CEO VS Reseller

CEO VS Reseller
berdamai dengan hati



mel duduk bangku depan ruang rawat tuan mandala. ia menyandarkan tubuhnya dibangku tersebut untuk sejenak beristirahat karena ia sangat lelah ia mencoba memejamkan matanya. ketika itu abizar yang datang dari arah kantin menghampirinya. dan melihat mel yang didepan ruang rawat papanya tidur sambil memeluk tubuhnya sendiri.


" kenapa dia tidur disitu" batin abizar


"mel, kenapa tidur disini" ucap abizar sambil menepuk pelan lengan gadis itu.


" tidak apa-apa, aku lebih nyaman begini" ucap mel yang masih memejamkan matanya.


"apa kau masih marah pada mama" ucap abizar


"tidak, biarkan saja aku disini kau masuklah kedalam" ucap mel


"aku akan disini juga menemanimu" ucap abizar


"jangan, kau lebih baik temani nyonya rossa ia pasti masih sedih" ucap mel


"kita harus masuk bersama, nanti kau bisa masuk angin dan dirimu banyak nyamuk" ucap abizar


"kenapa kau suka sekali memaksa tuan" ucap mel


"aku memaksa untuk kebaikanmu jadi tidak salah" ucap abizar


"ya.... ya baiklah" ucap mel.


mereka berdua masuk kekamar rawat tuan Mandala dan melihat nyonya rossa tidur sambil duduk memengangi tangan tuan mandala. abizar mendekati mamanya dan membangunkan wanita itu. ia menyuruh mamanya untuk pindah dikasur yang ada disediakan rumah sakit dikamar rawat ini. semula nyonya rossa menolak tetapi akhirnya mengikuti kata-kata abizar.


"kau perlu sesuatu" ucapnya pada mel


"tidak"ucap mel sambil menguap menahan kantuknya.


"tidurlah disofa itu biar aku yang menjaga papa" ucap abizar


"baiklah" ucap mel ia tidak bisa menyangkal rasa kantuk yang melanda dirinya apalagi ini sudah jam dua pagi.


mel tidak membaringkan tubuhnya disita tersebut ia memilih tidur bersandar di sofa sambil duduk.abizar tidak berniat mengatakan adapun melihat apa yang dilakukan gadis itu. karena ia melihat mel sudah sangat mengantuk bahkan gadis itu langsung bisa tertidur dengan cara duduk bersandar begitu.


abizar menatap wajah mel, begitu mudahnya gadis itu memaafkannya.bahkan bersikap biasa saja. bahkan mel yang kini merasa bersalah kepada papanya. mel benar-benar berdamai dengan hatinya.bahkan ia rela terluka demi orang lain bahkan keadilan untuk dirinya ia pertaruhkan. dan saat dikantin ia mau berteman dengan abizar dan menolak berpura-pura seperti ajakannya.


"aku akan berjuang mendapatkan hatimu lagi mel, dan aku juga akan berdamai dengan hatiku jika kau memang bukan jodohku" batin abizar. abizar pun tidur sambil menjaga papanya. ia meletakkan kepalanya disisi tempat tidur tuan mandala sambil memegang tangan papanya.


pagi pun menjelang abizar lebih dulu terbangun saat seorang suster datang bersama seorang dokter. mereka akan melakukan visite pagi untuk memantau dan memeriksa tuan mandala.


"bagaimana apakah ada keluhan dari tuan mandala" ucap dokter


"tidak ada dokter, papa saya tidur dengan nyenyak" ucap abizar


"itu pengaruh obat, agar ia bisa beristirahat" ucap dokter sambil memeriksa keadaan tuan mandala dengan stetoskopnya.


"bagaimana keadaan papa saya dok" ucap abizar


"semua baik, saya harap tuan abizar banyak istirahat dan hindari ia dari stress" ucap dokter.


"baik dok"ucap abizar


"ini saya resepkan obat untuknya, dan semoga tuan mandala segera sembuh" ucap dokter


"terima kasih dokter" ucap abizar


mel terbangun saat mendengar suara pintu terbuka ia melihat dokter dan seorang suster.


"sudah pagi ternyata" batinnya


"kau sudah bangun, apa kau butuh sesuatu" ucap abizar


"tidak, aku hanya mau ke toilet untuk mencuci muka"ucap mel


"toiletnya disana" ucap abizar sambil menunjuk arah dimana toilet berada.


mel mengangguk tanda mengerti dan segera menuju kamar mandi. sesaat itu ponsel mel berbunyi berkali-kali. abizar yang penasaran dengan panggilan diponsel mel mendekat kearah ponsel itu yang diletakkan mel di atas sofa yang ia tidur bersandar kemarin. abizar melihat tertulis nama rendy. lelaki yang abizar rasa sangat menyebalkan


"apa maunya dokter ini pagi-pagi sudah video call seperti tidak ada kerjaan saja" batin abizar


ketika abizar berniat mematikan panggilan mel keluar dari toilet. saat ponsel mel ditangan abizar.


"apa yang kau lakukan" ucap mel


"tidak.... tadi aku mau menjawab panggilan teleponmu yang berulang kali berdering"ucap abizar gelagapan.


"benarkah, siapa ya pasti penting" ucap mel meraih ponselnya ia melihat nama Rendy tertulis disana


ia kemudian memanggil ulang Rendy.


📞tidak mel, aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi.


📞pagi juga kak


📞kau sedang apa


📞aku baru bangun kak


📞apa kau mau aku bawakan sarapan


📞tidak Kak


📞 ya sudah aku mau siap-siap berangkat kerumah sakit


📞kakak hati-hati ya


📞terima kasih mel


mel pun menutup panggilannya. ia memperhatikan raut wajah abizar


"kau kenapa" ucap mel


"dokter itu seperti tidak ada kerjaan,pagi-pagi sudah menelpon" ucap abizar tidak suka


"terserah dia, kenapa kau yang repot" ucap mel


"dia suka padamu" ucap abizar


"bukan urusanmu, dia mau suka atau tidak padaku" ucap mel


"kau tidak trauma dekat dengan dokter" ucap abizar


"aku trauma dekat denganmu" ucap mel


"kenapa aku" ucap abizar


"pikir saja sendiri" ucap mel dan keluar dari dari kamar rawat tuan mandala


"menyebalkan, dia suka sekali ikut campur urusanku" batin mel


tuan abizar bangun dari tidurnya dan ia memanggil nama mel. abizar langsung mendekat ke tuan mandala.


"papa sudah sadar, aku akan memanggil dokter" ucap abizar


"aku sudah lebih baik, aku merasa mel ada disini" ucap tuan mandala


"ia, dia datang untuk papa dan menunggui semalaman disini, sekarang dia sedang keluar sebentar" ucap abizar.


"benarkah, aku ingin bertemu dengannya" ucap tuan mandala


"sebentar pa, abi akan memanggilnya Kesini papa ditemani mama dulu ya" ucap abizar


tuan mandala hanya mengangguk tanda setuju, nyonya rossa pun mendekat walau ia takut dan merasa bersalah kepada suaminya.


"pa aku minta maaf padamu" ucap nyonya rossa lirih


"sudahlah, aku sudah memaafkanmu" ucap tuan mandala memegang dadanya


"apa dadamu sakit pa" ucap nyonya rossa


"tidak, aku baik-baik saja" ucap tuan mandala ia kemudian menutup matanya kembali


nyonya rossa melihat ekspresi wajah suaminya yang masih kecewa padanya. walaupun suaminya mau berbicara padanya tapi ia merasakan suaminya membatasi diri berinteraksi dengannya. nyonya rossa duduk didekati kursi dinas suaminya terbaring. ia hanya diam memperhatikan suaminya. ia sudah mengerti betapa suaminya mengasihi mel. saat ia sadar ia mencari gadis itu. ia begitu merindukan gadis itu dan begitu terluka diacuhkan mel. dan semua itu karena dirinya.


pintu terbuka tampak abizar sudah datang dengan membawa gadis itu. mel mendekat ketempat tuan mandala terbaring.


"pa" ucap mel


tuan mandala membuka matanya dan melihat mel sudah ada dihadapkannya dengan air mata membasahi pipinya


"putriku, kau sudah datang benarkah kau disini karena mengkhawatirkanku" ucap tuan mandala.


mel mengangguk ia tak sanggup untuk berkata dan Lansung berhamburan memeluk tuan mandala


"maaf pa, aku jahat padamu dan durhaka padamu" ucap mel dalam tangisannya.


Dan semua disaksikan Oleh abizar Dan nyonya rossa.