
Viona melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, jalanan yang masih sepi membuatnya semakin menambah kecepatan mobilnya.
Air matanya terus menetes ketika teringat berita yang di sampaikan oleh mela setengah jam yang lalu.
Setelah menempuh jarak yang agak jauh dari rumahnya, akhirnya Viona sampai di depan halaman rumah yang besar, rumah yang dulu sering di kunjunginya. Dengan tubuh yang lemas dan bergetar Viona berjalan menuju ke dalam rumah yang di penuhi dengan orang orang yang memakai baju serba hitam dengan wajah yang sedih. Bendera kuning telah di pasang di depan pagar.
Setelah sampai di depan pintu kaki Viona begitu lemas ketika melihat jasad yang sudah tak berdaya terbaring di dalam ruang tamu. Viona tidak bisa menahan tubuhnya, dia limbung begitu saja di depan pintu.
"VIIOOO..."teriak semua orang yang ada di dalam ruang tamu. Bunda Wina yang awalnya bersimpuh di bawah jasad anaknya seketika langsung berlari menuju Viona.
"sayang.. " panggil bunda Wina kepada Viona dengan suara yang lemah dan raut muka yang begitu sedih.
"bunda... ini mimpi kan bund?" tanya Viona dengan tatapan kosong.
Bunda Wina tidak menjawab pertanyaan Viona, beliau langsung memeluk Viona agak lama, kemudian membantu Viona untuk berdiri dan berjalan ke tempat Husein berada saat ini.
Dengan tangan yang bergetar Viona membuka kain yang menutupi jasad yang sedang terbaring itu. Seketika air matanya turun dengan derasnya. Tubuhnya luruh begitu melihat laki laki yang di cintainya terbujur pucat tak bernyawa.
"Kak husein...kak..." ucapnya lirih sambil terus menangis.
"kak Husein kenapa bisa seperti ini...Kak...hiks..hiks...hiks...hiks" tangis Viona pecah begitu saja. Semua orang yang ada di dalam ruang tamu sampai terharu melihat Viona yang bersimpuh di bawah jasad Husein dengan tangisan yang begitu menyayat hati.
Semua keluarga Husein sudah mengenal Viona dengan baik. Mereka tahu bagaimana kedekatan Viona dan Husein. Bagi orang lain yang belum tahu hubungan Viona dan Husein pasti mereka melihat keadaan Viona saat ini seperti seorang istri yang di tinggal meninggal suaminya.
"Bunda... Vio memang bukan siapa-siapa nya kak Husein lagi, tapi di hati Vio hanya ada nama kak Husein bund..." ucap Viona dengan kepala yang menunduk dan terisak.
"sayang...j angan seperti ini, kamu sudah punya suami nak. Kamu tidak boleh mencintai orang lain selain suami kamu nak." bunda Wina berucap lembut dengan terus mengusap punggung Viona.
"bunda, kenapa kak Husein bisa meninggal?" tanya viona dengan suara yang serak.
"Vio... Husein sudah lama menderita penyakit limfoma(kanker kelenjar getah bening)."ucap bunda Wina dengan tatapan sendu. "Husein sengaja merahasiakan semua ini dari kamu Vi, dia tidak ingin membuat kamu sedih." lanjut bunda Wina sambil terisak.
Viona hanya diam termanggu mendengar penjelasan bunda Wina. Viona semakin sedih dan terisak terus menerus. Bunda Wina pergi meninggalkan Viona dan berjalan menuju kamar Husein.
Tak lama kemudian bunda Wina kembali sambil membawa sebuah kotak berwarna merah maroon di tangannya.
"Vio... ini buat kamu dari Hsein, 2 minggu yang lalu dia menitipkan ini pada bunda." ucap bunda Wina.
"Vio...maafkan bunda ya nak, sudah membuat kamu menderita. Waktu itu bunda ingin sekali melamar kamu tapi Husein melarang bunda melakukan itu, karena Husein takut kamu akan menjadi janda di usia muda jika kamu menikah dengannya." lanjut bunda Wina sambil menggenggam tangan viona. Mendengar penjelasan bunda Wina membuat viona semakin terisak.
"Nak... setelah pulang dari sini bukalah kotak maroon ini, kamu akan tahu semuanya." ucap bunda Wina sambil menatap sendu ke arah Viona.
😥😥😥😥😥😥😥😥