The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 134: Bangun



"Kata dokter disana, kondisi Ghiffa sangat lemah. Dia sadar, cuma dia gak mau bangun. Tadinya saya ingin menunggu Ghiffa membaik baru membawanya kesini, tapi dia malah makin melemah." Nyonya Natasha menatap ke arahku lekat, "Mungkin dengan bertemu kamu Ghiffa bisa sadar lagi. Tolong anak saya, Ayana. Tolong..."


Sontak aku memeluk Nyonya Natasha. Aku ikut terisak di pelukannya.


Aku sangat paham bagaimana perasaannya. Aku sendiri tidak menyangka Ghiffa sampai seperti ini. Aku melepas pelukan itu dan kembali menghampiri suamiku.


"A... Ini aku," Ku usap lembut kembali rambutnya, lalu tanganku menyentuh wajahnya yang pucat. "bangun, Sayang..." Aku berusaha menahan isakku agar tak keluar.


Tak ada reaksi.


Ghiffa tetap pada posisinya dan itu membuatku semakin cemas.


"Aa, bangun. Aa udah ada di Indonesia. Bangun, A. Ayo kita pulang." Ku coba sekali lagi untuk membangunkannya. Aku bahkan menepuk pipinya agak keras. Tapi Ghiffa tetap bergeming.


"Kenapa Aa gak mau bangun, Mah?" Aku kembali menoleh ke arah ibu mertuaku. Air mataku jatuh begitu saja saking cemasnya.


Nyonya Natasha hanya menggeleng. Ia menangis hingga ia kesulitan untuk berbicara.


Kembali aku mendekat pada Ghiffa, "Aa, jangan gini. Lihat aku, A. Aku gak apa-apa. Aku sehat-sehat aja. Aa juga harus bangun. Aa... Sayang..." Kini isakku tak bisa aku tahan lagi.


Aku terus mencoba membangunkannya tapi nihil. Bahkan Ayahku harus menarikku menjauh dari Ghiffa karena aku yang mulai histeris di samping Ghiffa.


Bagaimana tidak, suamiku terbaring lemah. Ia tak juga mendengar suaraku. Bahkan setelah bertemu denganku, Ghiffa belum juga menunjukkan reaksinya.


Hingga karena aku semakin tak terkendali terpaksa dokter harus menyuntikku lagi. Tak lama aku merasa mengantuk sekali dan akupun terlelap.


Di tengah temaramnya lampu tidur aku terbangun. Aku melihat ke arah jam dinding dan kini sudah tengah malam. Sontak aku menoleh ke arah kanan, dimana brangkar Ghiffa berada, ia masih berada di posisinya seperti tadi, tak ada yang berubah.


Aku melihat kedua orang tuaku, juga Nyonya Natasha tidak ada di ruangan. Aku bisa mendengar mereka berada di ruang tunggu di luar kamar inap, sedang membicarakan sesuatu.


Aku turun dari tempat tidurku dan menghampiri suamiku. Perlahan aku naik ke tempat tidur itu, dan membaringkan tubuhku disampingnya. Ku tatap wajah tampannya yang kini terlihat sangat pucat.


"Sayang..."


Aku meraih pipi Ghiffa ku sentuh kedua matanya, hidung mancungnya, dan bibirnya. Ku dekatkan bibirku pada bibirnya yang pucat dan mengecupnya pelan.


"Aa mau tidur sampai kapan?" Kali ini emosiku lebih terkendali. Tadi aku sempat mendengar penjelasan Dokter, bahwa Ghiffa harus sering diajak bicara. Kondisinya ini bukan karena fisiknya, melainkan psikis. Jadi semua orang yang berada di sekitarnya harus terus mengajaknya bicara dan memberikan suasana yang familiar untuknya.


"Aku kangen banget sama Aa. Aa ngapain aja sih selama gak ada aku? Kenapa Aa tidur terus? Harusnya Aa nyusul aku. Aa tahu gak aku ketakutan banget selama dikurung sama Ghaza. Untung aja Papa sama Mama selametin aku."


Ghiffa masih belum menunjukkan reaksi apapun.


"Tahu gak A, pas aku bangun Bapak sama Papa ngobrol baik-baik. Aku kira mereka gak akan pernah bisa ngobrol kayak gitu. Aa tahu 'kan Papanya Aa itu nyeremin, tapi Papa kayaknya sekarang udah berubah loh, A."


Aku mengangkat sedikit kepalanya dan membawa tanganku ke bawah kepalanya sehingga kini aku memeluk kepalanya di dadaku. Aku terus mengusap rambut hitamnya dan mengecupnya sesekali, seperti yang sering ia lakukan padaku dulu saat kami akan tertidur.


"Sekarang Aa boleh tidur, karena ini udah malam juga. Tapi besok pagi Aa harus bangun ya. Aa udah lama gak sekolah, loh. Aku juga harusnya udah masuk kuliah. Masa kita akan bolos terus?" lirihku masih membelai rambutnya dan semakin erat aku memeluknya di dadaku.


Hingga tanpa sadar akupun ikut tertidur.


Sinar matahari mulai memasuki kamar inap kami. Perlahan kesadaranku terkumpul. Aku menyadari Ghiffa masih ada di dalam pelukanku. Aku sedikit menjauhkannya dan melihat ke arah wajahnya.


Ia masih juga belum terbangun.


Seketika frustasi kembali menyerangku. "Aa kenapa belum bangun juga. Aa mau ninggalin aku sampai kapan? Aa bangun!!" Aku kembali menangis histeris.


"Ayana, kamu tenang!" ujar Nyonya Natasha. "Ghiffa udah bangun."


Apa?


Segera aku menatap kembali wajah Ghiffa. Matanya terbuka.


Benar. Ini pasti mimpi.


"Aa, bisa liat aku?" tanyaku tak percaya.


"Sejak kapan Aa bangun, Mah?" tanyaku pada Nyonya Natasha yang juga tersenyum lega.


"Tadi malem, waktu Mama masuk ke kamar inap, Mama ngeliat kamu tidur sambil meluk Ghiffa. Mama deketin dan ngajak ngobrol Ghiffa sebentar. Gak lama Ghiffa bangun, tapi dia gak ngomong apa-apa dan tidur lagi."


Syukurlah. Syukurlah!


Perlahan aku bangkit dari tidurku dan turun dari brangkar itu. Aku duduk di samping suamiku yang kini menatapku sendu. Kupegang tangannya dan menciumnya beberapa kali.


"Aa... Sayang.." lirihku penuh haru.


"Mama di luar kalau kalian butuh sesuatu ya." Ujar Nyonya Natasha, memberikan waktu untuk kami berdua.


"Mama," panggilku. Nyonya Natasha menoleh, "Makasih ya."


Aku bersyukur sekali karena Nyonya Natasha menyebut dirinya 'mama' saat berbicara padaku. Akan aku anggap kali ini ibu mertuaku itu sudah mengakuiku juga sebagai menantunya.


Ia tersenyum dan mengangguk pelan kemudian meninggalkan kamar.


Aku kembali menatap Ghiffa dengan penuh rasa syukur.


"Yang..." Sungguh aku tak percaya kini bahkan Ghiffa bersuara, walaupun suaranya terdengar lemah dan serak sekali.


Akupun menangis tersedu, "Aa bikin aku cemas aja. Kenapa Aa gak bangun-bangun coba waktu aku bangunin kemarin."


Ghiffa tersenyum lemah, "Gak..tahu..Yang.."


Aku mendekat lagi pada Ghiffa. Ku raup pipinya dan menghujani wajahnya dengan kecupan, merasa bersyukur sekali. Ku kecup dahinya, kedua matanya, kedua pipinya, hidungnya, dan bibirnya beberapa kali.


"Semuanya udah selesai." Kutatap kedua mata Ghiffa bergantian, " Aa harus cepet sembuh, lihat badan Aa, jadi kurus banget. Aa gak boleh kayak gini lagi, nyiksa diri Aa lagi. Terus kenapa tangan Aa banyak lukanya. Aa pasti mukul-mukulin tembok atau apa, ya 'kan?" Aku menggenggam erat tangannya dan memerhatikan bekas-bekas luka itu, air mata kembali menggenang di pelupuk mataku, terharu sekali.


Ghiffa kembali tersenyum lemah. "Kamu...gak apa-apa?"


Aku tersenyum mendengarnya menanyakan itu. Rasanya masih seperti mimpi, "Aku baik-baik aja, A. Aa bisa liat sendiri aku sehat. Aku banyak makan karena gak mau lihat Aa khawatir. Eh tahunya malah Aa yang kayak gini."


"Syukur..kalau..gitu.." ujarnya lemah.


"Kita bakal bareng-bareng lagi sekarang. Kita gak akan pisah lagi, A." ucapku yakin sambil terus memegang erat tangannya.


Ghiffa mengangguk lemah, "Iya..Yang.."


Aku melihat sarapan untukku dan Ghiffa sudah tersedia di meja. "Sekarang kita makan ya. Aku suapin."


Akupun mulai menyendokkan satu persatu suapan kecil bubur untuk suamiku.


"Kamu juga..makan..Yang.." pintanya.


Aku mengangguk. "Aku juga makan, kok." Aku meraih nampan milikku dan menyuapkan makanan untukku sekali, lalu untuk Ghiffa sekali dengan sendok yang sama.


"Enak?"


Ghiffa mengangguk dengan senyum tipis. Aku kembali menyuapinya. "Pokoknya Aa harus makan yang banyak sampai habis. Kalau perlu nambah lagi. Biar kita bisa cepet pulang ke rumah kafe lagi. Aa mau 'kan?"


Ghiffa kembali mengangguk. "Iya, kita harus cepet pulang.."


Bicara Ghiffa semakin lancar, tak selemah tadi. Kembali lega menyelimutiku.


Tiba-tiba Nyonya Natasha masuk dengan terburu ke dalam kamar. Aku dan Ghiffa saling menatap dengan bingung. Beliau segera menyalakan TV.


"Ada apa, Mah?" tanyaku,


"Kalian harus lihat ini."