The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 45: Ghiffa dan Ghaza



Sore hari aku sudah berada di sebuah ballroom hotel bintang lima, tempat acara perayaan ulang tahun perusahaan itu akan berlangsung. Aku memang ditawari oleh Nyonya Natasha untuk membantu pihak catering menjadi waitress pada acara ini. Siapa tahu aku ingin mendapatkan tambahan uang, seperti itu ucapnya. Aku yang memang sedang membutuhkan uang tentu tidak akan melepaskan kesempatan ini.


Aku sudah menggunakan kemeja putih dengan rok span hitam serta rompi hitam dengan dasi kupu-kupu, seragam dari para pelayan yang bertugas pada acara tersebut. Sejak tadi aku sudah sibuk membantu pihak penyelenggara acara untuk mempersiapkan tempat.


"Ayana, berat gak? Sini sama aku aja. "Zayyan dengan seragam yang sama denganku, menghampiriku yang sedang mengangkat dus berisi piring-piring kecil.


"Enggak berat, kok. Udah kamu bantu yang lain aja ya. " ucapku. Zayyanpun menurut.


Setelah menjelang senja persiapanpun rampung. Kami para pelayan diberikan waktu istirahat bergantian sebelum acara dimulai. Aku dan Zayyan mengambil nasi box yang memang tersedia untuk konsumsi para pekerja. Kami duduk di tangga darurat dekat dapur.


"Zay, kamu kok bisa kerja disini juga?" Saat bertemu dengan Zayyan tadi, aku dan dia memang belum sempat mengobrol karena kami sibuk kesana-kemari.


"Aku ditawarin Nyonya Natasha. Biasa, beliau emang selalu nawarin kalau ada acara-acara kayak gini, biar aku dapet kerja dan dapet uang tambahan katanya."


"Kamu kenal sama Nyonya Natasha?"


"Kenal dong. Beliau 'kan majikan ibu aku."


Sontak aku menatap Zayyan penuh tanda tanya. "Ibu kamu siapa?"


"Kamu juga kenal kayaknya. Bi Susi kamu tahu?"


"Kamu anaknya bi Susi?!" Aku benar-benar tidak menyangka.


"Iya. Emang gak mirip ya aku sama ibuku?"


"Aku gak terlalu merhatiin sih. Jadi kamu udah kenal lama dong sama Tuan Ghiffa?"


"Iya dari waktu aku masih SD, waktu ibuku mulai kerja di rumah Keluarga Airlangga. Sekarang kamu udah tahu kalau Hyuga itu dia?"


Aku mendengus, "Udah."


"Syukur deh kalau gitu. Langgeng ya." ucap Zayyan tulus.


"Aku udah putus sama Hyuga."


"Loh? Kenapa?" Zayyan yang sejak tadi sibuk dengan makanannya menatap ke arahku.


"Kamu masa gak tahu kenapa aku gak bisa punya hubungan sama Ghiffa? Lagian aku itu pacarannya sama Hyuga, bukan sama Ghiffa. Jujur aku lebih berharap visulnya Hyuga itu kamu, Zay." ucapku lemas, tidak terlalu berselera makan.


"Kenapa? Kamu jangan-jangan ngecengin aku setelah ketemu aku di cafe X waktu itu ya?" candanya.


Aku menatapnya galak, "Sembarangan. Ya nggaklah. Aku juga gak mau ambil resiko, cewek kamu itu galak banget tahu gak."


"Manis banget 'kan cewek aku." ucap Zayyan tersipu.


"Iya, kalian cocok banget deh pokoknya." ucapku gemas.


"Iya dong. Tapi Ayana, aku ngerti kok, kamu pasti ngerasa gak pantes bersanding sama Ghiffa. Iya 'kan? Sama dengan yang aku rasain ke Zalfa."


"Ayahnya Zalfa itu pilot. Mereka sangat berkecukupan. Memang kalau dibandingkan dengan Ghiffa masih di bawah sih. Tapi tetep aja jauh kalau dibandingkan dengan aku yang cuma anak pembantu."


"Tapi kamu kok bisa bertahan sampai setahun sama Zalfa?"


Zayyan tersenyum dan menghela nafas panjang, "Bisa ajalah, Ayana. Apa yang gak bisa kalau kitanya saling sayang. Emang sih awalnya masalah status sosial ini jadi alasan kami sering berantem. Tapi lama-lama kami mulai saling ngerti. Makanya aku bakal nyoba ngubah nasib aku biar bisa setara sama dia. Aku bakal kuliah di kampus terbaik dan dapet kerja yang berpenghasilan tinggi."


"Kamu emang keren banget, Zay." Jujur aku terperangah karena Zayyan bisa berpikir begitu dewasa. Dia baru saja kelas 11, tapi sudah miliki rencana ke depannya dengan tertata dengan pasti.


"Kamu juga bisa kali, Ayana. Ghiffa itu keliatan banget kok sayang sama kamu."


"Apanya yang bisa, Zay? Kamu sendiri tahu Ghiffa itu dari keluarga amat sangat berada. Aku? Cuma anak petani sayur. Gak mungkinlah aku bisa punya hubungan sama dia. Dunia aku sama dia itu kayak bumi dan langit."


"Tapi dia bahagia sama kamu. Jujur aku lega liat dia punya kamu sekarang." ucapnya tulus.


"Kamu perhatian banget sih sama Ghiffa? Padahal dia 'kan suka ngebully kamu kalau di sekolah."


"Dia sahabat aku dari kecil, Ayana. Aku tahu dia gak bener-bener ngebully aku. Emang semenjak dia berubah waktu awal semester genap di kelas 10, dia kayak udah gak nganggep aku sahabatnya lagi. Tapi aku ngerti situasi dia. Dia itu cuma pake topeng. Dia pengen keliatan sangar buat nutupin sesuatu. Kalau dia ngebully aku, aku gak marah sama dia, justru aku ngerasa kasihan."


Aku mengubah posisiku yang bersebelahan dengan Zayyan, menjadi menghadap ke arahnya. "Topeng gimana sih maksudnya, Zay? Ghiffa juga pernah ngomong tentang itu. Dia bilang dia pake topeng, sedangkan Hyuga itu adalah dia yang asli. Tapi aku gak ngerti maksudnya?"


Zayyanpun menghadap ke arahku, dan berbicara dengan serius denganku. "Ghiffa ngelakuin itu karena kakaknya."


"Karena Tuan Ghaza?"


Zayyan mengangguk, "Ghiffa itu pura-pura doang jadi anak nakal, badung, bikin onar di sekolah, itu karena dia pengen meyakinkan kakaknya, kalau kehadiran dia bukan buat ngerebut posisi kakaknya. Dia melakukan itu buat ngeliatin ke kakaknya kalau keberadaan dia di keluarga Airlangga, bukan sebagai pesaing Tuan Ghaza."


"Maksudnya gimana?" tanyaku tidak paham.


"Kamu tahu cerita awal Nyonya Natasha jadi istrinya Tuan Musa?"


"Nyonya Natasha itu gak sengaja hamil anaknya Tuan Musa. Setelah dilakukan tes DNA dan ketahuan kalau ternyata anak yang dikandung Nyonya Natasha bener-bener anaknya, barulah Tuan Musa menikahi Nyonya Natasha. Itu sih yang aku tahu."


"Betul. Itu awalnya. Dari awal baik Tuan Musa dan Tuan Ghaza itu terpaksa menerima kehadiran Nyonya Natasha dan Tuan Ghiffa di keluarga mereka. Walaupun udah kebukti kalau Tuan Ghiffa itu anak kandungnya, tapi Tuan Musa tetap memperlakukan Tuan Ghiffa agak berbeda. Keinginan Tuan Ghaza adalah yang utama, sedangkan Tuan Ghiffa selalu dinomor-duakan dan harus selalu jadi pihak yang mengalah, padahal mereka beda 10 tahun. Makin dewasa, Tuan Ghaza makin gak suka sama Tuan Ghiffa. Bahkan waktu lulus SMA, Tuan Ghaza sampai pindah dari rumah dan tinggal sendiri di apartemen."


"Ya ampun, kenapa mereka gak akur banget sampai kayak gitu?" tanyaku heran.


"Kalau alasan pastinya aku gak tahu, Ayana. Tapi puncaknya waktu ulang tahun Tuan Ghiffa yang ke-17 dan Tuan Musa sakit. Tuan Musa ingin Tuan Ghaza tinggal di rumah lagi. Tuan Ghaza setuju untuk tinggal di rumah lagi, tapi dengan syarat, Tuan Ghiffa harus meninggalkan rumah."


"Jadi itu alasan Ghiffa tinggal sendiri di apartemen? Pantes aja Ghiffa kayak yang benci sama Tuan Ghaza." gumamku.


"Bukan itu alasan utamanya, Ayana. Ghiffa gak pernah benci sama Kakaknya walaupun Kakaknya udah selalu mengabaikan dia dan udah sejahat itu sama dia. Tapi hubungan mereka makin merenggang karena Tuan Ghaza ngerebut pacarnya Tuan Ghiffa. Namanya Olivia."


Hatiku tiba-tiba saja merasa berdenyut nyeri.


"Bahkan Tuan Ghaza sampai bertunangan dengan Olivia. Dari situ barulah Tuan Ghiffa jadi benci sama Tuan Ghaza, karena udah ngerebut Olivia dari Tuan Ghiffa."