
Flashback On
Viona Keluar dari ruangan pak Andre dengan wajah yang sangat kesal, ia membanting pintu ruangan pak Reza dengan kerasnya.
"Ada apa Vi?" Tanya Mela yang sejak tadi menunggu Viona di depan ruangan pak Andre.
"Apa dosen gila itu mengganggu elu lagi??" tanya Reva ketika melihat wajah Viona yang tak biasa.
"Udah nanti gue jelasin, sekarang pegang ponsel gue ini, elu bawa sekarang ke ruangan Rektor, cepat Mel jangan sampai elu ketangkep sama pak Andre." Viona memberikan ponselnya kepada Mela yang masih bingung dengan keadaan saat ini.
"Cepetan Mel sebelum pak Andre keluar!! dia pasti ngejar rekaman ini." ucap Viona ketika melihat gagang handel yang di tarik dari dalam. Mereka bertiga langsung berlari ketika pak Andre keluar dari ruangan nya. Viona memilih Mela untuk membawa rekaman di ponselnya karena diantara mereka bertiga, Mela lah yang paling cepat jika berlari.
"VIONA!!!!" teriak pak Andre di depan ruangan nya, hal itu berhasil menarik perhatian mahasiswa lain yang ada di luar kelas.
Pak Andre ikut berlari menyusul Viona yang ada di depannya. Ia takut Viona benar-benar memberikan rekaman itu kepada Rektor kampus. Emosi nya semakin meningkat tak kala membayangkan Viona yang akan mempermalukan dirinya di hadapan Rektor kampus.
Mela berhasil menaiki tangga untuk sampai ke ruangan Rektor, sementara Viona dan Reva masih berlari di belakang nya.
"Mel, serahin rekaman nya Mel ke Rektor mel!!" Teriak Viona dari lantai bawah.
Semua mahasiswa terlihat heran melihat pak Andre yang berlarian mengejar Viona dan Reva. Mereka semua bertanya-tanya alasan di balik dosen muda yang tampan itu mengejar Viona.
Reva berlari di depan Viona, ia menyusul Mela yang sudah sampai di lantai dua. Sementara itu Viona tertinggal di belakang sendiri.
Viona terus berlari tanpa melihat ke belakang, ia fokus menaiki tangga yang sedang di naiki nya. Namun saat akan sampai di anak tangga terakhir pak Andre berhasil meraih kerah kemeja yang di pakai Viona saat ini. Karena sudah di selimuti amarah di dalam dirinya, tanpa berpikir panjang pak Andre menarik kerah baju Viona sangat keras, Pak Andre juga menarik rambut Viona dengan kuat, hal itu membuat Viona jatuh ke belakang dengan sangat keras.
Bugh..bugh...bugh....bugh...bugh..bugh... tubuh Viona menggelinding turun dari atas sampai bawah ank tangga. Ia terjerembap di lantai satu dengan kaki yang tertekuk dan kening yang terkena pinggiran tangga.
"VIONA!!!" teriak Reva dari lantai dua kampusnya, ia turun lagi untuk menolong Viona yang tak bergerak di bawah sana. Semua mahasiswa yang melihat Viona jatuh dari tangga pun segera berlari dan menolong Viona.
Reva sudah sampai di lantai dasar kampusnya, ia segera duduk di sisi Viona, teman-teman yang lain membantu membalikkan tubuh Viona yang tak sadarkan diri. Terlihat darah segar mengalir dari kening Viona.
"Cepat kalian bawa pak Andre ke ruangan Rektor, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." ucap Reva pada teman laki-laki yang ada di situ.
Pak Andre diam mematung di atas sana, ia tidak menyangka akan melakukan hal bodoh itu. Ia menyesal sudah membuat Viona tak sadarkan diri di pangkuan Reva. Ia tidak bisa mengontrol emosi nya hingga tega menjatuhkan Viona dari tangga yang menjulang tinggi.
Semua menjadi heboh karena kejadian ini, banyak yang penasaran dengan apa yang telah terjadi. Viona di bopong oleh mahasiswa yang lain untuk di masukkan mobil Reva, Mereka membawa Viona ke klinik yang tak jauh dari kampusnya.
Sementara itu pak Andre berhasil di gelandang salah satu mahasiswa laki-laki ke dalam ruangan Rektor. Rupanya di sana ada Mela yang sedang menghadap Rektor.
"Maaf pak saya membawa pak Andre kesini karena pak Andre sudah menjatuhkan Viona dari lantai dua hingga Viona tak sadarkan diri."
"Duduk pak Andre." perintah Rektor kampus. Pak Andre mendudukkan tubuhnya di samping Mela.
"Kalian boleh keluar!!" perintah pak Rektor kepada mahasiswa yang berdiri di dekat pintu. Semua mahasiswa yang ada di dalam ruangan bubar satu persatu meninggalkan Mela dan pak Andre yang duduk di hadapan pak Rektor yang bernama pak Adi itu.
Pak Adi memandang wajah pak Andre yang tertunduk, beliau menghela nafasnya yang sedikit berat.
"Pak Andre kenapa semua ini bisa terjadi?" pak Adi memutar rekaman di ponsel Viona.
"Saya sangat kecewa dengan anda pak Andre, selama ini anda dosen muda terbaik di kampus ini. Kenapa sekarang anda merusak citra anda sendiri dengan hal seperti ini. Apalagi tadi bapak menjatuhkan Viona dari tangga yang tinggi itu." pak Adi menatap tajam pak Andre yang hanya diam.
"Saya sangat menyukai Viona sejak saya masuk di kampus ini pak, dan akhir-akhir ini saya begitu terobsesi dengan dia." jawab pak Andre dengan wajah yang memerah karena malu.
Belum sempat pak Adi bicara, ponsel Viona bergetar tanda panggilan masuk dari Reva. Pak Adi mengangkat telfon yang tersambung di ponsel Viona.
Pak Adi menjawab panggilan itu dan berbicara dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, raut wajahnya menjadi sedikit tegang mendengar permintaan dari si penelfon.
"Pak Andre, baru saja Viona yang menelfon. Dia ingin masalah ini di bawah ke jalur hukum, Saya tidak bisa menghalangi Viona karena memang masalah ini bisa di bilang serius, apalagi pak Andre sudah menyakiti fisik Viona." ucap Pak Adi dengan suara yang pelan.
Mela hanya diam mendengarkan apa yang di bicarakan oleh pak Adi, pikiran nya sejak tadi membayangkan bagaimana Viona yang terjatuh dari tangga.
"Mari pak Adi kita berangkat sekarang ke kantor polisi, saya sudah siap menerima hukuman saya." ucap Andre dengan wajah yang sedih. ia juga menyesal karena sudah menyakiti wanita yang di inginkan nya sejak lama itu.
"Maaf pak Andre saya tidak bisa membantu apa-apa, semoga pak Andre bisa mendapatkan maaf dari Viona." ucap pak Adi.
"Viona sudah dalam perjalan menuju kantor polisi pak, mari kita berangkat." lanjut pak Adi.
ππ
Sementara itu di klinik Viona sudah sadar sejak tadi, tubuhnya terasa nyeri semua. Keningnya mendapat jahitan dari perawat klinik dan pergelangan kakinya sudah di balut perban elastis berwarna coklat.
"Nona Viona boleh langsung pulang, tapi saya merekomendasikan Nona Viona untuk di periksa secara menyeluruh di rumah yang yang besar karena disini hanya klinik kecil, peralatan kami terbatas." Ucap Dokter yang sedang memeriksa keadaan nya.
"Terima kasih dok, saya sebentar lagi pulang tapi nunggu teman saya menyelesaikan administrasi nya dulu." jawab Viona yang masih terbaring di atas blangkar rumah sakit.
"Silahkan nona istirahat dulu disini, saya permisi dulu." ucap Dokter itu sebelum pergi meninggalkan Viona.
Beberapa saat kemudian Reva datang membawa kursi roda, ia membantu Viona turun dari ranjangnya. Reva segera mendorong Viona keluar dari klinik itu dan membantunya masuk ke dalam mobil.
"Kita langsung ke kantor polisi Vi?" tanya Reva yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Iya Re, tadi pak Adi juga bilang akan menyusul ke kantor polisi." jawab Viona. Jarak klinik dengan kantor polisi sangatlah dekat, hanya membutuhkan waktu tujuh menit mereka berdua sudah sampai di kantor polisi.
Terlihat disana ada Mela, pak Adi, pak satpam dan pak Andre yang menunggu kedatangannya. Viona berjalan dengan di papah oleh Mela dan Reva untuk masuk ke dalam ruangan yang sudah di tunjukkan oleh petugas polisi.
Mereka semua berada dalam satu ruangan, Viona meminta ponselnya yang ada di tangan Mela, ia berkali- kali menghubungi suaminya namun belum ada jawaban.
Viona melaporkan kejadian yang tengah menimpa nya tadi kepada polisi yang sedang duduk di hadapan nya. Beberapa pertanyaan di ajukan untuk Viona.
Beberapa saat kemudian ponselnya bergetar, terlihat nama suaminya di layar ponselnya. ia segera menggeser tombol hijau di layarnya.
"Hallo mas...tolong cepat datang kesini, aku ada di kantor polisi yang di dekat kampus." ucap Viona.
Flashback off
_
_
_
Terima kasih kak yang sudah mendukung karya saya sampai sekarangπππβ€οΈβ€οΈβ€οΈ buat kakak Reader semuaπ
_
_
_
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯