The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 53: Merasa Bersalah



"Tuan, bisa tolong turunkan saya?! Saya mohon!" Melihat Ghiffa melihatku dibopong oleh Ghaza membuatku sangat panik, hingga tanpa sadar tubuhku sedikit meronta-ronta.


Ghaza menangkap kepanikan yang sangat kentara di wajahku. Hingga iapun menengok ke arah belakang. Ghiffa sedang berjalan menghampiri kami, wajahnya begitu marah. Ghaza pun menurunkanku dari pangkuannya, tidak melepaskan tatapannya dari sang adik.


"Bangs*t?!" Seketika Ghiffa berdiri hanya sekitar 50 meter dari Ghaza. Aku berdiri diantara keduanya dengan panik. Sangat panik. Apalagi tatapan saling membenci itu kini aku saksikan lagi. "Kalau dia kecelakaan harusnya lo kabarin gue!" Mata elang Ghiffa membulat sempurna.


"Gue gak perlu ngelakuin sesuatu yang lo pengen." sahut Ghaza dingin. Kata-kata itu menyulut emosi Ghiffa lebih besar lagi.


"Tuan!" Aku segera meraih tangan Ghiffa yang terkepal bersiap menghujam sang kakak. Ghiffa terlihat berkeringat, banyak sekali, nafasnya masih tersengal, dan masih menggunakan seragamnya. Apa yang baru saja dilakukannya?


"Tuan saya mohon jangan berantem!" Aku menatap mereka bergantian, memohon kepada keduanya. Lalu aku menatap ke arah Ghaza, "Tuan terimakasih atas bantuannya. Lebih baik Tuan pulang ya." Aku berharap Ghaza bisa lebih dewasa untuk tidak membuat situasi semakin runyam. "Tolong, Tuan." Pintaku dengan sungguh-sungguh.


Ghaza sepertinya luluh, tatapannya yang tajam kini sudah melunak. Ia menatap ke arahku, "Saya pulang dulu." Ghaza menatap ke arah paperbag kecil yang memang sejak tadi aku genggam, "Minum obatnya dan cepet sembuh. Tongkat kamu akan saya titipkan pada satpam."


Aku mengangguk cepat, "Baik, Tuan. Terimakasih banyak." Sekilas mereka kembali bersih tatap dengan bengis. Kemudian Ghaza segera meninggalkan kami dan berjalan keluar lobi.


Tanpa mengatakan apapun, Ghiffa membopongku tepat saat lift terbuka. Ia membawaku memasuki lift. Ia tidak mengatakan apapun selama berada di lift. Pundaknya terlihat naik turun, terlihat sekali ia masih mencoba meredakan emosinya. Keringat bercucuran di pelipisnya, tatapannya lurus ke depan.


Aku pun bungkam. Aku terlalu takut untuk mengatakan sesuatu. Keheningan yang mencekam benar-benar membuatku enggan bahkan untuk bernafas. Ghiffa kini sedang berada pada mode 'senggol bacok', hingga diam menjadi satu-satunya hal yang bisa aku lakukan sekarang.


Beberapa saat kemudian kami sudah berada di apartemen, Ghiffa mendudukanku di sofa ruang tengah. Kemudian bel berbunyi dan Ghiffa membukanya, ternyata itu adalah satpam yang membawakan tongkat untukku.


Setelah satpam pergi, tiba-tiba saja Ghiffa mengumpat, "ANJ*NG!!" seraya membanting tongkat itu ke lantai dengan marah. Spontan aku memekik karena suaranya yang sangat keras, kedua tanganku berada di telingaku.


"Ma-maaf Tuan.." cicitku. Aku sungguh ketakutan, sampai-sampai tubuhku gemetar.


Ghiffa mengusap wajahnya kasar. Kemudian kedua tangannya ia sangga ke tembok. Sesekali ia memukul tembok yang tak bersalah itu dengan kepalan tangannya.


Sungguh aku tidak mampu melihat Ghiffa terus memukul tembok itu. Kini bahkan bercak merah terlihat di tembok berwarna putih itu. "Tuan, tolong hentikan!" Sebutir air mata lolos begitu saja melintasi pipiku. Aku menutup hidung dan mulutku, panik sekali. Aku betul-betul tidak paham mengapa Ghiffa harus semarah itu.


Ghiffa berbalik dan berjalan ke arahku dengan mata memerah. Ia berlutut di depanku dan merengkuh tubuhku dalam pelukannya begitu saja. Kedua tangannya memelukku dengan sangat erat hingga nafasku sedikit sesak, tubuhnya terasa panas.


Kemudian ia melepas pelukannya dan menatapku marah, "Jangan deket-deket sama Ghaza. Gue udah pernah bilang sama lo. Berapa kali lagi gue harus ngomong sama lo biar lo ngerti?" Suaranya rendah dan tercekat seperti menahan tangis.


Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Aku tak mampu menatap kedua mata elangnya.


"Maaf, Tuan. Saya gak bermaksud seperti itu. Sa-saya tadi kecelakaan. Ternyata saya menyerempet mobil Tuan Ghaza." Aku mencoba menjelaskan kejadian yang aku alami. Saking paniknya suaraku bergetar dan berbicara dengan terbata. "Tuan Ghaza hanya membantu saya. Saya tadi tidak sadarkan diri. Kepala saya terluka dan kaki saya retak. Jadi.. jadi.. saya gak bisa menghindarinya, Tuan. Saya mohon maaf." Akhirnya aku hanya bisa menangis.


Tiba-tiba saja ada rasa sakit yang menelusup. Kenapa ia marah padaku? Apakah mengalami kecelakaan ini adalah mauku? Ia tidak merasakan bahkan sampai sekarang kakiku masih terasa nyeri dan aku berusaha menahannya. Tapi Ghiffa malah terkesan menyalahkanku. Bukan salahku juga 'kan jika ternyata aku bertabrakan dengan mobil milik Ghaza? Lalu apa kabar dengan dia yang tiba-tiba saja tidak bisa aku hubungi? Parahnya aku malah melihatnya bersama mantan pacarnya. Apa dia tidak merasa bersalah barang sedikit saja padaku?


Dan yang membuatku bertambah kesal aku tidak berani mengutarakannya, maka dari itu aku hanya bisa menangis meluapkan perasaan itu.


Ghiffa merengkuh tubuhku dan mengecup puncak kepalaku beberapa kali, "Maafin cowok brengsek ini, Ay." ujarnya. Kata-katanya itu menyiratkan penyesalannya.


Seketika aku benci diriku sendiri yang hanya bisa menangis. Aku begitu ingin bertanya padanya apa yang sebenarnya dipikirkannya? Terlebih apa yang ia rasakan. Jika memang ia tidak bisa menemuiku sore itu, dia bisa mengatakannya padaku. Membuka HPnya dan katakan bahwa ia membatalkan janji kami. Itu tidak sulit 'kan? Ia malah membuatku menunggu tanpa kejelasan. Dan ketika aku mencarinya karena cemas takut terjadi sesuatu padanya, ia malah sedang bersama Olivia.


Setelah cukup puas menangis, Ghiffa membawaku ke kamarnya. Ia menyandarkan tubuhku di headboard tempat tidur miliknya. Ia memintaku menunggunya disini, sedangkan ia akan membersihkan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian Ghiffa keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan kaos, hanya boxer yang menutupi bagian tubuhnya. Ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil.


"Tuan sudah makan?" tanyaku template. Itu adalah bagian dari pekerjaanku, memastikannya sudah makan atau belum.


"Belum." ujarnya singkat. Ia membuka lemarinya dan mengambil sebuah kaos dan memakainya.


"Kalau begitu saya akan siapkan dulu." Aku membawa kakiku turun dari tempat tidur dan meraih tongkat penyanggaku yang bersandar di tembok dekat tempat tidur Ghiffa.


Ghiffa berjalan ke arahku, menyandarkan kembali tongkat itu dan berlutut di hadapanku. "Lo bisa 'kan gak usah ngurusin gue dulu? Lo lagi sakit."


"Tapi Tuan belum makan."


"Gue bisa nyiapinnya sendiri. Sekarang lo istirahat."


"Kalau begitu saya kembali ke kamar ya, Tuan." Aku berniat meraih kembali tongkatku, namun Ghiffa menahannya.


"Lo tidur disini sama gue." Tegasnya.


"Tapi, Tuan.."


Ghiffa memotong ucapanku. "Liat kaki lo. Kalau malem lo haus, atau lo pengen ke air gimana?"


"Ada tongkat, Tuan. Saya bisa menggunakannya."


Ghiffa mengambil tongkat itu dan membawanya, kemudian ia lemparkan ke balkon kamarnya, dan menguncinya.


"Mana tongkat lo? Gak ada." Ia menatapku dingin.


Dia kenapa lagi sih? Ada apa dengan kedua kakak beradik itu? Kenapa mereka tidak mengizinkanku menggunakan kakiku sendiri dan tongkat? Mereka malah sibuk membopongku. Mentang-mentang tubuh mereka jauh lebih tinggi dan lebih besar dariku.


"HP lo mana? Kenapa gue gak bisa ngehubungin lo?" tanya Ghiffa.


Aku mengeluarkan ponselku dari saku hoodieku, "HP saya rusak tertimpa motor saya."


Ghiffa duduk di sebelahku, mengusap kasar wajahnya frustasi.


"Maaf, Tuan." Aku jadi merasa bersalah sendiri melihatnya sefrustasi itu.


"Kenapa sih lo minta maaf terus? Itu doang yang lo bisa? Kenapa lo gak nanya sesuatu sama gue? Kenapa lo gak marah sama gue?"