
Satu bulan setelah kejadian pak Andre dan Viona telah berlalu. Viona sudah bisa berjalan dengan normal walaupun kaki nya akan terasa nyeri jika melakukan olahraga.
Hari ini pak Surya dan bu Yuni sedang berada di kediaman anaknya. Mereka ingin melihat kondisi putrinya karena sejak dua minggu kemarin Bu Yuni pergi ke surabaya untuk berkunjung ke rumah kakaknya.
"Sayang, bagaimana keadaan kaki kamu?" tanya bu Yuni pada Viona yang duduk di samping nya.
"Udah sembuh ma, cuma nyeri aja kalau kecapekan dan buat renang." Viona menjelaskan keadaan nya kepada bu Yuni.
"Nak Reza maaf ya Viona sudah merepotkan nak Reza selama satu bulan ini." ucap Bu Yuni kepada menantunya.
"tidak ma, itu sudah kewajiban Reza untuk merawat Viona dengan baik." Reza menatap bu Yuni
"Terima kasih nak." ucap Bu Yuni
Bu Yuni mengusap lembut rambut putri nya, Bu Yuni merasa bahagia melihat rumah tangga putri nya yang tentram, rumah tangga yang di penuhi cinta kasih dari keduanya.
"maaf den, di depan ada tamu yang mencari aden dan non Viona." ucap mbak Sri tiba-tiba.
"Ah iya mbak, tolong buatin minum dulu ya." ucap Reza kepada mbak Sri.
"Sebentar ya ma,pa.." pamit Reza yang di jawab anggukan oleh pak Surya dan bu Yuni.
Reza dan Viona berjalan beriringan menuju ruang tamu, terlihat pak Yadi dan bu Sarah duduk bersebelahan dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
"Selamat malam.." Sapa Reza kepada kedua tamu nya. Pak Yadi dan bu Sarah berdiri dan menjabat tangan Viona dan juga Reza.
"Maaf Ada perlu apa bapak kesini?" tanya Reza tanpa basa-basi.
"Kami kesini ingin membicarakan masalah Andre nak Reza." ucap pak Yadi.
"Kenapa pak?bukannya sebentar lagi anak bapak akan menjalani sidang?" tanya Reza sambil menatap wajah pak Yadi yang sendu.
"Kami tadi dapat kabar dari kepolisian nak Reza, Andre depresi." Pak Yadi menundukkan kepala nya ketika mengingat kondisi putranya.
"Bukan lagi depresi nak Reza, tapi lebih tepatnya anak saya terkena gangguan jiwa." bu Sarah mengusap air matanya yang turun. Mendengar penuturan bu Sarah membuat hati Viona tersentuh.
"Kami kesini ingin minta tolong kepada nak Viona untuk mencabut tuntutan nya, kami ingin membawanya ke rumah jiwa." ucap Pak Yadi.
Reza terlihat memikirkan ucapan pak Yadi, ia juga sebenarnya tidak tega setelah mendengar kondisi Andre.
"begini saja pak, besok kita ketemu di kantor polisi, saya akan membawa pengacara saya kesana. Kami ingin memikirkan masalah ini terlebih dahulu." ucap Reza kepada Pak Yadi.
Pak Yadi menceritakan keadaan putranya saat ini dengan wajah yang tidak bisa di artikan. Viona meremas tangan Reza yang sejak tadi di pegang nya. Viona juga sedih mendengar kondisi dosen nya saat ini. pak Andre harus mengalami gangguan Jiwa karena nya.
"Nak Viona tidak salah dalam hal ini, anak kami lah yang salah. Maaf kami tidak bisa mendidik Andre dengan benar, hingga dia menjadi tempramen." ucap Bu Sarah dengan wajah sendu.
"Sekali lagi saya minta maaf bu." ucap Viona dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pak Reza, kami pamit pulang dulu, saya tunggu besok di kantor polisi pak." ucap pak Yadi sebelum beranjak dari tempat duduknya.
Bu Sarah dan pak Yadi pergi meninggalkan kediaman Reza dengan hati yang sedikit lega karena melihat Reza dan Viona yang sedikit luluh karena keadaan anaknya.
Setelah pak Yadi berlalu dari rumahnya, Reza mengajak Viona untuk kembali bergabung dengan orangtuanya.
"Ma, pa. Reza mau ke ruang kerja dulu ya." Reza berpamitan kepada mertua nya untuk pergi ke ruang kerja, ia akan menelfon pengacara nya untuk membahas masalah Andre dan istrinya.
"Iya nak." jawab pak Surya.
"Apa ada masalah Vi?" tanya pak Surya ketika melihat wajah putrinya menjadi sedih setelah menerima tamu.
Viona menjelaskan tentang situasi yang di hadapi oleh Andre, ia menjelaskan dengan detail bagaimana kondisi Andre saat ini. Bu Yuni menghela nafasnya kasar, beliau juga merasa sedih mendengar keadaan psikis orang yang menyakiti anaknya, tapi bagaimana pun Bu Yuni juga seorang ibu, beliau membayangkan jika keadaan seperti itu menimpa anaknya.
"Vi, saran mama biarkan dia di bawa orangtua nya ke rumah sakit jiwa. Bagaimana pun Andre membutuhkan perawatan untuk kesembuhan nya." ucap Bu Yuni.
"Viona bingung ma, Vio juga gak tega kalau keadaan pak Andre seperti itu, tapi disisi lain Viona juga takut kalau pak Andre menyakiti Viona lagi ma." ucap Viona sambil menyadarkan kepalanya di pundak bu Yuni.
"Lebih baik kamu mengikuti keputusan suami mu saja Vi, papa yakin Reza akan melakukan yang terbaik untuk kamu." ucapan Pak Surya yang menenangkan putrinya.
Viona tidak bersuara lagi, tatapan nya menerawang jauh memikirkan masalah nya. Ia terlalu bimbang untuk mengambil keputusan besar yang menyangkut masa depan orang lain.
_
_
_
Hay kak terima kasih sudah mendukung karya aku😘😘😘
_
_
_
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥