CEO VS Reseller

CEO VS Reseller
pemaksa kehendak



hari ini mel diperbolehkan untuk pulang kerumah. ia memutuskan langsung pulang kerumahnya. ia tidak ingin tinggal dikediaman keluarga mandala ataupun tinggal bersama tari. ia hanya ingin menjalani hidupnya sesuai dengan keinginannya. ia meminta tolong pada arnold untuk mengambil semua barangnya yang ada dirumah keluarga mandala. walau diganti masih terbesit trauma untuk kembali kerumahnya karena kejadian antara dirinya dan riko. saat sedang merapikan barangnya selama dirumah sakit. tuan mandala dan nyonya rossa datang.


"nak, apa kau tidak ingin tinggal bersama kami untuk sementara waktu" ucap tuan mandala


"maafkan aku pa, aku tidak bisa" ucap mel


" apa karena abi" ucap tuan mandala menerka


"tidak karena siapapun pa, sebelum kejadian ini aku memang berencana kembali kerumahku pa" ucap mel.


"apakah kau masih tidak ingin berbicara atau bertemu dengan abi mel" ucap tuan mandala.


"tidak" ucap mel singkat


"apakah kalian tidak ingin menyelesaikan masalah antara kalian berdua" ucap tuan mandala lagi


"tidak ada pa" ucap mel


"apakah kau mau memaafkan abi mel" ucap tuan mandala


"aku memaafkannya pa dan katakan padanya anggap saja kami tidak pernah saling kenal" ucap mel


"mel, Mama mohon beri kesempatan kepada abi memperbaiki segalanya" ucap nyonya rossa


"memperbaiki yang mana ma" ucap mel


"bukankah akan lebih baik jika kau mengingat kebaikan dan perjuangan abizar selama ini padamu" ucap nyonya rossa


"maaf Ma aku tidak bisa" ucap mel


"mama kecewa padamu mel" ucap nyonya rossa


"maaf Ma, jika apa yang aku perbuat ini menyakiti perasaan mama" ucap mel


"keluarga kami terlalu baik padamu" ucap nyonya rossa begitu marah. kemudian meninggalkan kamar rawat mel.


"maafkan mama ya mel, papa harap kamu tidak marah dia hanya seorang ibu yang ingin membantu anaknya" ucap tuan mandala


"ya pa, mel mengerti" ucap mel menahan kesedihannya menyakiti seorang wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


"apa aku salah melindungi diriku sendiri agar tidak terluka lagi" batin mel sedih


tuan mandala pun berlalu. kini tinggal tari, arnold dan Rendy yang ada diruangan itu yang ikut membantu mel. mereka bisa melihat kesedihan yang mel rasakan karena perkataan mamanya abizar.


"sudah jangan terlalu dipikirkan" ucap tari


"ya" ucap mel


"bagaimana kita buat perayaan atas kepulanganmu" ucap tari


"perayaan? " ucap mel


"ia perayaan, nanti malam dirumahmu kami akan menemanimu kita camping" ucap tari


"dirumahku" ucap mel


"tentu saja, kau tenang saja biar para pria yang mengurusnya" ucap tari


"siap bu bos" ucap arnold memberi hormat


"aku juga akan siap membantu" ucap rendy


"nah, beres deh, mulai hari ini buang kesedihanmu, buang orang yang menyakitimu temukan kebahagiaanmu setelah keluar dari rumah sakit ini mel" ucap tari


"terima kasih ri" ucap mel.


"kau tidak sendiri ada kami jadi jangan sedih ataupun menangis lagi berjanjilah" ucap tari


"baiklah aku berjanji" ucap mel mengangkat tangannya.


"semua barang sudah selesai kita pulang sekarang" ucap rendy


"ia kak, kak barangku ada dirumah tuan mandala" ucap mel


"sudah aku bereskan kau jangan khawatir lagi" ucap arnold


"terima kasih kak" ucap mel.


Rendy mengambilkan kursi roda untuk mel agar ia tidak lelah berjalan menuju ke lobby untuk naik mobil.


"duduklah" ucap rendy


"tidak usah kak aku bisa berjalan" ucap mel


"tidak usah keras kepala, dari sini kelobby itu jauh, kau baru sembuh dan bisa pingsan jika kelelahan" ucap rendy


"baiklah"ucap mel lalu ia mendudukkan diri dikursi roda tersebut.


ia keluar dari ruangan dengan didorong oleh Rendy dan masih ada abizar yang menunggu disana.mel langsung memalingkan wajahnya. abizar mendekati mel dan menghalangi jalan mereka.


"mel, kita perlu bicara" ucap abizar


"dia baru saja pulih bisakah kau mengerti" ucap rendy


"aku tidak bicara denganmu" ucap abizar


"minggir" ucap rendy


mel hanya menunduk tanpa ingin menjawab abizar ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"mel aku harus bicara padamu kenapa kau diam saja" ucap abizar


"ibu sama anak sama saja pemaksa" ucap rendy


"apa maksudmu, kenapa kau terus yang menjawab" ucap abizar


"mel harus menghemat tenaganya, berbicara denganmu sungguh menguras energi" ucap rendy


"kau menantangku" ucap abizar yang emosi


"stop tuan abizar, biarkan kami lewat" ucap mel


"apa" ucap abizar


"minggir" ucap mel


"tidak, kita perlu bicara" ucap abizar sambil menangkap salah satu tangan mel


"lepas!! kau sudah jadi orang asing bagiku, kau ingin maaf aku sudah memaafkanmu jadi biarkan kami lewat" ucap mel


"kau tidak bisa seperti itu padaku" ucap abizar


" jadi aku harus seperti apa hah, sudah sana minggir" ucap mel sambil memegang kepalanya yang mulai sedikit sakit


"aku tidak akan menyerah mel mendapatkan hatimu lagi" ucap abizar


"itu tidak akan terjadi" ucap mel


"lebih baik kau minggir atau aku akan memanggil pihak keamanan rumah sakit" ucap tari.


akhirnya abizar mengalah dan membiarkan mel dan yang lain melewatinya. mel mulai merasa sakit dikepalanya ia berusaha menahan sakit yang ia rasakan. sesampai dilobby rumah sakit ketika ia akan bangkit dari kursi roda ia hampir jatuh tetapi dengan sigap Rendy menangkap tubuh mel semua itu tidak lepas dari pantauan abizar.


"si•lan, beraninya dia menyentuh wanitaku" batin abizar kemudian berlalu dengan mobilnya


"kau baik-baik saja wajahmu sangat pucat" ucap rendy


"ia kak" ucap mel sambil dibantu berjalan menuju mobil oleh rendy saat akan menaikki mobil mel pingsan.


mel!!!!!


"ada apa kak" ucap tari yang sedang menyusun barang mel dibagasi dibantu arnold


"mel pingsan" ucap Rendy


"astaga, bawa dia ke IGD Kak" ucap tari


Rendypun menggendong mel menuju IGD disaat Ricky baru sampai kerumah sakit untuk menjenguk mel lagi. ia melihat mel digendong Rendy masuk IGD


"dia kenapa" ucap ricky


"pingsan saat akan naik mobil" ucap rendy


"ini semua karena abizar" ucap tari


"abizar?" ucap ricky


"ya temanmu itu tadi memaksa mel bicara" ucap tari


"astaga" ucap ricky


"dia itu sama seperti ibunya pemaksa kehendak, tadi ibunya membuat mel stress sekarang gantian anknya" ucap tari emosi


tari menceritakan semua kepada ricky apa yang sebenarnya terjadi dari awal. Ricky juga tidak habis pikir dengan abizar bisa menjadi seperti itu yang membuat mel sampai pingsan akibat perbuatannya.


"sebenarnya maumu apa bi, cinta seperti yang ingin kau berikan kepada mel" batin ricky.


Ricky melihat wajah pucat gadis yang masih menutup matanya dimana seorang suster sedang memasang infus ditangannya lagi dan memasang selang oksigen di hidungnya. gadis yang biasanya ia lihat selalu semangat, pantang menyerah, ceria dan selalu tersenyum kepada siapapun. kini kembali terbaring lemah.