
Kebahagiaan tengah di rasakan oleh Mela. Ia tidak menyangka Gilang akan serius melamar nya. Perkenalan yang berawal di club malam kini berjalan menuju ikatan suci pernikahan. Langkah awal yang di sebut Lamaran atau tunangan saat ini tengah berlangsung dengan khidmat di ruang tamu Mela.
Banyak sekali tamu yang hadir dalam acara Mela dan Gilang. Terlihat Bunda Wina dan pak Salim juga ikut mengantar keponakan nya yang sedang melamar gadis pujaan hatinya itu.
Raut kebahagiaan terlukis di wajah Cantik Mela tak kala ia selesai bertukar cincin dengan Gilang. Ia benar-benar resmi menjadi calon istri kekasih yang di cintai beberapa bulan ini. Acara di lanjutkan dengan ramah tamah antara kedua belah pihak keluarga. Mereka juga sekaligus menentukan tanggal pernikahan nya.
Mela dan Viona duduk di samping Bunda Wina yang sejak tadi menggenggam erat tangan Viona. Sedangkan Reza duduk bersama Juna dan Farhan yang membawa kekasih nya yang bernama Rima.
Entah apa yang sedang di pikirkan oleh bunda Wina hingga beliau tidak melepaskan tangan Viona walau sebentar saja. Raut wajahnya terlihat sendu menatap Gilang yang sedang duduk bersanding dengan Mela. Setetes air mata berhasil turun dari pelupuk mata bunda Wina tak kala Doa penutup sedang di bacakan. Semakin lama semakin deras air mata yang keluar dari mata bunda Wina, Hal itu membuat Viona bingung menerka apa yang telah terjadi pada bunda Wina.
"Bunda kenapa menangis?" Tanya Viona sambil membantu Bunda Wina mengusap air mata di pipi mulus milik bunda Wina.
"Bunda hanya teringat Husein nak, apalagi saat dekat denganmu seperti ini. Rasanya bunda sedang dekat dengan Husein saja." ucap Bunda Wina dengan suara yang lirih. Se kuat apapun bunda Wina untuk mengikhlaskan putranya namun beliau tetaplah seorang ibu yang mempunyai rasa cinta yang begitu besar terhadap putranya yang sudah pergi ke surga itu.
Viona merengkuh tubuh bunda Wina ke dalam pelukannya. Viona menepuk lengan bunda Wina dengan lembut. Ia juga ikut sedih mengingat betapa baiknya keluarga Husein padanya.
"Bunda yang sabar ya, Vio juga ingat kak Husein kalau begini." Ucap Viona dengan suara sendu nya. Tak bisa di pungkiri meskipun ia sudah jatuh cinta kepada suaminya namun sosok Husein tidak lah mudah di lupakan oleh Viona.
Semua keluarga Gilang hanya memandang dari jauh Bunda Wina yang sedang bersedih di pelukan Viona. Mereka tahu betul apa yang sedang di rasakan bunda Wina saat ini.
"Nak, apa rumah tanggamu baik-baik saja?" tanya Bunda Wina ketika menegakkan tubuhnya kembali.
Viona mengulas senyum nya, ia memandang wajah bunda Wina dengan tatapan penuh kasih.
"Rumah tangga Vio baik-baik saja bund, Mas Reza begitu mencintai Vio, dia selalu memprioritaskan kebahagiaan Vio." ucap Viona
"Syukurlah nak, bunda ikut bahagia." ucap Bunda Wina sambil mengusap lembut pipi Viona.
"Bunda ingin makan apa? Vio ambilin ya sekalian sama mas Reza." ucap Viona.
"Tidak usah nak, mari kita bergabung dengan keluarga yang lain." ucap Bunda Wina sebelum berdiri dari tempat duduknya. Viona berjalan menuju tempat suaminya berada bersama teman-teman nya.
Setelah acara perjamuan makan malam selesai. Rombongan keluarga Gilang pamit pulang. Gilang tidak ikut pulang, ia ikut berkumpul dengan teman-teman nya yang lain di teras rumah Mela. Mereka semua berkenalan dengan pacar baru Farhan yang tidak pernah ikut kumpul sebelum nya karena ia seorang pramugari jadi jarang bertemu dengan Farhan.
Obrolan terus berlanjut sampai malam, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Semua nya pamit untuk pulang ke rumah masing-masing, begitu pun dengan Gilang, ia juga ikut pamit pulang bersamaan dengan kedua teman nya.
...π π π π π π ...
Malam telah berganti pagi. Suara Adzan menggema di mana-mana menandakan waktu dua rakaat telah tiba. Bunyi Alarm ponsel yang ada di nakas berhasil mengusik Reza yang sedang pulas dalam tidurnya.
Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi besar sebelum melaksanakan perintah dua rakaatnya. Matanya masih enggan untuk terbuka karena ia tadi baru tidur sekitar pukul tiga dini hari karena ada proyek besar yang di lakukan bersama istrinya.
"Huek...huek...huek..." Viona memuntahkan cairan kuning di wastafel yang ada di kamar mandi. Viona berkali-kali mengeluarkan sesuatu yang sedang bergejolak di perutnya.
"Sayang...kamu kenapa?Apa salah makan tadi malam waktu di rumahnya Mela?" Tanya Reza sambil membantu Viona dengan memijat pundaknya.
Viona menegakkan tubuhnya setelah selesai membersihkan mulutnya dengan Air. Ia menatap Reza yang terlihat di dalam cermin yang ada di hadapannya.
"Mungkin aku masuk angin mas, kemarin kan kurang istirahat. Pagi sampai siang wisuda di kampus terus malamnya ke acara nya Mela sampai larut." ucap Viona dengan menatap Reza dari pantulan cermin.
"Kok bisa ya kecapekan jadi masuk angin?" tanya Reza yang masih memijat pundak Viona.
"Ya bisa lah mas. Lagian setiap malam aku juga gak pernah tuh tidur pakai baju yang benar. Selalu polos!" Ucap Viona sambil menatap sinis suaminya.
Reza hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya yang tidak salah itu. Setiap malam Reza selalu mengajaknya untuk melakukan drama kelinci yang makan Wortel.
"Maaf ya udah bikin kamu sakit gini." Reza melilitkan kedua tangan nya di perut Viona.
"Hmmmm sekarang minta maaf, nanti malam beda lagi kan mas." Viona berkelakar.
"Kalau kamu terlihat menggoda ya mau gimana lagi yang??" Jawab Reza dengan entengnya.
"Lepasin dong tangan nya, aku mau mandi mas nanti keburu habis waktunya." ucap Viona dengan suara yang manja. Reza melepaskan tangannya dari perut Viona. Ia segera berlalu dari kamar mandi untuk segera bersiap melaksanakan kewajibannya.
_
_
_
Hay kak terima kasih sudah setiap hari menunggu aku updateπ
_
_
_
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯