkan wanita yang Kenrick bawa tersebut kini tersenyum kemenangan.


“Apa yang kau lakukan Sean? Beraninya kau ingin mengganggu kesenanganku!” marah Kenrick pada Sean yang kini tersungkur ke lantai. Steve yang juga berada di sana segera membantu Sean.


“Tuan jangan seperti ini. Nyonya melihatmu,” peringat Steve pada Kenrick yang kini menaikkan sebelah alisnya hingga tatapannya kini terarah pada Evelyn dengan senyuman sinisnya.


“Nyonya?” tanya Kenrick yang kini berjalan mendekat ke arah Evelyn sambil membawa wanita dalam rangkulannya tersebut. Tatapan meremehkan yang Evelyn dapat dari dua orang di depannya tersebut membuat Evelyn ingin sekali rasanya untuk menenggelamkan mereka berdua.


“Apa jlang ini yang kau maksud Nyonya? Dia tak pantas menjadi Nyonya di rumah ini. Dia hanya wanita murahan yang aku pelihara, sama seperti wanita gedung selatan dulu,” ucap Kenrick sambil mencengkram pipi Evelyn. Evelyn hanya diam saja namun tatapan tajam wanita tersebut menyiratkan kemarahan.


Baru saja Kenrick akan mendorong Evelyn, Sean yang entah sejak kapan berdiri dibelakang wanita tersebut menahan pundak Evelyn agar tidak terjatuh..


“Baiklah, Tuan kau benar. Dia tak pantas menjadi Nyonyamu. Kalau begitu biarkan dia menjadi Nyonyaku. Dan wanita ****** ini yang menjadi Nyonyamu,” ucap Sean dengan begitu berani. Walau laki-laki tersebut begitu cuek dan dingin pada Evelyn namun Evelyn tak menyangka jika laki-laki tersebut yang akan membela dan menjaga nya saat Kenrick bahkan mempermalukannya di depan seorang wanita malam.


Mendengar ucapan Sean, Kenrick melepaskan wanita yang berada di rangkulannya itu lalu menatap tajam pada Sean.


“Beraninya kau!” marah Kenrick tak terima mendengar ucapan Sean. Tentu Kenrick tak akan membiarkan Evelyn dimiliki laki-laki lain selain dirinya. Evelyn adalah miliknya namun amarahnya seolah membuatnya lupa dengan fakta tersebut.


Kenrick hampir saja memukul Sean kembali, tapi wanita tersebut yang dibawa oleh Kenrick malah memeluk Kenrick dari belakang.


"Dasar jlang…” marah Evelyn berteriak murka pada wanita yang dengan berani memeluk laki-laki nya tersebut.


Evelyn berjalan mendekati wanita tersebut lalu melayangkan tamparan padanya. Hingga wanita itu hampir saja terhuyung ke belakang jika Kenrick tidak menahannya.


“Hei! Berani sekali kau menamparnya,” marah Kenrick pada Evelyn yang sudah berani memukul wanita yang ia bawa. Ego laki-laki tersebut begitu tinggi hanya karena salah paham ia sampai menyakiti wanitanya sendiri.


“Karena kau hampir mencelakainya,” marah Kenrick. Kini mereka sudah saling meninggikan suara menghiraukan yang lainnya.


"Apa aku tak boleh menyentuhnya?” tanya Evelyn dengan begitu sinis. Bahkan kini senyuman wanita tersebut sudah terlihat sinis.


“Ya, kau tak boleh melakukannya. Kau tak memiliki hak untuk melakukan itu,” terang Kenrick yang malah membuat Evelyn semakin menatap tajam pada Kenrick. Ia tak menyangka jika Kenrick bisa mengatakan hal tersebut padanya.


"Itu adalah hakku. Kau adalah calon suamiku,” ucap Evelyn dengan amarahnya yang semakin memuncak.


“Calon suami? Kau sudah sepakat untuk membatalkannya,” ucap Kenrick yang membuat Evelyn membeku mendengarnya begitupun dengan ketiga orang lain yang berada di sana yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pertengkaran tersebut.


"Kau sungguh ingin melakukan itu?” tanya Evelyn dengan tatapan sendunya pada Kenrick.


Air mata sudah membanjiri pipi indahnya merasa kecewa juga terpukul dengan apa yang Kenrick ucapkan. Kenrick terdiam melihat air mata wanita nya tersebut yang ia akibatkan membuatnya merasa bersalah namun ego menekan semua perasaan tersebut.


“Kau pikir aku hanya bercanda? Kau pikir aku tak bisa melakukannya?” sinis Kenrick pada Evelyn yang kini hanya bisa menangis. Ia sudah meletakkan hatinya untuk Kenrick namun apa kali ini ia harus kembali di khianati?


"Aku tahu kau sedang mabuk Kenrick. Kau benar-benar melukai perasaanku Kenrick,” ucap Evelyn lihir. Evelyn memukul dadanya yang begitu sesak seperti ada sesuatu yang mengganjal dadanya.


“Lalu bagaimana dengan perasaanku?” lirih Kenrick sambil memegangi dadanya yang tak kalah sesak.


"Kau tahu aku melakukan itu untukmu,” lirih Evelyn berharap Kenrick akan kembali.


“Aku tak memintamu melakukan itu. Apa kau ingin menunjukan harga diriku yang rendah. Dengan memintamu memohon pada Ronald?” tanya Kenrick yang masih salah paham dengan maksud Evelyn yang sebenarnya tak seperti itu..


"Apa yang kau bicarakan Kenrick?! Kau terlalu berpikiran sempit!” ucap Evelyn yang tak mau kalah dalam argumennya.


“Lalu kau sendiri. Apa yang kau pikirkan saat melakukan itu?” tanya Kenrick sinis. Seorang wanita yang tak seharusnya melihat pertengkaran tersebut kini malah di buat bingung juga takut apalagi saat melihat dua ajudan Kenrick yang terus menatapnya tajam


"Baiklah, tak masalah jika itu yang kau mau. Maka biarkan Sean membawaku,” ucap Evelyn menghapus kasar air matanya lalu hendak pergi dari sana bersama Sean. Kenrick yang mendengar ucapan tersebut memelototkan matanya.


“Kau berani melakukan itu Sean?” tanya Kenrick pada Sean dengan tatapan mengancam nya.


“Jika anda sudah tidak menginginkannya biarkan Nyonya bersama saya,” ucap Sean datar. Jika sebelumnya ia begitu marah pada Evelyn karena melibatkannya dalam masalah maka kini ia sendirilah yang menyerahkan dirinya pada masalah itu hanya untuk membantu Evelyn.


“Sialan kalian!” marah Kenrick yang langsung menghempaskan wanita yang sedari tadi ia rangkul tersebut. Evelyn yang sudah hendak pergi bersama Sean sontak tersentak kala Kenrick yang malah menarik tangannya dan menggendong Evelyn seperti karung beras untuk ia bawa menuju kamarnya. Evelyn terus memberontak namun Kenrick sama sekali tidak peduli. Amarah kini sudah menguasainya.


***


Thanks For Reading All.


Semoga kalian suka ya sama cerita ini.


Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.


Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.


Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.


So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.


See you next chapter all.