The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 125: Positif Vibes



Setelah perjalanan dari Jakarta menggunakan pesawat dan dilanjutkan dengan mobil, kami pun tiba di sebuah villa. Villa tersebut terletak di bibir pantai. Saat aku masuk ke dalamnya aku langsung melihat hamparan birunya lautan yang terlihat dari dinding kaca. Di teras belakang terdapat sebuah kolam renang yang langsung menghadap ke sebuah taman yang dihiasi beberapa tanaman dan rumput yang menghijau, dan setelah taman itu aku bisa melihat pasir pantai putih yang luas tersapu ombak.


"Kamu suka villanya?" Ghiffa menghampiriku dan merangkul pundakku.


"Suka banget, A. Tapi Aa sayang uangnya nyewa villa gini. Apalagi kita bakal beberapa hari disini. Padahal di hotel biasa aja." Ucapku tidak enak


"Gak apa-apa, dong. Kapan lagi coba kita liburan kayak gini? Ini Honeymoon pertama kita, Sayang. Jadi harus mengesankan. Masa nginepnya di hotel lagi."


"Makasih ya, Aa." Kupeluk pinggang Ghiffa penuh rasa syukur.


Aku tak pernah bermimpi bisa hidup dengan nyaman seperti ini. Hidupku yang sulit berubah sekejap mata karena menikahi seorang Alghiffari Airlangga, seorang laki-laki yang mapan di usia yang sangat muda.


Kami berada di meja makan di teras belakang sekarang. Makan siang sudah tersedia di sana. Karena perut kami sudah meminta untuk diisi, kami langsung menyantap makanan yang tersedia di meja itu.


"Aa sebelumnya udah pernah ke Bali?" tanyaku penasaran.


"Pernah. Beberapa kali. Dulu Mama sering banget bawa aku kesini." Jawab Ghiffa.


"Nginepnya selalu di villa gini?"


"Iya. Papa punya beberapa villa dan resort di Bali sebenernya, aku selalu nginep di sana. Tapi aku gak mau nginep di sana sekarang. Jadi aku nyewa villa ini."


"Papa punya resort dan villa juga?!" Aku benar-benar tercengang.


"Iya. Biasalah Papa sering investasi. Papa punya saham di sana, dan saat pembangunan villa dan resortnya perusahaan Papa yang ngurusin pembangunannya."


"Waah..." Aku tak mampu berkata-kata.


Ghiffa hanya tersenyum melihatku, "Kenapa kamu kayak yang kaget banget."


"Papa pemilik apartemen mewah di beberapa kota besar juga saham di beberapa mall dan hotel aja udah bikin aku speechless, A."


"Yah itulah hidupnya Musa Airlangga." ucap Ghiffa sekenanya.


Sedih memang jika aku menjadi Ghiffa, ayahku memiliki segalanya tapi aku justru tidak diperbolehkan untuk memilikinya. Pantas saja Nyonya Natasha begitu ingin Ghiffa mendapatkan haknya, karena rasanya memang tidak adil harta dan aset milik Tuan Musa sebanyak itu, tapi Ghiffa tidak diperkenankan untuk mendapatkannya.


Akupun segera mengalihkan topik pembicaraan. "Oh iya, Aa pernah liburan kemana aja? Ke luar negeri pasti pernah ya?"


"Pernah. Terakhir waktu study tour aku ke Jepang waktu kelas 10. Sebelumnya aku pernah ke beberapa negara di Eropa, Amerika, Australia dan yang deket-deket ke Thailand, Singapura juga lumayan sering. Sekarang aja aku belum sempet kemana-mana lagi."


Bagiku ke Bali saja sudah jadi tempat terjauh yang pernah aku datangi. Tadi saja adalah untuk pertama kalinya aku naik pesawat, sedangkan Ghiffa malah sudah pergi ke banyak negara.


"Kenapa, Yang? Kamu mau ke luar negeri? Kamu mau kemana? Nanti kita rencanain buat honeymoon selanjutnya."


Dasar, mentang-mentang banyak uang. "Nggak kok, A. Aku cuma nanya aja pengen tahu."


"Gak apa-apa, Yang. Bilang aja, kamu mau kemana? Ke Korea mau? Aku juga belum pernah kesana. Nanti mau kesana?"


Aku segera menggelengkan kepalaku, "Nggak, A. Kalau mau ke Korea aku gak akan bareng sama Aa."


Ghiffa mengerutkan dahi, "Kenapa?"


Soalnya jika aku ada kesempatan ke sana, aku ingin mengunjungi beberapa tempat yang sering dikunjungi oleh para fans idol kpop di sana. Dan aku pasti akan berteriak-teriak heboh dan hati dan pikiranku akan terfokus pada idol kpop favoritku. Tidak mungkin aku bersama dengan Ghiffa ke tempat seperti itu dan membiarkannya melihatku menghalukan pria lain di depannya.


"Oh gitu. Ya udah nanti kamu pergi aja sama Belva. Nanti aku pesenin travel agent buat anter kamu main kesana."


"Serius?!" Aku kira Ghiffa tidak akan mengizinkannya.


"Serius, dong. Tapi nanti kita juga harus pergi ke tempat lain. Kamu bilang aja mau kemana aku pasti bawa kamu kesana."


Keren sekali sih suamiku ini. "Makasih ya, Aa Sayang."


"Sama-sama, istriku." sahut Ghiffa.


Akupun tersenyum padanya. Kami kembali menyantap makanan kami, dengan mataku menatap ke arah hamparan birunya lautan.


"Yang, sebenernya yang hebat dan berjasa buat PT Melcia Properti itu adalah Kakek. Karena almarhum kakek yang ngerintis semuanya dari awal. Terus papa yang lanjutin sampai PT Melcia Properti jadi sebesar sekarang." Ghiffa mengatakannya dengan wajah yang serius. Sepertinya ia masih ingin membahas obrolan ini.


Aku mengangguk-angguk paham, "Kakek itu udah meninggal ya? Kapan, A?"


"Udah lama banget. Aku sendiri gak inget karena masih kecil banget. Kakek itu nikah waktu umurnya udah 40 tahun, Yang. Malah hampir gak nikah awalnya karena sibuk kerja. Tapi keluarga kakek terus desak Kakek supaya nikah dan punya anak. Akhirnya Kakek nikah karena dijodohkan sama anak rekan bisnisnya. Setahun kemudian lahirlah Papa. Jadi umur Papa sama kakek bedanya jauh banget."


"Oh jadi Kakek itu ngerintis PT Melcia Properti dari bawah banget ya, A?"


"Iya. Tapi modalnya tetep dari keluarganya, Keluarga Airlangga. Keluarga Kakek itu udah jadi keluarga yang terpandang dari jaman dulu. Jadi walaupun Kakek rintis dari awal perusahaannya, kakek gak mulai dari nol banget. Ada keluarganya yang dukung beliau."


"Wah. Kayak Aa sekarang, dong?"


"Kayak aku?" Ghiffa mengerutkan keningnya.


"Iya, Aa juga rintis kafe Aa dari kecil. Terus makin lama makin besar. Itu juga dibantu sama Papa, 'kan? Walaupun Aa gak dapet saham di PT Melcia Properti, tapi Aa bisa loh bikin usaha baru. Semoga Aa bisa kayak kakeknya Aa, bikin kafe itu makin besar lagi. Atau mungkin nanti Aa bisa bikin usaha baru yang bakal sebesar PT Melcia Properti."


Ghiffa menatapku dengan heran. "Kamu kok bisa kepikiran kayak gitu? Aku aja gak kepikiran, loh."


"Aku jadi kepikiran aja. Kayak tadi Aa bilang, kakek Aa hebat banget bisa merintis semua dari awal. Itu loh yang susah, A. Kalau sekedar melanjutkan aku yakin gak akan sesulit itu. Sama kayak Bapak. Dulu Bapak pernah cerita, kebun sayur yang sekarang Bapak garap itu hutan dengan banyak pohon-pohon besar. Almarhum aki yang dulu sedikit demi sedikit nebangin pohonnya sampai akhirnya bisa jadi lahan perkebunan. Bapak sih cuma melanjutkan. Kata Bapak pekerjaan Bapak gak ada cape-capenya, yang hebat itu Aki karena udah berhasil ngebuka lahan dan akhirnya bisa ditanamin sayuran."


Ghiffa tersenyum padaku, "Kadang aku gak ngerti deh. Kamu itu pemikirannya suka beda dari orang lain. Kamu suka kepikiran sama hal-hal positif dari hal-hal yang justru dilihat negatif sama orang lain."


"Iya dong, A. Positif vibes." ucapku sumringah, "Itu yang lagi aku coba juga biar PTSD aku sembuh."


Ghiffa menatapku sendu. Ia raih tanganku dan menggenggamnya, "Kamu pasti sembuh. Kamu pasti bisa kayak dulu lagi, Sayang. Kamu kuat."


Aku mengangguk semangat, "Ada Aa disamping aku. Aku pasti akan sembuh."


Ghiffa tersenyum lebar sekali, "Kalau udah makannya kita jalan-jalan, kamu mau?"


Aku mengerutkan dahiku. "Panas ah, A. Aku pengen di villa aja. Jalan-jalannya nanti sore aja."


Ghiffa terlihat kecewa, "Terus mau ngapain sekarang?" Ia menyeka bibirnya dengan napkin dan meminum seteguk air putih.


"Aku pengen di kamar sama Aa."


Tanpa sadar Ghiffa menyemburkan air yang sedang diminumnya, saking terkejutnya dengan apa yang aku katakan.