The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 64: Ghiffa yang Sesungguhnya



"Kamu kok gak percaya sih sama aku?" Ku lepaskan kedua tangan Ghiffa yang melingkar di punggungku. "Tuan Ghaza gak ada rasa sama aku. Aku yakin, Ghif. Begitu juga sama aku. Kamu harus percaya sama aku." ucapku sungguh-sungguh.


"Iya. Mungkin bener Ghaza gak ada rasa sama kamu. Tapi dia lagi berusaha bikin kamu ada rasa sama dia. Dia udah mulai deketin kamu. Dia berusaha bikin kamu buat suka sama dia, kayak yang dia lakuin ke Oliv."


"Coba deh, kenapa kamu segitu takutnya aku bakal suka juga sama Tuan Ghaza kayak Olivia?"


Ghiffa terdiam sejenak, "Ghaza itu cowok perfect. Gak mungkin ada cewek yang gak suka sama dia. Cewek manapun bisa dia dapetin kalau dia mau."


Aku benar-benar tercengang Ghiffa bisa berkata seperti itu.


"Sebenci apapun aku sama Ghaza, aku tetap harus ngakuin kalau dia jauh lebih segalanya dari aku." Kepala Ghiffa tertunduk memainkan jari-jari tanganku.


"Kamu beneran Ghiffa bukan sih? Ghiffa yang aku kenal selalu percaya diri dan gak takut apapun."


Ghiffa tidak menjawab. Kepalanya masih tertunduk.


"Nggak, Ghif." Kuangkat dagu Ghiffa agar menatap ke arahku, "Kamu jauh lebih baik. Satu yang Ghaza gak punya dan kamu punya," Ghiffa menunggu kelanjutan ucapanku, "Kamu punya hati dan Ghaza nggak."


Ghiffa tertegun mendengar ucapanku. "Setelah denger apa yang dia lakuin ke kamu dan juga ke Oliv, bagi aku Ghaza gak lebih dari seorang cowok yang ambisius dan egois. Dia gak peduli sama orang lain, dia akan halalkan segala cara buat dapetin apa yang dia mau. Dan aku gak suka cowok kayak gitu."


"Tapi dia wakil presdir. Dia mapan, berkuasa, dan punya segalanya."


"Emangnya kenapa? Bagi aku itu semua gak penting. Yang terpenting adalah perasaan aku sama dia. Buat apa dia punya segalanya kalau akunya gak ada rasa sama dia. Terus kamu lupa kenapa aku bisa suka sama kamu? Karena kamu itu Hyuganya aku. "


Wajah Ghiffa mencerah seketika mendengar ucapanku. "Kayaknya aku jatuh cinta sama kamu buat yang ke sekian kalinya, Yang."


Ucapan Ghiffa membuat wajahku memerah. "Apaan sih kamu tiba-tiba ngomong gitu."


Ghiffa membawa tanganku yang sejak tadi dipegangnya menuju bibirnya, dan mengecupnya beberapa kali. "Beruntung banget aku bisa dipertemukan sama cewek sebaik kamu yang cuma ngeliat aku itu dari perasaan aku aja. I love you, Baby. Kamu itu bukan manusia, tapi malaikat."


Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya kata-kata Ghiffa dan tidak menjawab apapun.


Beberapa saat Ghiffa berkata, "Bales kek, Yang." ucapnya jengkel, "Udah ah aku gak akan ngomong romantis lagi sama kamu." Ghiffa merajuk.


"Aku gak bisa gombal kayak kamu, Ghif. Ngambek aja kamu bisanya ih." dumelku dengan gemas.


Ghiffa sedikit menjauh dariku dan mengambil sepotong pizza lagi dan memakannya dengan jengkel.


Aku hanya tersenyum gemas melihatnya seperti itu. "Kamu ih pundungan. Masa gitu aja ngambek."


Ghiffa semakin lahap memakan pizza itu. Ia tidak menggubris ucapanku.


Akupun mengalihkan pembicaraan, "Oh iya, aku pengen nanya sama kamu. Tadi kamu bilang Zayyan ngasih tahu kamu tentang statusnya Ghaza. Terus kemarin dia juga ngasih tahu kamu kalau aku pergi dari lapangan basket waktu itu. Dia juga minjemin kamu motor. Zayyan tuh baik 'kan? Tapi kenapa sih kamu ngebully dia? Dulu kamu deket 'kan sama dia?"


"Tahu dari mana aku dulu deket sama dia?" tanyanya heran.


"Waktu acara ulang tahun perusahaan, aku sama Zayyan sempet ngobrol."


"Aku gak nyangka dia itu anaknya Bi Susi. Terus dia bilang kalian dulu deket banget dari SD. Kalian menjauh waktu kamu berubah di semester genap kelas 10. Zayyan juga cerita tentang kamu pakai 'topeng' supaya Ghaza mikir kamu bukan pesaing dia. Tapi kayaknya Zayyan gak tahu tentang kamu yang sebenernya gak ada rasa sama Olivia. Dia nyangkanya kamu berubah dan jadi benci banget sama Ghaza karena Olivia."


"Jadi gara-gara omongan Zayyan kamu tahu tentang Olivia waktu itu? Langsung kamu telen bulet-bulet info dari Zayyan itu?"


"Maaf..." cicitku.


"Mulai sekarang gak boleh kayak gitu lagi. Kamu harus lebih percaya sama aku. Yang tahu kayak gimana perasaan aku, ya aku sendiri. Bukan orang lain."


"Iya. Aku bakal lebih percaya sama kamu mulai sekarang." tekadku. "Tapi kamu belum jawab ih kenapa kamu ngebully Zayyan?"


"Aku cuma pura-pura kok bully dia. Buat jaga image aku biar Ghaza makin yakin kalau aku udah berubah jadi bad boy. Tapi aku yakin Zayyan ngerti sama perubahan sikap aku. Makanya dia masih suka nolongin aku kalau ada apa-apa. "


Aku menghela nafas, "Emang bener. Zayyan gak marah sama sekali pas kamu ngebully dia."


Ghiffa tersenyum, "Dasar. Aku emang gak pernah bisa bohong depan dia."


"Makanya kamu temenan lagi sama Zayyan. Sahabat yang bener peduli sama kamu ya Zayyan. Jangan sampai kamu nyesel kalau udah bener-bener kehilangan dia." ucapku memberi nasihat.


"Max, Theo, sama yang lain juga care kok sama aku. Mereka yang bikin aku sadar kalau cowok gak boleh lemah."


"Ya kenapa kamu gak temenan sama Max, Theo, dan yang lain-lain, tapi sama Zayyan juga?"


Ghiffa menatap ke arahku heran, "Ya gak mungkin dong, Yang. Mereka gak akan bisa disatuin. Zayyan gak akan cocok gaul sama mereka."


"Siapa bilang kamu harus nyatuin mereka dan maksa Zayyan buat masuk ke pergaulan Max dan yang lainnya?"


Ghiffa terdiam.


"Kamu berubah demi buktiin ke Ghaza itu boleh-boleh aja, tapi jangan bikin kamu gak jadi diri sendiri. Kamu bilang Hyuga adalah kamu yang sebenarnya. Kenapa kamu nutupin Hyuga dari semua orang? Kamu masih bisa jadi Ghiffa yang temenan sama Max dan yang lainnya, sekaligus jadi Hyuga yang temenan sama Zayyan."


Ghiffa terlihat mencerna apa yang aku katakan.


"Kamu bilang kalau perubahan kamu gak terlalu berpengaruh buat Ghaza. Terus kenapa kamu harus nerusin semua ini? Buat apa kamu bikin nilai-nilai kamu jadi jelek? Buat apa kamu bikin semua orang berpandangan negatif sama kamu kalau ternyata itu gak terlalu berpengaruh buat Ghaza? Kenapa kamu gak jadi diri sendiri aja kalau gitu?"


Baru saja Ghiffa akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja terdengar pintu diakses kemudian terdengar suara bahwa kode yang dimasukkan salah.


"Siapa yang dateng jam segini terus langsung ngakses pintu?" tanyaku.


"Kayaknya itu Mama."


"Kamu ganti kode aksesnya?!" aku sungguh tidak habis pikir. Nyonya Natasha pasti marah.


Ghiffa beranjak dari sofa dan berjalan ke pintu keluar. Benar saja Nyonya Natasha ada disana dengan wajah yang marah, "Kamu ganti kode akses gak bilang-bilang sama Mama?!"