
Awan mendung tengah menyelimuti kota Jakarta saat ini. Setelah pulang dari kantor polisi, Reza membawa Viona ke rumah sakit besar yang ada di kota jakarta. Ia ingin memastikan keadaan Viona baik-baik saja.
Reza mendorong Viona di kursi roda setelah sampai di rumah sakit. Ia di sambut oleh dokter Wisnu yang sejak tadi sudah menunggu kedatangannya, ya beberapa saat setelah dari kantor polisi, Reza menelfon dokter pribadi nya yang sedang dinas di rumah sakit.
"Silahkan pak Reza mengisi identitas nona Viona disini." ucap Dokter Wisnu setelah memberikan kertas putih kepada Reza.
"Segera periksa istri saya dok." ucap Reza.
"Baik saya akan membawa nya ke ruangan saya pak." ucap Dokter Wisnu sebelum pergi dengan mendorong Viona di kursi roda.
Reza dengan cepat mengisi identitas Viona dan di serahkan langsung kepada petugas yang ada di loket. Reza segera menyusul Viona ketika sudah menyelesaikan administrasinya.
Viona menceritakan kejadian yang menimpanya tadi, dokter Wisnu mendengarkan dengan seksama dan menganggukkan kepala nya. Reza masuk ke dalam ruangan dokter Wisnu dan duduk di kursi yang ada di sebelah Viona.
"Dok, apa perlu istri saya melakukan CT-Scan?" tnya Reza.
"Saya rasa tidak pak, karena bu Viona tidak muntah setelah sadar dari pingsan nya." jawab dokter Wisnu sambil mengamati Viona yang ada di hadapannya.
"Mungkin kita perlu foto Rontgen kaki non Viona pak." lanjut dokter Wisnu.
"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk istri saya dok." ucap Reza sambil menggenggam tangan Viona.
Setelah itu Dokter Wisnu mulai membawa Viona ke ruangan Rontgen, Reza menunggu istrinya di depan ruangan sambil menghubungi kedua orangtuanya. Ia juga menghubungi Adit untuk membawa semua berkas yang menunggu persetujuannya untuk di bawa ke rumahnya karena selama Viona belum sembuh Reza akan bekerja dari rumah.
Matahari perlahan bergerak ke barat, pemeriksaan Viona baru saja selesai sekitar pukul Tiga sore. Meskipun lama Reza menunggu nya dengan sabar tanpa mengeluh. Semua keluarganya sedang menunggu di rumah, mereka tidak di perbolehkan Reza untuk menyusul Viona ke rumah sakit.
"Tidak ada luka atau cidera yang serius di anggota tubuh Non Viona, hanya saja pergelangan kaki nya agak bergeser sedikit tapi pak Reza tidak usah khawatir itu bukan cidera yang serius." ucap Dokter Wisnu pada Reza ketika hasil pemeriksaan Viona telah keluar.
"Apa istri saya bisa berjalan dok?" tanya Reza.
"Bisa, Namun untuk beberapa hari ini saya sarankan non Viona untuk tidak banyak bergerak dulu." ucap dokter Wisnu.
"Dan ini Resep obat untuk non Viona. Tiga hari lagi nona Viona harus kontrol ke dokter tulang ya, ini surat Rekomendasi nya." lanjut Dokter Wisnu seraya menyerahkan kertas dalam amplop.
"Terima kasih dok." ucap Viona.
"Kami permisi dulu dok." ucap Reza sebelum pergi meninggalkan ruangan dokter Wisnu.
⏩Skip untuk antrian obat dan sejenisnya⏪
Semua keluarga menunggu kepulangan Viona di rumahnya. Di sana ada mama Yuni, mama Salma, pak Danu, pak Surya, Khanza dan juga Dika. Mereka semua khawatir dengan keadaan anak perempuan kesayangan mereka semua. Hanya Riki yang belum tahu tentang keadaan Viona saat ini, tidak ada yang memberi kabar kepada Riki karena saat ini ia sedang ada Event di Sentul, mungkin nanti setelah pulang Riki akan di beri tahu oleh Dika.
Begitu mendengar suara mobil Reza masuk di halaman Rumah, mama Yuni dan mama Salma keluar ke teras rumah untuk melihat keadaan anak nya.
"Mama!!!" Teriak Viona ketika sudah berada di luar mobil dengan tangan yang memegang alat bantu jalan yang berupa tongkat.
"Sayang, hati-hati!!" Ucap mama Yuni ketika melihat Viona yang belum bisa menyeimbangkan tubuhnya. Ketika melihat Viona yang masih susah memakai alatnya, Reza segera keluar dari mobil dan berjalan memutar ke tempat Viona, ia mengambil tongkat itu dan segera meraih tubuh Viona untuk di bopongnya masuk ke dalam rumah.
"Mas, aku bisa jalan sendiri mas." ucap Viona ketika sudah berada di gendongan suaminya.
"Sudahlah kamu diam saja, aku tidak mau melihat kamu kesakitan." ucap Reza sambil menatap Viona.
"Ma tolong bantu Reza membawa tongkat Viona ya ma." ucap Reza pada mama Salma.
Mereka berdua masuk berjalan menuju ruang keluarga yang sudah ramai oleh keluarga besar mereka. Reza mendudukkan Viona di sofa dekat pak Surya.
"Bagaimana keadaan kamu Vi?apa semua baik-baik saja?tidak ada yang terluka parah?" Viona di berondong pertanyaan oleh pak Surya.
"Papa tidak usah khawatir, Viona baik-baik saja hanya kaki yang cidera dan kening yang sedikit robek." ucap Viona dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Sebenarnya tubuhnya saat ini terasa remuk redam namun ia harus menyembunyikan semua itu di hadapan keluarga.
"hmmm tadi di mobil nangis-nangis kesakitan, sekarang sok kuat di hadapan keluarga, istriku benar-benar pintar menyembunyikan perasaannya." gumam Reza dalam hati ketika melihat Viona yang tersenyum manis di hadapan keluarganya.
"Jadi kenapa kamu bisa seperti ini Vi?" tanya bu Yuni ketika sudah duduk di samping Viona. Bu Yuni merasa sedih melihat keadaan putri manja nya, beliau tahu saat ini pasti seluruh tubuh Viona sedang tidak baik-baik saja seperti yang baru saja di katakan olehnya.
"Ini semua ulah dosen laki-laki yang tempo hari mengganggu Viona ma." Reza menjawab pertanyaan bu Yuni.
"Apa benar nak yang di katakan suami mu?" tanya mama Salma.
"Iya ma." Jawab Viona, kemudian ia menceritakan dengan detail kejadian yang menimpa dirinya dari awal sampai selesai. Raut wajah orang yang ada di ruangan itu seketika berubah menjadi menyeramkan semua. Marah, itulah yang di rasakan oleh semua keluarga Viona.
Mendengar penjelasan Adiknya, Dika mengepalkan tangannya di atas paha. Tangan nya sudah gatal ingin menghajar pria bernama Andre itu karena sudah berani menyakiti adik kesayangannya.
"Untung saja dia sudah di tahan!! kalau tidak aku yang akan menghabisinya dengan tanganku sendiri." ucap Dika yang berada di hadapan Viona.
"No No No!!!Siapa pun tidak boleh mengotori tangannya dengan darah pria gila itu. Biarkan hukum yang berbicara kak!" ucap Viona sambil menggelengkan kepala nya pelan.
"Aku sudah ingin menghabisi nya kak, tapi Viona yang melarangku huuh!!" ucap Reza dengan nada kesalnya.
"Aku tidak mau suamiku di hukum gara-gara menghajar pria brengsek seperti si Andre." ucap Viona dengan senyum khasnya sambil mengusap lembut pipi Reza.
"Ck. gak tahu malu mesra di hadapan semua orang!!" Dika mengedarkan pandangannya ke arah lain karena melihat adiknya.
"Tauk ih... gak liat ada anak di bawah umur apa!!" ucap Khanza yang melengos.
"Sudah..sudah...Benar apa yang di ucapkan Viona, biarlah hukum yang menyelesaikan masalah ini. Kalian tidak usah gegabah karena menuruti emosi sesaat." ucap pak Danu untuk menenangkan Dika dan juga Reza.
"Sekarang kita makan dulu yuk, mama udah nyiapin di meja makan." ucap Bu Yuni yang berjalan dari ruang makan milik anaknya itu.
_
_
_
Sabar ya yang nunggu adegan kelinci makan Wortel😌😌othor mau ngasih konflik kecil dulu😀tenang gak bakal lama kok😉jadi harap sabar ya yang nunggu adegan mesraaaahhh🙈
_
_
_
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥