The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 99: Menimpa Jejak



Ghiffa's point of view


Suara knalpot dari puluhan motor terus meraung-raung di arena sirkuit balapan. Siang itu diadakan balapan liar yang diadakan rutin setiap bulan. Beberapa klub motor besar berkumpul disana dan adu cepat. Kali ini Ghiffa berada di tribun, ia tidak mengambil posisi seperti biasa di lintasan sana. Ia sibuk menikmati rokok yang diapitnya di jari telunjuk dan juga jari tengahnya. Kacamata hitam bertengger di atas hidung mancungnya. Hari ini matahari memang sedang terik-teriknya.


"Nih." Lucas memberikan segelas americano dingin pada Ghiffa, dan duduk di sampingnya.


Ghiffa menerimanya dan membukanya, "Thanks."


Ghiffa terdiam. Pikirannya kembali berkenala. Hatinya terus merasa janggal karena kejadian yang terjadi kemarin terlalu aneh baginya. Tentu saja ia sangat bersyukur Ayana baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa padanya. Tapi justru karena Ayana baik-baik saja, ia menjadi merasa sangat ganjil. Ghiffa sampai meminta dokter untuk memeriksa organ kewanitaan Ayana, tapi tidak ditemukan keanehan. Dokter hanya menemukan tanda merah di sekujur tubuh Ayana dan ia tahu itu semua adalah ulahnya.


Selama ini ia memang sengaja, tak pernah membuat tanda itu di area leher. Ia tidak ingin Ayana merasa tidak nyaman jika orang-orang melihatnya.


Saat pemeriksaan itu, Dokter tidak mengatakan secara spesifik dimana saja tanda merah itu, Ghiffa juga tidak memastikannya lagi karena kondisinya kemarin memang tidak memungkinkan untuk memeriksa keadaan Ayana.


Ghiffa juga tidak curiga. Ia belum mengetahui ada tanda merah di leher Ayana dan itu bukan jejak yang dibuatnya.


"Mikirin apa lo?" tanya Lucas.


"Apa lagi." ucapnya seadanya, asap putih keluar dari hidungnya. "Gue masih ngerasa gak tenang. Aneh aja Ghaza bawa Ayana dan gak terjadi apa-apa sama dia."


"Lo bukannya bersyukur Aya gak apa-apa. Gue rasa justru Ghaza bakal lakuin sesuatu ke Ayana saat dia pulang kerja. Pagi itu dia punya kolega dari Norwegia yang udah nunggu dia di Hotel J. Lo tahu 'kan dia itu budak dari kerjaannya sendiri. Kerjaan dia adalah yang utama. Makanya dia kesampingkan dulu Aya, dan beresin dulu kerjaan dia."


"Tapi perasaan gue tetep aja gak enak."


"Udah deh. Lo jangan pikirin apa-apa lagi. Sekarang mending lo fokus ke depannya. Lo bakal lakuin apa sekarang buat bales perbuatannya Ghaza?" tanya Lucas.


"Gue belum tahu." Ia melemparkan rokok yang sudah pendek itu ke tempat sampah tak jauh dari sana. "Gue bakal fokus dulu buat rencana gue besok."


"Besok?" Lucas berpikir sejenak. "Oh Ulang tahun Ghaza. Serius lo bakal bongkar tentang lo sama Aya depan semua orang besok?"


"Jadilah. Semua orang bakal ada disana. Gue gak perlu lagi ribet ngasih tahu orang satu-satu. Terus bokap sama nyokap gue, mau gak mau, mereka bakal nerima Aya."


Tiba-tiba Victor dan Seno berjalan dari arah parkiran menuju ketua mereka.


"Mbak Perpus udah di rumah Belva, Ghif." Ucap Seno.


"Hmm." Ghiffa menyulut batang rokok berikutnya, "Dia aman 'kan?"


Victor dan Seno saling pandang. "Aman." ucap Victor kemudian.


Ghiffa melihat keganjilan itu, "Jangan bohong. Omongin ada apa." Ia menatap Victor dan Seno bergantian dengan mata elangnya.


"Mbak Perpus bilang kita gak boleh bilang sama lo. Tapi gue rasa lo harus tahu. Tadi seudah dia ketemu dosennya, ia dapet chat dari seseorang. Terus dia buru-buru ke toilet. Lama banget dia di dalem, pas keluar matanya sembab banget. Kayak abis nangis kejer gitu." Jelas Seno


Ghiffa bangkit dari duduknya, "Aya nangis kejer?!"


"Iya matanya bengkak banget. Kalau nangis biasa gue yakin gak akan sampai gitu matanya." terang Victor.


Ghiffa merogoh ponselnya dan menelepon Ayana. Namun tidak diangkat. Kemudian ia menghubunginya lagi tapi tidak diangkat lagi. "Aya di rumah Belva 'kan?"


"Iya. Tadi kita anterin dia sampai ARTnya Belva keluar, kok. Gak lama Mbak perpus masuk ke rumah Belva."


"Om, kita jemput Aya." Ghiffa segera berjalan menuju parkiran dan Lucas mengekor di belakangnya.


Saat baru masuk ke dalam mobil, Ayana menelepon, "A maaf barusan gak keangkat."


Ghiffa menghela nafas lega, "Darimana kamu, Yang."


"Barusan HPnya di tas, ini aku sama Belva baru nyampe di salon."


"Salon?" Ghiffa memberikan kode pada Lucas agar jangan menyalakan mobilnya.


"Iya. Belva ngajakin aku. Kasian A, Belva baru putus sama Jo. Gara-gara kejadian kemarin."


"Baguslah. Mending Belva nyari cowok lain yang lebih baik dari Jo." ucap Ghiffa sinis.


"Ih, Aa ngomongnnya gitu."


"Yang kamu tadi..." Ghiffa menjeda ucapannya. Ia berubah pikiran, tadinya ia ingin menanyakan mengapa Ayana menangis. Tapi Ghiffa mengurungkannya. Ayana mengatakan pada Seno dan Victor agar tidak mengatakan bahwa ia menangis pada Ghiffa. Ia khawatir ke depannya Ayana malah tidak percaya lagi pada Seno dan Victor dan justru akan menyembunyikan hal lain lagi nanti.


"Tadi apa A?" tanya Ayana.


"Tadi aman 'kan kamu selama perjalanan ke salon? Kenapa gak bilang kalau mau kesana? Aku suruh anak-anak kesana ya. Nungguin kamu."


"Kalau gitu aku masih di arena ya."


"Tapi jangan dulu ikut balapan ya, A."


"Iya, Sayangku."


"Ya udah. Dadah Aa.."


Kemudian Ghiffa dan Lucas kembali ke tribun. "Bar, Kris!" Teriak Ghiffa. Bara dan Krisna, anggota Centaur Squad yang masih kelas 10, berlari menghampiri Ghiffa.


"Kenapa Bos?"


"Lo pergi ke salon yang udah gue share loc. Jagain istri gue."


"Siap." tanpa berlama-lama kedua anggota Centaur Squad termuda itu pergi membawa motor mereka dan meninggalkan arena balapan.


Menjelang malam, Ghiffa masih berada di arena balapan. Ia begitu larut dalam obrolannya bersama sahabat-sahabat barunya dari klub motor lain yang juga ikut dalam balapan itu.


Setelah mendapat kabar dari Aya bahwa dirinya sudah berada di rumah, Ghiffa segera meninggalkan arena balap, meninggalkan teman-temannya yang lain yang masih asyik nongkrong disana.


"Gak asyik banget lo udah pulang jam segini." ujar seorang teman Ghiffa dari sekolah lain.


"Istri gue nungguin." ujar Ghiffa singkat.


"Istri? Serius lo udah nikah?"


"Si Ghiffa dipercaya. Dia tuh lagi bucin-bucinnya sama ceweknya sampai ke siapa-siapa dibilang istri. Halu emang nih anak." Seloroh Max.


Ghiffa hanya tertawa sambil berlalu.


Sampai di Kafe, Ghiffa melihat Bara dan Krisna sedang asyik menghisap rokok di area outdoor kafe. Di depan mereka ada sebotol beer dengan dua buah gelas. "Minum di markas. Jangan di kafe." tegur Ghiffa.


Ghiffa memang membuat aturan yang sangat ketat. Anggotanya yang akan menenggak minuman itu harus berada di markas. Tidak baik jika pengunjung melihat ada yang meminum minuman terlarang itu.


"Mbak Perpus gak ngebolehin kita di markas, Bos." ujar Bara seraya membereskan gelas dan botol beer itu.


Ghiffa mengerutkan keningnya, bingung. Kenapa Ayana tidak membiarkan orang lain berada di markas? Biasanya itu yang Ghiffa lakukan saat ia ingin berduaan dengan Ayana.


'Apa Aya...?' Ghiffa tersipu. Ia segera berjalan menuju markas dan naik ke lantai dua.


"Yang?" Panggil Ghiffa saat tiba di lantai dua. Ia mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan Ayana.


Ia masuk ke dalam kamar dan ia tertegun melihat kamar yang temaram dengan puluhan lilin menyala di berbagai sisi kamarnya.


"Yang?" Panggil Ghiffa sambil melangkah masuk ke dalam kamar.


Pintu di belakangnya tertutup dan ia merasakan dua buah tangan menesulup ke antara pinggangnya dan memeluknya.


"Tebak siapa?" Sebuah suara lembut yang sangat Ghiffa kenal terdengar dari balik punggungnya.


Ghiffa melepaskan dua tangan yang saling tertaut itu dan membalikkan badannya. "Harusnya kalau mau aku nebak, kamu tutup mata aku."


"Gak nyampe, Aanya terlalu tinggi." rajuk Ayana.


Ghiffa hanya tersenyum, "Terus ngapain kamu nyalain lilin banyak gini di kamar? Kamu juga kenapa pakai kaos aku?" Ghiffa mulai menelusupkan tangannya ke bawah kaosnya yang dipakai Ayana. Kaos itu menutupi hingga ke setengah paha Ayana.


Tangannya merasakan tak ada sehelai kainpun di bawah sana, "Terus kenapa kamu gak pake celana?" matanya menatap sang istri dengan senyum tengil.


Ayana tersenyum manis pada Ghiffa, "Aa pernah bilang suka kalau aku pakai kaos Aa. Kata Aa aku s*ksy." Ghiffa tertawa mendengar kata-kata nakal itu keluar dari bibir sang istri yang biasanya polos itu.


Mata bulat dan besar Ayana memantulkan cahaya lilin yang menyala temaram, membuat Ghiffa semakin terpesona. Perlahan Ayana mendorong Ghiffa hingga Ghiffa terduduk di sisi tempat tidur. Ia naik ke pangkuan sang suami dan meraup pipinya.


Wajah Ghiffa berada lebih rendah dari Ayana. Kedua mata Ayana sudah dipenuhi kabut g*ir*h. "Malam ini, biarin aku yang beraksi ya. Aa diem aja, nikmatin semuanya." lirihnya.


Kata-kata mengundang itu, wangi vanila yang menyeruak dari tubuh dan rambut Ayana, seketika membuat sesuatu di bawah sana terbangun. Tanpa menunggu jawaban Ghiffa, Ayana segera melahap bibir sang suami. Lidahnya bermain di antara bibir Ghiffa yang sedikit terbuka. Sesuai dengan yang Ayana ucapkan, Ghiffa hanya akan menerima kali ini. Menikmati segala sentuhan dari sang istri.


Kemudian bibir Ayana mulai berpindah ke leher Ghiffa dan menjelajahinya.


Hingga Ayana mengarahkan bibir Ghiffa pada leher sebelah kirinya dan berkata, "Pengen dimerahin disini." lirihnya.


Ghiffa yang sudah dikuasai hasr*tnya patuh begitu saja pada ucapan sang istri. Iapun mulai menghisap kuat bagian leher Ayana itu. Tanpa ia ketahui, Ayana sedang menimpa jejak yang ditinggalkan Ghaza, menjadi jejak Ghiffa.