Wheel Of Love

Wheel Of Love
Menghabiskan waktu bersama,



"Papi! Sellin mau naik itu!" ujar Sellin ketika melihat red elephant di arena timezone.


Reza pun akhirnya mengikuti langkah Sellin kemanapun putrinya pergi. Hampir dua jam Reza dan Viona bermain di tempat ini, putrinya itu seakan tak pernah bosan meski sudah berkali-kali bermain di tempat ini. Viona terlihat lelah, ia membiarkan Reza pergi dengan Sellin ke tempat red elephant.


Viona tersenyum simpul ketika mengamati kedekatan Reza dengan putrinya itu. Binar bahagia terlukis jelas di wajah gadis kecil yang sedang menikmati wahana bersama sang ayah. Viona beranjak dari tempatnya setelah melihat jarum arlojinya berhenti di angka sembilan, mereka harus pulang karena sudah terlalu lama menghabiskan waktu di tempat ini.


"Pi, setelah ini kita pulang ya! ini sudah malam loh!" ucap Viona setelah sampai di tempat Reza berada.


"Mami gak lapar?" tanya Reza seraya menatap Viona.


"lapar sih, tapi ini sudah malam. Entar aku gendut ih!" ucap Viona.


"No problem, Honey!" ujar Reza dengan pandangan yang tak lepas dari Viona, "biar gendut aku tetap cinta kok!" ucap Reza dengan di iringi senyum manisnya.


"udah deh Pi, gak usah gombal disini!" Viona mengamati keadaan yang ada di sekitarnya, ia takut jika ada yang mendengar obrolannya dengan Reza.


Viona dan Reza sepakat jika bersama Sellin mereka akan memanggil Mami dan Papi, semua itu karena mereka tidak mau jika Sellin memanggil mereka dengan panggilan lain. Beberapa waktu yang lalu Sellin pernah memanggil Reza dengan sebutan 'Mas'. Tentu saja, semua itu karena ia sering mendengar Viona memanggil Reza dengan panggilan itu.


"Kita makan dulu ya, Mi!" ucap Reza setelah mereka bertiga keluar dari timezone.


"iya deh, mami ngikut papi aja." akhirnya Viona setuju untuk menikmati makan malam bersama.


Singkat cerita, setelah keluar dari Mall, mobil yang dikendarai Reza akhirnya sampai di salah satu cafe tempat favorit mereka selama ini. Cafe dengan interior yang nyaman dan menenangkan, rasa dari makanan yang tersedia di sini pun membuat lidah Reza dan Viona ketagihan.


Reza sibuk dengan Sellin, gadis kecil itu rupanya ingin melihat kartun kesayangannya di entub yang ada di ponsel Reza. Sellin akan tenang jika melihat kartun-kartun yang ada di entub, tapi Viona tidak mau membiasakan putri kecilnya itu bermain handphone. Senyum Viona terus mengembang tatkala melihat interaksi Reza dan Sellin. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen indah yang ada di hadapannya.



Viona meletakkan ponselnya ketika seorang waiters mengantar pesanannya, "terima kasih," ucapnya setelah waiters tersebut menata pesanannya di atas meja.


Viona pindah tempat ke sisi kanan Sellin, ia harus menyuapi Sellin terlebih dahulu sebelum dirinya makan. Tidak mungkin ia makan jika Sellin belum makan terlebih dahulu. Naluri keibuan benar-benar tertanam pada diri Viona.


"Mi, hadap sini sebentar!" ucap Reza, hal itu membuat Viona mengalihkan pandangan ke arah suaminya


Viona mengembangkan senyumnya ketika Reza mengarahkan sendok yang berisi sesuap nasi ke arahnya. Hal-hal seperti ini lah yang membuat Viona jatuh cinta setiap hari kepada suaminya itu. Bohong jika mereka tidak pernah bertengkar, tapi semua itu tak berlangsung lama, karena salah satu di antaranya mau mengalah.


"Pi, tolong suapin Sellin sebentar, aku mau ke toilet!" ucap Viona seraya berdiri dari tempat duduknya.


Menyebalkan, gas beracun itu datang di saat yang tidak tepat. Tidak mungkin Viona mengeluarkannya di saat makam malam bersama suaminya. Ia mengayun langkah menuju toilet yang ada di bagian belakang cafe.


"Oh leganya!!" gumam Viona setelah masuk ke dalam toilet dan keluarlah gas beracun tanpa suara itu. Viona menutup hidungnya ketika aroma menyengat merasuki indera penciumannya.


"gila! aku makan apa sih, kok baunya gini amat!" gumamnya lagi setelah keluar dari toilet.


Viona berjalan menuju wastafel, dimana ada cermin besar terpampang disana. Sebelum kembali ke tempat sang suami, tak lupa Viona merapikan rambutnya dan menyemprot parfum ke beberapa titik di tubuhnya. Viona terkesiap ketika melihat sosok wanita yang ia kenali masuk ke dalam toilet. Ia melihat sosok itu lewat pantulan cermin dihadapannya.


"Sepertinya, itu tadi Mirna! apa dia sudah bebas ya," gumam Viona seraya menutup botol parfumnya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ jadi gimana nih, masih mau lanjut atau udahan aja??😁


🌷🌷🌷🌷