
mel sangat bahagia karena sang disainer mau mewujudkan gaun impiannya. gadis itu terus tersenyum didalam mobil.
"kenapa kau senyum-senyum terus sayang" ucap abizar
"aku senang gaun impianku diterima oleh wildan" ucap mel
"wildan itu desainer handal sayang tidak tidak akan mengecewakan kita" ucap abizar
"terima kasih ya mas, kau yang terbaik" ucap mel
"sekarang giliranmu mewujudkan mimpiku" ucap abizar
"mas juga punya mimpi yang ingin diwujudkan sepertiku" ucap mel
"tentu saja sayang, semua orang pasti punya mimpi sama seperti diriku" ucap abizar
"sang CEO ingin apa dari diriku ini" ucap mel
"aku ingin kau memakai l•ngerie paling seksi dimalam pertama kita" ucap abizar
"itu bukan impian namanya emang niat" ucap mel kesal
"seolah sayang, aku kan meminta kau memakainya saat kita sudah sah menjadi suami istri dan disaat malam pertama, coba hubungi tari dan tanyakan pada tari apa seragam para istri didepan suami" ucap abizar
"jangan mas" ucap mel
"kenapa sayang, kau malu" ucap abizar
"ia mas" ucap mel
"masa aku harus bilang aku sudah memesan benda itu pada tari, aku bisa malu kalau ketauan" batin mel
"kita ke mall ya untuk membelinya" ucap abizar
"tidak mas, masa mas tidak malu menemaniku membeli benda itu" ucap mel begitu malu sampai wajahnya memerah.
"aku ingin membelinya untukmu dan kau memakainya untuk menyenangkanku" ucap abizar
"astaga kenapa calon suamiku ini m•sim sekali sama seperti tari" batin mel.
"aku tidak mau mas, nanti aku akan membelinya di Online shop saja" ucap mel
"kalau dionline biasanya kurang bagus sayang, aku jadi tidak tau ukuranmu" ucap abizar asal
"astaga mas, kau benar-benar sangat m•sum hari ini" ucap mel
"tidak masalah dengan calon istri sendiri" ucap abizar
"lebih baik sekarang kita cari warung es kepala muda agar otak kita berdua lebih segar dan tidak berpikir yang aneh-aneh.
abizar tertawa mendengar perkataan mel, ia sangat suka menggoda mel karena saat gadis itu malu wajahnya akan merah seperti tomat dan abizar menyukai itu. mobil melaju mencari warung dipinggir jalan yang menjual es kepala muda seperti yang diinginkan mel. hampir satu jam mereka berputar dikawasan taman kota dan tidak menemukan es kelapa muda.
"ya sudah mas kita minum es dawet saja" ucap mel menunjuk kearah gerobak dipinggir jalan.
"itu es apa? " ucap abizar
"coba saja dulu nanti juga ketagihan wah disebelahnya ada tukang bakso juga, ini namanya keberuntungan" ucap mel
abizar meminggirkan mobilnya ditempat yang tidak terlalu ramai. ia turun dan menggandeng tangan mel langsung karena gadis itu ingin berlari saja ke penjual es dawet itu.
"ayo mas cepat jalannya, nanti habis" ucap mel tidak sabar
"tidak akan, aku bisa membeli es itu dengan gerobaknya untukmu" ucap abizar
"kan sombong" ucap mel
"bukan begitu, kau saja yang tidak sabar sayang, aku tunanganmu jadi aku harus menggandengmu" ucap abizar
"baiklah" ucap mel
mereka berjalan santai ketempat penjual tersebut dan duduk ditempat yang disediakan lalu memesan dua gelas es dawet dan dua mangkuk bakso. abizar memperhatikan mel yang makan bakso dengan lahap. karena sambal yang begitu banyak wajah mel penuh dengan pelu. abizar menyekanya dengan sapu tangannya.
"karenamu aku mau duduk dan makan ditempat seperti ini sayang" batin abizar
setelah merasa kenyang mel membayar semua makanan dan minuman mereka.
"sayang, kenapa kau yang membayarnya" keluh abizar
"aku ingin sesekali mentraktir seorang CEO" ucap mel
"hahaha kau ini membuat aku ingin m•nciummu saja karena merasa terharu" ucap abizar
"dasar maunya" ucap mel.
mereka kembali menuju mobil lalu berlalu dari tempat tersebut.
"sekarang mau kemana lagi" ucap abizar
"aku ingin kepasar malam mas" ucap mel
"tempat seru untuk melepas lelah yang murah meriah" ucap mel
"sayang jangan aneh-aneh ya" ucap abizar
"tidak mas, kali ini aku yang traktir" ucap mel
"kau banyak uang sekarang" ucap abizar
"tidak sebanyak mas, tapi untuk kita berdua cukup" ucap mel
abizarpun melajukan mobilnya ketempat yang mel katakan. tempat tersebut ada dipinggiran kota.
sesampai disana abizar menakutkan mobilnya dan turun lalu menggandeng mel kembali
"dimana tempatnya sayang" ucap abizar
" itu" tunjuk mel ke arah lapangan
abizar terkejut karena ia sama sekali belum pernah keempat seperti itu. tempat itu begitu ramai dikunjungi orang.
"ayo cepat mas, kita harus naik kincir angin itu" ucap mel.
"tidak boleh, itu berbahaya sayang" ucap abizar
"tidak mas kan kita berdua, dulu ayah dan ibu sering mengakali naik itu" ucap mel
"pokoknya tidak boleh" ucap abizar
"mas pasti takut kan" ucap mel
"tidak, aku tidak takut" ucap abizar
"ya sudah aku beli tiketnya dulu, mas tunggu disini" ucap mel
"masa aku harus jujur kalau aku takut ketinggian" batin abizar
mel sedang antri ditempat loket wahana tersebut yang semakin mengular karena padatnya
"kenapa mereka semua suka naik wahana itu" batin abizar.
abizar melihat seorang penjual bando berlampu
ia memberikannya untuk mel. setelah mel mendapatkan tiketnya ia kembali menghampiri abizar.
"ayo mas aku sudah mendapatkan tiket untuk kita" ucap mel
"pakai ini dulu" ucap abizar sambil memakaikan bando tersebut dikepala mel
"apa ini lucu sekali, terima kasih mas" ucap mel memegang bando diatasi kepalanya lalu mencium pipi abizar sekilas
"kalau begini aku harus berani naik kincir angin s•alan itu mungkin setelah ini dapat c•uman lebih dari sekedar dipipi" batin abizar
abizar dan mel anti dan lalu naik wahana tersebut abizar memegang erat kedua tangan mel. mel merasakan ketakutan yang dirasakan abizar.
"kalau takut kenapa mau naik mas" ucap mel merasa bersalah kepada abizar
"demimu sayang, aku akan melakukan adapun walau sebenarnya aku phobia ketinggian" ucap abizar senang sekarang mereka berada di bagian paling atas.
"aku akan pindah kesebelah mas ya" ucap mel khawatir.
"tidak, jangan bergerak sedikitpun" ucap abizar mencegah mel
"jadi aku harus apa agar mas tidak merasa takut" ucap mel
"hanya ada satu cara" ucap abizar
"apa mas" ucap mel
"itu" ucap abizar
"apa" ucap mel penasaran
"kau janji tidak akan marah" ucap abizar
"aku berjanji" ucap mel
"mendekatlah" ucap abizar
"seperti ini" ucap mel maju lebih dekat keabizar dengan masih menggenggam kedua tangan abizar.
"ya" ucap abizar
lalu abizar melepas genggaman tangan mel lalu menangkup wajah gadis itu lalu menc•um b•bir mel. mel merasa terkejut tetapi ia melihat abizar menutup matanya sangat kuat saat kincir angin mulai turun perlahan. yang dimana siapa saja yang menaiki wahana ini juga akan merasa jantungnya seperti akan jatuh juga. dan mel membiarkan abizar melakukannya.