Wheel Of Love

Wheel Of Love
Rujak Buah



Senin pagi di awali Viona dengan mual-mual sejak subuh sampai siang, Ia pun tak berselera makan sejak pagi. Tadi setelah Reza berangkat kerja ia meminta mbak Sri untuk mengerok punggung nya, siapa tahu cara itu berhasil untuk menghilangkan rasa mual yang sejak tadi di rasakan nya.


"Non, ini minum jahe hangat dulu." ucap Mbak Sri yang meletakkan gelas berisikan jahe hangat untuk Viona.


"Iya makasih mbak." Viona bangun ranjang nya dan segera menghabiskan minuman yang di bawakan oleh mbak Sri. Setelah menghabiskan Jahe hangat Viona merebahkan lagi tubuhnya di atas ranjang. ia merasa lemas tak bertenaga.


"Saya mau istirahat dulu ya mbak Sri." ucap Viona sebelum mbak sri berlalu dari kamarnya.


"Iya non silahkan, saya mau ke bawah dulu." ucap mbak Sri. Kemudian mbak Sri segera berjalan keluar dari kamar Viona dan menutup lagi pintu kamar Viona.


"Apa non Viona hamil ya??? kok dari tadi gak hilang-hilang mual nya." gumam mbak Sri yang masih terdiam di depan kamar Viona.


Sementara itu di kantornya Reza berkali-kali menghubungi Viona namun tak ada jawaban dari istrinya itu. Ia khawatir dengan keadaan Viona yang sedang tidak baik.


"Kamu kemana sih Vi dari tadi gak di angkat panggilan ku!!" Gumam Reza sambil terus mengotak atik ponsel nya.


Kalau saja tidak ada meeting dengan klien penting Reza sudah di pastikan pulang sejak tadi. Ia tidak tenang meninggalkan Viona yang sedang sakit. Kemudian Ia menghubungi Bu Mina untuk menanyakan kabar istrinya.


Reza bernafas lega ketika tahu istrinya sedang tidur saat ini setelah tadi selesai menelfon Bu Mina. Ia melanjutkan lagi pekerjaan nya yang sempat tertunda.


...💠💠💠...


Matahari pelan-pelan turun ke ufuk barat, warna jingga tengah menghiasi langit di kota jakarta. Semua orang memenuhi jalanan ibukota untuk kembali pulang ke tempat ternyaman mereka.


Reza terjebak macet yang tiada akhirnya. Hampir satu jam ia berada di jalan raya yang banyak di penuhi kendaraan roda empat dan roda dua.


Sore ini ia harus mencarikan makanan yang di pesan Viona sebelum ia keluar dari kantor tadi. Viona meminta nya untuk membeli Rujak buah super pedas yang ada di dekat kampus nya dulu.


Demi untuk mendapatkan Apa yang di inginkan istri nya, Reza rela memutar jalan yang lumayan jauh dari kantor nya.


"Haaahhh!! Viona ada-ada saja, minta rujak buah nya jauh banget ya!! macet lagi." gerutu Reza yang tengah fokus menatap jalanan di depan nya.


"Demi istri tercinta ku rela terjebak macet di sepanjang jalan menuju rujak buah." Kelakar Reza untuk menghibur dirinya yang terjebak dalam kemacetan.


Reza akhirnya sampai di tukang rujak yang di maksud Viona. Reza membeli empat porsi sekaligus untuk di bawa nya pulang.


Adzan magrib menggema di seluruh wilayah jakarta saat ini. Reza baru sampai di rumah setelah menempuh perjalanan jauh demi menyelesaikan misi rujak buah yang di penuhi drama kemacetan di jalanan.


Reza masuk ke dalam rumahnya yang sepi. Ia berjalan masuk ke ruang keluarga dimana Viona biasa menunggu nya pulang dari kantor. Ia melihat Viona tengah terbaring di sofa dengan menatap televisi yang ada di depan nya.


"Sayang...lihat apa yang aku bawa!!" ucap Reza yang sedang berjalan menuju tempat Viona berada.


"Mas Reza!!" Viona bangkit dari sofa dan berlari menuju Reza yang menenteng kantong putih di tangannya. Viona meraih kantong yang di bawa suaminya dan meletakkan nya di atas meja.


"Mas Reza aku kangen!!" ucap Viona dengan suara manja nya, ia mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Viona menatap Reza dengan mata yang berbinar.


"Hmmm tumben istriku manja gini!!" Ucap Reza karena heran melihat Viona yang manja saat ini.


"Ya sudah mas mau mandi dan sholat magrib dulu ya..." ucap Reza dengan memandang wajah istrinya. Reza mengecup kening Viona sebelum ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Viona menatap Reza yang berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia bingung harus mengatakan hal penting yang akan membuat suaminya bahagia.


"Apa besok saja ya aku ngasih tahu mas Reza kalau hasilnya benar-benar akurat. Tadi kan hanya samar-samar." Gumam Viona dalam hati.


Viona membuka kantong putih yang ada di atas meja. ia melihat ada empat porsi rujak yang di beli oleh suaminya tadi. Viona membawa dua bungkus untuk di berikan kepada Bu Mina dan mbak Sri yang Sedang menyiapkan makan malam di dapur.


"Bu Min, mbak Sri, ini ada rujak buah tapi rasanya super pedas." ucap Viona yang meletakkan dua porsi rujak buah di meja yang ada di dapur.


"Terima kasih non." jawab bu Mina.


"Pengen banget ya non??" Tanya mbak Sri yang sedang mencuci sayuran.


"Iya mbak, lagi pengen banget dari tadi." ucap Viona yang sudah membawa piring di tangannya. Viona kembali lagi ke ruang keluarga untuk membuka rujak yang sejak siang di inginkan nya.


"Hmmmm aroma nya menggoda sekali." ucap Viona sambil membuka satu mika yang berisi beberapa jenis buah yang sudah di iris-iris.


Karena sudah tidak tahan lagi, Viona mulai menikmati rujak yang ada di hadapannya tanpa menunggu Reza yang masih di kamar. Ia begitu menikmati rasa asam dari beberapa potong mangga muda yang bercampur dengan buah lain.


"Hmmm enak banget!!" Seru Viona dengan mata yang terpejam.


"Sayang kok aku gak di tungguin sih!!" Suara Reza tiba-tiba saja terdengar di samping Viona.


"Habis udah gak sabar aku mas. Sini deh mas cobain, enak banget rasanya!!" Viona menepuk sofa di sebelahnya. Reza pun duduk di samping Viona untuk ikut menikmati rujak buah yang ada di hadapannya.


"Asem banget yang!!" ucap Reza ketika mencicipi mangga muda seperti yang Viona makan saat ini. Reza mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Enak loh mas!!seger mas, ini enggak Asem." ucap Viona sambil mengunyah mangga di mulutnya.


Reza menggelengkan kepalanya karena melihat Viona yang menikmati rujak buah dengan lahapnya.


"Apa ada masalah ya dengan indra pengecapnya??" tanya Reza dalam hati.


_


_


_


_


🔥🔥🔥🔥🔥🔥