The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 132: Mati Rasa



"Ayana, kamu harus makan." ujar Ghaza lembut.


Aku meringkuk di sudut tempat tidur itu. Ketakutan itu terus menyelimutiku. Hanya dengan mendengar suaranya saja membuatku begitu tersiksa.


Iya. PTSD-ku yang sudah membaik kini semakin parah karena ulahnya.


"Pergi dari sini!" Berkali-kali aku berteriak tapi Ghaza tak juga mengerti. Ia malah tetap berada di seberangku.


"Ayana, jangan seperti ini. Kamu harus menghadapi rasa takut kamu. Saya tidak akan memaksa kamu seperti waktu itu. Saya akan menunggu sampai kamu siap. Kita masih punya banyak waktu. Kita pelan-pelan saja."


Kepalaku terasa sangat sakit, jantungku berdetak dengan begitu cepatnya. Keringat juga terus bercucuran. Aku sungguh ingin mati saja.


Untuk apa aku masih ada disini?


Aku bersama dengan pria yang paling aku benci dan suamiku tak ada di sampingku. Untuk apa lagi aku hidup?


"Biarkan saya mati saja..." Isakku dengan tubuh yang gemetar.


"Ayana...Tolong..." Ghaza pun terlihat sudah frustasi melihatku seperti ini. Seharusnya ia menyerah. Kenapa ia malah masih saja menyiksaku?!


Aku terus terisak, "Aa... Aa dimana, A.."


Tak bisa aku gambarkan betapa aku merindukannya.


Aku sangat membutuhkan sosok Ghiffa disampingku saat ini. Aku membutuhkannya lebih dari sebelumnya. Aku ingin menyentuhnya, mencium wangi tubuhnya, dan rasa aman yang selalu hadir tatkala aku memeluknya.


Saat aku sadar bahwa semua itu hanya angan-anganku sekarang, hatiku semakin terasa sakit yang menyiksa.


Saking kelelahannya karena tak henti-hentinya menangis akupun tertidur. Saat terlelap adalah satu-satunya cara dimana aku bisa merasa aman. Karena saat aku terbangun aku akan kembali ketakutan.


Saat aku terbangun aku melihat sebuah jarum infus berada di tanganku. Aku melepasnya dan berusaha untuk kabur dari villa itu. Berkali-kali aku lakukan namun selalu saja gagal.


Aku juga terus mencoba untuk menyakiti diriku sendiri tapi lagi-lagi semua itu selalu gagal karena selalu ada orang yang menjagaku, entah siapa itu. Beberapa orang berjas hitam dan yang lainnya berpakaian seperti perawat, dan mereka berganti-ganti setiap harinya. Mereka menyuntikkan sesuatu padaku jika aku sudah di luar kendali dan tak lama akupun terlelap. Saat aku terbangun lagi, jarum infus itu sudah berada di tanganku lagi, dan aku melepaskannya lagi.


Hingga punggung tanganku sudah penuh luka akibat jarum infus yang terus menerus ditusukkan ke pembuluh darah di punggung tanganku.


Terus seperti itu selama beberapa hari.


Hal itu terus terjadi selama Ghaza mengurungku di kamar ini. Hingga entah sejak kapan keadaanku terus melemah. Tak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhku, hanya cairan infus yang menopang nutrisi yang dibutuhkan tubuhku.


Aku terus bertanya, dimana Ghiffa? Mengapa ia belum juga datang untuk menyelamatkanku? Apa dia baik-baik saja? Atau justru sebaliknya? Bagaimana aku menjalani hidupku tanpanya sekarang?


Apa aku harus menyerah saja?


Aku tidak tahu. Aku seakan berada di sebuah labirin yang tak memiliki jalan keluar. Aku terus mencoba mencarinya tapi tak pernah aku temukan.


Hingga setelah berhari-hari aku berada di kamar ini, ketakutan itu perlahan menghilang.


Aku kira aku akan kehilangan akal sehatku sepenuhnya setelah hari-hari yang penuh dengan rasa takut itu, tapi ternyata tidak. Yang terjadi padaku sekarang justru mati rasa. Air mataku sepertinya sudah mengering. Emosiku juga menjadi tumpul. Aku merasa sangat kosong dan akhirnya aku hanya tergolek lemas di atas tempat tidur sepanjang hari.


Hari itu Ghaza kembali membawakanku makanan. Ia menyimpan nampan itu dan duduk di sampingku, "Ay, makan dulu ya."


Aku bergeming. Aku tetap menatap kosong ke arah jendela kaca di salah satu sisi kamar yang menampilkan lautan biru yang luas.


"Kamu harus makan agar kamu sehat. Setelah itu kita kembali ke Jakarta. Saya tidak bisa terus-terusan bulak-balik setiap hari Jakarta-Bali. Waktu saya terbuang di perjalanan, dan itu sangat tidak efisien."


Aku tak peduli itu. Sama sekali bukan urusanku.


"Ay..." Ghaza meraih rambutku dan mengusapnya.


Aku membiarkannya.


Semua yang aku lakukan sia-sia. Kabar tentang Ghiffapun tak pernah ada. Hingga rasa sakit itu kini berubah menjadi mati rasa. Bagaimana aku hidup setelah ini dan apapun yang Ghaza lakukan terhadapku, sama sekali aku tidak peduli lagi.


Ghaza menyendokan sesuatu ke mulutku, namun bibirku terus terkatup.


"Kalau kamu gak mau makan, kamu harus diinfus lagi. Mau?" Bujuknya.


Infus saja lagi, tusukkan lagi jarum-harum itu. Aku sudah tak bisa merasakan sakit lagi. Sakit yang aku rasakan karena merindukan Ghiffa jauh lebih menyiksaku.


Ghaza meletakkan kembali sendok itu. "Suster!" Panggilnya.


"Iya, Pak." Seorang perempuan dengan pakaian khas perawat itu menghampiri.


"Tolong infus dia." Ghaza bangkit dari sampingku.


Perawat itu memanggil beberapa orang-orang berjas hitam yang biasa memegangiku saat aku meronta-ronta tak terkendali agar ia dapat menyuntikkan sesuatu padaku. Tapi mereka semua kini keheranan karena aku yang justru terdiam membeku tanpa adanya perlawanan.


Perawat itu pun mulai menusukkan jarum ke bagian lipatan sikutku, karena punggung tanganku sudah penuh luka. Kali ini aku terdiam, tidak berontak seperti sebelumnya.


Setelah selesai, perawat itu pergi dan Ghaza kembali duduk di sampingku. Perlahan ia memegang tanganku. Satu tangan lainnya mengusap kembali rambutku.


Dengan ragu, ia mendekatkan bibirnya pada tanganku, dan mengecupnya. Sepertinya ia cukup tercengang karena aku membiarkannya melakukan itu.


"Saya tahu kamu pasti akan menyambut perasaan saya pada akhirnya." ucap Ghaza sumringah. "Terimakasih, Ayana."


Kini tangannya turun dari kepalaku, ke pipiku. Lagi-lagi aku membiarkannya. Bagiku apa yang dilakukannya sama sekali tak ada pengaruhnya padaku.


Aku sudah tak peduli dengan semuanya. Aku tak peduli lagi dengan hidupku.


"Kamu akan bahagia bersama saya, Ayana. Saya janji." Tekadnya.


Ghaza berpikir aku sudah luluh padanya, tapi tidak. Hatiku tak akan pernah luluh. Hatiku tak akan pernah ia miliki walaupun kini aku membiarkannya menyentuhku.


Karena duniaku telah runtuh. Hancur berantakan. Waktu memang terus berjalan, tapi hidupku sudah berhenti sampai disini. Bagaimana bisa aku hidup saat Ghiffa tidak ada di sampingku? Bahkan aku tak tahu bagaimana keadaannya dan ada dimana ia sekarang. Rasanya hatiku sudah tak akan merasa bahagia lagi.


Sampai hari itupun tiba. Hari dengan secercah harapan yang membuatku berpikir bahwa ternyata kehidupanku belum selesai.


Aku terbangun dari tidurku dan mendengar suara gaduh di luar. Saat kesadaranku terkumpul aku menyadari itu adalah suara ayah mertuaku. Sontak aku mencoba bangkit namun aku tak punya cukup tenaga. Akhirnya aku melepas infus yang berada di lipatan sikutku dan menjatuhkan diriku ke lantai.


Aku mencoba merangkak menuju pintu dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki. Hingga akhirnya aku bisa meraih pintu, duduk di sisi pintu itu dan menggedornya.


Dan dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk berteriak, "PAH...To..long.."


"Ayana ada di dalam? Sejak kapan?!" terdengar suara Tuan Musa di balik pintu.


Syukurlah.


Syukurlah suaraku terdengar. Harapan itu semakin besar. Aku terus menggedor pintu itu dengan tenaga yang tersisa.


"Mohon Papa pergi dari sini! Jangan ganggu aku dan Ayana." terdengar suara Ghaza yang bersih keras.


"Ghaza!! Lepaskan adik ipar kamu itu!" Tuan Musa kembali memperingatkan.


"Ayana sudah membuka hatinya untukku, Pah! Baru saja ia membuka hatinya untuk aku! Papa jangan mengacaukan semuanya!" teriak Ghaza.


Lalu terdengar Tuan Musa berteriak, "Kalian! SINGKIRKAN DIA DARI PINTU ITU!!"


Aku tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas aku mendengar banyak derap kaki dan Ghaza terus berteriak tak terkendali menyebut namaku.


Dan kemudian pintu disampingku terbuka.


"Ayana!" teriak Nyonya Natasha. Ia segera berjongkok di depanku, diikuti dengan ayah mertuaku di belakangnya. "Kamu baik-baik aja?"


Aku tak bisa menggambarkan betapa besar rasa syukurku saat melihat kehadiran mereka disini. Rasa lega itu menyelimuti hatiku. Hingga pandanganku gelap dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku setelah itu.