
Paper bag berisi makanan favorit Reza sudah siap di atas meja makan. Siang ini Viona akan pergi ke kantor sang suami bersama Sellin, ia sengaja tidak memberi Reza kabar jika dirinya membawakan makan siang ke kantor.
"Mami ... kita mau kemana?" tanya Sellin.
"kita ke tempat kerjanya papi, Yuk! Sellin mau ikut gak nih?" tanya Viona seraya menatap wajah kecil yang terlihat semakin imut karena bando besar yang dipakai Sellin.
"Yeee ... asiik!!" teriak Sellin dengan wajah yang di penuhi dengan senyuman.
Viona menurunkan Sellin dari kursi makan, lalu ia meraih paperbag tersebut dan mengayun langkahnya ke teras rumah. Viona tak melepaskan genggaman tangan Sellin saat berjalan keluar.
"Nyonya yakin mau membawa mobil sendiri?" sekali lagi supir pribadinya itu bertanya, jujur saja supir bernama Pak Jono itu khawatir jika majikannya menyetir mobil seorang diri, apalagi membawa Sellin.
"Iya, Pak! Bapak istirahat saja," ucap Viona sebelum masuk ke dalam mobil bersama Sellin.
Beberapa detik kemudian, mobil hitam itu mulai melenggang pergi—membelah jalanan ibu kota yang dipenuhi banyak kendaraan. Macet sudah menjadi ciri khas dari kota ini.
"Mami ... itu ada yang nyanyi!" ucap Sellin seraya menunjuk dua pengamen yang ada di depan.
Viona memberikan uang kepada Sellin, ia memberikan arahan untuk putrinya itu untuk memberikan uang tersebut saat pengamen itu sampai di sisi mobil.
"berikan sekarang, Nak!" ucap Viona seraya menekan tombol untuk membuka kaca mobil.
"ini Om!" ujar Sellin saat memberikan selembar uang kepada pengamen tersebut.
Viona hanya tersenyum melihat sikap ramah yang di tunjukkan putrinya. Setelah lampu berwarna hijau menyala, Viona segera melajukan mobilnya menuju perusahaan sang suami. Beberapa puluh menit kemudian, setelah membelah jalanan yang macet, akhirnya mobil yang dikendarai Viona sampai di tempat parkir perusahaan, ia menempatkan mobilnya di sisi mobil sport Reza.
"Sellin mau jalan sendiri atau gendong Mami?" tanya Viona sebelum turun dari mobil, tak lupa ia melepas kacamatanya.
"Jalan sendili dong, Mi!" ucap Sellin seraya menatap Viona.
Matahari sedang menampakkan keangkuhannya, membuat semua insan enggan untuk keluar dari tempat persembunyian. Viona menggandeng tangan Sellin saat melangkah menuju gedung raksasa yang ada di hadapannya.
"Selama siang, Bu Viona ...." sapa kedua resepsionis yang ada di lobby kantor.
"Selamat siang ...." ucap Viona dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.
Viona melepas genggaman tangannya. Ia membiarkan Sellin berlarian kesana-kemari, itupun dalam pantauannya. Suasana kantor yang sepi membuat Sellin leluasa berlarian di lantai dasar kantor Papi nya itu.
"Hey, sini Sayang!" Viona melambaikan tangannya saat berdiri di depan lift khusus. Tak lupa ia menekan salah satu angka yang ada di sisi pintu lift agar bisa sampai di ruangan sang suami.
"Apa yang kamu lakukan!" ujar Viona dengan suara yang lantang saat melihat wanita bertubuh tinggi dan sexy berdiri di samping kursi sang suami.
Viona melihat dengan jelas jika tangan wanita itu terulur ke wajah sang suami. Reza sendiri terlihat tidur di kursi kerjanya. Terlihat gurat-gurat lelah di wajah tampan itu.
"Siapa kamu?" tanya Viona dengan pandangan yang tak lepas dari wanita cantik sedang menatapnya itu.
Sellin tak memperdulikan suara ibunya, ia mencoba naik ke atas pangkuan Reza, "Papi!" ucap Sellin seraya menepuk paha sang ayah.
Kelopak mata yang tadinya tertutup rapat, kini terbuka lebar setelah mendengar suara putri kecilnya. Reza mengerjapkan mata ketika merasakan tubuh kecil itu ada di atas pangkuannya.
"Mami!" Reza terkejut melihat kehadiran sang istri di ruangannya, "sejak kapan datang, Mi?" tanya Reza lagi. Ia belum sadar jika ada sosok wanita yang berdiri di sisinya.
"Belum lama," jawab Viona singkat. Ia menatap wanita itu lagi dengan tatapan tidak suka, "siapa dia, Mas?" tanya Viona tanpa mengalihkan pandangannya.
Reza segera mengalihkan pandangannya ke samping. Ia tertegun ketika melihat sekretaris yang baru bekerja dua minggu di perusahaan ini. Adit baru merekrutnya untuk membantu pekerjaan Yola.
"dia Lena, sekretaris baru di sini," jawab Reza seraya menatap Viona, "ada perlu apa kamu masuk ke ruanganku?" tanya Reza setelah mengalihkan pandangan ke tempat Lena berada.
"Saya hanya ingin mengantar proposal dari salah satu klien yang membutuhkan persetujuan Pak Reza," jawab Lena dengan tenang, ia meletakkan proposal tersebut di meja Reza.
"terima kasih, nanti saya periksa," jawab Reza seraya membenarkan posisi Sellin di atas pangkuannya.
Lena pamit pergi dari ruangan ini, ia menatap Viona sekilas, Lena pun segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini. Namun, sebelum membuka pintu ruangan, ia kembali menatap Reza yang sedang bersenda gurau dengan Sellin.
"Apa itu anak dan istri pak Reza? terlihat sekali jika Pak Reza begitu menyayangi mereka," gumam Lena dalam hatinya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
wah siapa lagi nih yang datang?? apakah Lena wanita yang jahat??? kepo gk nih?
🌷🌷🌷🌷