
ambulance memasuki area rumah sakit. tuan mandala dibawa petugas ambulance masuk IGD. dokter segera menangani tuan mandala dibantu para perawat. abizar dan nyonya rossa menunggu didepan IGD dengan cemas. abizar mondar-mandir didepan ruangan itu menanti kabar tentang kondisi papanya.
dokter keluar dari ruang IGD mengadarkan kondisi tuan mandala.
"bagaimana keadaan orang tua saya dok" ucap abizar
"ayah anda mengalami serangan jantung"ucap dokter
"apa? serangan jantung" ucap abizar terkejut
"ya tuan, sebaiknya jangan biarkan dia stres atau terlalu lelah saya sudah memberi obat agar ia bisa istirahat " ucap dokter
"jadi apa yang harus kami lakukan dok" ucap abizar beri dukungan padanya dan hindari segala yang membuat ia merasa stres dan sedih, kalau begitu saya permisi dulu " ucap dokter
"terima kasih dok" ucap abizar.
abizar duduk samping mamanya, ia paham pasti mamanya berada bersalah dengan kejadian menimpa papanya. dan sebenarnya ia pun masih menyimpan amarah kepada mamanya tetapi disaat begini tidak pantas rasanya marah atau berdebat dengan mamanya.
"mama sebaiknya pulang, biar abi yang disini menunggu papa" ucap abizar
"mama tidak mau pulang, mama mau disini juga ikut menunggu papa bi" ucap mama
"tidak usah Ma, nanti mama jadi sakit, papa akan sedih kalau mama sampai sakit" ucap abizar
"mama mohon bi, biarkan mama ikut dihuni bersamamu papa begini karena mama bi" ucap nyonya rossa menangis
"sudahlah Ma, jangan dibahas lagi yang terpenting adalah kesehatan papa" ucap abizar.
abizar mengambil ponsel dari saku celananya lalu menghubungi supir dirumahnya. ia meminta dibawakan baju ganti dan baju hangat untuk dirinya dan juga mamanya. setelah itu ia duduk kembali disamping mamanya yang masih menangis menyesali kejadian yang menimpa papanya. abizar memeluk mamanya untuk memberi kekuatan kepada mamanya.
"apa aku harus mengabari mel tentang keadaan papa" batinnya
tapi abizar teringat kata-kata papanya bahwa jangan mengganggu mel lagi. tapi mel adalah sumber kekuatan papanya. gadis itu sangat ia sayangi. ia begitu sedih mel mengalihkannya bahkan menyebut papanya dengan sebutan tuan.
"aku harus membawanya kesini, ia akan membantu penyembuhan papa, maaf pa aku melanggar kata-katamu kali ini, aku akan membawanya kesini"batin abizar
abizar mencoba menghubungi ponsel mel tapi tidak menjawab. ia berkali-kali menghubungi ponselnya tapi gadis itu tidak menjawab. abizar beralih menghubungi arnold. ia juga tidak menjawab panggilan abizar. berkali-kali mencoba tidak dijawab.
abizar memutuskan akan kerumah mel setelah papanya dipindahkan keruang rawat. 1 jam kemudian papanya dipindahkan keruang rawat setelah keadaannya stabil. abizar berpamitan pada mamanya berasalan ada urusan pekerjaan. mamanya sempat melarang tapi abizar memaksa akhirnya ia pergi. abizar berjalan cepat ke arah lift saat diparkiran ia berapapasan dengan supirnya yang membawa baju ganti dan makanan untuk ia dan mamanya.
"aku keluar dulu kau berjaga disini ruangan papaku di VVIP 1, mana kunci mobil" ucap abizar
"ini tuan" ucap sang sopir sambil menyerahkan kunci mobil
"kabari aku apapun yang terjadi disini" ucap abizar
"baik tuan" ucap sang sopir
abizar kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah mel. saat akan sampai dikomplek rumah mel. abizar melihat gadis itu baru pulang diantar oleh sebuah mobil dan ia melihat Rendy keluar dari mobil bersama mel. tidak lama kemudian Rendy berpamitan saat mel sudah membuka pagar rumahnya. abizar sengaja menunggu Rendy pulang terlebih dahulu. ia tidak ingin berdebat dengan dokter itu dalam keadaan seperti ini. setelah melihat mobil Rendy pergi abizar mendekatkan mobilnya kesepian pagar rumah mel. gadis itu akan masuk rumah. saat abizar turun dari mobil. dan gadis itu juga sempat melihat abizar. ia langsung masuk rumahnya gadis itu takut abizar akan mencari masalah padanya. abizar berteriak-teriak memanggil mel tapi gadis itu tapi mel tidak merespon atau keluar dari rumahnya.
kali ini abizar nekat ia naik keparat rumah mel lalu lompat masuk kedalam halaman rumah mel bak maling. ia lalu menuju pintu rumah mel ia mengetuk berulang kali mel juga tidak menjawabnya.
"mel aku mohon keluarlah aku ingin bicara padamu
mel keluarlah papa masuk rumah sakit
ia terkena serangan jantung
ia membutuhkanmu mel
aku mohon temui papa sekali saja"
ucap abizar menangis sambil berlutut di depan pintu rumah mel.
mel membuka dan keluar dari rumahn pipinya sudah basah dengan air mata.
"dimana papa sekarang" ucap mel
"dirumah sakit sejati" ucap abizar
"antar aku sekarang kesana" ucap mel.
ia pergi bersama abizar. gadis itu terus menangis disamping kursi kemudi abizar.
"apa, papa begini karena sikapku" ucap mel
"tidak" ucap abizar
"jadi kenapa papa bisa terkena serangan jantung" ucap mel
"ada kebenaran yang tidak bisa ia terima" ucap abizar
"apa" ucap mel
"nanti sampai dirumah sakit aku jelaskan" ucap abizar.
abizar dan mel sampai dirumah sakit mereka menuju kamar rawat. ia melihat nyonya rossa juga disana dengan pipi yang basah. mel mengalihkan tatapannya pada seseorang lelaki yang sedang terbaring lemah. beberapa alat medis melekat ditubuh tuanya.
"Pa, aku datang pa"
"pa, aku anak yang durhaka mengacuhkan papa sebaikmu pa"
"pa, aku sudah datang pa, bangunlah pa" ucap terus menerus sambil terus menangis begitu perih. mel meraih tangan berkeriput itu dan meletakkan dipipinya sambil terus mencium punggung tangan tuan mandala.
abizar dan nyonya rossa melihat begitu terpukulnya mel melihat keadaan tuan mandala. ia juga merasa bersalah karena selama ini mengacuhkan orang yang selalu tulus menyayangi dirinya bahkan menganggapnya seperti anak sendiri. tetapi ini bukan kehendak mel keadaan memaksanya nyonya rossa mengancamnya dan ia tidak berdaya.
abizar mendekati gadis tersebut ia tidak tega melihat mel yang begitu terpukul melihat papanya.
"aku mau bicara denganmu, ikut aku" ucap abizar
"kemana" ucap mel
"ikut saja" ucap abizar
"baik" ucap mel
"Ma, kami kekantin dulu ya, apa mama mau pesan sesuatu" ucap abizar
"tidak bi" ucap nyonya rossa
mel mengikuti arah langkah abizar menuju kantin. mereka duduk berhadapan. abizar menawarkan makanan atau minuman pada mel, tetapi gadis itu menolak.
"aku dan papa sudah tau semua" ucap abizar membuka percakapan
"tau apa" ucap mel
"mama sudah mengaku bahwa ia mengancammu waktu itu" ucap abizar
"aku sudah melupakan semuanya" ucap mel
"tetapi sikapmu berubah"ucap abizar
"aku hanya sadar diri saja" ucap mel
"termasuk mengacuhkan papa" ucap abizar
"itu semua atas permintaan nyonya rossa" ucap mel
"boleh aku meminta sesuatu padamu" ucap mel
"apa kak mau memaafkanmu dan mama" ucap abizar
"aku sudah memaafkan kalian dari dulu" ucap mel
"tapi kau menjauhi aku dan keluargaku" ucap abizar
"aku menjaga hatiku agar tidak terluka" ucap mel
"apa kita masih bisa berteman demi papa aku mohon, berpura-puralah kita sudah berbaikan"ucap abizar
"kenapa harus berpura-pura, kau mau mempermainkanku lagi" ucap mel
"bukan begitu" ucap abizar
"jika berteman mari berteman jangan masukkan dusta didalamnya" ucap mel
"baiklah kita berteman sekarang" ucap abizar sambil memgulurkan tangan dan disambut oleh mel.
ponsel mel yang ia letakkan diatas meja berbunyi dan tertulis nama Rendy disana.
📞halo kak
📞halo mel
📞sudah tidur
📞baru saja aku akan tidur
📞apa aku bisa video call denganmu
📞besok saja kita video call hari ini aku sangat lelah
📞baiklah, selamat tidur mel, mimpi yang indah
📞kakak juga ya mimpi indah
abizar menatap mel penuh tanya tentang hubungan mel dan dokter itu
"kalian pacaran" ucap abizar
"ehmm bukan urusanmu tuan" ucap mel
"mana ada lelaki menghubungi wanita dijam segini dan ingin video call" ucap abizar
"terserah kami" ucap mel
"jadi kau sering video call dengan pakaian tidurmu yang kurang bahan itu" ucap abizar
"enak saja menuduhku, ini yang membuat malas berteman denganmu aku kekamar papa saja" ucap mel meninggalkan abizar dikantin
"aku saja belum pernah video call tengah malam dengannya, mes•m sekali dokter itu" batin abizar