CEO VS Reseller

CEO VS Reseller
makan malam



mel dan abizar kini telah sampai dirumah keluarga mandala. tuan mandala dan nyonya rossa menyambut dengan hangat mel.


"sayang kau sudah datang, Mama sangat rindu padamu" ucap nyonya rossa sambil memeluk mel


"sama Ma mel juga sudah rindu mama" ucap mel


"sudah jangan pelukan terus lebih baik kita langsung kemeja makan" ucap tuan mandala


"papa apa kabar" ucap mel


"aku baik nak, kau aman kan selama dijalan" ucap tuan mandala melirik abizar


"aman pa, kenapa?" ucap mel


"tidak nak, papa hanya bertanya"ucap tuan abizar.


nyonya rossa menggandeng tangan mel menuju ruang makan.


"ayo silakan duduk sayang, Mama masak banyak loh kata abi kau sangat suka makan" ucap nyonya rossa


"apa?? mas abi blg begitu ma" ucap mel menatap abi kesal


"ia sayang, jadi mama bingung mau masak apa jadi mama masak banyak untuk kamu sayang" ucap nyonya rossa


"terima kasih Ma" ucap mel


"ihh.. buat malu saja sih lelaki ini, dia bilang ke mama aku suka makan" batin mel


"ayo nak dicicipin" ucap tuan mandala


"ya pa" ucap mel tidak enak hati karena abizar


"kau harus makan yang banyak sayang, kau bilang Kan suka sekali masakan mama" ucap abizar.


"lelaki ini niat sekali mempermalukanku" batin mel.


"benarkah sayang kau suka dengan masakan Mama, ok mulai besok mama akan kirim makanan ke kamu setiap harinya" ucap nyonya rossa


"tidak perlu Ma, mas abi itu cuma bercanda Ma jadi tidak perlu ditanggapi serius"ucap mel sambil terus menatap abizar dengan kesal


"mel itu makannya banyak Ma" ucap abizar


"abi" ucap tuan mandala memberi peringatan


"maaf pa hanya bercanda" ucap tuan mandala


"benar pa Ma mel harus makan banyak untuk menghadapi mas abi yang cukup menguras tenaga mel" ucap mel bermaksud menyindir abizar


"apa?? apa yang dilakukan abi hingga menguras tenagamu sayang, kalian tidak aneh-anehkan" ucap nyonya rossa melirik abizar dan mel secara bergantian


"maksud mama" ucap mel


"tadi kau bilang dia menguras tenagamu, kau di apakan abi nak" ucap nyonya rossa menduga yang tidak-tidak.


"mama tanya saja dengan mas abi, bahkan ia sudah berkali-kali melakukannya padaku" ucap mel


"astaga abi, kau sudah janji kan sama papa dan mama tidak akan melakukannnya" ucap mama panik


"apa yang aku lakukan" ucap abizar aneh dengan tuduhan mamanya


"kau sudah melakukan itu pada mel abi" ucap nyonya rossa


"melakukan apa ma" ucap abizar


"pa, anak kita sudah merusak anak orang pa" ucap mama


"abi jelaskan apa yang sudah terjadi antara kalian berdua" ucap tuan mandala


"pa, itu kan sudah biasa, mel saja yang berlebihan" ucap abizar


"kalian berdua harus di nikahkan secepatnya" ucap tuan abizar.


"aku tidak mau pa" ucap mel


"sayang abizar sudah melakukannya bagaimana jika kau hamil" ucap nyonya rosaa


"hah?? hamil kenapa aku bisa hamil" ucap mel heran


"mama salah menduga maksud mel bukan itu" ucap mel


"terus apa sayang" ucap nyonya rossa


"mas abi selalu berkali-kali mengatakan aku makannya banyak ma" ucap mel malu


"oh, Mama kirain" ucap nyonya rossa


keadaan dimeja makan kembali tenang setelah semua jelas. nyonya rossa dan tuan abizar salah menduga maksud dari kata-kata mel. mereka pun makan dengan canda tawa. dan abizar terus menjahili pacarnya tersebut.


setelah selesai makan mereka bersantai dibuang keluarga sambil bercengkrama. mel duduk disebelah nyonya rossa. wanita paruh baya ini sangat menyayangi mel. nyonya rossa sempat ikon sebentar untuk kekamar untuk mengambil sesuatu kemudian ia datang lembu dan duduk samping mel. ia menyerahkan sebuah kotak merah bludru berbentuk hati kepada mel.


"ini untuk mu sayang" ucap nyonya rossa


"apa itu ma" ucap mel


"bukalah" ucap nyonya rossa


mel membuka kotak bludru tersebut. ia melihat ada sebuah cincin emas yang sangat indah disana.


"cantik sekali ma" ucap mel


"itu untukmu sayang" ucap nyonya rossa


"maksud mama apa" ucap mel


"kau kan calon menantu mama jadi mama memberikan ini padamu" ucap nyonya rossa


"tapi Ma mel tidak bisa menerimanya mel dan mas abi baru saja dekat" ucap mel


"ini cincin turun temurun sayang dulu nenek abi memberikan kepada mama, sekarang mama memberikannya padamu" ucap nyonya rossa


"ini terlalu cepat bagi mel Ma, mel belum ada niat untuk menikah dalam waktu dekat" ucap mel


"kau simpan saja sayang, saat kau sudah siap kau boleh memakainya" ucap nyonya rossa.


"tapi ma" ucap mel tidak enak hati


"terima sajalah mel" ucap abizar


"baiklah" ucap mel pasrah


"mel, abi tidak muda lagi jadi jangan lama-lama berpikir" ucap mama


"Ma, jangan memaksa mel begitu biarkan mereka menjalani yang sekarang ini" ucap tuan mandala


"benar Ma, abi juga rela kok menunggu sampai mel siap" ucap abizar.


mel sangat tidak enak hati dalam situasi saat ini, ia belum berpikir masalah pernikahan untuk saat ini. ia ingin menjalani semua ini seperti air mengalir apalagi ia sadar dengan awal mula hubungannya dengan abizar dulu tidak baik. mereka masih sering berdebat. ia dan abizar sedang berusaha saling percaya dan memahami satu sama lain.


abizar berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk mengantar mel pulang. sepanjang perjalanan mel hanya diam malah ia terlihat murung. abizar mengerti kegusaran kekasihnya.


"sudah, perkataan mama tidak usah terlalu dipikirkan" ucap abizar


"hah, tidak aku tidak memikirkan hal itu mas" ucap mel


"jangan berbohong, wajahnya berubah setelah perkataan mama" ucap abizar


"apa kau juga marah padaku mas" ucap mel


"buat apa aku marah padamu" ucap abizar


"apa kau tidak marah aku belum siap menikah" ucap mel


"kan aku sudah bilang aku akan menunggu siap" ucap abizar


"terima kasih mas, tapi tetap saja aku tidak enak dengan mama" ucap mel


"urusan mama biar aku yang urus" ucap abizar


mobil abizar sudah sampai didepan pagar rumah mel, mel turun dengan wajah yang murung. abizar membiarkan saja mel turun. ia tidak ingin terlalu banyak bicara. ia ingin memberi mel waktu. hubungan ini terlalu dini untuk bicara pernikahan apalagi ini pertama kali mel menerima seseorang pria masuk ke dalam hatinya. abizar akhirnya pulang.


mel masuk kerumah dan langsung kekamarnya ia mengambil kotak cincin yang tadi ia letakkan ditasnya.ia membuka cincin itu lagi memandang cincin itu.


"aku dengan sungguh mencintai mas abi, tapi aku memohon jangan memaksaku" batin mel