Wheel Of Love

Wheel Of Love
Shailine Zia



Waktu menunjukkan pukul empat pagi menandakan waktu subuh telah tiba. Baik Reza, Bu Yuni maupun Pak Surya tidak ada yang memejamkan matanya sedetik pun karena semakin lama Viona terus merintih kesakitan.


Bu Yuni dan Pak Surya pamit untuk Sholat subuh terlebih dahulu di musholla yang ada di rumah sakit. Hanya ada Reza yang ada di ruangan Viona saat ini.


"Mas sakit Mas!!" Ucap Viona dengan suara yang lirih.


"Tahan ya sayang..." Hanya kata itu yang mampu di ucapkan oleh Reza. Perasaan nya menjadi bercampur aduk ketika terus mendengar Viona merintih kesakitan.


"Mas!!! Seperti nya ada yang pecah Mas!! cepat panggil dokter Mas!!" Viona sedikit terkejut ketika merasakan ada sesuatu yang keluar dari jalan lahirnya. Reza segera memencet bel beberapa kali agar perawat segera masuk dan benar saja belum ada satu menit Dokter Grace dan dua orang perawat masuk ke ruangan Viona.


"Ada apa pak?" Tanya Dokter Grace.


"Dokter ada yang keluar dok!!" Ucap Viona. Kemudian Dokter Grace segera melihat tubuh bawah Viona.


"Ini sudah pembukaan delapan Bu, ketuban nya juga sudah pecah. Ayo bu semangat sebentar lagi ibu akan melihat putri ibu!!" Lagi-lagi Dokter Grace menyemangati Viona.


"Sus, siapkan ruang bersalin nya!!" Perintah Dokter Grace kepada dua orang perawat yang ikut bersamanya.


Dokter Grace memberikan arahan untuk Viona bagaimana cara melahirkan nanti. Dokter Grace juga terus menyemangati Viona agar tidak down karena rasa takut yang datang ketika membayangkan bagaimana proses melahirkan nanti.


Beberapa saat kemudian Viona sudah di pindahkan di ruang bersalin untuk berjaga-jaga jika nanti pembukaan sudah sempurna. Dokter Grace menunggu Viona yang terbaring di ruang bersalin.


Viona terus memiringkan tubuhnya ke kiri untuk mempercepat proses pembukaan nya, walau rasanya sakit ia terus berusaha agar bisa melihat putri yang di nantikan nya.


"Mas Reza jangan kemana-mana ya, disini aja!!" Ucap Viona sambil menatap wajah Reza yang terlihat pucat.


"Mas Reza kenapa pucat begitu??" Tanya Viona dengan nada sedikit khawatir melihat kondisi suaminya.


"Mas hanya takut Sayang, Mas tidak tega melihat kamu kesakitan seperti ini." Ucap Reza lirih.


"Katanya tadi aku gak boleh takut!! kok sekarang Mas Reza yang takut sih!!" Kelakar Viona.


"Sayang jangan bercanda begitu, Mas benar-benar takut!!" Reza mengusap rambut Viona yang sedikit berantakan.


"Biar tidak tegang mas!!" Ucap Viona lirih.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Kini saat nya Viona berjuang untuk melahirkan putri nya karena pembukaan nya sudah sempurna. Dokter Grace memberikan arahan untuk Viona mengatur nafasnya. Keringat dingin membanjiri tubuh Reza ketika melihat Viona yang mengejan dengan teriakan yang menggema di dalam ruangan.


Ia terus membisikkan kata-kata cinta di telinga Viona untuk memberikan semangat kepada istri nya yang sedang mengatur nafas nya.


"Atur Nafas nya Bu, Sekali lagi ya bu!! kepala bayi nya sudah kelihatan." Ucap Dokter Grace di bawah sana. Dengan seluruh tenaga yang tersisa Viona mengikuti arahan Dokter Grace untuk mengejan dengan kuat untuk mendorong bayi yang sebentar lagi sudah keluar dari tubuhnya.


Bu Yuni dan Pak Surya terlihat cemas di luar ruangan. Mereka berdua mondar mandir di depan ruang bersalin seraya mengucapkan doa-doa untuk putrinya. Tatapan kedua nya bersirobok ketika mendengar tangisan bayi yang keras dari dalam ruang bersalin.


"Oek... oek...oek... oek!!!" Akhirnya tangisan bayi terdengar menggema di dalam ruangan bersalin.


"Papa, cucu kita sudah lahir pa!!" Bu Yuni berhambur ke dalam pelukan Pak Surya.


Sementara itu di dalam ruang bersalin Viona merasakan remuk redam di sekujur tubuhnya. Ia terlihat sangat lemas ketika baru saja selesai mengeluarkan bayi yang di nanti kehadiran nya selama sembilan bulan ini.


"Sayang terima kasih sudah berjuang untuk putri kita." Ucap Reza sambil menghujani wajah Viona dengan kecupan-kecupan cinta dari nya.


"Selamat Bu Viona Putri ibu lahir dengan selamat!!" Ucap Dokter Grace sambil menggendong bayi yang belum di bersihkan.


"Apa anak saya sehat dokter??tidak ada yang kurang kan dokter?" Tanya Viona dengan suara lirih nya.


"Bayi nya di bersihkan dulu ya bu, setelah itu ibu bisa melihat dan belajar menyusui." Ucap Dokter Grace sebelum mulai menjahit bagian bawah tubuh Viona.


"Sayang I love you!! terima kasih Sayang terima kasih!!" bisik Reza sambil terus mengusap lembut puncak rambut Viona.


Bayi Viona sudah selesai di bersihkan, Reza di panggil untuk segera mengumandangkan Adzan di telinga putri nya yang terlihat lucu itu. Air mata nya terus menetes karena rasa haru tengah menyelimuti dirinya.


"Nanti akan kita antar ke ruangan ya pak Bayi nya setelah ibu Viona di pindahkan lagi ruang inap nya." ucap seorang perawat yang sedang menggendong bayi Viona.


"Iya Sus terima kasih." Ucap Reza dengan suara seraknya.


Reza kembali ke tempat Viona berada saat ini. Terlihat Viona sudah selesai di rawat oleh Dokter Grace, ia juga sudah berganti dengan pakaian baru yang tadi di bawa nya.


Tidak lama setelah itu Viona dan bayi nya di pindahkan ke ruang inap Viona. Disana ada Bu Yuni dan pak Surya yang sudah menunggu sejak tadi untuk melihat cucu nya.


Viona di berikan arahan oleh Dokter Grace bagaimana cara menyusui yang benar. Dokter Grace mengambil bayi yang lucu itu dari box bayi untuk di serahkan kepada Viona.


Rasa haru bercampur bahagia tengah menyelimuti diri Viona. Ia terus meneteskan air mata kebahagiaan ketika memandang Putri yang ada di gendongannya. Viona mulai belajar menyusui seperti yang di arahkan oleh Dokter Grace. Awalnya sang putri tidak mau memasukkan puncak dada Viona ke dalam mulut kecilnya namun setelah terus berusaha akhirnya Sang putri mau juga untuk menyesap Asi dari puncak dada Viona.


Viona sedikit meringis karena ternyata sang putri begitu kuat menyesap puncak dada nya. Reza terus memandang anak dan istri nya yang ada di hadapan nya dengan hati yang di penuhi rasa bahagia.


"Jadi siapa nama putri kalian nanti?" Tanya Pak Surya tiba-tiba mengingat sejak tadi belum ada yang membahas nama cucu pertama nya ini.


"Kami akan memberi dia nama Shailine Zia pa, kita bisa memanggil nya dengan Sellin." ucap Viona sambil memandang wajah putrinya yang terlelap setelah berhasil menikmati Asi pertama nya.



"Wah nama yang bagus!!" Gumam Bu Yuni dengan wajah berbinar nya. Pak Surya tersenyum menatap anak dan cucu nya secara bergantian, hati nya di penuhi rasa bahagia yang teramat sangat.


"Mas Reza, aku lapar!!" Ucap Viona tiba-tiba.


"Baiklah tuan putri, kamu ingin makan apa? rupanya setelah perjuangan yang panjang cacing mu tetap saja tidak melupakan asupan makanan nya." Kelakar Reza yang di iringi gelak tawa oleh orangtua Viona.


"ihhh mas Reza!!!" Viona menyebikkan bibirnya.


_


_


_


Nih sudah ku update tiga episode hari ini๐Ÿ˜€ aku kasih bonus foto baby Sellin satu lagi ya gengs๐Ÿ˜€


_


_


"Hay kak Reader perkenalkan namaku Sellin...


aku bobok dulu yaaa karena udah kenyang nih๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜"