CEO VS Reseller

CEO VS Reseller
kembali



mel mulai bekerja diperusahaan milik abizar. ia kembali mengawali karirnya seperti dulu. ia telah bersiap untuk bekerja kali ini ada event dibalai kota dan perusahaan abizar ikut serta. ia mempromosikan produk abizar dengan baik. banyak yang berkerumun distand dimana mel berada. mereka mencoba dan membeli kopi yang mel promosikan. dan dominan pengunjung yang singgah disana adalah kaum pria.


abizar baru saja tiba dibalai kota saat malam hari. ia memasuki dan melewati beberapa stand dan me dengar bisik para pria tentang standar kopi yang ada diujung sebelah kanan. mengatakan ada reseller yang cantik dan baik hati dan mereka ingin berkenalan dan ingin minta nomor ponselnya.


"kopinya sih biasa aja seperti kopi-kopi lainnya tetapi mbaknya cantik banget baik lagi" ucap salah seorang pria kepada temannya.


abizar mempercepat langkahnya menuju stan dimana mel berada dan benar adanya banyak pria berkerumun disana dan juga produk miliknya habis terjual.


"sabar bi, mereka hanya pelanggan dan mel hanya menjalankan tugasnya" batin abi berusaha menenangkan dirinya dari api cemburu.


abizar menghampiri mel berusaha tidak menampilkan wajah cemburunya.


"bagaimana hari ini?" tanya abizar


"memuaskan pak" ucap mel


abizar tidak suka dengan panggilan mel. ia berbisik mengapa mel memanggilnya seperti itu. mel lalu berbisik pada abizar. ini adalah lingkungan kerja.


"mas-mas semua perkenalkan ini CEO perusahan kami" ucap mel


"perkenalkan saya abizar terima kasih atas kunjungannya ke stand kami" ucap abizar


para pengunjung yang tadinya menyemut mulai bubar karena produk mel sudah habis dan juga mereka berpikir sang bos datang jadi tidak seru lagi untuk lebih dekat dengan sang reseller cantik yang membuat mereka semangat.


abizar membantu mel merapikan stand untuk ditutup, mereka akan membuka stand dibalai kota ini selama tiga hari. abizar membelikan mel air mineral dan beberapa camilan yang ia beli distand yang lain.


"kau lelah sayang" ucap abizar sambil mengusap keringat mel dengan tisu


"tidak mas, aku senang kembali keduniaku" ucap mel


"minum dulu aku juga belikan kau cemilan" ucap abizar


"terima kasih mas abi yang baik hati" ucap mel


mereka menikmati cemilan hingga acara hari ini ditutup.


"apa kau ingin makan sesuatu lagi mel" ucap abizar


"tidak mas, aku ingin cepat pulang dan istirahat" ucap mel


"padahal aku ingin kau menemaniku makan" ucap abizar


"lain kali ya mas, bagaimana kalau besok aku buatkan mas sarapan" ucap mel


"wah boleh juga" ucap abizar


"mas ingin aku buatkan apa? " ucap mel


"terserah sayang saja" ucap abizar


setelah merapikan stand mereka abizar dan mel beranjak pulang dan berjalan menuju parkiran mobil saat akan memasuki mobil. ponsel mel berbunyi didalam tas kecilnya. ia mengambil ponselnya dan tertulis nama rendy disana. wajah mel berubah dan abizar dapat menduga siapa yang menghubungi kekasihnya hingga menunjukkan ekspresi seperti ini.


"siapa?" ucap abizar


"mmm.... itu" ucap mel terbata


"didokter itu lagi?" ucap abizar


"ia mas kak rendy" ucap mel


"mau apalagi dia" ucap abizar


"aku tidak tau mas" ucap mel


"jangan di angkat biarkan saja" ucap abizar


"tapi... mas" ucap mel


"dia akan selalu mengganggu sampai kau meninggalkanku" ucap abizar


dering ponsel itu mati setelah empat kali panggilan yang tidak dijawab oleh mel. saat mereka masuk kedalaman mobil dan abizar mulai melajukan mobilnya meninggalkan parkiran balai kota. ponsel mel berbunyi tanda ada pesan singkat yang masuk keponselnya


✉ stephani demam dia mencarimu tulis rendy disana


mel menutup mulutnya dengan tangannya, abizar menghembuskan napasnya tanda ia sudah muak dengan rendy yang terus mengganggu mel.


"ada apa sayang, apa lagi yang ia katakan yang membuatmu risau" ucap abizar


"kata mas rendy stephani demam dan ia mencariku" ucap mel


"jadi kau ingin masuk keperangkap mereka" ucap abizar


"mas, jangan bicara begitu stephani hanya anak keci dan ia tidak tau apa-apa" ucap mel sedikit kesal dengan perkataan abizar karena ia mengkhawatirkan keadaan gadis kecil itu.


"jadi apa yang akan kau lakukan" ucap abizar


"aku harus memastikan keadaan stephani, dia mencariku" ucap mel


"kalau kau mau kesana aku harus ikut" ucap abizar


"jangan buat ini jadi sulit mas, aku tidak enak hati jika datang denganmu" ucap mel


"mas mengertilah sedikit, aku mohon demi anak kecil yang merindukan ibunya" ucap mel


"ingat mel, kau bukan ibunya" ucap abizar


"aku tidak mungkin memutuskan hubungan dengan stephani" ucap mel


"aku tidak mengatakan seperti itu sayang" ucap abizar


"mas aku mohon ijinkan aku kesana" ucap mel


"aku izinkan jika aku yang mengantar lagi pula ini sudah terlalu malam, nanti mereka akan memintai menginap disana" ucap abizar


"baiklah mas" ucap mel


"itu baru kekasih yang baik nurut kalau dikasih tau" ucap abizar


abizar memutar arah kemudi tujuan mereka kerumah orang tua rendy. tepat jam sebelas malam mel dan abizar tiba dikerumah orang tua rendy.


suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah orang tua rendy. anggota keluarga yang sedang menemani stephani dikamar saling tatap memikirkan siapa yang datang. rendy berjalan kearah balkon kamar stephani tempati. ia melihat ternyata mel dan abizar yang baru saja tiba. ia keluar kamar dan turun dari lantai dua. pelayan rumah yang akan membuka pintu dicegah oleh rendy.


"biar saya saja bi" ucap rendy


"baik tuan" ucap pelayan tersebut


rendy berjalan menuju pintu depan dan membukakan pintu.


"malam kak" ucap mel


"malam, stephani diatas" ucap rendy menyuruh mel untuk melihat anaknya


"aku boleh masukkan" ucap abizar


"anakku sedang sakit, ia tidak suka orang asing" ucap rendy


"jadi aku harus menunggu calon istriku dimobil" ucap abizar


"mas abi" ucap mel


"aku ingin bicara denganmu didepan" ucap rendy.


"Oh, kebetulan aku juga ingin bicara denganmu" ucap abizar.


mel masuk dan langsung naik kelantai dua dimana kamar stephani.


"ya Tuhan semoga mas abi dan kak rendy tidak bertengkar, aku takut sekali" batin mel


mel membuka pintu kamar. ia melihat stephani terlihat lemah. ia mendekat kearah tempat tidur gadis itu. ia mengusap rambut gadis kecil itu dan benar adanya tubuh gadis itu begitu panas.


"ia terus memanggilmu" ucap tari sedikit ketus


"maaf, aku bekerja sekarang" ucap mel


"mel, apa kau sekarang melupakan stephani" ucap ibunya rendy


"bukan begitu tante, aku sangat menyayangi stephani" ucap mel menyesal


"mel, tante tidak tau apa masalah kalian tapi tante mohon jangan korbankan stephani" ucap ibunya rendy


"tidak tante, aku tidak bermaksud seperti itu" ucap mel


"tante mengerti kau punya kehidupanmu sendiri sayang, kau sudah aku anggap seperti anakku sendiri" ucap ibunya rendy


"maafkan mel jika salah tante" ucap ibunya rendy.


"kau berjodoh atau tidak dengan rendy kau tetap jadi anakku tapi tante mohon stephani masih kecil yang ia tau kau adalah ibunya" ucap ibunya rendy.


"mama" ucap tari


"ri, temanmu berhak memilih dengan siapa dia ingin hidup" ucap ibu rendy


"tapi ma" ucap tari


"jangan ikat dan paksa dia dengan menghubungkan dengan stephani" ucap ibunya rendy


"mama tau kan kak rendy menyukai mel" ucap tari.


"bagaimana dengan mel kalian juga harus bertanya kepadanya" ucap ibu rendy


"mel, kau berhak bahagia dengan orang yang kau inginkan" ucap ibunya rendy


"ia tante" ucap mel


"tapi tante mohon kali ini saja, selama stephani disini tetaplah seperti dulu dan berikan sedikit waktumu untuknya" ucap ibunya rendy


"baik tante" ucap ucap mel


"terima kasih sayang" ucap ibunya rendy