
Sinar matahari pagi terasa begitu menyilaukan hingga Evelyn membuka matanya perlahan menyesuaikan diri dari terangnya sinar mentari. Evelyn melihat ke arah sekitar, dan dapat ia lihat kini sahabatnya yang tengah berada di sofa.
"Livi,” panggil Evelyn pada sahabatnya tersebut yang tengah memainkan ponselnya.
“Evelyn Kau sudah bangun,” ucap Livi pada Evelyn dan segera menghampiri wanita tersebut dengan wajah khawatirnya.
“Kau membutuhkan sesuatu?” tanya Livi dengan wajah khawatirnya pada sahabatnya tersebut. Melihat Evelyn yang pingsan kemarin malam membuatnya merasa begitu khawatir.
"Aku haus,” ucap Evelyn dengan tubuh lemahnya. Kepalanya kini masih terasa begitu pusing namun ia berusaha menahannya. Evelyn berusaha menegakkan tubuhnya dengan bantuan Livi yang mengubah posisinya menjadi bersandar.
Mendengar hal itu Livi segera mengambilkan air yang berada di nakas. Evelyn segera mengambilnya dan meneguknya hingga tandas. Ia benar-benar merasa haus sekarang.
“Bagaimana kau bisa berada disini dan mengapa kau bisa jatuh sakit? Apa kau tak memikirkan anak yang berada dalam kandunganmu?” tegas Livi yang terdengar begitu marah pada Evelyn. Mendengar kata anak yang Livi ucapkan membuat wanita tersebut mengerutkan kening bingung.
"Anak?” tanya Evelyn yang memang tak mengetahui apapun. Evelyn begitu bingung dengan ucapan Livi yang membawa anak.
“Ya anak, apa kau tak tahu jika kau tengah hamil?” tanya Livi dengan tatapan terkejutnya pada Evelyn. Evelyn hanya membalasnya dengan gelengan karena Evelyn memang tak tahu jika Evelyn tengah hamil.
Dan kini setelah mengetahui jika dirinya hamil, Evelyn merasa begitu terkejut dan bahagia dalam waktu yang bersamaan. Sebelumnya ia tak pernah tahu jika ternyata kini di dalam perutnya ada nyawa lain yang tengah ia jaga. Senyuman wanita tersebut kini bahkan sudah mengembang. Evelyn mengelus perut nya tanpa sadar.
“Bagaimana bisa kau tak tahu jika kau tengah hamil?” tanya Livi sambil menggelengkan kepalanya. Kemarin saat mengetahui jika sahabatnya tersebut tengah hamil. Livi benar-benar terkejut. Ia tak menyangka jika Evelyn yang sebenarnya memiliki prinsip tidak akan berhubungan terlalu jauh pada laki-laki ternyata bisa untuk meruntuhkan prinsipnya tersebut. Bahkan kini sahabatnya tersebut tengah berbadan dua.
"Aku tak pernah memeriksakannya,” jawab Evelyn dengan helaan nafasnya kasar.
“Kau harus memperhatikan keadaanmu Evelyn,” ucap Livi menasihati. Kini wanita tersebut sudah duduk di samping ranjang rawat Evelyn sambil menggenggam tangan sahabatnya tersebut.
"Terlalu banyak masalah yang akhir-akhir ini aku alami,” jelas Evelyn dengan helaan nafasnya. Jika ia kembali mengingat tentang apa saja yang terjadi padanya hatinya kembali terluka. Setelah ia memutuskan untuk pergi dari Kenrick kini ia malah mendapati kenyataan jika ia tengah mengandung anak laki-laki tersebut.
“Tapi jangan lupakan kesehatanmu,” perintah Livi. Ia hanya tak ingin jika terjadi sesuatu pada sahabatnya tersebut. Evelyn yang tiba-tiba menghilang saja sudah membuatnya merasa begitu khawatir dan sering mencari Evelyn. Kini saat datang ia malah langsung menemani Evelyn di rumah sakit.
"Apa anakku baik-baik saja?” tanya Evelyn dengan begitu khawatir. Ia takut jika keteledorannya membuat calon anaknya tersebut terluka.
“Kau harus bersyukur karena aku langsung membawamu ke rumah sakit. Hingga anakmu itu baik-baik saja. Namun dokter mengatakan kau tak boleh banyak pikiran dan harus menjaga kesehatanmu,” ucap Livi yang Evelyn balas dengan anggukan. Evelyn menghela napas lega mendengarnya.
“Apa kau tak pernah mengalami gejala hamil?” tanya Livi. Karena dari yang ia tahu, ibu hamil biasanya selalu mengalami gejala tertentu.
"Tidak, aku hanya sering merasa lelah,” ucap Evelyn menjelaskan. Livi menghela napasnya sambil mengangguk.
“Kau harus menjaga kesehatanmu mulai sekarang. Ada nyawa lain yang harus kau jaga,” tegas Livi. Evelyn membalasnya dengan anggukan.
"Terima kasih Livi,” ucap Evelyn tulus. Beruntung sahabatnya tersebut membawanya tepat waktu, jika tidak mungkin kini ia sudah kehilangan anaknya tersebut.
“Tak perlu sungkan, kau adalah sahabatku,” ucap Livi yang Evelyn balas dengan anggukan sambil tersenyum. Evelyn melihat ke sekitar namun tak mendapati sahabatnya yang lain yang berada di sana.
"Aku tahu. Dimana Ivey?” tanya Evelyn saat tak mendapati sahabatnya tersebut berada di sana.
"Dan kau mengapa tak bekerja?” tanya Evelyn dengan tatapan tajamnya. Ia hanya tak ingin jika hanya karena dirinya, sahabatnya tersebut sampai tidak bekerja.
“Aku sedang melakukannya.” Livi menunjuk berkas dan laptop di sofa yang tadi wanita itu duduki, membuat Evelyn menggeleng melihatnya.
“Kalau begitu kau makan lah lebih dulu,” ucap Livi sambil menyodorkan makanan yang berada di nakas pada Evelyn. Evelyn segera menerimanya dan mulai memakan makannya. Setelah selesai Livi juga memberinya vitamin yang sudah disediakan. Sahabatnya tersebut memang selalu bisa untuk diandalkan.
“Hey Evelyn kau sudah sadar?” Ivey yang baru saja datang dan membuka pintu langsung berjalan ke arah sahabatnya tersebut dan memeluk Evelyn dengan erat menyalurkan rindu serta kelegaan pada sahabatnya tersebut.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Ivey sambil mengecek kondisi Evelyn dengan memutar mutar tubuh sahabatnya tersebut yang membuat Evelyn hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah wanita tersebut.
"Seperti yang kau lihat,” ucap Evelyn dengan senyuman menenangkannya.
“Kau harus menjaga kesehatanmu Evelyn. Ingatlah ada keponakanku yang harus kau jaga.” Ivey mengelus perut Evelyn yang masih rata dengan lembut membuat Evelyn tersenyum melihatnya. Evelyn merasa beruntung memiliki sahabat seperti kedua sahabatnya tersebut.
“Jadi apa yang terjadi padamu? Mengapa kau menghilang begitu lama dan kembali dalam keadaan hamil?” tanya Ivey dengan tatapan menyelidiknya pada sahabatnya tersebut yang kini hanya bisa menghela nafasnya kasar mendengar ucapan sahabatnya tersebut. Kini Evelyn berpikir untuk bercerita atau memilih merahasiakan pada sahabatnya itu tentang apa yang terjadi sebenarnya. Sedangkan kedua sahabatnya kini sudah menunggu cerita yang akan Evelyn sampaikan. Mereka kini sudah begitu penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku sepertinya dikhianati lagi. Mungkin semua ini karena aku dikutuk oleh tuhan. Entah kenapa aku tidak bisa dapat pria yang tulus cinta padaku. Apa aku tak berhak untuk dicintai dan merasa bahagia? Bahkan semua mantanku hanya bisa menyakitiku. Aku tidak pernah mendapatkan kebahagiaan sedikitpun,” ucap Evelyn menghela nafasnya kasar. Ia memilih untuk bercerita pada sahabatnya tersebut. Berharap bisa sedikit membuat hatinya lega setelah bercerita pada sahabatnya tersebut.
“Hei! Apa yang kau maksud? Jangan katakan seperti itu! Kami tulus mencintai dan menyayangimu!” sentak Ivey tak menyukai ucapan Evelyn. Karena menurutnya kini mereka bukan lagi sahabat melain seorang saudara. Dan ia begitu menyayangi sahabatnya tersebut.
“Benar! Apa yang kau pikirkan sih, sampai mengatakan itu?” ucap Livi menyetujui.
“Selama ini aku pergi ke Las Vegas. Dan disana aku memiliki seorang kekasih. Dia adalah orang yang baik… Hanya saja….” belum sempat Evelyn menyelesaikan ucapannya Ivey lebih dulu menyela ucapannya karena mendengar Evelyn yang menghentikan ucapannya begitu lama.
“Apa dia menghamilimu dan tidak mau bertanggung jawab?” tanya Livi dengan begitu penasarannya juga kesalnya. Ia jelas tak akan terima jika memang benar jika laki-laki tersebut menghamili sahabatnya tersebut dan tak mau untuk bertanggung jawab.
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.