Wheel Of Love

Wheel Of Love
Di kantor polisi



Setelah beberapa saat sampai di dalam ruangannya, Reza di sibukkan dengan dokumen yang sudah menumpuk di meja nya untuk di pelajari. Reza mulai membuka satu persatu dokumen di hadapannya.


Karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Reza tidak mendengar ketika ponsel nya sejak tadi berdering di dalam tas kerja nya. Beberapa saat kemudian ia baru mencari ponsel nya untuk menghubungi Adit.


Matanya melebar ketika melihat panggilan tak terjawab sebanyak lima belas kali dari Viona. Dengan segera ia menelfon balik ponsel istrinya, perasaan tidak enak tiba-tiba muncul di benaknya.


Setelah beberapa detik sambungan telfon berdering langsung saja di jawab oleh seseorang di sebrang sana.


"Hallo mas...tolong cepat datang kesini, aku ada di kantor polisi yang di dekat kampus." ucap Viona di sebrang sana.


"Ada apa sayang??ada masalah apa?" Reza masih bingung dengan apa yang terjadi pada istrinya.


"Nanti Vio jelasin disini, sekarang mas Reza datang aja kesini ya!!" ucap Viona.


"Baiklah tunggu di situ, mas akan datang." ucap Reza dengan perasaan khawatirnya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi Reza segera beranjak dari tempat duduknya, ia sedikit berlari keluar dari ruangannya. Reza bersisipan dengan Adit yang baru saja keluar dari pantry.


"Dit, tolong handle pekerjaan saya hari. Saya mau ke kantor polisi dulu." Ucap Reza ketika berhadapan dengan Adit.


"Apa ada masalah pak?Biar saya antar pak." ucap Adit yang ikut khawatir karena melihat raut wajah bos nya yang tidak biasa.


"Tidak, pekerjaan kantor banyak sekali dit, kamu telfon pengacara kita saja untuk bersiap jika saya butuh bantuan nanti." ucap Reza sebelum pergi meninggalkan Adit yang masih termanggu di tempatnya.


Semua pegawai Reza terlihat bingung ketika melihat wajah panik atasan nya yang sedang berlari keluar dari gedung miliknya itu.


Reza melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak perduli lagi dengan keselamatan nya karena khawatir dengan keadaan istrinya. Ia sudah mencoba menenangkan hatinya tapi semua itu gagal karena ia terus saja menerka apa yang sedang terjadi.


Hampir memakan waktu Dua puluh menit Reza sudah sampai di halaman luas kantor polisi yang di sebutkan istrinya tadi. Ia segera masuk dan bertanya tentang keberadaan istrinya.


"Pak saya mau tanya, dimana wanita yang bernama Viona sekarang?" tanya Reza pada petugas yang berjaga di loby.


"Apa yang bapak maksud Mahasiswi kampus xxx?" jawab pak polisi yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Iya pak." jawab Reza.


"Bapak silahkan masuk di lorong sebelah kanan itu, bapak masuk saja ke dalam ruangan yang ada di pojok utara." jawab pak Polisi itu dengan jelas.


"Baik pak, terima kasih atas informasinya." jawab Reza sebelum berlalu pergi untuk mencari dimana istrinya berada.


Ketika sudah sampai di depan ruangan yang tertutup itu, Reza mengatur nafasnya agar kembali normal. Ia mengetuk pintu dan membukanya pelan.


Matanya melebar ketika melihat istrinya di dalam sana dengan keadaan yang tidak baik, kening yang di balut perban dan pergelangan kaki yang terbalut perban elastis berwarna coklat. Ia juga melihat ada Reva, Mela dan juga pak Andre yang di dampingi orangtua dan dua orang pria paruh baya.


"Mas Reza...." ucap Viona ketika melihat suaminya yang sedang terdiam di ambang pintu. Ingin sekali ia berlari memeluk suaminya namun kaki nya tak bisa di gerak kan untuk berlari.


Reza berjalan menuju tempat istrinya berada saat ini, Di tatapnya raut ketakutan yang tergambar di wajah Viona.


"Ada masalah apa?" tanya Reza sambil merapikan anak rambut Viona yang berantakan.


"Maaf bapak ini siapa?" tanya petugas polisi yang sejak tadi mengamati nya.


"Nama saya Reza, saya suaminya Viona." jawab Reza.


"Jadi begini pak, Istri anda melaporkan dosen nya yang bernama Andreas Wiguna atas tuduhan pelecehan dan penganiayaan." polisi yang bernama pak Bambang itu menjelaskan masalah yang saat ini tengah di tangani nya. Mendengar Nama Andre di sebutkan Reza langsung menatap tajam ke arah Andre yang tertunduk.


"Bisa bapak jelaskan bagaimana detail masalahnya?" tanya Reza dengan serius.


"Sebaiknya bapak mendengarkan rekaman ini dulu." Ucap Pak Bambang yang menyerahkan ponsel Viona ke tangan Reza.


Reza membeliak kan matanya ketika mendengar apa yang di katakan oleh pak Andre, darah nya seketika mendidih mendengar semua ucapan Andre.


"KURANG AJAR!!!ANDRE!!!" teriak Reza dengan wajah yang memerah karena emosi nya sudah memuncak. Reza berjalan menghampiri pak Andre dengan tangan yang mengepal.


"Mas Reza jangan lakukan apapun!!" Teriak Viona Ketika melihat Reza sudah mencengkram kerah kemeja pak Andre.


"Pak Reza tolong berhenti!!" ucap Pak Bambang yang sudah berdiri dari tempat duduknya. Dua pria paruh baya yang sejak tadi duduk pun langsung berdiri untuk melerai Reza yang sudah mengangkat tangan nya, mereka berdua adalah Rektor dan satpam kampus tempat Viona kuliah.


"Sudah pak ini di kantor polisi. Tolong jangan memakai kekerasan." ucap pak Bambang yang sudah berdiri di samping Reza.


"pak Reza silahkan duduk kembali, Mari kita bahas masalah yang terjadi saat ini." lanjut pak Bambang. Semua orang duduk kembali di tempat masing-masing.


Reza menatap Andre dengan tatapan membunuhnya, tangan nya sejak tadi sudah gatal ingin memberikan bogem mentah di wajah pak Andre yang sejak tadi tertunduk.


"Jadi pak Reza apa yang bapak inginkan setelah mendengar rekaman ini?" tanya pak Bambang.


"Saya ingin dia di hukum seberat mungkin, dia sudah mengganggu ketenangan istri saya." ucap Reza sambil menunjuk ke arah Andre.


"Pak Reza tolong jangan masuk kan anak saya ke dalam penjara pak?" mamanya pak Andre memohon kepada Reza.


"Tidak bisa bu, saya minta maaf. Saya harus mengambil tindakan tegas kali ini. Anak ibu sudah menganggu istri saya. Bukan kah dulu saya sudah memberikan kesempatan untuk anak ibu?" ucap Reza dengan serius.


"Sepertinya anak ibu juga sudah menyakiti istri saya, benarkah begitu Vi?" Reza memastikan pendapatnya kepada istri nya. Dan Viona menjawab dengan anggukan.


"Pengacara saya sebentar lagi akan datang untuk mengurus masalah ini. Tolong proses sesuai aturan hukum yang berlaku pak!" ucap Reza pada pak Bambang.


"Baik pak saya akan memproses masalah ini." ucap pak Bambang. Kemudian semua yang ada di ruangan itu di introgasi satu persatu. Lama sekali mereka berada di dalam ruangan itu, semua tak luput dari pertanyaan yang di ajukan oleh pak Bambang dan rekan nya. Setelah semua proses selesai, semua di izinkan untuk pulang kecuali pak Andre.


"Pak Reza saya selaku Rektor Viona, minta maaf atas perbuatan yang sudah di lakukan Rekan saya." ucap pak Rektor sebelum mereka meninggalkan ruangan introgasi.


"Iya pak, tolong jangan sampai berita ini tersebar keluar kampus, saya tidak ingin Viona tertekan karena kasus ini." ucap Reza.


"Baik pak, akan saya lakukan yang terbaik." ucap pak Rektor.


Reza menghampiri Viona yang masih duduk di kursinya, ia membantu Viona berdiri.


"Aduh mas sakit!!" Viona mengaduh ketika mulai berjalan satu langkah, Rasa sakit tengah di rasakan kakinya saat ini. Tanpa banyak bicara Reza meraih tubuh Viona, di gendong nya tubuh Viona untuk segera pulang ke rumahnya.


πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—πŸš—


_


_


Hay kakπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹jangan lupa like Vote dan komen nya yaa❀️


_


_


_


_


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯