
Aku dan Ghiffa sedang sibuk mengepak barang-barang kami. Kami memasukkan semua baju kami ke koper dan beberapa barang seperti buku, laptop, dan semua itu ke sebuah travel bag. Barang-barangku asalnya sedikit, tapi karena hampir setiap minggu Ghiffa memberikanku baju, tas, sepatu, skincare, dan lain-lain akhirnya barangku jadi sangat banyak.
Untuk sekarang aku membawa barang-barangku seperlunya saja. Aku sendiri tidak yakin Ghiffa akan sanggup bertahan hidup sebagai orang dari kalangan biasa dalam waktu yang lama. Aku bertaruh, tidak akan sampai satu bulan. Bahkan mungkin hanya dua minggu saja.
"Ghif!" sebuah suara terdengar dari lantai bawah.
"A, itu kayaknya Max?" Ucapku. Ghiffa segera keluar dan berteriak memanggil Max ke atas. Beberapa saat sosok berambut coklat itu sudah berada di ambang pintu kamar.
"Mana aja yang mau dibawa?" tanyanya. Lalu ia menangkap sosokku dan menyapaku, "Hai, Mbak Perpus. Yakin mau dibawa minggat sama si anj*ng nekat yang satu ini."
"Sopan lo, Nj*ng sama bini gue." tegur Ghiffa seraya menggeplak kepala Max.
Max mengumpat sambil memegang kepalanya. Lalu ia membungkuk hormat padaku "Sorry, Nyonya Besar Centaur Squad."
Aku hanya bisa tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalaku melihat interaksi Max dan Ghiffa yang akur tak akur itu. "Gak apa-apa, udah biasa. Maafin Aa ya, Max, suka mukul-mukul. Itu tandanya Aa sayang sama kamu." candaku.
"Gitu ya, Mbak?" Max pura-pura berbinar, "Gak nyangka Nj*ng lo sayang sama gue." ucap Max sambil membuat tanda hati dengan kedua tangannya.
"Najis." sahut Ghiffa seraya memakai jaket kulit hitam miliknya.
"Kirain selama ini lo halu bilang Mbak Perpus ini istri lo, Ghif. Ternyata beneran." Max menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya ia masih belum bisa mempercayainya. "Mbak, kemarin mbak keren banget!" Max mengacungkan jempolnya.
Sudut bibirku terangkat karena mendengar pujian dari Max. Sebagai orang yang tahu permasalahan Ghiffa dan Ghaza, Max pasti merasa hal yang aku lakukan kemarin adalah hal yang luar biasa karena bisa membuat Ghaza diam tak berkutik.
"Makasih." ujarku tulus pada Max.
"Tapi mbak kok mau sih nikah sama si Ghiffa? Buat jadi pacar, dia ini emang di atas rata-rata. Tapi buat jadi suami, minus!"
Ghiffa segera menggeplak kembali kepala Max membuat ia meringis kesakitan. "Nih, bawain koper gue. Sama tas itu." perintah Ghiffa, menunjuk sebuah travel bag.
"Tangan lo tuh harus disekolahin!" dumel Max seraya membawa koper dan juga travel bag yang diinstruksikan oleh Ghiffa. "Ada lagi gak, Mbak?"
"Udah semua kayaknya. Makasih ya." ucapku seraya mengecek ke seluruh ruangan. Maxpun turun dari lantai 2 menuju mobilnya.
"A kita cuma bawa baju aja? Alat-alat yang lain mau dibawa? kayak kompor, kulkas, mesin cuci, tv?"
"Gak usahlah, Yang. Sekarang kita cari dulu tempat tinggal. Barang-barang kita titipin dulu ke Max, nanti udah dapet tempat tinggal baru kita ambil barang-barang kita. Perabot yang kayak gitu nanti kita beli aja."
"Emang Aa masih ada uang buat beli perabot? Kan kartu ATM Aa udah dikasihin ke Om Lucas. ATM yang aku, yang Aa kasih juga udah Aa balikin tadi."
Ghiffa menghela nafas, "Makanya sekarang kita ke sirkuit dulu."
"Aa mau balapan?" tanpa sadar nada bicaraku meninggi. Sebenarnya aku tidak terlalu suka jika Ghiffa ikut aktivitas berbahaya itu. Juga aku tidak suka saat Ghiffa membawa uang hasil taruhan. Tapi aku tidak berani untuk menegurnya, sehingga aku hanya bisa menampakan wajah cemasku setiap kali Ghiffa mengatakan akan pergi balapan.
"Iya, itu satu-satunya cara buat aku dapetin uang buat sekarang." Ghiffa menghampiriku dan meraup pipiku, "Aku tahu kamu gak suka aku ikutan balapan buat dapetin uang, tapi sekali ini aja, Yang. Udah ini aku bakal cari kerja yang lain."
Ternyata selama ini dia menyadarinya kalau aku ini kurang setuju dengan kegiatan balapannya itu.
"A, sebaiknya kita disini aja, ya? Aa itu masih sekolah. Aa sekolah setiap hari dari pagi sampai sore. Terus Aa mau kerjanya kapan coba? Aa juga mau kerja apa?"
"Nggak, Yang. Keputusan aku udah bulet. Kamu gak usah khawatir, aku pasti dapetin kerjaan." Ia menarikku dalam pelukannya, "Kamu istri aku. Sebagai suami, aku harus nafkahin kamu."
Rasa tanggung jawabnya sebagai suami memang sudah ada, tapi tetap saja dia masih sering kali bertingkah layaknya remaja. Tidak pernah pikir panjang juga nekat.
"Nggak, Yang." tolak Ghiffa.
Aku menjauh dari tubuh Ghiffa dan menatapnya, "A kalau cuma Aa yang kerja terus aku ngapain? Aa yakin nanti bakal dapet penghasilan cukup buat kita berdua? Aku juga lagi libur panjang, A. Masa aku diem aja liat Aa sekolah terus kerja."
Ghiffa terdiam beberapa saat, "Ya udah tapi kerja apa dulu. Kalau kerjanya aneh-aneh gak boleh. Kalau kayak waktu itu kamu jadi kasir di minimaret boleh."
"Iya, aku nanti nanya dulu sama Aa kalau ada tawaran kerjaan. Terus nanti kalau Aa udah dapet uang, kita mau tinggal dimana?"
Ghiffa kembali terdiam. "Aku belum kepikiran, Yang."
Ya Tuhan, aku benar-benar kehilangan kata-kata.
"Kita nginep di hotel dulu aja." Usulnya.
Aku menghela nafas. "Aa uangnya mana? Aa mau balapan buat dapetin uang, itu juga kalau Aa menang. Kalau nggak? Aku juga masih ada uang tabungan di ATM aku yang satu lagi sih, tapi kita juga harus hemat. Kita gak tahu kapan bakal dapet tempat tinggal dan kerjaan. Gimana kalau sampai seminggu atau dua minggu ke depan kita gak dapet kerjaan?"
Ghiffa kembali terdiam. Sepertinya dia mulai goyah.
"Udah ya, A. Aa itu gak biasa hidup dengan serba kekurangan. Aa itu udah biasa hidup dengan segala kenyamanan dan serba berkecukupan."
"Kamu dukung aku dong! Bukannya malah gak percaya sama aku!" suaranya meninggi.
Aku terperangah, ini pertama kalinya Ghiffa membentakku. Sedikit terkejut tapi aku juga mengerti bahwa dia sedang kalut sekarang.
Sedetik kemudian ia mengusap kasar wajahnya, "Maaf, Yang. Aku gak maksud bentak kamu."
Wajah Ghiffa seketika terlihat resah. Jujur aku pun khawatir sekali, akan bagaimana kehidupan kami di luar sana. Tidak jelas akan kemana.
"Iya, ya udah gak apa-apa, A. Maaf juga aku gak dukung keputusan Aa." ucapku menenangkan.
Ghiffa kembali merengkuhku, "Maaf ya aku malah marah. Tapi kamu percaya sama aku. Aku bakal usahain yang terbaik buat kita."
***
Aku duduk di tribun tidak jauh dari lintasan dengan beberapa motor dengan knalpot yang begitu bising. Aku sampai menutup telingaku sesekali karena suaranya yang memekakkan telinga. Salah satu dari motor yang sudah bersiap di lintasan adalah motor hijau muda milik Ghiffa, atau secara kepemilikan sudah menjadi milikku. Ia sudah bersiap di lintasan.
Aku duduk dengan cemas, semoga saja Ghiffa baik-baik saja. Ini adalah pertama kali aku melihatnya balapan. Melihat motor-motor itu berlari dengan kecepatan yang begitu tinggi membuat aku sangat was-was. Ghiffa baru saja sembuh dari insiden penculikan itu, bagian ulu hatinya saja masih terlihat agak memar. Aku tidak peduli jika Ghiffa tidak menang, yang penting ia selamat dan tidak kurang sesuatu apapun.
Sudah cukup lama mereka hanya berkumpul disana. Ghiffa sempat melakukan warm up lap tapi balapannya belum juga dimulai.
Aku menoleh pada Bara yang duduk tak jauh di sampingku, "Bar, ini kenapa belum mulai ya balapannya?"
"Masih nunggu lawannya, Mbak Perpus. Belum dateng."
"Siapa emang?"
"Ketua geng SMA Satya, Mbak. Musuh bebuyutannya SMA Centauri."
"Hah? Musuh Bebuyutan?!"