The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 46: Hubungan yang Buruk



Aku masih berada di tangga darurat. Jujur aku sedikit shock mengetahui kebenaran yang baru saja aku ketahui mengenai hubungan Ghiffa dengan sang kakak. Karena seorang perempuan hubungan Ghiffa dan sang kakak menjadi seburuk itu. Nama gadis yang sudah beberapa kali aku dengar dan entah mengapa selalu membekas dan sedikit menggangguku.


Olivia.


Gadis itu pastilah sangat istimewa karena bisa membuat kedua kakak beradik itu jatuh cinta. Tak hanya itu, Ghiffa yang tidak pernah membenci Ghaza walaupun ia sudah diperlakukan kurang baik oleh sang kakak, tetiba saja menjadi sebegitu bencinya karena gadis itu akhirnya lebih memilih menambatkan hatinya pada Ghaza.


Itu artinya, sebesar itu perasaan Ghiffa yang ia jatuhkan pada gadis bernama Olivia itu. Sebuah pertanyaan bercokol di kepalaku, apakah sekarang rasa itu masih Ghiffa rasakan pada Olivia?


Aku menghela nafas. Mencoba menghilangkan entah rasa apa yang tiba-tiba saja hinggap di hatiku.


'Apa hubungannya juga sama kamu? Kamu emang siapanya Ghiffa?' Logikaku yang selalu bijak ini menegurku.


Baiklah, itu memang benar. Siapa aku harus sampai merasa terganggu dengan masa lalu Ghiffa. Lebih baik sekarang aku kembali bekerja.


Aku memasuki ballroom. Beberapa tamu sudah terlihat berdatangan. Aku diberi tugas untuk mengantarkan tamu-tamu reguler ke meja yang memang sudah dipersiapkan bagi mereka, sedangkan untuk tamu VIP, ada pelayan khusus yang akan mengantarnya.


Menjelang malam, hampir semua dari puluhan meja yang ada di ballroom itu sudah terisi oleh para tamu yang datang. Aku kembali ke pintu utama, siapa tau ada tamu lain yang datang. Sampai di sana aku melihat sebuah limousine hitam berhenti dan pintunya terbuka. Keluarlah tiga orang dari dalam mobil mewah itu, tak lain adalah Tuan Musa, Nyonya Natasha, dan juga Tuan Ghaza.


Aura mereka sungguh memancar dengan sangat menyilaukan. Wajah Tuan Musa dan Tuan Ghaza yang tampan, serta Nyonya Natasha yang begitu cantik dan anggun, juga pakaian mereka yang begitu berkelas, ditambah kelap-kelip lampu flash dari kamera pada wartawan yang hadir membuat mereka semakin terlihat begitu mengalihkan pandangan orang yang melihatnya.


Bagaimana ada orang-orang yang sesempurna mereka? Cantik dan tampan, juga memiliki segalanya.


Tak sengaja aku dan Nyonya Natasha bersih tatap. Ia menggerakkan mulutnya tanpa bersuara dan bertanya, 'Ghiffa mana?'. Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan senyum 'meminta maaf'. Aku tidak tahu Ghiffa dimana. Tapi ia sudah mengatakan akan datang 'kan?


Aku juga tidak mengecek ponselku sejak siang tadi, karena aku memang dilarang menggunakan ponsel selama acara ini berlangsung. Aku mengedarkan pandanganku dengan cemas, kalau-kalau aku melewatkan kehadirannya. Tapi aku tidak melihat ia dimanapun juga.


Sebenarnya aku sempat datang ke salon yang Ghiffa pesankan untukku. Memang ada reservasi atas namaku. Di sana aku sempat dibawa untuk memilih pakaian yang sudah disediakan oleh sebuah butik yang bekerja sama dengan salon itu. Tersedia juga aksesoris seperti perhiasan, tas, dan sepatu untuk melengkapi penampilanku. Bahkan hair stylist dan MUA sudah siap mendandaniku.


Namun aku segera menolak semua itu. Untuk apa juga aku berdandan secetar itu. Aku 'kan hanya akan menjadi pramugraha?


Apa sih yang Ghiffa pikirkan?


Kemudian tak lama terlihat sebuah mobil memasuki area hotel. Suara khas mobil sport yang sangat aku kenal meraung-raung. Mobil merah menyala itu berhenti di pintu utama dan Ghiffa keluar dari sana.


Aku terkesiap melihatnya. Ia menggunakan tuxedo berwarna abu tua dengan kemeja hitam dan dasi berwarna senada. Rambut bermodel two blocks-nya, kini ia tata dengan pomade dan menampilkan dahi sempurnanya.


Aku sama sekali tidak menyangka Ghiffa yang biasanya begitu cuek dalam berpakaian, bisa terlihat sedewasa dan seelegan itu.


Ia berjalan memasuki pintu utama hotel. Flash dari kamera para wartawan yang datang segera menyinarinya. Para Wartawan meminta Ghiffa sedikit berpose, namun dia berjalan dengan cepat dengan wajah yang dingin.


Aku segera pergi sebelum Ghiffa melihatku. Bisa ada drama jika ia melihatku disini dengan pakaian seperti ini. Lebih baik jika dia akan memarahiku nanti saja saat pulang.


Acara pun dimulai. Aku tidak mengikutinya dari awal karena aku diberi tugas ini-itu dan terus berjalan kesana-kemari. Hingga di pertengahan acara, akhirnya aku punya sedikit waktu untuk melipir ke sudut untuk meregangkan tubuhku yang pegal karena tak henti-hentinya bekerja.


"Kamu udah ketemu Ghiffa?" tanya Zayyan yang tiba-tiba saja ada di sebelahku.


"Jangan sampe dia tahu aku disini, Zay! Please, kalau kamu ketemu dia bilang aja gak tahu. " ucapku penuh harap.


Zayyan malah menampakkan wajah bersalahnya padaku, "Maaf Ayana, tadi aku ketemu dia dan aku keburu bilang ke dia kalau kamu ada disini." tatapan Zayyan penuh maaf.


Mati deh aku.


"Emang kenapa, Ayana?"


Sebelum aku menjawab seorang pria tinggi, berjas, dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya datang menghampiri kami.


"Zay, untung ketemu kamu disini. Ada obat kembung atau semacamnya?" tanya pria muda itu.


"Eh Bang Jo, aku tanyain dulu ya." Zayyan segera pergi menuju ke pantry.


"Kamu tolong buatkan teh manis hangat ya. Bawa ke lounge sebelah ballroom ini."


"Baik, Mas." ucapku, segera aku ke pantry juga untuk membuat teh manis itu.


"Duh gak ada obat kembung lagi, apa beli dulu gitu ya?" Zayyan menghampiriku yang sedang membuat teh manis.


"Itu pasti Tuan Ghaza. Perut dia emang sensitif. Salah makan dikit pencernaannya langsung kena. Biasanya dia bawa obat sih."


"Ya udah gak usah pake obat. Aku bikinin teh jahe aja pake madu, ini ampuh loh buat yang pencernaannya bermasalah." ucapku mulai meracik minuman, dan kebetulan ada jahe dan madu di pantry itu.


"Wih, kamu tahu herbal?" puji Zayyan.


"Aku 'kan tinggal di kampung yang hawanya dingin. Kalau perut kembung kayak gini udah jadi penyakit yang lumrah banget di tempat aku. Udah, serahin semuanya sama aku. " ucapku dengan percaya diri.


"Siap deh, kalau gitu. " Zayyan mengacungkan satu jempolnya padaku.


Kemudian aku membawa teh itu ke lounge sesuai instruksi dari pria tadi. Aku pun masuk dan meletakkannya di meja sebelah sofa yang diduduki oleh Ghaza. Ghaza terlihat tertunduk dengan mata tertutup. Sebelah tangannya menopang kepalanya.


"Mana obatnya?" Tanya pria itu.


"Maaf Tuan, obatnya gak ada. Tapi bisa dicoba minum teh jahenya Tuan. Itu bisa menyembuhkan perut kembung."


"Pak dicoba tehnya." ucap pria itu.


Ghaza mulai meminumnya.


"Kalau boleh saya sarankan tangannya bisa dipijit dibagian ini, Mas." ucapku sembari memijit tanganku sendiri di bagian antara ibu jari dan telunjuk.


"Ya udah kita cobain." Ucap pria itu. Ia mulai meraih tangan Ghaza dan memijitnya. "Gini?" tanyanya padaku.


"Agak sedikit diputar-putar gitu, Mas." ucapku menginstruksikan.


"Coba kamu aja yang pijit." ujar Ghaza, masih dengan kepala tertunduk dan satu tangan memijit kepalanya sendiri.


Pria itu mundur dan aku pun duduk bersimpuh di lantai sebelah Ghaza. "Maaf ya, Tuan." Aku meraih tangannya dan mulai memijitnya.


"Sambil diminum lagi, Tuan, teh jahenya. " ucapku sopan.


Ghaza membuka matanya dan meraih cangkir teh yang ada di sebelah mejanya. Lalu sudut matanya menangkap sosokku dan ia terlihat sedikit terkejut, "Ayana?"


Aku hanya tersenyum padanya.


"Ayana? " ucap pria itu.


"Ini Ayana, temennya crush lo itu." ucap Ghaza.


Aku dan pria itu bersih tatap, "Kamu temennya Belva?" tanyanya.


"Iya, Mas. Jadi Mas yang namanya Jonathan?" tanyaku. Aku sedikit terperangah karena akhirnya bertemu dengan cowok yang disukai oleh sahabatku.


"Wah kok bisa ketemu gak sengaja gini." Jo sama terkejutnya denganku.


Akhirnya kami mengobrol tentang Belva sedikit sambil terus memijit tangan Ghaza.


"Gimana, Pak?" Sudah sekitar 5 menit aku memijit tangannya.


"Iya lumayan. Perut saya enakan." Ghaza menatapku.


"Syukurlah kalau begitu, Tuan." ucapku dengan sudut bibir terangkat.


Ghaza masih menatapku. Ia memiliki sorot mata yang sama dengan Ghiffa. Dingin dan mengintimidasi, sama seperti ayah mereka. Entah mengapa Ghaza menatapku seperti itu. Dia seperti...


Pintu lounge tiba-tiba terbuka dan Ghiffa menerobos masuk. Sontak aku melepaskan tanganku dari tangan Ghaza.


Wajahnya berubah bengis dan kilatan amarah muncul di kedua manik hitamnya tatkala melihat aku yang duduk bersimpuh di lantai sebelah Ghaza, juga tanganku yang memegang tangan sang kakak.


Aku menelan salivaku dan mempersiapkan hatiku. Setelah ini Ghiffa pasti ngamuk lagi.