
setelah selesai mandi mel keluar dari kamar dan melihat abizar masih didepan pintu sambil mengusap-usap keningnya.
"kenapa mas" ucap mel
"tadi aku dizolimi" ucap abizar kesal
"astaga, siapa yang telah menzolimimu mas" ucap mel
"kau dan mama" ucap abizar
"kenapa dengan aku dan mama mas" ucap mel heran dengan jawaban abizar
"tadi mama mengunci dapur dan kini kau mengunci pintu kamar tiba-tiba sehingga keningku jadi begini" ucap abizar
"oh, begitu sini aku obat mas" ucap mel
"diobati dengan apa" ucap abizar
"obat merah atau obat memar" ucap mel
"aku tidak mau" ucap abizar
"sini aku lihat dulu lukanya mas" ucap mel lalu mendekat kearah abizar untuk melihat luka dikeningnya.
mel memegang kepala abizar dan melihat luka yang dimaksud oleh abizar. tidak ada luka disana hanya memar kecil disana.mel mengusap memar tersebut sambil meniup memar dikening abizar.
"bagaimana mas, sudah mendingankan" ucap mel
"belum sayang masih sakit, mungkin ia perlu
ditiup lebih lama" ucap abizar
abizar mengambil kesempatan ia mengalungkan kedua tangannya dipinggang mel.
"sudah hilangkan sakitnya" ucap mel
"belum" ucap abizar
"jadi harus bagaimana" ucap mel
"akan sembuh jika diberi satu c•uman" ucap abizar
"dasar kesempatan, cepat lepaskan aku atau aku akan teriak" ucap mel
"coba saja teriak jika berani" ucap abizar yang kini memeluk mel begitu erat dan mendekatkan wajahnya kearah mel
"mas, aku akan teriak" ucap mel
"coba saja" ucap abizar
"papa mas" ucap mel
"kau mau menipuku sayang" ucap abizar
"papa mas" ucap mel lagi
abizar terus mendekat dan sedikit lagi akan menc•um mel. hingga suara berdeham mengejutkannya
ehemmm........
"papa" ucap abizar sambil melepas pelukannya pada mel dan berbalik badan
"apa yang mau kau lakukan anak nakal" ucap tuan mandala
"tidak pa, aku hanya bercanda dengan mel" ucap abizar berkilah
"kau mau aku h•jar dengan tongkatku ini" ucap tuan mandala
" abi tidak berbohong pa, papa bisa tanya dengan mel" ucap abizar memberi kode pada mel agar tidak mengatakan yang sebenarnya pada papanya
"mel dan mas abi mau kebutik pa" ucap mel
"kebutik dengan berpelukan" ucap tuan mandala
"bukan pa, tadi mel mengobati kening mas abi pa, tadi ada memar" ucap mel
"jadi anak nakal ini memanfaatmu" ucap tuan mandala
"bukan begitu pa" ucap abizar
"mel, katakan pada papa jika dia macam-macam padamu sebelum menikah" ucap tuan mandala sambil menunjuk abizar dengan tongkatnya.
"siap pa" ucap mel
"sudah sana pergi, sebentar lagi keluarga kita akan makan malam" ucap tuan mandala
mel dan abizar pun berlalu dari tuan mandala dengan terburu-buru. sesampai dimobil abizar hanya diam dan melajukan mobilnya kearab Butik terdekat dari rumahnya. ia melihat mel asik membalas char dari ponselnya sambil senyum-senyum.
"senang sekali sepertinya, char dari siapa" ucap abizar
"dari teman mas" ucap mel
"teman yang mana laki-laki atau perempuan" ucap abizar
"dengan Rudi teman SMA aku mas" ucap mel
"apa?? mau apa sirudi itu" ucap abizar
"dia mengajakku pergi reuni bersama" ucap mel
"terus apa kau jawab" ucap abizar
"tentu saja aku mau mas, sebentar lagi dia jadi dokter seperti tari" ucap mel senang
"aku tidak peduli dan kau tidak boleh pergi kecuali denganku" ucap abizar
"ini kan reuni saku mana mungkin aku mengajak mas lagi pula kita beda angkatan sangat jauh" ucap mel
"kau mau mengatakan aku sudah tua" ucap abizar kesal
"kau calon istriku jadi harus menurut dengan calon suami biar tidak dikatakan durhaka" ucap abizar
"durhaka dari mana" ucap mel
"temanmu itu pebinor" ucap abizar
"maksudnya" ucap mel
"dia itu perebut bini orang" ucap abizar
"dasar ngarang" ucap mel
abizar hanya diam, ia sangat kesal sekali mengetahui mel lebih memilih pergi dengan teman lelakinya daripada dirinya ke acara reuni tersebut.
"harusnya dia bangga pergi denganku" batin abizar.
ia tidak akan membiarkan itu terjadi. akhirnya abizar dan mel sampai dibutik yang dituju setelah menempuh waktu 25 menit. mereka turun dan masuk bersama. mel melihat abizar kesal kepadanya.
"dasar pencemburu" batin mel
mel dibantu karyawan butik memilih gaun yang sesuai yang diinginkan oleh mel.
"bagaimana dengan ini mas" ucap mel menunjukkan gaun pilihannya
"terlalu seksi" ucap abizar
"kalau yang warna merah ini" ucap mel
"terlalu pendek" ucap abizar
"bagaimana dengan yang hitam ini" ucap mel
"terlalu ketat" ucap abizar
"nah ini cantik mas, warna favoriteku" ucap mel
"belahan d•danya terlalu terbuka" ucap abizar
"jadi aku harus pakai yang mana, semua salah" ucap mel mulai kesal.
abizar kemudian memanggil salah satu karyawan butik tersebut.
"ada yang bisa kami bantu tuan" ucap karyawan butik tersebut
"keluarkan semua gaun koleksi terbaru kalian" ucap abizar
"baik tuan" ucap karyawan butik tersebut
"dan tugasmu adalah mencoba semua gaun pilihan mereka" ucap abizar
"semua??? " ucap mel terkejut
"tentu saja, jadilah penurut atau aku akan semakin marah padamu" ucap abizar
"baiklah" ucap mel
mel mencoba satu persatu gaun koleksi terbaru milik butik tersebut. ada sekitar 20 gaun banyaknya. dan ia harus bolak balik keluar masuk kamar ganti.
"mas ini baju terakhir" ucap mel yang sudah lelah
"ayo kita pergi dari sini" ucap abizar sambil bangkit dari soda butik tersebut.
"gaunnya bagaimana mas" ucap mel
"ganti sekarang, atau aku tinggal kau" ucap abizar
mel terburu mengganti gaun yang tadi ia coba. ia heran dengan sikap abizar yang tidak jadi mengambil semua gaun yang ia coba tadi. mel mengejar abizar yang sudah berada dikasir dan membayar dengan kartu kreditnya. dan menenteng paperbag ditanganinya.
"ayo kita harus kesalon" ucap abizar keluar menuju mobilnya.
"mas membeli apa" ucap mel
"gaun" ucap abizar
"yang mana" ucap mel
"tadi warna favoritemu" ucap mel
"mas, jahat sekali menyuruhnya mencoba semua gaun tadi" ucap mel
"itu hukuman karena kau tidak mengakali di acara reuni itu dan lebih memilih pebinor itu" ucap abizar.
"nama temanku itu Rudi mas bukan pebinor" ucap mel
"aku tidak peduli siapa namanya" ucap abizar
"mas cemburu" ucap mel
"tentu saja" ucap abizar
"cep.. cep.. sayangku...cintaku jangan marah lagi ya" ucap mel
"jadi" ucap abizar
"jadi apa" ucap mel
"kau akan mengajakku" ucap abizar mengangkat sebelah alisnya
" ia dewa cemburuku" ucap mel
"hei, sebutan apa itu, aku tidak pencemburu hanya aku tidak suka kau dekat dengan pria selain aku" ucap abizar.
"itu sama saja namanya sang pencemburu sayang" ucap mel
akhirnya abizar dan mel berdamai dan kini mereka menuju kediaman abizar untuk makan malam bersama seluruh keluarga mandala