
Matahari tengah bersemangat menyinari bumi beserta isinya. Sekitar pukul sembilan Waktu Indonesia Bagian Tengah Reza sudah dalam perjalanan menuju kantornya. Di mobil ia terus berdiskusi dengan Adit yang ada di depan nya.
"Dit, bagaimana dengan Investor kita?apa mereka juga menarik saham nya?" tanya Reza tanpa mengalihkan pandangan nya dari tablet yang ada di tangan nya.
"Seperti nya begitu pak, sebagian besar mereka ingin menarik saham mereka." ucap Adit yang ada di kursi depan.
"Kamu sudah memberitahu mereka untuk datang hari ini di rapat darurat?" tanya Reza.
"Sudah pak." jawab Adit dengan singkat. Perjalanan terus berlanjut menuju kantor milik Reza. Ia terlalu fokus pada pekerjaan nya hingga melupakan Viona yang menunggu kabar dari nya.
Beberapa menit kemudian mobil yang di tumpangi Reza sudah sampai di depan kantor, Reza segera turun dan masuk kedalam ruangan nya di ikuti oleh Adit di belakang nya. Mereka membahas beberapa hal rahasia yang tidak boleh di ketahui oleh siapapun termasuk supir perusahaan yang menjemputnya tadi.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang Dit?" tanya Reza dengan wajah yang di penuhi amarah.
"Saya tidak berani bilang pak waktu di mobil tadi, karena saya tidak percaya dengan supir perusahaan yang menjemput kita tadi. Sepertinya dia juga ikut terlibat dalam kasus ini pak, entah dia di suruh oleh siapa." Adit menjelaskan kecurigaan nya.
"Bagaimana kamu bisa menyimpulkan seperti itu Dit?" tanya Reza
"Tadi setelah kita masuk mobil, saya tidak sengaja melihat dia menghidupkan perekam suara di ponselnya pak." ucap Adit dengan memandang Reza yang menaik kan satu Alis nya.
"Baik lah, kita susun rencana lagi Dit sebelum rapat ini di mulai." Ucap Reza yang kemudian membuka tablet nya lagi. Reza benar-benar murka melihat masalah yang terjadi saat ini karena hampir semua keuangan perusahaan di kuras habis oleh beberapa staf dan salah satu investor yang bekerja sama dengan Reza.
Waktu rapat segera di mulai, Reza dan Adit sudah duduk di kursinya. Reza memimpin rapat dengan wajah yang sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi. Ia benar-benar marah atas masalah ini.
Waktu terus berlalu namun mereka semua belum menemukan titik terang atas masalah yang di hadapi nya. Reza memutuskan untuk menunda rapat ini besok pagi karena banyak laporan yang harus di revisi oleh staf-staf nya.
Reza memijat kening nya yang berat itu, ia bingung harus menemukan bukti dari mana lagi untuk segera menangkap pelaku yang sudah membuat perusahaan nya di ambang kebangkrutan.
Suara panggilan Video dari ponsel nya membuat Reza tersadar dari fikiran nya yang berkelana jauh. Terlihat Nama dan foto istrinya terpampang di layar ponsel yang ada di meja. Ia tersenyum ketika melihat Istrinya di sebrang sana yang tengah menikmati makan siang nya.
"Hallo Mi...makan apa itu?" Tanya Reza ketika melihat Viona menyuapkan makanan nya.
" Mas Reza sudah makan siang?" Tanya Viona di sebrang sana.
"Belum, nanti mas makan sama Adit, Apa kamu baik-baik aja Mi? tidak ada yang sakit?" Tanya Reza dengan ekspresi wajah yang terlihat khawatir.
"Aku baik-baik aja mas. Mas Reza tenang saja. Oh ya mas jangan lupa makan ya meskipun banyak beban yang saat ini ada di pundak mas Reza." Ucap Viona sambil memandang wajah lelah sang suami dari layar ponsel nya.
"Iya sayang...Doain semua nya lancar ya Mi biar aku cepat pulang dari sini." Ucap Reza sambil menatap istrinya yang sedang mengunyah makanan nya.
"Pasti mas, pasti aku doain dari sini. Aku tutup dulu ya panggilan nya ya mas biar mas Reza bisa makan siang." Ucap Viona dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Iya Mi... jaga diri baik-baik ya Mi..." Ucap Reza sebelum panggilan di matikan oleh istrinya.
Reza kembali meletakkan ponsel nya di atas meja, Ia kembali mempelajari kasus yang sedang terjadi saat ini dengan bantuan Adit yang sedang duduk di hadapan nya.
Saat sedang fokus-fokus nya meneliti berkas yang sedang di baca nya saat ini, Reza di kejutkan oleh kedatangan orangtuanya yang sudah berada di ambang pintu.
"Mama!!" Reza tersentak ketika melihat bu Salma dan pak Danu yang berjalan ke arah nya.
"Kamu itu benar-benar ya Za!!! Maksud kamu apa hhmmm menyembunyikan semua ini dari mama!!" ucap Bu Salma yang berkacak pinggang di samping Reza. Karena ingin memberi ruang berbicara untuk Reza dan orangtua nya, Adit pamit untuk kembali ke ruangan nya.
Reza mengajak papa dan mama nya untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya. Ia menghela nafas nya dengan kasar ketika melihat sang Mama yang menampakkan wajah murka nya.
"Ma...Pa... Maafin Reza ya Ma, Reza tidak ingin mama dan papa khawatir jika tahu masalah ini." ucap Reza dengan wajah yang memelas.
"Ya tidak begitu juga Za, kami itu orangtua kamu, jadi kami juga tidak mau kalau kamu harus menangani ini sendirian." Ucap Pak Danu merasa iba melihat wajah anak nya yang kusut.
"Ya sudah, lain kali jangan di ulangi lagi." Ucap Bu Salma sambil menepuk pundak putra nya.
"Jadi apa kamu sudah menemukan jalan keluarnya?" tanya pak Danu tanpa basa basi.
"Belum pa, Rencana nya Reza ingin menjual mobil yang ada di rumah untuk memulihkan uang perusahaan pa." ucap Reza sambil menatap Pak Danu.
"JANGAN!!!" ucap Bu Salma dan Pak Danu bebarengan.
"Reza, papa tidak setuju kalau kamu harus menjual mobil mu, kali ini biarkan papa membantu mu. Jangan di tolak Za." Ucap Pak Danu.
"Menurut Papa, lebih baik kamu tutup saja perusahaan yang ada di sini. Kamu buka cabang lagi di Jawa saja Za biar kamu tidak terlalu jauh untuk wara wiri. Kamu juga sudah akan menjadi Ayah jadi papa harap kamu memikirkan saran dari papa." ucap Pak Danu yang menyilangkan kedua kaki nya di hadapan Reza.
"Tapi pa Kalau perusahaan ini di tutup, Reza akan mengeluarkan dana yang begitu besar untuk memberi pesangon kepada semua karyawan pa." ucap Reza yang terlihat frustasi.
"Jangan masalahkan hal itu, biarkan papa yang mengatasi nya. Papa ingin nya kamu tidak usah membangun cabang lagi Za, papa ingin kamu memegang salah satu bisnis Papa. Papa sudah tua Za, papa capek harus kesana kemari mengurus tiga kantor yang berbeda." Ucap pak Danu sambil memandang Reza.
"Sudah pa, jangan membahas masalah itu dulu, lebih baik kita selesaikan kekacauan ini." Sahut Bu Salma.
"Jadi Za Mama dan papa tadi sudah menghubungi orang-orang yang biasa bekerja sama dengan kita. Mereka menemukan ini Za." ucap Bu Salma sambil meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja.
Reza mengambil kertas yang di berikan oleh Bu Salma, ia melihat satu persatu data dan foto yang tertulis disana, ia membeliak kan mata nya ketika melihat orang-orang kepercayaan nya ada di sana.
"Apa kamu kenal dengan mereka?" tanya Bu Salma.
"Iya ma, ini ada salah satu investor, Kabag keuangan, Hacker perusahaan dan yang satu ini orang kepercayaan Reza ma yang biasa bertugas mengawasi perusahaan." Ucap Reza dengan wajah yang terlihat frustasi. Ia berfikir bagaimana bisa mereka semua ramai-ramai menghabiskan uang perusahaan yang nominal nya begitu fantastis.
Bu Salma menepuk jidat nya karena begitu banyak orang-orang yang terlibat di dalam masalah ini.
"Oke. Begini saja Za biarkan Mama dan Papa yang menyelesaikan masalah ini. Lagi pula bagaimana bisa kamu memperkerjakan hacker bod*h seperti itu di perusahaan ini. Lihat lah orang-orang suruhan mama berhasil membobol sistem kamu yang lemah itu." Bu Salma melengos melihat putranya yang teledor.
"Za, papa harap kamu mengikuti saran papa untuk menutup perusahaan yang ada disini. Karena berat Za untuk memulihkan kepercayaan investor kamu agar kembali percaya dengan perusahaan kamu yang hampir tenggelam ini." Ucap Danu panjang lebar.
"Nanti Reza pikirkan lagi pa, sekarang Reza mau fokus untuk mengumpulkan bukti-bukti mereka pa." Ucap Reza dengan antusias.
"Helleh!!! kamu terlalu lambat Reza!!! lihat ini!!" Bu Salma melempar kertas yang di ambil dari dalam tas nya ke atas meja.
Reza Tertegun menatap kedua orangtua nya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bala bantuan akan datang secepat ini.
"Terima kasih Ma...Pa... Maaf Reza sudah merepotkan papa dan mama" Ucap Reza sambil memeluk kedua orangtua yang hebat ini.
_
_
_
Terima kasih kak sudah mampir kesiniππππ jangan lupa Like, Vote dan komen nya yaaπ
_
_
_
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯