
Semua keluarga Gilang berkumpul di satu ruangan untuk menunggu acara selanjutnya yang akan di laksanakan sebentar lagi. Bunda Wina beserta semua keluarga besarnya hadir dalam pernikahan sang keponakannya.
Mereka semua bercengkrama dengan keluarga satu sama lain karena jarang ada waktu untuk berkumpul seperti ini. Bunda Wina mengedarkan pandangannya keluar ruangan yang di sekat oleh dinding kaca, tak sengaja Bunda Wina melihat Wanita hamil yang wajah nya sangat familiar dalam ingatan nya. Bunda Wina melihat raut bahagia di wajah wanita yang sedang diperlakukan penuh kasih sayang oleh pria yang ada di sebelahnya, terlihat sang pria sedang mengusap lembut perut buncit wanita yang sedang tersenyum itu.
Bunda Wina menatap Viona dengan perasaan yang bercampur aduk, ketika memandang wajah Viona yang terlihat bahagia beliau langsung saja mengingat putra nya yang sudah pulang ke pangkuan Tuhan. Bunda Wina tak bisa menahan perasaan nya lagi, tanpa berpamitan kepada keluarga yang lain Bunda Wina langsung berdiri dari tempat duduk nya dan berjalan menuju tempat Viona berada saat ini.
"Husein, Lihatlah wanita yang sangat kamu cintai telah bahagia Nak!! lihatlah Nak dia sedang mengandung buah hati nya, Semoga kamu tenang disisi tuhan karena sudah terbebas dari rasa bersalahmu yang begitu besar..." Bunda Wina bergumam dalam hatinya sambil berjalan menuju tempat Viona.
"Nak Vio..." Ucap Bunda Wina ketika sudah sampai di belakang Viona.
Mendengar nama nya di panggil oleh suara yang familiar di telinga nya, Viona langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sedang berdiri di belakangnya. Pandangan nya bersirobok dengan Bunda Wina, ia segera berdiri dan menghampiri Bunda Wina yang sedang berdiri di belakangnya.
"Bunda..." Ucap Viona seraya memeluk tubuh bunda Wina.
"Apa kabar Nak?" tanya Bunda Wina setelah selesai mengurai tubuh Viona dari pelukannya.
"Seperti yang Bunda lihat saat ini, Viona baik-baik saja." ucap Viona dengan senyum yang mengembang di pipi bakpao nya. Reza berdiri dari tempat duduk nya dan ikut menyapa Bunda Wina.
"Bu..." Sapa Reza seraya menjabat tangan Bunda Wina.
"Nak Reza apa kabar?" tanya Bunda Wina.
"Baik Bu. Silahkan di lanjutkan Bu... Saya mau bergabung dengan teman-teman dulu." Ucap Reza sebelum menjauh dari tempat Viona dan Bunda Wina berdiri saat ini, Ia ingin memberikan ruang untuk Bunda Wina ngobrol bersama Viona karena dari tatapannya Reza melihat Bunda Wina sedang di penuhi perasaan yang tidak bisa di gambarkan ketika menatap istrinya.
Setelah Reza menjauh dari tempat mereka berdua saat ini Bunda Wina mengajak Viona untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya.
"Sudah berapa bulan Nak kandungan kamu?" tanya Bunda Wina sambil mengusap perut buncit Viona. Entah kenapa perasaan Bunda Wina menjadi tak karuan ketika mengusap perut Viona, Beliau sampai menitikan air matanya.
"Baru tujuh bulan Bunda... Bunda kenapa menangis? Apa Vio membuat kesalahan?" Tanya Viona sambil menatap wajah Bunda Wina dengan seksama.
"Ah tidak Nak... bunda hanya terbawa suasana saja." Ucap Bunda Wina sambil mengusap sisa air mata di pipinya. Bayangan wajah Husein tengah menari-nari di fikiran Bunda Wina saat ini.
"Kamu bahagia Nak?" tanya Bunda Sambil menatap wajah tembem Viona.
"Tentu Bund, Vio sangat bahagia." Jawab Viona dengan senyum yang mengembang di pipi nya.
"Kenapa Bunda bertanya seperti itu? apa Viona terlihat tidak bahagia Bund?" Tanya Viona kemudian.
"Tidak Nak... Bunda hanya memastikan kamu benar-benar bahagia dalam menjalani pernikahan ini." Ucap Bunda Wina sambil membelai wajah Viona.
"Maafin Vio ya Bund... Ternyata Vio benar-benar jatuh cinta dengan Mas Reza." Ucap Viona dengan wajah yang tertunduk.
"Jangan bilang seperti itu Nak, sudah semestinya kalau kamu mencintai Suami mu. Bunda ikut senang jika kamu bahagia menjalani pernikahan ini mengingat dulu kamu sempat ingin berpisah dengan suamimu." ucap Bunda Wina sambil mengangkat dagu Viona agar tidak tertunduk lagi.
"Dengan kamu bahagia seperti ini mungkin Husein akan jauh lebih tenang berada di sisi Tuhan. Dia akan bahagia melihat kamu bahagia bersama suamimu." Tutur Bunda Wina dengan mata yang sudah berembun. Mendengar penuturan Bunda Wina yang mengingat tentang sosok Husein membuat Viona tak kuasa menahan air mata nya, dan langsung saja kedua wanita beda generasi ini saling berpelukan untuk meluapkan perasaan sedih yang tengah menyelimuti diri masing-masing.
Bunda Wina mengurai tubuh Viona karena sudah cukup lama mereka dalam situasi menyedihkan ini.
Beliau menatap Viona yang masih tergugu dalam tangisnya.
"Sudah Nak, maafkan Bunda ya sudah membuat kamu sedih seperti ini." Ucap Bunda Wina dengan suara seraknya kemudian beliau mengambil tissu dari dalam tas nya dan membantu Viona membersihkan air mata yang membasahi pipi nya.
Viona menatap Bunda Wina dengan mata yang masih memerah, kemudian Ia tersenyum kepada bunda Wina yang sedang menatapnya saat ini.
"Bunda tidak usah merasa bersalah lagi ya, Vio benar-benar bahagia menikah dengan Mas Reza, apalagi Vio saat ini sedang hamil putri pertama Vio." ucap Viona yang saat ini sedang mengusap usap perutnya karena sejak tadi janinnya terus saja menendang perutnya.
"Jadi janin kamu berjenis kelamin perempuan Nak?" tanya Bunda Wina dengan mata yang berbinar. Viona hanya menjawab dengan anggukan yang di iringi dengan senyuman manis dari bibirnya.
"Pasti dia cantik seperti kamu Nak..." Ucap Bunda Wina sambil mengusap perut buncit Viona yang berkedut.
"Bunda...." Terdengar suara pak Salim dari belakang Bunda Wina.
"Acara nya akan di mulai, Bunda tidak ingin bergabung dengan yang lain nya?" tanya Pak Salim ketika sudah sampai di samping Bunda Wina.
"Nak Vio apa kabar?" Pak Salim beralih menatap Viona.
"Baik Yah, Ayah apa kabar?" tanya Viona setelah menjabat tangan Pak Salim.
"Ayah juga baik." Ucap Pak Salim.
"Nak, Bunda kesana dulu ya...Acara nya sudah akan di mulai. Bunda sudah di tunggu keluarga yang lain." Bunda Wina pamit kepada Viona dan beliau juga memeluk Viona dengan penuh kasih sayang sebelum pergi meninggalkan Viona sendirian.
Viona menatap Bunda Wina dan suaminya yang terus berjalan sampai hilang dari pandangan nya. Viona kembali bergabung bersama suami dan teman-teman nya. Ia duduk lalu membuka tasnya dan mengambil kaca untuk melihat wajahnya yang baru saja menangis bersama bunda Wina.
"Sayang, jaga emosi nya ya... jangan terlalu sedih, kasihan dia nanti juga ikut sedih." Ucap Reza sambil mengusap perut Viona.
_
_
_
Happy Reading kak😍😍😍
_
_
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥