
Waktu terus berlalu tanpa bisa di hentikan, saat ini Sellin sudah berumur sembilan bulan, ia sudah bisa merangkak dengan cepat dan kini sudah mulai belajar untuk berdiri walau harus merambat di sofa atau kadang di tembok rumahnya.
Viona sering kuwalahan dengan tingkah Sellin yang semakin hari semakin aktif saja. Bu Mina sering membantu Viona untuk menjaga Sellin yang merangkak ke sana ke mari jika berada di ruang keluarga.
"Mam..mam..mam..mam..." Ucap Sellin ketika melihat mangkuk kecil yang ada di atas meja. Setiap melihat tempat makan nya Sellin selalu mengatakan kata-kata itu.
"No... no... no...!!! Sellin kan sudah makan malam, jadi gak boleh makan lagi, oke!!" Ucap Viona seraya menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri di hadapan Sellin.
Viona terkekeh ketika melihat wajah Sellin yang akan menangis karena Tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan benar saja akhirnya tangisan Sellin menggema di ruang keluarga.
"Uluh... uluh.... Anak tantik nya Mami mulai drama nih!!" Viona mengangkat tubuh Sellin ke atas pangkuan nya. Ia membuka kancing baju nya untuk menenangkan Sellin yang masih menangis sambil menunjuk mangkuk kecil yang ada di meja. Viona mengarahkan puncak dada nya ke bibir Sellin agar segera tenang dan tangis nya mereda.
"Aduh!!!! aduh!!! Sellin jangan di gigit!!" Viona tersentak ketika sedang asyik menatap Sellin yang sedang menikmati Asi dari nya. Sellin menggigit puncak dada Viona.
"Aduh!! Stop Sellin jangan di gigit aaauhh!!!" Teriak Viona sambil menatap Sellin yang pelan-pelan melepas puncak dada nya. Sellin tertawa dengan bahagia ketika melihat ekspresi sang mami yang kesakitan.
"Mi... Mi... Mi..." Ucap Sellin sambil menepuk dada Viona.
"Ada Apa sih Yang teriak-teriak sampai terdengar di ruang kerja?" Tanya Reza yang baru saja sampai di belakang Viona.
"Sellin sekarang udah bisa gigit mas, mungkin gigi nya sudah ada yang tumbuh. Duh sakit benget rasanya puncak dadaku!!" Ucap Viona sambil menutup kancing baju nya lagi.
Reza terkekeh mendengar apa yang di ucapkan oleh istrinya kemudian ia duduk di samping Viona dan mengangkat tubuh Sellin untuk di pindahkan ke atas pangkuan nya.
"Sellin, puncak nya Mami jangan di gigit. Nanti Papi ajarin ya cara menggigit yang benar dan tidak sakit, oke Sell!!" Ucap Reza sambil menatap Sellin yang mengoceh sendiri. Setelah mendengar apa yang di ucapkan Suaminya, Viona langsung menatap Reza dengan tajam ia juga berhasil memukul lengan Reza dengan keras.
"Mas itu ya kebiasaan, ngomong aneh-aneh di depan Sellin!!" Sungut Viona yang kesal karena ucapan suami nya. Reza hanya terkekeh melihat sang Istri yang menekuk wajahnya.
...💠💠💠💠...
Tepat pukul sebelas malam Sellin terbangun dari tidur nyenyak nya, Ia menangis dengan suara yang kencang. Hal itu berhasil membangunkan kedua orangtua nya yang baru saja menutup matanya.
Dengan mata yang sulit untuk di buka Viona meraih tubuh Sellin ke dalam dekapan nya. Viona langsung melebarkan matanya tak kala merasakan tubuh Sellin Demam tinggi. Ia duduk lalu meraih Sellin yang masih menangis ke dalam pangkuan nya.
"Mas ambilkan obat nya Sellin Mas!! Sellin demam tinggi Mas!!" wajah Viona terlihat panik karena tiba-tiba saja Sellin demam di malam hari.
Reza segera beranjak dari ranjang dan berjalan menuju tempat penyimpanan kotak P3K yang ada di sudut kamar. Ia mengambil obat penurun panas untuk Sellin dan segera memberikan nya kepada Viona.
Setelah berhasil memberikan obat kepada Sellin, Viona meraih tubuh Sellin untuk di gendong nya. Sellin terus merengek dan menggelinjangkan tubuh nya dalam gendongan sang Mami.
"Besok kalau masih demam kita bawa ke rumah sakit ya mas..." Ucap Viona tanpa menatap Reza yang sedang duduk di sofa.
"Iya Sayang, tapi kenapa ya Sellin badan nya kok panas gitu, padahal tadi kan baik-baik saja." Ucap Reza yang terlihat heran karena kondisi putri nya saat ini.
"Aku juga enggak tahu Mas!!" Ucap Viona.
Waktu terus berjalan tanpa bisa di hentikan. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, Suhu badan Sellin sudah mulai menurun, pelan-pelan Viona menidurkan Sellin di atas ranjang agar ia dan juga Reza bisa istirahat. Sejak tadi Sellin terus menangis ketika di baringkan diatas ranjang, alhasil Viona dan Reza harus begadang dan bergantian menggendong Sellin. Mereka berdua sudah terlihat lelah karena harus terjaga sampai dini hari.
Viona mendudukkan tubuhnya di samping Reza yang sedang duduk di sofa. Mereka berdua menatap Sellin yang tertidur pulas di atas ranjang.
"Lihat deh Yang wajah lelah kita!!" ucap Reza sembari menyerahkan ponselnya ke tangan Viona.
"Iya mas, mata panda nya mas Reza tuh kelihatan banget!!" ucap Viona.
"Tidur yuk mas!!" Viona berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat tidurnya. Ia membaringkan tubuhnya di sisi Sellin yang masih tertidur pulas.
**
Viona dan Reza berjalan di lorong rumah sakit setelah selesai memeriksakan Sellin ke Dokter spesialis anak. Sellin hanya demam biasa karena gigi nya sudah mulai ada yang tumbuh. Dokter memberikan obat untuk di minum selama tiga hari. Dokter Anak juga menyarankan jika obat sudah habis tapi Sellin masih Demam, maka Viona di suruh Dokter tersebut untuk membawa Sellin kembali ke rumah sakit untuk di tes di laboratorium.
"Eh mas, itu seperti Gilang ya." Viona menghentikan langkah nya ketika melihat orang yang mirip Gilang Yang berjalan menuju ke ruang inap.
"Iya Sayang itu memang Gilang, ada apa ya dia disini??" Reza bertanya kepada Viona.
"Apa Mela melahirkan ya..." Jawab Viona.
Viona dan Reza memutuskan untuk mengikuti langkah Gilang untuk memastikan siapa yang sakit. Ia melihat Gilang berhenti di depan ruangan bayi.
"Bro ngapain disini??" Ucap Reza yang menepuk pundak Gilang.
"Eh elu Za!! istri gue tadi malam melahirkan Za."
"Wah terus dimana Mela sekarang??" tanya Viona dengan antusias.
"Ada di ruangan Vi, ayo kita kesana!!" Ucap Gilang sebelum berjalan menuju ruangan Mela.
"Assalamualaikum...." Ucap Viona ketika memasuki ruangan Mela.
"Waalaikumsalam, eh Vi kok tahu aku disini??" Tanya Mela yang sedikit terkejut melihat kedatangan Viona.
"Iya ini tadi Gue habis ke dokter anak untuk meriksain Sellin karena semalam demam tinggi." Jawab Viona.
Beberapa Saat kemudian Seorang perawat membawa bayi Mela yang berjenis kelamin laki-laki untuk di berikan kepada Mela setelah di mandikan.
Mereka berempat Berkumpul dan saling bertukar pengalaman dalam mengurus anak. mereka semua terkekeh ketika melihat Sellin yang terbangun dan berceloteh sendiri dengan kata yang hanya di mengerti sendiri oleh Sellin.
_
_
_
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥