The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 18: Pembuat Onar



Tatapanku dan Zayyan bertemu untuk beberapa detik. Dia sepertinya bingung kenapa ada aku disini, dan aku juga bingung kenapa Zayyan ada disini. Terlebih lagi mengapa ia menggunakan seragam SMA Centauri?


DUG!


Sebuah bola basket mengenai kepala Zayyan, membuatnya sedikit terhuyung. Sontak aku terkesiap. Bola itu bukan tidak sengaja mengenai kepala Zayyan, tapi sengaja dilemparkan oleh seseorang. Zayyan yang kesakitan menoleh ke arah bola itu datang, sambil mengusap-usap kepalanya.


Aku melihat sosok lain yang ku kenal. Ghiffa. Ya. Orang yang melemparkan bola pada Zayyan adalah Ghiffa. Walaupun aku berdiri agak jauh dari sana, namun aku bisa mendengar percakapan mereka.


"Ngapain warga kelas bawah pake lapangan ini?" ucap Ghiffa angkuh, ia berjalan menghampiri Zayyan bersama dua orang temannya yang berdiri di kanan dan kirinya.


Para siswa yang tidak sengaja ada di sekitaran lapangan basket itu sontak berdecak dan mulai berkomentar.


"Si Ghiffa bikin ulah lagi. Siapapun boleh kali pake itu lapangan. Itu kan fasilitas sekolah." ucap seorang siswi.


"Dia mah bebas mau ngapain juga. Kan ganteng terus orang tuanya donatur terbesar buat sekolah." timpal siswi lainnya.


Komentar-komentar serupa terus aku dengar dari beberapa siswa yang tidak sengaja melihat kelakuan Ghiffa.


"Si Zayyan kasian banget gak sih, dibuli mulu sama si Ghiffa. Mana dia anak jalur beasiswa, udah gak bisa ngapa-ngapain 'kan dia kalau digencet gitu." ucap seorang siswa lain.


Apa?! Jadi Zayyan benar-benar siswa disini? Jadi Zayyan berbohong padaku? Dan apa ini, Zayyan sering ditindas oleh Ghiffa?


Kini aku melihat sendiri seperti apa Ghiffa di sekolah. Benar-benar pembuat onar. Itu kan lapangan milik sekolah, kenapa dia harus mengatur siapa yang bisa bermain di lapangan tersebut?


Terlebih mengapa ada kebetulan seperti ini. Ternyata Ghiffa dan Zayyan saling mengenal. Dan sekali lagi aku bertanya-tanya mengapa ada Zayyan disini? Mengapa Zayyan memakai seragam SMA? Aku jadi ingat ucapan Belva tempo hari yang mengatakan agar aku jangan terlalu percaya padanya.


Aku benar-benar merasa kecewa pada Zayyan.


Perhatian orang-orang tertuju pada Ghiffa dan Zayyan yang kini saling berhadapan. Ghiffa yang lebih tinggi dari Zayyan menatap Zayyan dengan sangat angkuh. Sedangkan Zayyan telihat diam, seperti agak kesal namun sedikit takut. Melihat mereka berhadapan seperti itu aku menjadi sangat resah.


"Sorry. Gue bakal cabut sekarang." Zayyan segera membubarkan diri, begitu juga teman-temannya.


"Mau kemana lo?" Ghiffa menahan bahu Zayyan. "Udah gue bilang jangan pernah ngeliatin muka lo lagi di depan gue. Tapi lo malah main basket disini? Nyali lo gede juga."


Aroma pembulian begitu menyengat dari interaksi Zayyan dan Ghiffa. Tidak hanya aku yang ditindas oleh Ghiffa ternyata, pacarku juga menjadi korban dari Ghiffa.


"Udah, Ghif. Dia udah minta maaf. Lepasin aja, daripada lo ke BK lagi." ujar temannya yang berdiri di sebelah kanan Ghiffa.


Ghiffa menggelengkan kepalanya. "Orang gak tau diri kayak dia, gak bisa cuma dikasih peringatan. Harus dihajar biar ngerti."


BUG!


Sebuah bogem mentah Ghiffa layangkan pada pipi kiri Zayyan. Saking kerasnya pukulan itu, Zayyan kini tersungkur di lantai lapangan basket. Sontak aku berteriak. Begitu juga beberapa orang disana.


"Ya elah ini anak dibilangin. Ghif, udah dong. Ntar aja pulang sekolah di luar sekolah 'kek. Lo gak liat orang-orang pada nontonin lo? Udah berasa atlet UFC aja lo." ucap teman Ghiffa yang berdiri di sebelah kiri.


Ghiffa tidak menggubrisnya dan malah mendatangi Zayyan. Ghiffa mengapit tubuh Zayyan diantara kakinya. Satu tangannya mencengkram kerah Zayyan dan satu tangan lainnya mengepal dan mengambil ancang-ancang, bersiap mendaratkan pukulan lainnya di pipi Zayyan.


Seketika Ghiffa dan Zayyan menoleh ke arahku. Mata Ghiffa membulat sempurna. Dia terlihat sangat terkejut melihatku disini. Ghiffa menghentikan aksinya dan beranjak dari atas tubuh Zayyan yang terlentang di lantai.


"Kamu gak apa-apa 'kan?" aku menghampiri Zayyan.


"Ayana?" gumamnya, terdengar masih ragu melihatku disini.


"Ayo, ikut aku ke UKS ya." Akupun membantu Zayyan untuk berdiri.


"Lo ngapain ada disini?!" Suara Ghiffa terdengar sangat kaget.


Aku menatap marah pada majikanku itu ingin rasanya aku melontarkan kata-kata makian padanya tapi aku telan begitu saja, aku harus menjaga sikapku. "Permisi." kemudian aku mulai memapah Zayyan pergi dari lapangan itu. Sontak langkahku berhenti saat tanganku dicengkram sangat kuat oleh Ghiffa.


"Kenapa lo ada disini, Ay?! Jawab!" tatapan Ghiffa tertuju pada name tag yang tergantung di leherku. "Lo kerja disini?"


Aku segera melepaskan cengkraman tangan Ghiffa. Aku terlalu marah untuk menjawabnya. Bisa-bisanya dia memukul pacarku di depan mataku!


Aku terus memapah Zayyan. Namun tiba-tiba tanganku kembali dicengkram oleh Ghiffa. Kali ini lebih kuat hingga aku tidak bisa berkutik. Dengan langkah terseok kini aku dibawa pergi oleh Ghiffa. Ia membawaku ke area parkiran, menjauh dari kerumunan orang-orang.


Ghiffa merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci mobil kemudian menekannya. Seketika lampu mobil itu menyala sekilas, tanda mobil sudah berhasil terbuka. "Masuk," perintah Ghiffa padaku untuk masuk ke kursi penumpang.


Saat aku akan membuka pintu mobil, terdengar suara. "Berhenti lo! Mau lo bawa kemana cewek gue!" Teriak Zayyan.


Seketika Ghiffa menghentikan langkahnya yang akan memasuki mobil dan menoleh pada Zayyan. Wajahnya terlihat sangat marah bercampur terperangah.


"Apa lo bilang? Cewek lo?!" ucap Ghiffa sedikit mendengus. Aku melihat Ghiffa begitu terkejut. Aku paham, dia pasti tidak menyangka kalau aku dan Zayyan berpacaran.


Aku berlari menuju Zayyan. Kurangkul tangan Zayyan, dan berkata pada Ghiffa. "Iya Tuan. Ini Zayyan. Pacar saya. Tolong, sudah cukup dengan apa yang Tuan lakukan pada saya. Jangan lakukan juga pada Zayyan!"


"Ayana! Dia bukan cowok lo!" teriak Ghiffa sangat murka.


"Sudah Tuan, Saya mohon sekali ini saja. Biarkan saya pergi." pintaku dengan sangat. Aku memutuskan untuk tidak mendebatnya.


Aku ajak Zayyan pergi menuju UKS. Tidak menggubris Ghiffa yang terus memanggil namaku.


Sampai di UKS seorang dokter mengobati luka Zayyan sedangkan aku menunggunya di luar. Beberapa saat kemudian Zayyan keluar dari UKS dengan pipi yang sudah diobati.


"Nih, kamu minum dulu." ucapku menyodorkan sebotol air putih padanya. Iapun membuka tutupnya dan meminumnya.


"Makasih ya, Ayana." ucapnya.


"Sama-sama." ucapku, "Zay, kenapa kamu disini? Kenapa kamu pake seragam SMA Centauri?"


"Maaf ya. Aku udah bohong sama kamu." ucap Zayyan penuh sesal.


"Tapi kenapa kamu bohong?" Aku sedikit kesal, siapa yang tidak marah jika dibohongi 'kan?