
Hari itu kami bersuka cita merayakan ulang tahun Ghiffa. Kafe penuh oleh anggota Centaur Squad dan juga teman-teman sekolah Ghiffa yang lain, teman-teman futsal, basket, dan juga anggota tim cheers, juga teman-teman Ghiffa yang lainnya bahkan Zayyan juga datang.
Pesta berlangsung secara kasual, tidak ada pakaian mewah, atau makanan dengan tiga penyajian. Semuanya benar-benar ulang tahun ala remaja. Namun hal penting yang terjadi saat pesta adalah Om Lucas dan Ghiffa tidak memperkenankan adanya 'minuman' karena ayahku hadir pada saat itu.
Kemarin ayahku sempat tercengang saat melihat meja bar di dalam markas saat pertama kali beliau masuk kesana. Ghiffa sendiri agak sedikit kelabakan saat ayahku bertanya padanya mengapa ada banyak minuman seperti itu terpampang di sana. Beliau sempat menasihati Ghiffa dan juga aku karena itu.
Maka dari itu walaupun hari ini adalah hari ulang tahun Ghiffa, Om Lucas selaku pihak yang ditunjuk Ghiffa untuk mempersiapkan semuanya, tidak menyediakan minuman itu. Ghiffa dan Om Lucas juga mengatakan untuk 'menjaga sikap' mereka di depan ayahku. Peringatan itu harus dilakukan karena Max dan kawan-kawannya memang terkadang bisa sangat liar.
Ghiffa sendiri sejak menikah denganku sudah tidak pernah lagi meminumnya. Hanya anggota lain yang sepertinya tidak bisa jika tidak ditemani minuman itu saat mereka sedang berkumpul. Sudah menjadi kebiasaan katanya.
Sebenarnya aku sendiri merasa risih jika sudah ada teman Ghiffa yang berjalan sempoyongan dan meracau tidak jelas, tapi aku juga tidak mau tiba-tiba membuat aturan mereka tidak boleh ini dan itu. Rasanya aku tidak punya hak saja untuk mengubah kebiasaan mereka. Bagiku yang penting Ghiffa sudah tidak lagi melakukannya.
Juga, tanpa minuman itu, pesta ulang tahun Ghiffa tetap berjalan dengan sangat lancar dan menyenangkan. Ghiffa terlihat selalu tersenyum dan tertawa sepanjang acara berlangsung. Puncak kegembiraan itu terjadi saat Ghiffa dilempari telur dan juga tepung terigu oleh Max dan kawan-kawan di area outdoor kafe. Hingga setelah acara selesai ia harus mandi selama berjam-jam karena bau anyir telur yang susah sekali hilang.
Benar-benar ulang tahun yang mengesankan.
Kejadian tak terduga justru terjadi pada keesokan harinya. Nyonya Natasha datang tepat saat ayahku akan kembali ke Lembang dengan travel yang aku pesankan.
Ayahku berusaha bersikap sopan padanya, tapi Nyonya Natasha masih belum bisa menerimanya hingga ia bersikap sangat angkuh terhadap ayahku. Sedih rasanya melihat ayahku yang begitu hormat, tapi malah ditimpali seperti itu oleh Nyonya Natasha. Tapi ayahku paham, baginya sendiri pernikahan aku dan Ghiffa saja sudah sangat sulit untuk diterima. Apalagi oleh Nyonya Natasha, sehingga ayahku tidak mempermasalahkan sikap Nyonya Natasha yang terkesan kurang menghargainya.
Setelah ayahku pulang, Nyonya Natasha mengatakan bahwa ia sebenarnya sudah ingin datang kemarin, saat pesta ulang tahun Ghiffa. Tapi ia tidak mau mengganggu suasana pesta yang berlangsung sangat menyenangkan itu. Kedatangannya pasti akan membuat semua orang canggung. Hingga ia memutuskan untuk datang hari ini.
Nyonya Natasha datang dengan sebuah kabar mengejutkan. Ia mengatakan bahwa Tuan Musa ingin mengadakan pesta pernikahan untuk kami. Acaranya tidak akan berlangsung secara besar-besaran. Acara itu akan digelar secara privat dan dihadiri oleh kerabat dekat juga kolega-kolega penting Tuan Musa saja. Rencananya acara itu akan diadakan 2 minggu kemudian, setelah Tuan Musa pulang dari perjalanan dinasnya ke Amerika.
Kemudian kami bertemu dengan Tuan Musa secara virtual menggunakan aplikasi virtual meeting yang sekarang banyak dipakai orang-orang itu.
"Maksud Papa apa? Aku udah bilang aku gak mau Papa bikin acara kayak gitu 'kan?" tanya Ghiffa pada sang ayah yang wajahnya terpampang di layar laptop miliknya. Beliau sudah tiba di Amerika kemarin lusa.
"Kita harus mengadakan acara itu, tidak hanya untuk kepentingan Papa. Tapi juga kamu. Setidaknya Papa harus merayakan pernikahan anak Papa walaupun tidak besar-besaran. Anggap juga pesta itu adalah kado ulang tahun Papa untuk kamu."
Aku tak menyangka sama sekali, Tuan Musa bisa berbicara seperti itu. Sepertinya benar apa kata Om Lucas, beliau bukannya tidak peduli pada Ghiffa, hanya saja terlalu gengsi untuk mengungkapkannya.
Mungkin benar Tuan Musa sangat tidak ingin PT Melcia Properti jatuh ke tangan Ghiffa, karena baginya kemurnian dari keluarga terhormatnya juga perusahaannya adalah segalanya. Sehingga perusahaan warisan dari ayahnya itu itu hanya boleh jatuh kepada Ghaza. Sampai sekarangpun beliau tetap menganggap bahwa beliau sudah melakukan kesalahan yang besar hingga dengan sangat terpaksa ia harus menerima Ghiffa sebagai putra yang tak pernah diinginkannya.
Namun bukan berarti ia sama sekali abai pada putra keduanya itu.
Dalam hati kecilnya sedikitnya ternyata masih ada rasa sayang pada Ghiffa. Malah sepertinya Tuan Musa sering kali terlibat perang batin di dalam hatinya antara prinsipnya itu dan juga hati nuraninya sebagai seorang ayah.
"Papa jujur aja. Apa tujuan Papa sebenarnya pengen ngadain acara itu buat aku." tanya Ghiffa dengan nada yang dingin. Ghiffa terlihat tidak tersentuh oleh perkataan sang Ayah.
"Ghiffa, Papa kamu ini beneran pengen ngadain acara pernikahan buat kamu. Papa kamu bahkan gak dengerin Mama, dia tetep aja ngerestuin kamu nikah sama pembantu! Mama bener-bener gak ngerti sama pola pikirnya." seloroh Nyonya Natasha yang duduk di hadapan kami. Ia sengaja mengatakan itu dengan keras agar suaminya dan juga aku bisa mendengarnya.
"Baiklah, kamu memang mirip dengan Papa dalam hal ini. Tidak mudah tersentuh dengan hal-hal lembek seperti itu." ucap Tuan Musa, menyembunyikan rasa canggungnya. "Sebenarnya Papa mengadakan acara ini agar Ghaza lebih menjaga sikapnya terhadap istri kamu. Acara ini akan menegaskan posisi kamu dan juga Ayana di mata rekan-rekan bisnis Papa dan juga Ghaza. Papa berharap setelah ini Ghaza bisa melupakan Ayana."
"Papa beneran akan mendukung hubungan aku dan Ayana? Papa gak akan berubah pikiran dan mendukung Ghaza 'kan?" Tanya Ghiffa memastikan.
"Tentu saja. Ghaza harus menikah dengan seorang perempuan dari keluarga yang setara dengan Papa. Kamu jangan khawatir."
"Terus gimana dengan saham aku?" tanya Ghiffa.
Nyonya Natasha yang terlihat tidak bersemangat, sontak memusatkan perhatiannya pada Ghiffa saat mendengar kata saham.
"Kamu bukannya sudah melepaskannya? Papa lebih suka kamu seperti ini. Membuat usaha kamu sendiri. Jangan pernah menyinggung tentang saham! Berapapun modal yang kamu butuhkan akan Papa berikan tapi tidak dengan saham di Melcia. Itu semua adalah milik Ghaza!" Suara Tuan Musa meninggi.
"Kalau gitu Papa harus berada di pihak aku saat Ghaza bersikukuh ingin ngerebut Aya. Papa harus jadi tameng aku buat ngehindarin Ghaza. Papa juga harus ngasih hukuman ke Ghaza karena bikin Aya PTSD. Kalau nggak aku akan cari cara buat mendapatkan saham itu. Papa inget 'kan, Mama berhasil ngumpulin suara dewan direksi supaya aku dapetin saham itu. Jadi kalau aku mau, aku bisa aja ngerebut saham aku lagi." tegas Ghiffa.
"Kamu tidak perlu khawatir! Kita punya misi yang sama, menjauhkan Ghaza dari Ayana. Papa pasti akan lakukan apapun untuk itu." ucap Tuan Musa tak kalah tegas.
Kemudian terdengar suara seseorang yang sepertinya asisten pribadi Tuan Musa, mengingatkan beliau bahwa meeting akan segera dimulai, "Baiklah. Papa harus pergi. Ayana..."
Aku tersentak kaget, "I-iya Tuan."
"Jaga putra saya dengan baik. Dan berhenti memanggil saya dengan sebutan itu. Panggil saya Papa, terutama saat kamu ada di hadapan orang-orang."
"Baik... Pah." Ucapku canggung.
"Kamu begitu percaya diri di acara ulang tahun Ghaza waktu itu, sekarang juga biasakan memanggil saya dengan sebutan itu. Bersikaplah sama seperti yang kamu lakukan waktu itu, elegan dan penuh percaya diri di depan orang-orang. Bagaimanapun kamu sudah menjadi menantu saya. Begitu juga pada ibu Ghiffa, panggil dia dengan sebutan Mama. Buat dia terkesan pada kamu dan luluhkan keras kepalanya itu." pesan Musa.
"Baik, Pah.." Aku melihat ke arah Nyonya Natasha ragu-ragu, "Mah.." Nyonya Natasha malah memalingkan wajahnya dengan kesal.
"Kamu dengar Natasha? Terimalah, dia ini menantu kamu." ucapnya pada sang istri, "Papa pergi dulu. Ingat pesan Papa, Ghiffa. 2 Minggu lagi setelah Papa pulang dari Amerika, pesta itu akan diadakan."
Kemudian wajah Tuan Musa menghilang dari layar. Nyonya Natasha kembali berkoar mengenai saham itu. Nyonya Natasha menyalahkanku karena aku sudah membuat Ghiffa benar-benar kehilangan saham itu. Perdebatan sengit itu terus berlangsung beberapa saat hingga akhirnya Nyonya Natasha memutuskan untuk pergi karena tidak ada gunanya memaksa Ghiffa yang sudah sangat kukuh pada pendiriannya.
Setelah itu hari-hari berjalan dengan jauh lebih baik. Ghaza juga sudah tidak pernah mengganggu lagi. Saat aku pergi kemanapun tak pernah aku melihat ia ada di sekitarku lagi.
Atau mungkin belum.
Ghiffa mengatakan bahwa dia yakin Ghaza akan melakukan sesuatu. Begitu juga dengan Ghiffa, akan melakukan sesuatu pada sang kakak. Ghiffa hanya sedang kembali menunggu waktu yang tepat.
Suasana sudah sangat tenang, tapi kami tahu badai akan datang lagi.