
Setelah Ghiffa tertidur pulas aku kembali ke kamarku. Aku berbaring di kasurku karena kantuk sudah menguasaiku. Akupun tertidur. Sekitar pukul 3 pagi aku terbangun. Itu artinya aku hanya tertidur selama kurang lebih 2 jam. Kini aku memang terbiasa bangun dini hari. Walaupun aku mencoba untuk memejamkan mataku lagi kantuk sudah tidak aku rasakan lagi.
Aku teringat pada ponselku yang belum aku nyalakan. Aku bangkit dari posisi berbaringku dan meraih ponsel yang aku simpan di meja rias yang terletak di sebelah tempat tidurku. Dengan ragu aku menyalakan ponselku. Aku tidak bisa mengabaikan Hyuga terlalu lama.
Jujur, ketika tahu Hyuga ternyata berbohong padaku, aku sangat emosi sehingga tanpa sadar aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Namun di dalam hati kecilku, masih ada sedikit maaf yang bisa aku berikan pada Hyuga.
Aku tidak benar-benar ingin mengakhiri hubungan aneh ini, bagaimanapun aku terlanjur menaruh rasa pada sosok maya itu. Aku berpikir bahwa semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua. Maka dari itu aku berniat memberikan maafku padanya, dan memulainya dari awal lagi.
Saat ponselku menyala notifikasi muncul. Ada 45 panggilan tak terjawab dari Hyuga. Dan 15 panggilan dari Ghiffa. Aku membuka ruang obrolanku dengan Ghiffa terlebih dahulu, ada beberapa pesan yang dikirimnya.
[Tuan Muda Resek] : Dimana lo?
[Tuan Muda Resek] : Ay, ini udah jam berapa? Kok lo masih di luar? Buruan masak, gue laper!
[Tuan Muda Resek] : Lo mau dipotong gaji ya?!
[Tuan Muda Resek] : Pesan ini telah dihapus
Aku menghela nafasku. Dia pasti marah sekali padaku kemarin. Aku tidak peduli jika gajiku dipotongnya.
Lalu aku sempat bertanya-tanya, pesan apa itu yang dihapus olehnya?
Sudahlah, aku tidak mau terlalu memikirkannya. Kemudian aku masuk ke ruang obrolanku dengan Hyuga. Hanya ada satu chat darinya.
[Hyuga] : Maaf udah bohongin kamu selama ini. Kalau kamu maunya kita lupain semuanya, ya udah. Kita udahin semuanya sampai disini aja. Makasih udah pernah sayang sama aku. Semoga kamu bahagia dan bersama seseorang yang ada di dunia nyata. Di sekitar kamu pasti ada orang yang selalu ada disisi kamu, yang sayang sama kamu, yang bisa kamu lihat dan bisa kamu temuin kapanpun kamu mau. Orang itu yang harus kamu pilih, bukan aku.
Sudah, begitu saja.
Seketika jantungku seakan berhenti. Aku membaca chat yang Hyuga kirimkan itu berkali-kali. Aku masih belum bisa mempercayainya bahwa hubunganku dengan Hyuga kandas begitu saja. Mataku tak henti-hentinya meloloskan butiran-butiran bening yang tak terhitung jumlahnya. Cinta pertama dan pacar pertama yang selesai begitu saja, tanpa adanya pertemuan.
Sampai akhir ia tidak ingin memberitahukan aku siapa dia sebenarnya. Tidak hanya memutuskan untuk mengakhiri segalanya yang sudah kami mulai, dia bahkan sudah begitu ikhlasnya mendoakan aku agar aku bisa bertemu dengan cowok lain, yang bisa kapan saja aku temui.
Kenapa dia lebih memilih untuk mengakhiri semuanya ketimbang menemuiku dan memulai semuanya dari awal? Apa begitu sulit untuk bertemu denganku? Apa rasa yang Hyuga rasakan padaku tidak sebesar yang aku rasakan selama ini?
Kenapa sih, Ga?! Aku gemas sendiri.
Akan ku coba menyelamatkan hubungan ini. Aku tidak rela kehilangannya begitu saja.
Aku mencoba untuk menghubunginya, walaupun aku ragu dia masih terjaga pada jam segini.
Tidak ada jawaban.
Sepertinya ia memang masih tertidur. Aku mencobanya berkali-kali namun tetap tidak ada jawaban. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan chat.
[Ayana] : Kamu kenapa sih? Wajar 'kan aku marah karena kamu udah bohongin aku? Aku ngomong gitu karena aku lagi emosi. Tapi aku gak bener-bener pengen kita putus, Ga. Aku mohon angkat teleponku, aku pengen ngomong!
[Ayana] : Kenapa kamu segitu gak maunya ketemu sama aku? Kamu curang! Kamu tahu siapa aku, tapi kenapa aku gak boleh tahu siapa kamu? Kamu lebih milih udahan daripada kasih tahu siapa kamu sebenarnya? Cuma segitu aja rasa sayang kamu sama aku?
[Ayana] : Please, kita mulai semuanya dari awal, ya?
Kubiarkan chat itu terkirim dan ku lawan rasa engganku dan meletakkan ponselku kembali di meja rias dan mengambil handuk. Aku memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih seperti biasa, daripada aku seperti ini, menunggu tanpa kejelasan. Walaupun hari ini hari libur, aku mencoba tidak lantas mengabaikan rutinitasku, meskipun sebenarnya Ghiffa memberiku keleluasaan untuk akhir pekan seperti ini aku tidak harus bersih-bersih.
Akhirnya aku kerjakan semua pekerjaan yang aku tunda kemarin. Menyetrika, mencuci, mencuci piring, mengepel, bahkan membersihkan pajangan dan foto. Aku bersihkan semuanya. Hingga aku melirik jam dinding dan sekarang sudah menunjukkan pukul 08.30.
Setelah semuanya beres aku kembali ke kamar dan aku segera mengecek ponselku. Masih belum ada balasan darinya. Akupun memasukkan ponselku ke saku celana dan keluar dari kamar, tugas terakhirku untuk pagi ini adalah membuat sarapan. Melihat kondisi Ghiffa tadi malam, ia pasti akan bangun siang. Maka dari itu aku baru membuat sarapan sekarang.
Aku mulai memasak sesuatu yang mudah untuk tuan mudaku itu. Selain itu aku membuatkan sup ayam. Aku membaca di internet itu bisa meredakan pengaruh alkohol, jadi aku membuatnya. Aku masih memikirkan hal-hal seperti ini untuk Ghiffa, bahkan saat aku berada di situasi yang 'gloomy' seperti ini. Yah, mau bagaimana lagi. Aku harus profesional. Dan aku merasa... peduli padanya. Atau sedih melihat kondisinya tadi malam? Entahlah.
Sekarang sudah pukul 9 pagi. Aku harus membangunkannya. Karena biasanya Nyonya Natasha akan berkunjung kesini di akhir pekan seperti ini jika Ghiffa tidak ada kegiatan. Bisa gawat jika beliau melihat putranya belum bangun karena apa yang dilakukannya tadi malam.
Aku berjalan menuju pintu kamarnya yang masih tertutup. Ketika aku akan mengetuk, ponselku berbunyi. Tubuhku seketika panas dingin, harap-harap cemas, apakah bunyi barusan adalah notifikasi chat dari Hyuga? Aku merogoh saku celanaku, dan benar saja, Hyuga membalasnya.
[Hyuga] : Kita putus aja.
Beberapa saat aku hanya bisa terdiam. Tatapanku terpaku pada 3 kata itu. Mencerna dan meyakinkan apakah ini benar terjadi atau tidak.
Jadi sekarang hubunganku dengan Hyuga benar-benar sudah selesai? Semudah itu Hyuga melupakan segalanya?
Tanganku bergetar, air mataku kembali meleleh. Bahkan kali ini aku tidak bisa menahan isak tangisku. Aku menutup kedua mataku dengan sebelah punggung tanganku, seakan mencoba menahan air mata yang terus keluar. Namun tentu saja itu tidak berhasil.
Air mataku malah semakin deras keluar. Bagaimana tidak, tiga kata yang singkat dan sangat jelas itu seakan sebuah pisau yang begitu saja mengiris hatiku dan membuatnya terluka sehingga ku rasakan sakit yang teramat sangat karenanya.
Terus aku sebut nama Hyuga di dalam hatiku. Merutuki diriku yang begitu bodoh karena jatuh cinta pada orang yang tidak jelas siapa. Seharusnya aku belajar dari kesalahan orang-orang. Di internet sering kali aku melihat banyak orang yang tertipu karena percintaan dunia maya, tak jarang orang itu malah ditipu, bahkan ada yang sampai diculik dan kehilangan nyawa. Jika dibandingkan dengan semua itu kejadian yang menimpaku ini jauh lebih tidak ada apa-apanya.
Namun tetap saja aku marasa sangat konyol dan tidak habis pikir.
Tiba-tiba saja aku mendengar pintu kamar Ghiffa terbuka. Aku terus menangis, punggung tanganku masih menutup mataku. Aku merasakan sebuah tangan meraih tanganku dan seketika aku melihat Ghiffa berdiri di hadapanku. Ia baru saja mandi, terlihat dari rambutnya yang basah dan aroma shampo dan sabun yang menyeruak dari tubuhnya. Aku hanya terpaku saat kami saling memandang. Dia pasti meledekku, karena aku yakin aku terlihat sangat kacau sekarang.
Tapi ternyata ia tidak mengatakan apapun dan hanya memandangku yang masih terisak. Kedua mata Ghiffa malah menatapku dengan penuh simpati. Tangannya perlahan meraih air mataku dan menyekanya, membuat air mataku terus mengalir lebih deras karena mendapat perlakuan itu.
Seketika Ghiffa melingkarkan tangannya di sekeliling tubuhku. Memelukku dengan erat.
Kurasakan satu tangan Ghiffa berada di punggungku, satu tangan yang lain membelai rambutku, dan dagunya berada di pundakku. Perlakuannya membuat kakiku terasa seperti jelly, pertahanan hatiku juga semakin rapuh.
Sempurna sudah posisi ini, kekuatanku entah hilang kemana. Aku merasa seperti orang yang begitu rapuh karena pelukan Ghiffa. Isakku semakin keras.
Kulingkarkan tanganku di sekelilingnya, memeluknya juga dengan begitu eratnya, mengalah pada naluriku.
Entahlah, karena aku yang sedang begitu rapuh dan kalut, ditambah tiba-tiba saja Ghiffa memberikan pelukannya seakan mengatakan 'menangislah kalau memang sesedih itu', membuat aku serapuh ini. Biarlah kali ini aku menganggapnya bukan sebagai majikanku, tapi sebagai tempat bersandarku.