
Kami sampai di salah satu kamar di lantai 2 apartemen itu. Aku kembali terkesiap karena ini bukan kamar utama, tapi begitu luas dan nyaman. Aku terpana dengan pemandangan kemilau lampu kota yang bisa kulihat dari dinding kaca di sisi tempat tidur. Dulu juga aku sering menikmati pemandangan ini dari apartemen Ghiffa.
Masa-masa menyebalkan saat bersama 'Tuan Muda' itu hadir kembali di ingatanku. Namun saat mengingatnya sekarang aku justru merasa lucu dan tak menyangka masa-masa itu kini justru begitu indah untuk dikenang karena Tuan Muda menyebalkan itu kini sudah menjadi suami tersayangku.
Dering telepon menginterupsiku yang sedang mengedarkan pandanganku.
"A, Om Lucas nelpon."
Ghiffa tidak menggubrisku dan malah membaringkan tubuhnya di ranjang. Akupun memutuskan untuk mengangkatnya.
"Halo, Om?"
"Ayana? Kalian dimana? Om dikabarin kalau anak-anak di kantor polisi?"
"Iya, Om. Tapi udah pada dijemput sama orang tuanya masing-masing." Aku melihat ke arah Ghiffa yang masih membaringkan tubuhnya dan kini menutup matanya. Aku duduk di sebelahnya. "Aa juga barusan dijemput sama Mas Ghaza."
"Ghaza?! Om gak salah denger?!"
"Nggak, Om. Tadi Aa gak mau disuruh buat ngasih nomor Nyonya Natasha atau Tuan Musa. Aa juga gak mau ngasih nomor Om. Jadi pihak kepolisian nyari nomornya Mas Ghaza. Sekarang juga kami ada di apartemennya Mas Ghaza, karena Mas Ghaza bersih keras buat bawa kami kesini."
"Dasar si Ghiffa. Tapi kalian baik-baik aja 'kan? Om khawatir banget, terutama sama kamu. Kalian..."
Tetiba Ghiffa merebut ponsel yang sedang menempel di telingaku dan mematikannya.
"Aa! Om Lucas lagi ngomong." tegurku.
Ghiffa merengkuh tubuhku, "Maaf ya. Aku jadi bawa-bawa kamu." Aku cukup kesal dengan kejadian tadi, tapi mau bagaimana lagi bukan sepenuhnya juga Ghiffa yang salah.
Lalu Ghiffa melepasku dan menatapku galak, "Lagian kenapa tadi kamu gak pergi sih sama Bara?"
Aku menghela nafas, "Aku 'kan khawatir sama Aa. Sekarang Aa harus merengungi semua kejadian hari ini. Aa itu harus mengakui kalau Aa salah kabur dari rumah. Semua orang cemas. Bahkan sekarang kita malah ada di apartemen Ghaza."
Ghiffa terdiam menatap jari-jarinya. Sepertinya ia memang merasa bersalah.
"Iya, Aku nyesel. Tapi aku nyesel bukan karena pergi dari rumahnya, tapi nyesel karena kamu harus ngalamin semua ini." tatapan Ghiffa penuh sesal.
"Aa harus janji ya, tadi itu terakhir kalinya Aa nantang orang lain buat balapan. Sebenernya aku gak suka setiap Aa bilang mau pergi ke arena. Aku juga selalu nolak kalau Aa ngajakin aku 'kan? Karena aku bener-bener was-was dan cemas banget, takut Aa kenapa-kenapa." Aku mewanti-wanti.
"Itu gara-gara si Fero, Yang, keadaan jadi chaos kayak gitu. Biasanya kita balapan gak pernah sampai berantem kayak tadi. Siapa yang gak marah kalau dipukul kayak tadi? Aku udah sempet nahan emosi, tapi dia malah mukul aku lagi." cicitnya, kini Ghiffa persis seperti anak kecil yang membela diri saat dimarahi ibunya.
Aku tidak menjawab lagi. Ku buka tasku dan mengeluarkan tisu basah dan kotak P3K kecil. Aku menghadap ke arah Ghiffa dan menyeka wajahnya dengan tisu basah.
"Kamu bawa kotak P3K?" ucap Ghiffa tercengang saat aku membuka kotak P3K itu.
"Mau gimana lagi, orang suami akunya hobi banget luka-luka." Aku meraih salep untuk memar, menekan tube salep itu hingga isinya keluar dan mengoleskannya pada pipi Ghiffa yang lebam.
Ghiffa hanya tersenyum. Tiba-tiba ponsel Ghiffa berbunyi, sebuah notifikasi masuk. Ia meraihnya dan seketika tersenyum. "Yang, buka m-banking kamu."
Aku mengerutkan dahiku dan melakukan apa yang Ghiffa instruksikan. Tanpa sadar mulutku terbuka melihat saldoku yang bertambah sekitar 100 juta. "Ini uang apa, A?!"
"Itu honor aku main drama barusan." candanya.
Aku benar-benar kehilangan kata-kata. Setelah kejadian chaos barusan kami malah mendapatkan uang sebanyak ini. Benar-benar tak habis pikir orang-orang yang bertaruh untuk Ghiffa bisa mengeluarkan uang dengan mudahnya dan dalam jumlah yang tak main-main. Aku sendiri tidak terlalu paham dengan sistem taruhan itu hingga Ghiffa mendapatkan jumlah sebanyak ini. Juga, aku tidak ingin mencari tahu.
Aku mengusak rambutku. Aku sungguh bingung harus menerima uang itu atau tidak. Bagaimanapun uang itu didapatkan dengan cara yang salah.
Tiba-tiba saja aku teringat kedua orang tuaku. Mereka pasti tidak akan suka jika kami mendapatkan uang dengan cara seperti ini. Aku menyerahkan ponselku pada Ghiffa, "Aku gak bisa nerimanya. Aa kembaliin uangnya."
Ghiffa tercengang, "Tapi Yang..."
"Gak ada tapi-tapi, A. Aku gak mau pakai uang itu." Tegasku.
"Yang, kita butuh uang buat nyari tempat tinggal!" Ghiffa tetap bersih kukuh. Akhirnya kami malah berdebat cukup lama. Hingga akhirnya Ghiffa menyerah dan mengembalikan uang itu.
"Udah." Ia memperlihatkan layar ponselku dengan kesal, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Makasih udah dengerin aku, A." ucapku tulus. Tapi Ghiffa tidak menggubrisku, sepertinya ia sangat kesal.
Akupun membuka ponselku kembali dan membuka kontak salah satu teman kuliahku. Kebetulan ia sedang online. Aku segera menchatnya. Namanya Firly. Ia seorang perantau sama sepertiku, dulu kami tinggal di satu tempat kost yang sama. Aku menchatnya dan menanyakan apakah ada tempat kost yang kosong. Firly mengabarkan bahwa ada satu kamar yang baru saja kosong tadi siang. Kebetulan sekali. Segera aku menchat pemilik kost dan membooking kamar itu.
Aku akan mencoba membuat Ghiffa jera. Dia pasti tidak akan betah tinggal di kost yang sempit dan kecil.
"A, barusan aku chat temen kuliah aku. Aku dapet nih satu kamar kost. Besok pagi-pagi banget kita kesana ya."
Ghiffa segera bangkit dari berbaringnya. "Kamar kost?"
"Iya. Cuma itu satu-satunya tempat tinggal yang sesuai sama budget yang kita punya sekarang." Aku membaringkan tubuhku di sisi lain tempat tidur king size itu, "Udah sekarang kita tidur, sebelum subuh kita pergi dari sini."
"Tapi, Yang..." Wajah Ghiffa sudah sangat frustasi.
"Aa jangan banyak protes. Sekarang tidur, besok Aa sekolah." Aku segera memejamkan mataku.
"Tapi seragam aku 'kan di koper, kopernya ada di mobilnya Max."
"Ada satu stel di tas aku." ucapku dengan mata yang masih terpejam.
"Kamu persiapan banget, sih." terdengar dari gerakannya sepertinya Ghiffa juga mulai membaringkan tubuhnya di sampingku.
"Iya, dong. Aa gak boleh sampai bolos sekolah gara-gara ini."
Tak berapa lama hening. Ghiffa tidak menjawabku lagi. Mataku masih terpejam dan menunggu kesadaranku hilang. Beberapa saat kantuk mulai kurasakan sepertinya sebentar lagi aku akan terlelap.
Namun tiba-tiba saja aku merasa bibirku dil*mat begitu saja. Sontak kilasan video itu menyerang dalam ingatanku dan seketika aku berteriak seraya mendorong tubuh yang ada di atasku. Tubuhku segera menghindar, bangkit dari posisiku tapi karena terlalu terburu aku sampai hampir jatuh dari tempat tidur. Namun dua tangan segera menahanku.
"Yang!" sontak aku membuka mataku dan melihat Ghiffa disana.
Ternyata Ghiffa yang menciumku.
Ada apa denganku? Kenapa aku malah berpikir bahwa Ghaza yang melakukannya?
Tubuhku bergetar hebat tak bertenaga tanpa bisa aku cegah. Air mataku meleleh begitu saja.
"Yang, kamu kenapa kayak gini?" tanya Ghiffa khawatir sekali, lidahku kelu tak bisa bergerak.
Perlahan kuasa akan tubuhku, kudapatkan kembali. Akupun menangis sejadinya seraya memeluk Ghiffa dengan erat. Aku mulai menyadari memori itu sudah berubah menjadi ketakutan. Ketakutan itu membawaku pada kepanikan. Dan kini serangan panik itu sudah berubah menjadi trauma. Kini aku berada kembali di apartemen milik Ghaza, mungkin itulah penyebab memori buruk itu kembali menyiksaku.