
Malam terus berlalu, waktu terus berputar sampai tiba di waktu subuh. Suara adzan menggema di mana-mana menandakan waktu Dua rakaat telah tiba. Viona sudah bangun dari tidurnya karena terusik oleh bunyi alarm ponsel yang ada di sampingnya. Ia meraih ponsel yang sejak tadi terus bersuara tanpa henti.
"Hoam!!! udah pagi ternyata." Viona menguap dengan tubuh yang masih bergelung di bawah selimut. Ia bangun dan bersandar di ranjangnya untuk merasakan rasa lelah yang tengah melanda tubuhnya saat ini. Semalam entah sampai berapa kali ia dan Reza mengulang drama kelinci yang makan wortel.
Viona turun dari ranjangnya untuk mencari piyama nya yang tercecer entah dimana. Ia segera memakai piyama nya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Cukup memakan waktu lima belas menit Viona sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe di tubuhnya dan handuk kecil yang melilit rambutnya yang basah. Ia melihat Reza masih tidur di atas ranjangnya.
"Mas...mas Reza!!" Viona membangunkan suaminya yang masih terlelap. Viona menggoyangkan bahu Reza dengan pelan.
Reza mengerjapkan matanya pelan karena mendengar suara Viona yang memanggilnya.
"Ada apa sayang?" tanya Reza dengan suara seraknya.
"Buruan mandi mas, udah subuh loh ini." ucap Viona dengan suara yang lembut.
"iya mas mandi dulu ya." ucap Reza seraya bangun dari ranjangnya. Sepeninggalan suaminya, Viona segera merapikan tempat tidurnya yang berantakan, ia juga sudah mengganti bathrobe nya dengan daster bermotif hello kitty nya. Tak lupa Viona menyiapkan baju untuk suaminya serta menyiapkan peralatan untuk sholat subuh dengan suaminya.
ββ
Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, Viona dan Reza sedang menikmati sarapannya, hari ini Reza masuk ke kantornya. Reza menikmati sarapannya dengan wajah yang lebih segar dan berseri.
"Mas hari ini aku ke kampus." ucap Viona setelah menyelesaikan makan nya.
"Ngapain?bukan nya sudah selesai semua." Ucap Reza.
"Katanya ada yang harus di revisi mas, ada nilai yang kurang juga, padahal ya aku selalu ngumpulin tugas loh." Ucap Viona saat mengupas pisang di tangan nya.
"Aku bawa mobil sendiri ya mas." ucap Viona.
"Enggak boleh!!Mas antar nanti sekalian berangkat kerja." ucap Reza setelah melahap pisang milik Viona.
"Mas mau pisang?aku kupasin ya." tanya Viona karena melihat sang suami makan pisang sisa gigitan nya.
"enggak usah sayang. Kalau sudah selesai kita berangkat sekarang ya." ucap Reza yang sudah berdiri meraih tas kerja di sampingnya
"Ayo mas biar mas gak telat."
Keduanya berangkat dengan mengendarai mobil milik Reza. Jalanan sedikit macet karena semua orang sedang berangkat ke tujuan masing-masing.
Dua puluh menit Reza sudah sampai di depan gerbang kampus istrinya. Sebelum turun Viona mencium punggung tangan suaminya.
"Nanti kalau aku sudah selesai langsung ke kantor nya mas Reza aja ya." ucap Viona
"Kamu naik apa kesana?" tanya Reza dengan menatap wajah Viona.
"Nanti nebeng Mela kan bisa mas, Reva dan Mela juga ke kampus hari ini." ucap Viona,
Akhirnya Viona turun dari mobil suaminya dan berjalan masuk ke dalam kampusnya setelah Reza berlalu pergi ke kantornya.
Karena Mela dan Reva belum datang, Viona terlebih dahulu menemui dosen pembimbing nya untuk mengkonsultasikan nilainya.
"Selamat pagi Bu Dona." sapa Viona ketika masuk ke dalam ruangan dosen nya.
"Pagi Vi, masuk sini Vi." jawab bu Dona yang sedang menulis materi di laptopnya.
"Jadi bagaimana bu dengan nilai saya?" tanya Viona setelah duduk di hadapan bu Dona.
"Begini Vi, Nilai dari mata pelajaran pak Andre ada yang kosong, mungkin kamu pernah tidak mengumpulkan tugas dari pak Andre Vi?" tanya bu Dona.
"Pasti ini akal-akalan dosen gila itu." gerutu Viona dalam Hati.
"kalau begitu apa yang harus saya lakukan ya bu?" tanya Viona pada bu Dona
"Lebih baik kamu setelah ini menemui pak Andre, kamu tanyakan bagaimana dengan nilai yang kosong ini, karena mata pelajaran dari pak Andre mempengaruhi kelulusan kamu Vi." Bu Dona menjelaskan mengenai nilai Viona
"Kalau begitu saya pamit dulu ya bu, saya mau ke ruangan pak Andre." ucap Viona sebelum berdiri dari tempat duduknya. Bu Dona hanya menganggukkan kepala nya dengan senyum khasnya.
Di sepanjang perjalanan menuju ruangan pak Andre, otak Viona berfikir dengan keras. Ia tahu ini adalah akal bulus pak Andre untuk bertemu dengan nya.
Viona sudah sampai di dekat ruangan pak Andre, ia berhenti sejenak untuk memikirkan hal apa yang harus dia lakukan jika sesuatu terjadi nanti. ia membuka ponselnya untuk mengirim pesan pada Mela.
Setelah mengotak atik ponsel nya, Viona masuk ke dalam ruangan pak Andre dengan jantung yang berdugub kencang, pikiran negatif telah menyelimuti pikiran nya.
Tok..tok...tok...tok.. Viona mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan Dosen gila nya.
"Selamat pagi pak." ucap Viona ketika sudah masuk ke dalam ruangan pak Andre.
"Selamat pagi Vi, duduk Vi!!" perintah pak Andre sambil menunjuk kursi di hadapannya.
"Ada apa kamu menemui saya?" Tanya pak Andre dengan wajah polosnya.
"Saya mau menanyakan perihal nilai mata pelajaran bapak yang kosong." ucap Viona dengan nada yang sopan.
"terus?" tanya pak Andre.
"Maaf pak, tugas mana yang belum saya kumpulkan, se ingat saya, saya selalu mengumpulkan tugas dari bapak, tapi kenapa kok nilai saya ada yang kosong ya?" Tanya Viona dengan menatap wajah menyebalkan dosen di hadapannya.
"Kamu tahu kan nilai dari saya mempengaruhi kelulusanmu?" Tanya pak Andre dengan seringai jahat yang mulai muncul di wajahnya.
"Iya pak saya tahu, maka dari itu saya ingin tanya, tugas apa yang bapak berikan untuk memperbaiki nilai saya." Tanya Viona dengan pikiran yang mulai kacau ketika melihat pak Andre yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu serius ingin memperbaiki nilai kamu Viona?" Pak Andre meyakinkan Viona.
"Iya pak." Jawab Viona dengan singkat.
"Baiklah kalau begitu, saya tidak akan memberikan tugas untuk kamu, tapi temani aku malam ini ya...." ucap pak Andre dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya.
Viona hanya melebarkan matanya ketika mendengar permintaan dari pak Andre. Ia tidak menyangka kalau dosen ini benar-benar tidak waras.
"Saya merelakan kamu menikah dengan suami mu, tapi saya masih sangat menginginkan kamu Viona, jadi untuk mengganti nilai tugasmu, saya ingin kamu memberikan malam yang indah untuk saya rasakan walau hanya satu jam tidak masalah." Ucap pak Andre dengan suara yang pelan.
Viona bangkit dari tempat duduknya, Darah nya seketika mendidih mendengar harga dirinya di runtuhkan pak Andre dengan penukaran nilai dengan tubuhnya.
"BEDEBAH!!!SIALAN!!" Umpat Viona dengan menggebrak meja di depannya.
"Apa bapak sudah tidak waras hah!!Sampai kapanpun saya tidak akan menuruti ucapan bapak!! Dasar dosen Gila!! simpan saja keinginan anda itu!!" Viona memaki pak Andre yang sedang berdiri menatapnya tidak suka.
"Baiklah kalau kamu tidak mau, jangan harap kamu lulus dari kampus ini sampai kapan pun." pak Andre mengancam Viona yang sudah terbakar amarah.
"Lebih baik saya tidak lulus dari kampus ini dari pada harus menukar nilai dengan tubuh saya." Sarkas Viona.
"Baiklah kalau itu pilihan kamu Viona, lihat saja saya pastikan kamu tidak lulus dari sini." ucap Pak Andre yang sudah kesal karena Viona tidak masuk ke dalam jebakannya.
"Silahkan saja, kita lihat siapa yang akan kalah dalam permainan ini!!" ucap Viona dengan suara yang lebih keras.
"Kita lihat saja setelah Rekaman ini sudah sampai di tangan Rektor kampus, apa bapak masih bisa berada dalam kampus ini??" ucap Viona dengan menggoyangkan ponsel yang sejak tadi di genggam nya. Tadi Sebelum Viona masuk ke dalam ruangan pak Andre, ia terlebih dahulu menghidupkan perekam suara di ponselnya untuk berjaga jika hal buruk terjadi padanya.
"Viona!!!berani nya kamu mengancam saya!!" Raut pak Andre berubah menjadi seram ketika emosinya bangkit seperti ini.
Karena takut terjadi sesuatu pada dirinya, Viona segera berlari meninggalkan ruangan pak Andre. ia menutup pintu dengan keras setelah berhasil keluar dari ruangan terkutuk itu.
"Ada apa Vi?" Tanya Mela yang sejak tadi menunggu Viona di depan ruangan pak Andre.
_
_
_
Wah wah wah Pak Andre berani juga ya mak!!πππjangan lupa like Vote dan komennya kakkπ
_
_
_
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯