The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 68: Menemani Ghaza



"Ngelamun aja kamu, Na?" Seketika suara Bi Susi membuyarkanku. Tanganku sibuk memetik helai demi helai daun bayam di dapur rumah mewah itu, namun pikiranku berkelana entah kemana.


Aku pun tersenyum lesu padanya, "Nggak kok, Bi."


"Nggak gimana. Orang tadi Bibi perhatiin kamu menghela nafas terus sambil ngelamun. Nyonya bilang apa?"


"Nyonya ingin Tuan Ghiffa tinggal disini lagi. Tapi Tuan Ghiffa tadi malah marah-marah dan debat lagi sama Nyonya."


Jujur aku sendiri jadi kepikiran. Saat kami tersambung melalui telepon dengannya tadi, begitu Nyonya Natasha mengatakan ingin Ghiffa tinggal disini lagi jika ingin bertemu denganku, Ghiffa kembali berucap kasar pada sang ibu. Mereka debat lumayan lama. Ghiffa menyalahkan Nyonya Natasha, yang pada intinya Ghiffa mengatakan bahwa Nyonya Natasha tidak pernah memikirkan perasaannya. Yang dilakukannya hanyalah ambisi dari Nyonya Natasha sendiri yang ingin menjadikan Ghiffa sebagai pewaris. Padahal Ghiffa tidak pernah menginginkannya. Kemudian Ghiffa bersih kukuh tidak akan tinggal di rumah ini lagi, juga Ghiffa mengatakan akan segera membawaku pergi dari sini.


Lalu hal terakhir yang dikatakan oleh Nyonya Natasha pada Ghiffa benar-benar membuatku bingung. Ia mengatakan bahwa Tuan Ghaza sudah mengizinkan Ghiffa tinggal di rumah ini kembali asalkan aku juga tinggal disini. Setelah itu Ghiffa mengumpat sambil berteriak dan teleponpun tertutup.


Itu artinya Tuan Ghaza yang membuatku tinggal disini 'kan? Setelah mendengarnya sulit untukku tidak berpikir macam-macam. Seketika aku teringat spekulasi Ghiffa dan juga Belva, juga peringatan dari Olivia, mengenai niat Ghaza untuk mengambil 'perhatian'ku.


"Kalau bibi sih lebih baik Tuan Ghiffa gak tinggal disini lagi. Kasian lihatnya." ujar Bi Susi, membuyarkan lamunanku kembali.


"Kenapa emangnya, Bi?" Rasa kepo-ku muncul.


"Kasian dibentak terus sama Tuan Ghaza. Padahal Tuan Ghiffa cuma mau deket aja sama kakaknya sendiri. Kalau bibi jadi Tuan Ghiffa juga pasti jengah."


"Sayang banget ya, Bi. Rumah sebagus dan senyaman ini tapi penghuninya justru hidup dengan gak bahagia." ujarku.


"Sejak Nyonya Natasha datang kesini, memang suasana jadi tidak nyaman. Tuan Musa selalu aja marah-marah pada Nyonya Natasha. Terus Tuan Ghaza marah-marah sama Tuan Ghiffa, bahkan dari Tuan Ghiffa masih kecil. Bibi juga gak ngerti mengapa mereka harus seperti itu. Padahal nyonya sangat baik dan sabar. Beliau juga selalu berusaha jadi istri yang baik bagi Tuan besar. Tapi Tuan gak pernah sekalipun baik sama nyonya. Kasian pokoknya."


Pantas saja Ghiffa begitu menyalahkan Nyonya Natasha saat dirinya datang dalam keadaan berbadan dua ke rumah ini.


"Ayana, kamu tolong tata meja makan ya. Piring dan yang lainnya sudah ada di meja, tinggal ditata aja. Sebentar lagi Tuan Ghaza pulang. Dia bilang mau makan siang di rumah."


"Baik, Bi." Akupun mencuci tanganku dan bergegas ke ruang makan untuk menata piring.


Aku mulai menata piring, sendok, garpu, dan juga gelas di meja makan itu. Tak lama Bi Susi datang membawa lauk pauk ke meja makan. Aku membantunya menatanya dan setelah itu kami beranjak kembali ke dapur.


Tepat saat aku akan meninggalkan meja makan. Ghaza pulang dan memasuki ruang makan. Tatapan kami bertemu. Ia menatapku hangat dengan senyum di bibirnya, ramah sekali. Berbeda sekali jika ia sedang menatap Ghiffa, dingin dan penuh benci.


"Kamu sudah pindah kesini?" tanyanya. Bi Susi sudah kembali ke dapur, meninggalkanku di ruang makan ini bersama dengan Ghaza.


"Iya, Tuan." Lirihku, akupun mengalihkan pandanganku dan pamit menuju dapur, "Permisi Tuan."


"Kamu bisa temani saya disini?" Seketika langkahku terhenti, "Saya butuh seseorang menemani saya makan. Jika saya membutuhkan sesuatu maka saya tidak perlu berteriak."


Sebenarnya aku begitu enggan menemaninya. Apalah aku ini yang hanya seorang pesuruh, akhirnya aku hanya bisa mengangguk patuh. Ghaza berjalan menuju salah satu kursi. Aku pun berdiri tidak jauh darinya.


"Kamu duduk aja." ujarnya.


Aku menggeleng, "Tidak apa-apa, Tuan. Saya berdiri saja."


"Saya melihat kamu tidak nyaman berdiri dengan tongkat seperti itu. Ayo duduk."


Justru jika duduk bersamanya aku akan lebih tidak nyaman lagi.


"Saya baik-baik saja, Tuan. Terimakasih tapi saya seperti ini saja." ujarku keras kepala. Nyonya Natasha akan mengamuk jika melihatku duduk bersama putra sambungnya. Ia akan berpikiran aku lancang sekali.


"Ya sudah saya tidak akan memaksa." Ghaza memulai makan siangnya. "Gimana kaki kamu?"


"Sudah jauh lebih baik, Tuan. Terimakasih." ujarku.


"Kaki kamu yang satu lagi kenapa?" Tanyanya sepertinya sempat melihat kelinkingku yang melepuh.


Ghaza terlihat agak terkejut, "Sudah diobati?"


"Sudah, Tuan." jawabku singkat.


"Untung saya meminta Tante Natasha untuk membawa kamu ke rumah ini. Di apartemenpun kamu tidak akan bisa mengurus Ghiffa, 'kan."


Jadi benar dia yang memintaku untuk datang kesini. Sungguh tidak bisa dipercaya.


"Kenapa..." Tanpa sadar aku membuka mulutku, namun sepersekian detik kemudian aku mengurungkan niatku untuk bertanya padanya.


"Kenapa apa?" Tanyanya menunggu kelanjutan ucapanku.


Aku menggeleng, "Tidak apa-apa, Tuan."


"Kamu mau bertanya kenapa saya meminta kamu pindah kesini?"


Aku tidak menjawabnya.


"Alasan saya cukup simpel. Pertama, saya yakin pekerjaan kamu di sana akan banyak terbengkalai karena kondisi kamu. Jika Tante Natasha harus terus menggaji kamu, kamu harus tetap melakukan pekerjaan kamu. Jangan sampai kamu digaji, tapi kamu tidak bekerja secara maksimal. Berbeda dengan jika kamu tinggal disini, kamu bisa membantu ART lain."


Cukup masuk akal, sih. Pemikiran Ghaza benar-benar mencerminkan seorang pengusaha, untung dan rugi dia pikirkan bahkan hingga hal-hal kecil.


"Kedua, saya tidak mungkin membiarkan Ghiffa tinggal dengan kamu, karena dia menyukai kamu, 'kan?"


Hampir saja aku tersedak salivaku sendiri mendengar ucapan Ghaza.


"Kamu tidak menyangka saya mengetahuinya? Saya bisa melihat dari cara dia memperlakukan kamu. Dan saya tidak bisa membiarkan itu."


Dahiku mengerut, "Kenapa, Tuan?"


"Dia itu nekat dan masih sangat muda. Dia sering melakukan sesuatu atas dasar emosinya. Dia bisa saja melakukan sesuatu terhadap kamu. Saya hanya tidak ingin dia melewati batas."


Ghaza memberikan alasan-alasan yang logis, namun entah mengapa aku merasa janggal. Jika ia bisa berpikir selogis itu mengapa ia begitu membenci adiknya?


"Saya harap kamu bisa mengerti." Imbuhnya.


"I-iya Tuan, saya sangat paham. Oh iya Tuan, saya juga ingin mengucapkan terimakasih. Saya sudah menerima ponsel itu kemarin, tapi saya tidak bisa menggunakannya karena ponselnya rusak dan saya juga tidak bisa menerimanya karena itu terlalu berlebihan, Tuan. Lalu mobil Tuan ternyata lecet karena kecelakaan itu. Saya benar-benar mohon maaf. Saya sudah sangat merepotkan. Sekali lagi saya mohon maaf."


Aku membungkuk lebih dalam padanya.


"Tidak apa-apa, Ayana. Santai saja." Ucapnya menangkap kepanikanku, "Saya hanya ingin membantu kamu. Itu bukan hal besar, tidak perlu terlalu dipikirkan."


"Tidak bisa, Tuan. Ponsel itu sangat mahal, biaya untuk perbaikan mobil Tuan juga pasti tidak sedikit. Maka dari itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya." Ucapku penuh sesal.


"Kamu tidak perlu sampai seperti itu, malahan saya bersyukur karena kamu menabrak mobil saya."


Aku tertegun sesaat. Bagaimana dia senang setelah terlibat kecelakaan seperti itu? Mobilnya rusak, dan lihat aku menjadi seperti ini?


"Karena saya jadi bisa mengenal kamu lebih jauh." Imbuhnya, "Kamu perempuan yang menarik. "


Aku kembali tertegun.


"Kamu potong rambut? Sebenarnya saya lebih suka model rambut kamu sebelumnya. Tapi saya juga suka dengan penampilan kamu sekarang, terlihat fresh dan cantik."