
Saat sampai di Mall, Evelyn memilih untuk langsung menuju tempat perlengkapan bayi. Matanya berbinar saat melihat pakaian bayi yang terlihat begitu lucu. Selama ini ia hanya sering untuk berbelanja secara online saja.
“Apa jenis kelamin anakmu?” tanya Livi yang kini mulai memilih pakaian bayi untuk keponakannya itu. Namun ia tak mengetahui apa jenis kelamin anak dari sahabatnya itu membuat ia bingung memilih pakaian untuk calon keponakannya itu.
“Mau laki-laki atau perempuan aku akan menyukainya,” ucap Evelyn dengan senyuman misteriusnya yang membuat Livi kini bedecih mendengar ucapan dari sahabatnya itu.
“Aku yakin kau akan menjadi ibu yang baik,” komentar Livi yang membuat Evelyn mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan dari sahabatnya itu.
" Terima kasih Livi,” ucap Evelyn dengan senyumannya.
“Kau tak pernah mengeceknya?” tanya Livi dengan menaikkan sebelah alisnya. Ia tak menyangka jika Evelyn tak pernah memeriksakan jenis kehamilan anaknya itu. Padahal ia tahu jika Kenrick sepertinya adalah orang yang cepat sekali penasaran.
" Pernah, hanya saja saat itu masih belum terlihat jelas dan baru perkiraan saja. Jadi aku memutuskan untuk tidak lagi memeriksakannya. Aku ingin menjadikan ini kejutan,” ucap Evelyn menjelaskan.
Memang Evelyn dan Kenrick tak jadi untuk memeriksakan kehamilannya karena setelah membujuk Kenrick, ia berkata ingin merahasiakan jenis kelamin anaknya saja sebagai kejutan. Awalnya Kenrick menolak namun, akhirnya setelah Evelyn membujuknya dengan berbagai cara. Kenrick menyetujuinya.
“Lalu kau sudah tahu?” tanya Livi mengerutkan keningnya bingung yang di balas dengan anggukan oleh Evelyn.
“Ya. Namun aku akan merahasiakannya. Dan aku ingin menjadikan ini kejutan,” ucap Evelyn dengan cengirannya yang membuat Livi hanya memutar bola matanya malas.
“Baiklah kalau begitu aku beli yang netral saja,” ucap Livi yang hanya dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh Evelyn. Karena ia juga takut prediksi saat itu salah dan anaknya ternyata bukanlah seperti tang dokter waktu itu katakan. Mengingat saat ia memeriksa kan nya, bayinya belum jelas terlihat.
" Ide yang bagus atau kita bisa membeli untuk laki-laki perempuan,” usul Evelyn yang Livi balas dengan anggukan.
Tanpa terasa mereka sudah membeli banyak sekali barang hingga kesusahan membawa. Mereka benar-benar menghabiskan banyak waktu hanya untuk membeli banyak barang bayi untuk anak Evelyn.
Terlalu semangat untuk membeli barang bayi hingga membuat mereka gelap mata saat mengambiol banyak sekali barang bayi.
“Tak bisakah kau membantuku membawanya?” tanya Livi yang sudah mulai kesusahan membawa barang belanjaan mereka. Padahal beberapa sudah mereka minta agar di antar saja ke rumah Evelyn.
" Kau tak lihat aku saja sudah kesusahan membawa perutku?” tanya Evelyn sambil memamerkan perut besarnya. Livi menghela nafasnya kasar merutuki diri mengapa harus mengajak sahabatnya itu berbelanja jika tahu akan kesusahan seperti ini. Lebih baik ia berbelanja sendiri. Apalagi dengan taruhan nyawa dari Kenrick.
“Sudah tahu kesusahan membawa perutmu. Mengapa kau masih saja nekat keluar Sayang?”
***
“Sudah tahu kesusahan membawa perutmu. Mengapa kau masih saja nekat keluar Sayang?” mendengar suara bariton tersebut sontak membuat kedua wanita itu membalikkan tubuhnya dengan senyuman tanpa dosa. Terlihat di belakang mereka Kenrick yang berdiri sambil bersedekap dada. Menutupi rasa takut nya kini Evelyn dan Livi hanya menatap Kenrick dengan senyuman sebaik mungkin.
"Sayang, kau disini?” tanya Evelyn yang pura-pura terkejut dan tidak merasa bersalah sama sekali. Meskipun sebenarnya kini tengah menahan rasa takut nya karena lagi-lagi mereka ketahuan. Livi kini semakin mengencangkan doa nya berharap jika tuhan mau membantunya untuk lolos dari Kenrick.
“Ayo pulang. Bantu Livi membawa belanjaan itu,” perintah Kenrick pada Steve yang kini mengikuti Tuannya itu. Tanpa mau menjawab pertanyaan Evelyn yang baginya hanya untuk menutupi kesalahannya. Kenrick dengan segera merangkul wanitanya itu untuk segera pergi dari sana.
“Baik Tuan!” ucap Steve dengan patuh. Lalu setelahnya laki-laki tersebut langsung mengambil alih belanjaan yang dibawa oleh Livi. Dengan canggung Livi menyerahkan apa yang di bawanya pada Steve.
“Terima kasih,” ucap Livi yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Steve. Mereka setelahnya langsung pergi untuk mengikuti Kenrick dan Evelyn yang kini sudah berjalan lebih dulu meninggalkan mereka.
Steve dan Livi berjalan di belakang Kenrick dan juga Evelyn. Tak ada yang mereka bicarakan. Saling terdiam dan mendengarkan pembicaraan Kenrick dan Evelyn saja.
“Mengapa kau sangat nakal Sayang? Aku sudah melarangmu keluar dari rumah,” ucap Kenick dengan helaan nafasnya menatap Evelyn dengan tatapan kesal nya karena wanita nya itu suka sekali membangkang apa yang ia perintahkan.
Ingin sekali ia marah pada Livi yang menjadi teman Evelyn untuk pergi namun ia berusaha mengontrolnya karena tak ingin jika Evelyn yang malah marah padanya. Lagi pula ia tahu pasti Evelyn yang memaksa Livi untuk keluar dari kediamannya.
"Aku hanya merasa sangat bosan. Dan aku juga Ingin berbelanja baju anak kita,” jujur Evelyn sambil memberengut. Kenrick menghembuskan nafasnya mengerti. Namun tetap saja ia tak suka jika Evelyn keluar tanpa berpamitan padanya. Apalagi wanitanya itu pergi tanpa pengawal. Ia takut terjadi sesuatu pada wanitanya itu.
“Kau bisa menghubungiku, aku akan menemanimu. Lagi pula biasanya kau memesan secara online,” ucap Kenrick menatap wanitanya itu penuh tanya. Memang belakang ini sering kali ada pesanan yang datang ke rumahnya.
Tak seperti dulu jika Evelyn yang akan membuka langsung pesanananya kali ini Kenrick selalu memerintahkan yang menerima lah yang membuka pesanan tersebut.
"Lebih seru jika berbelanja langsung. Dan ini girls time Kenrick,” ucap Evelyn menjelaskan pada Kenrick yang kini hanya menggeleng mendengar ucapan wanitanya itu.
“Jika terjadi sesuatu pada kalian bagaimana? Mengertilah Sayang,” pinta Kenrick menjelaskan alasannya terlalu posesif pada Evelyn. Ia menjelaskan dengan begitu lembut agar Evelyn mau untuk mengerti. Jika ia menjelaskannya dengan emosi yang ada mereka hanya akan bertengkar saja.
" Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku,” ucap Evelyn dengan lembut. Kenrick yang mendengarnya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
‘Jangan diulangi,” ucap Kenrick tegas yang hanya Evelyn balasnya dengan anggukan.
Setelahnya mereka berjalan bersama meninggalkan mall tersebut untuk menuju kediaman Kenrick.
***
Evelyn dan Kenrick kini tengah berada di ranjang kamar mereka. Pinggang Evelyn sedari tadi begitu sakit, efek dari kehamilannya memang sering kali membuat pinggang nya begitu sakit. Namun beruntung Kenrick dengan begitu sabar nya memijat pinggang Evelyn. Seperti sekarang. Kenrick kini tengah memijat pinggang Evelyn.
“Tidurlah,” perintah Kenrick yang kini menghentikan pijatakannya pada Evelyn. Evelyn hanya mengangguk sambil memejamkan matanya berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya. Namun baru saja Evelyn akan terlelap perutnya yang sedari tadi memang mulas terasa semakin mulas.
"Kenrick mengapa perutku terasa begitu sakit?” tanya Evelyn yang akhirnya mengatakannya pada Kenrick setelah sedari tadi ia hanya diam saja menyembunyikannya dari Kenrick karena berpikir jika itu hanya kontraksi palsu saja. Namun kini ia semakin tak tahan dengan sakit perut nya itu, belum lagi pinggang nya yang terasa semakin sakit.
“Apa aku perlu memanggil dokter?’ tanya Kenrick merasa khawatir saat melihat wanitanya yang tengah merasa kesakitan itu.
" Tidak mungkin dia hanya ingin bermanja denganmu. Kau elus saja dan ajak dia bicara,” ucap Evelyn meminta Kenrick untuk mengelus perutnya. Kini ia tidur sambil telentang membiarkan Kenrick untuk mengelus perutnya.
Kenrick mengikuti ucapan wanitanya itu dengan terus mengelus perut Evelyn. Sedikit demi sedikit memang meredakan sakit di perut wanita itu tapi masih terasa begitu sakit.
“Sayang jangan membuat Mommymu sakit,” laki-laki itu mengajak anak dalam kandungan istrinya itu untuk berbicara. Lalu mengecup perutnya beberapa kali.
“Apa sudah lebih baik?” tanya Kenrick dengan tatapan penuh tanya pada wanita nya itu yang kini menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Kenrick.
" Lumayan meredakan,” ucap Evelyn karena memang masih sedikit sakit pada perut nya.
“Jika masih sakit lebih baik kita ke rumah sakit sekarang,” tegas Kenrick dengan wajah khawatirnya. Ia begitu takut terjadi sesuatu pada istri juga anak yang berada dalam kandungan istrinya itu.
"Tidak perlu Kenrick ini sudah malam,” tolak Evelyn. Evelyn berusaha memejamkan matanya tapi rasa sakit tersebut semakin menjadi. Kenrick sudah bangun dan hendak menggendong Evelyn karena sudah tak lagi tega melihat istrinya yang kesakitan, tapi Evelyn malah menahannya.
" Tidak perlu Kenrick,” ucap Evelyn berusaha untuk tetap dalam kendali tubuhnya. Ini adalah jam istirahat dan ia masih mengira jika kini ia hanya kontraksi palsu saja jadi ia tak ingin mengganggu istirahat orang di kediaman nya.
“Aku tidak menerima penolakan,” tegas Kenrick dengan begitu tajamnya. Ia sudah terlalu khawatir dengan wanitanya itu yang masih saja merasa kesakitan. Kenrick akhirnya mengangkat Evelyn menggendong wanita nya untuk menuju depan.
Evelyn akhirnya hanya diam saja dan mengikuti kemauan Kenrick karena kini ia sudah tak memiliki tenaga untuk melawan Kenrick. Perut nya sudah begitu sakit. Evelyn kini melingkarkan tangannya di leher Kenrick memegang laki-laki tersebut dengan begitu erat berusaha untuk mengurangi rasa sakitnya.
Kenrick keluar dari lift dengan tergesa. Jessie yang melihat Evelyn berada dalam gendongan Kenrick langsung menghampiri dengan raut khawatirnya. Kenrick segera meminta pelayan tersebut mengambil tas yang sudah Evelyn siapkan. Saat bertemu dengan Steve yang tengah berjaga di depan pun laki-laki itu segera meminta Steve untuk menyiapkan mobil.
“Bertahan lah sayang,” ucap Kenrick sambil menatap Evelyn dengan wajah khawatirnya.
Kenrick langsung memasukkan Evelyn ke dalam mobil. Dengan Steve yang kini menyetir mobil mereka. Kenrick terus saja menggenggam tangan Evelyn yang juga dibalas dengan genggaman yang begitu erat oleh Evelyn.
***