
Natasha's point of view
"Apa kamu bilang?!" Musa begitu murkanya.
"Saya bukan lagi ISTRI ANDA! BERHENTI BERLAKU SEMENA-MENA PADA SAYA!" Natasha meneriaki Musa dengan histeris.
Musa terperangah. Sama sekali tak pernah menyangka Natasha yang selalu patuh itu kini berteriak tak terkendali padanya. Sikapnya itu membuat Musa tak terima, kedua tangannya meremas kedua pundak Natasha, "Jangan membuat keadaan bertambah buruk, Natasha!!"
"Kenapa?!" Isak Natasha sambil meringis menahan sakit di pundaknya yang diremas kuat oleh Musa. "Anda takut pemberitaan perceraian anda dan saya diberitakan oleh media? Sekarang nama Keluarga Airlangga sudah terlanjur menjadi perbincangan orang-orang! Keluarga Airlangga yang begitu anda bangga-banggakan kini ada di setiap artikel di internet dan berita! Lalu kenapa sekarang tidak kita tambah saja pemberitaan mencengangkan lainnya dengan perceraian kita?!"
Musa menelan salivanya, tak menjawab ucapan Natasha. Wajahnya terlihat lelah. Beberapa hari terakhir ia sibuk meneriaki orang-orang dan mengusir para wartawan yang terus berkumpul di depan head office PT Melcia Properti. Keadaan di kantor membuatnya selalu dalam keadaan marah.
"Juga anda harus mengakui. Bukan Ghiffa penyebab semua ini terjadi! Putra yang selalu tak anda anggap! Yang tak pernah anda sayangi! Anda harus menerima kenyataan bahwa semua ini gara-gara ulah Ghaza!! Putra tercinta anda yang selalu anda sanjung dan banggakan! Dia yang mencoreng nama keluarga anda sendiri! Bahkan kini dengan teganya ia kembali memfitnah adiknya sendiri hingga nama Ghiffa begitu buruk di mata masyarakat! Anda harusnya membaca komentar orang-orang tentang Ghiffa!" Natasha sudah tak bisa membendung rasa sakitnya lagi.
Musa masih terdiam. Ia sendiripun mengakui semua ini disebabkan oleh Ghaza. Dalam hati iapun begitu kecewa pada sang putra. Hanya karena obsesinya terhadap seorang gadis lugu bernama Ayana, Ghaza yang selalu menjadi anak yang begitu penurut dan tak pernah mengecewakannya sama sekali, berubah menjadi senekat ini. Bahkan ia melanggar aturan paling dasar yang selalu ditekankannya pada seluruh anggota keluarganya yaitu selalu menjaga nama baik keluarga.
Skandal perceraian Ghiffa yang Ghaza ciptakan membuat orang-orang memperbincangkan Keluarga Airlangga yang selama ini tak pernah sekalipun terkena terpaan gosip miring. Keluarga Airlangga biasanya hanya disebut dan terdengar namanya di artikel-artikel bisnis. Namun kini, nama besar Keluarga Airlangga beredar dimana-mana, bahkan menjadi trending topik di aplikasi media sosial dengan logo burung berwarna biru muda itu.
"Anda membiarkan Ghaza merebut apapun yang Ghiffa miliki selama ini. Anda bahkan selalu memperlakukan Ghiffa tidak adil. Dia berusia 10 tahun lebih muda dari Ghaza, tapi dia yang harus selalu mengalah. Sampai kapan saya harus melihat kalian melakukannya?! Dia itu anak kandung anda! Tapi anda bahkan tak membiarkan ia mendapatkan haknya. Jika anda berlaku kasar pada saya, saya terima! Tapi kenapa Ghiffa harus merasakannya juga?! Dia bahkan selalu mencoba untuk menjadi anak yang baik dan membanggakan tapi sama sekali anda tak pernah mengapresiasinya! Salah Ghiffa apa?!" Isak Natasha. Ia sudah tidak peduli lagi dengan semuanya. Ia sudah berada di tingkat terlelah dalam hidupnya.
Natasha sudah sangat muak. Hingga rasa hormatnya, tak akan pernah ia berikan lagi pada pria di hadapannya.
Ia hempaskan kedua tangan Musa yang meremas pundaknya, "Ghiffa benar. Seharusnya saya tidak pernah datang pada anda saat saya mengandungnya waktu itu. Kami mungkin akan hidup jauh lebih baik, lebih bahagia walaupun tanpa adanya kemewahan."
"Natasha..." lirih Musa penuh sesal.
"Saya akan mencari putra saya." Natasha menyeka air matanya, "Dan akan saya pastikan hidup dan karir Ghaza berakhir saat saya menemukan Ghiffa. Ingat itu!"
Natasha berjalan dengan mantap menuju gerbang, meninggalkan rumah mewah nan megah yang selama ini ia sebut sebagai rumahnya itu. Tak sedikitpun ia menengok kembali ke belakang. Ia bertekad untuk tidak akan lagi menginjakkan kaki di rumah itu. Tak ia gubris teriakan Musa yang terus memanggil namanya.
Satu nama yang ada dalam hatinya kini, Ghiffa. Ia harus menemukannya.
Ia memesan sebuah taksi online sambil berjalan menyusuri jalan menuju jalan besar. Tiba-tiba sebuah mobil menghadangnya. Jendela belakang sebelah kiri mobil itu perlahan menurun. "Naiklah. Kita cari Ghiffa bersama-sama." Ujar Musa.
"Saya tidak memerlukan bantuan anda untuk mencari Putra saya." Natasha melangkah mengitari mobil itu.
Musa keluar dari mobil dan menarik Natasha, membuka pintu sebelah kanan dan memaksa Natasha untuk masuk.
"Lepaskan saya!"
"Kamu tidak akan bisa menemukan Ghiffa tanpa bantuan saya!"
"Kenapa?! Anda kira saya tidak bisa melakukan apapun?! Saya lebih dari bisa untuk mengurus hidup saya sendiri!" Natasha begitu bersih kukuh.
"Saya tidak akan membiarkan kamu pergi dari rumah ini! Kamu istri sah saya!"
"Istri?" Natasha tertawa getir. "Istri macam apa yang selalu memperlakukan suaminya seperti atasannya?! Istri macam apa yang selalu dihina setiap harinya oleh suaminya sendiri?! Sudah cukup 18 tahun saya bersikap bodoh, melayani anda, menjadi budak anda, tidak dihargai oleh anda!! Saya tidak akan membiarkan itu terjadi lagi!!"
"Tidak akan saya biarkan ada perceraian diantara kita." ucapnya lirih saat mobil mulai melaju.
"Anda begitu mirip dengan putra anda! Nekat dan egois! Kalian laki-laki yang bertingkah sebagai orang-orang terhormat tapi pada kenyataannya kalian hanyalah laki-laki yang tidak punya hati!!" Natasha terus meronta-ronta, namun Musa terus mempererat kuncian tangannya.
"Dengarkan saya baik-baik, kamu adalah Nyonya Besar Airlangga! Hentikan tingkah kekanak-kanakanmu itu, Natasha!"
"Lepaskan!! Saya lelah pada anda!!" Natasha semakin mencoba untuk lepas dari kungkungan Musa. "Saya tidak mau menjadi nyonya besar lagi! Saya hanya ingin menjadi ibu yang baik untuk anak saya!!"
"Ghiffa itu anak saya! Saya menyayanginya! Saya juga menyayangi kamu!!" Teriak Musa.
Seketika Natasha menghentikan rontaannya. Natasha tertegun. Rasanya ia salah dengar. Telinganya sepertinya tidak berfungsi dengan baik.
"Saya mencintai kalian berdua. Saya hanya terlalu gengsi untuk mengatakan ataupun menunjukkannya."
Natasha mendongak melihat ke arah wajah sang suami. Ekspresinya begitu sedih dan penuh sesal.
"Selama ini saya terlalu mengikuti ego saya. Kamu tahu, sebelum bertemu dengan kamu malam itu, saya memiliki prinsip yang sangat saya pegang teguh, saya akan selalu menjaga kemurnian kehormatan keluarga saya seperti yang selalu ayah saya wanti-wanti pada saya."
Musa menatap ke arah Natasha, "Tapi malam itu saya bertemu dengan kamu dan kamu begitu mempesona saya."
Natasha benar-benar tak bisa berkata-kata lagi. Kata-kata Musa terlalu mustahil. Bahkan ia harus meyakinkan dirinya sendiri apakah yang dihadapannya ini adalah Musa Airlangga yang selalu arogan itu atau bukan.
"Bertahun-tahun saya terus memegang teguh prinsip saya itu. Selain karena ayah saya juga karena saya merasa bersalah pada Ghaza. Ia tidak pernah menginginkan seorang ibu lagi setelah kematian Diani. Saya selalu mengatakan padanya bahwa ia adalah pewaris tunggal dari PT Melcia Properti. Namun kemudian kamu datang dengan Ghiffa di dalam kandungan kamu saat itu. Itu membuat Ghaza merasa terancam. Saya merasa sangat dilema. Hingga tanpa sadar saya mengikuti ego saya dan juga Ghaza. Saya selalu mengikuti keinginan Ghaza. Itulah mengapa saya tidak bisa memperlakukan kamu dan Ghiffa dengan baik. Namun kini saya sadar, yang telah saya lakukan adalah kesalahan yang sangat besar. Saya sangat menyesal, Natasha. Maafkan saya."
Natasha benar-benar tercengang. Kenapa disaat dirinya sudah merelakan semuanya, Musa malah mengatakan hal-hal seperti ini.
"Terus, untuk apa anda mengatakannya sekarang? Anda merasa bersalah pada Ghaza, tapi bagaimana pada Ghiffa?Pernahkah anda merasa bersalah pada Ghiffa sekali saja?! Semuanya tidak akan mengubah apapun! Keputusan saya sudah bulat. Saya mau kita bercerai." Ucap Natasha penuh tekad.
Musa menghela nafas kasar, mencoba menahan emosinya. "Baiklah kita akan bicarakan lagi tentang ini nanti. Sekarang kita harus menemukan Ghiffa." Musa berbicara pada sekretarisnya yang duduk di kursi depan. "Ren, dimana Ghaza sekarang?"
"Pak Ghaza baru saja take off dengan pesawat jetnya lagi menuju Bali. " Ujar Reno.
"Siapkan pesawat saya. Kita ke Bali sekarang."
"Untuk apa saya ke Bali?! Ghiffa tidak ada disana!"
"Ghaza ada disana, saya akan membuat Ghaza mengatakan dimana ia menyembunyikan Ghiffa. Ayana juga ada disana. Kita akan menjemputnya."
"Kenapa saya harus menjemput perempuan itu?! Dia penyebab Ghaza semakin bersikap buruk pada Ghiffa!" seloroh Natasha.
"Dia menantu kamu! Ghiffa sangat mencintai Ayana. Kenapa kamu masih belum bisa menerimanya?!" tanya Musa keheranan.
Natasha bungkam. Ia tidak ingin mengatakan alasannya. Yang jelas ia sama sekali tidak membenci Ayana. Ia hanya belum bisa menerimanya sebagai menantu.