The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 59: Cerita tentang Ghiffa (part 2)



"Tapi semuanya ternyata cuma angan-angan gue aja, karena saat gue ulang tahun itu, Ghaza bongkar semuanya. Pertama, dia deketin Oliv ternyata hanya demi kepentingan merger perusahaan. Dia butuh pertunangan itu buat mempermudah projek-projek yang lagi dia bikin. Alasan kedua, dengan dinginnya dia bilang kalau dia deketin Oliv karena Oliv adalah pacar gue."


"Maksudnya, Tuan Ghaza hanya memanfaatkan Olivia aja? Terus Tuan Ghaza tunangan sama Olivia buat ngerebut Olivia dari Tuan?"


Ghiffa mengangguk. "Bagi dia kehadiran gue bikin semua rencana yang udah bokap gue susun dengan rapi buat dia, jadi hancur berantakan. Awalnya dia anak tunggal. Bokap udah sering bilang kalau dia adalah pewaris tunggal. Dia yang bakal nerusin perusahaan bokap. Dan itu tertanam kuat di dalam diri dia bahkan dari dia masih umur 10 tahun, ambisi jadi seorang pemimpin itu udah muncul dalam diri Ghaza dari Ghaza sekecil itu."


Ghiffa menghela nafas panjang, dan berhenti sejenak sebelum ia melanjutkan.


"Padahal gue sama sekali gak ada keinginan buat ada di posisi bokap gue suatu saat nanti. Gue gak pernah ada ambisi kesana. Gue terus meyakinkan dia kalau gue bukan ancaman bagi dia. Gue bahkan bilang kalau gue gak mau nerima saham yang bokap kasih, dan dia bisa ambil semua saham itu. Tapi dia gak percaya sama gue. Sampai gak lama bokap sakit dan pengen Ghaza tinggal di rumah lagi. Terus dia ngajuin syarat, kalau bokap mau gue tinggal di rumahnya lagi, gue yang harus pergi. Dan lo tahu, Ay. Bokap gue nurutin keinginannya. Dia ngedepak gue dari rumah demi anak pertamanya bisa tinggal di rumahnya lagi dengan nyaman. Dia bukannya mendamaikan gue sama Ghaza tapi malah memilih buat ngebuang gue."


Ghiffa mengerjapkan matanya beberapa kali, seperti ingin menahan air matanya agar tidak mengalir.


"Dari situ rasa kagum gue sama Ghaza bener-bener ilang. Bahkan gue juga jadi benci banget sama dia dan juga bokap gue. Dulu gue selalu seneng dan bangga kalau orang-orang bilang anak-anak Pak Musa itu baik-baik, pintar, dan calon pemimpin hebat. Mereka mirip sekali atau komentar-komentar semacam itu. Tapi seudah itu gue bener-bener benci disama-samain sama dia. "


Aku bisa melihat dengan jelas saat ini Ghiffa terlihat sangat marah juga sakit hati.


"Dan gara-gara rasa bencinya itu gak cuma gue yang kena imbasnya. Tapi juga Oliv. Seudah keinginannya terwujud, dia mulai dingin sama Oliv. Sikapnya yang asalnya manis sama Oliv, berubah 180 derajat. Gue ngerasa bertanggung jawab banget karena selama ini udah dukung dia buat deket sama abang gue. Tapi seudah mereka tunangan Oliv justru menderita. Dan yang bikin gue kesel, Oliv malah masih sesayang itu sama Ghaza. Dia terus nutupin sikap Ghaza yang berubah, padahal gue udah tahu yang sebenernya kayak gimana. Tapi akhirnya Oliv sadar dan mutusin pertunangan mereka dan pindah ke Singapura."


Mendengarnya, membuat rasa bersalah itu terus menyeruak di dalam hatiku.


"Lama-lama gue stress dan akhirnya gue mutusin buat berubah. Gue berontak, bikin banyak masalah. Gue gabung sama anak-anak badung di sekolah. Gue mulai kenalan sama minum dan ngerokok. Nilai gue yang asalnya terbaik turun drastis. Gue bener-bener bikin diri gue kebalikan dari seorang Ghaza. Gue pengen ngeliatin sama dia kalau omongan gue bukan omong kosong kayak yang selalu dia bilang. Gue juga pengen ngeliatin ke bokap gue, lama-lama gue bisa cape selalu dinomorduakan sama dia. Dan gue berhasil Ay, seudah gue berubah bokap gue lebih notice ke gue, dia jadi lebih perhatian, walaupun dengan cara marahin gue." Ghiffa tersenyum getir.


"Tapi nggak dengan Ghaza," lanjutnya. " Dia masih belum bisa percaya sama gue. Sampai akhirnya di acara ulang tahun perusahaan kemarin, gue mutusin buat gamblangin aja semuanya. Gue bilang di hadapan semua petinggi perusahaan kalau gue gak mau jadi pemegang saham. Gue pengen tegasin kalau gue gak ada hubungan dengan PT Melcia Properti."


Mendengar ucapan Ghiffa membuat aku semakin merasa bersalah. Ia benar. Aku sudah sangat jahat. Bahkan kini rasa bersalahku memenuhi setiap tetes darah di dalam tubuhku.


"Saya takut..." tangisku kembali muncul.


"Lo takut apa, Ay?!" nada bicara Ghiffa semakin jengah. "Lo disini gak sendirian! Lo bakal ngehadapin semua pandangan orang itu bareng sama gue. Gue pengen nanya sama lo dan jawab dengan jujur, apa menurut lo, gue gak pantes buat bahagia?"


Aku menggeleng cepat, "Tuan sangat berhak untuk bahagia."


"Terus kenapa lo masih kayak gini sama gue?! Semenjak gue kenal lo, cuma lo yang bisa bikin gue bahagia!" Nadanya meninggi. "Apa salah gue karena terlahir di keluarga Airlangga? Ghaza nyalahin gue karena kelahiran gue jadi hambatan bagi dia. Sekarang lo juga nyalahin gue karena gue bukan Hyuga yang berasal dari kalangan biasa. Gue gak bisa milih Ay! Kalau gue bisa, gue juga gak akan mau jadi anaknya bokap gue! Gak dianggap, dikatain anak haram!"


Aku tak mampu menjawabnya, dan kembali menggeleng-gelengkan kepalaku. Sungguh bukan seperti itu maksudku.


Ghiffa mengusap wajahnya dengan kasar, merasa sangat frustasi. "Gue gak bisa dapetin kasih sayang dari keluarga gue, apa gue juga gak bisa dapetin sayang gue dari lo?"


Kata-kata Ghiffa itu seketika membuatku bertindak secara naluriah. Ku lingkarkan tanganku di sekeliling pundaknya dan ku dekap erat dirinya. Tak ingin lagi aku menganggapnya sebagai majikanku seperti yang selama ini aku lakukan.


"Perasaan sayang yang aku punya di dalam hati aku udah lama jadi milik kamu, Ghif." Aku terisak hebat saat mengatakannya. " Aku sayang banget sama kamu. Maafin aku yang gak pernah berani buat ngomong itu secara terang-terangan. Maafin aku yang udah jahat sama kamu. Maaf karena aku udah salah paham sama kamu. Aku emang bodoh karena lebih percaya tentang pemikiran orang lain dibanding nanyain semuanya langsung ke kamu. Maafin aku Ghiffa.. Maafin aku!"


Iya benar, orang yang aku sayang adalah Ghiffa. Tanpa ragu kini aku menyebutkan namanya. Kami saling memeluk dan menumpahkan segala rasa gundah itu, menumpahkannya sedikit demi sedikit dan tidak berniat untuk menampung kegundahan yang lainnya lagi.


Tekadku membulat, mulai sekarang aku akan lebih jujur pada diriku sendiri. Aku juga akan lebih mempercayai Ghiffa. Aku akan membiarkan hatiku sampai pada Ghiffa dan menghantarkan bahagia yang selama ini selalu dinantikannya. Akanku genggam tangannya tanpa ragu dan menunjukkannya pada semua orang. Lalu akan kukatakan dengan lantang hingga semua orang mendengarnya bahwa aku mencintai laki-laki ini.