
"Kenapa harus kayak gitu, Tuan? Apa yang Tuan sembunyikan dari pacar Tuan?"
"Ada deh, kepo banget lo." cibirnya.
Akupun berdecak jengkel, "Ya udah deh saya gak akan nanya lagi." pungkasku.
Kenapa juga aku harus bertanya mengenai ia dengan pacarnya? Jujur sih, aku memang sedikit, hanya sedikit ya, merasa cemburu. Saat Ghiffa mengatakan ia putus, aku kira hubungan Ghiffa dan pacarnya sudah selesai sampai disini dan Ghiffa tidak akan memikirkan lagi pacarnya itu, sama seperti yang terjadi padaku dan Hyuga. Tapi ternyata tuan mudaku yang galak ini bisa seserius itu menyukai seorang perempuan.
Aku sedikit iri pada pacarnya itu. Dia beruntung bisa disayangi seorang Ghiffa yang biasanya sangat dingin dan kasar pada orang lain. Setahuku selama ini Ghiffa memperlakukan pacarnya dengan sangat spesial. Aku belum pernah sih melihatnya langsung, tapi di depan pacarnya pastilah Ghiffa akan bersikap sangat manis dan lembut. Bahkan ia menyiapkan acara di resort itu untuk satu bulan mereka berpacaran. Itu baru satu bulan, bagaimana jika satu tahun? Acara sespesial apa yang akan Ghiffa siapkan?
Kenapa aku jadi iri begini? Tidak boleh Ayana!
Lagipula jika Ghiffa betul-betul putus dengan pacarnya memang kenapa? Itu tidak akan mengubah apapun. Aku harus lebih rajin lagi mengingatkan dan menegur diriku yang hanya pembantu di apartemen ini untuk tidak berharap lebih dari majikanku ini.
'Sadar, Ayana! Sekalipun kamu suka sama dia, jangan pernah berharap untuk bisa dapetin Ghiffa. Kamu sama Ghiffa gak mungkin bareng-bareng. Dunia kalian terlalu berbeda! Inget, sadar diri!' batinku mengolokku.
Juga aku harus menelaah hatiku lebih teliti lagi. Apakah yang aku rasakan terhadap Ghiffa betul perasaan sayang seperti yang aku rasakan pada Hyuga, ataukah hanya rasa 'terimakasih' dan kagum saja? Dengan wajah Ghiffa yang begitu tampan, memang tidak sulit untuk terpesona padanya.
"Berhenti juga nangis lo." Ghiffa menyadarkanku dari lamunanku.
Aku juga baru menyadarinya, "Oh, iya ya, Tuan." aku memegang pipiku yang sudah mengering, tidak ada lagi air yang melintas disana.
Ghiffa memegang kepalanya.
"Tuan sakit?"
"Ini efek semalem. Kepala gue sakit jadinya."
Aku baru ingat, "Tuan, tadi saya udah bikinin sup ayam. Saya baca di internet katanya bisa ngilangin pengaruh alkohol. Tuan mau sarapan sekarang?"
"Makan siang kali jam segini."
"Iya apapunlah, Tuan. Yang penting makan ya Tuan sekarang? Saya bawa kesini ya?" ucapku.
Ghiffa mengangguk, kemudian aku mulai memindahkan makanan yang sudah kusiapkan tadi di meja makan, ke meja ruang tengah.
"Silahkan, Tuan." aku kembali duduk bersila di sebelahnya.
Kami mulai memakan makanan yang sudah kusediakan, bersama-sama.
"Jadi lo udah maafin gue?" Pertanyaan Ghiffa membuatku mengurungkan tanganku yang akan menyendokkan makanan ke dalam mulutku.
"Lo bukannya marah sama gue gara-gara kejadian di resort itu?" ucapnya sambil melahap sup ayamnya.
Seketika wajahku memerah. Bibirku, tengkukku, leherku, kembali mengingat semua yang Ghiffa lakukan padaku waktu itu, membuatku merasakan reaksi alami dari tubuhku, meremang, dan berdesir aneh dalam ulu hatiku.
"Seminggu lebih kita gak makan semeja kayak gini. Lo juga gak nemenin gue tidur. Akhirnya gue gak bisa tidur tiap malem. Ketiduran deh gue tiap hari di sekolah." ucapnya, seakan 'menyalahkan'ku.
Aku menghela nafas, menghilangkan gugup yang tiba-tiba saja menjalar. Akupun mencari-cari alasan, "Ya gak mungkin juga saya marah lama-lama. Saya harus bekerja disini mengurus Tuan. Kalau saya marah terus menerus, saya gak akan nyaman juga dengan pekerjaan saya. Terus saya gak betah, dan harus nyari kerja lagi. Nyari kerja di Jakarta 'kan lumayan susah. Jadi ya udah, saya maafin Tuan aja. Daripada gak dapet gaji."
"Jadi lo maafin gue gara-gara takut gak digaji?" Ghiffa melirikku tajam.
"Ya, apa lagi, Tuan? Sama... Saya gak tega juga liat Tuan semalem."
"Semalem emang gue kenapa?"
"Saya sedih aja liat Tuan sampai mabuk seperti itu dan kelihatan sangat frustasi. Saya baru kali ini lihat orang mabuk, Tuan. Saya harap sih Tuan jangan lari ke minuman lagi kalau ada apa-apa. Gak baik, Tuan. Berdosa, juga. Terus orang tua Tuan juga pasti kecewa kalau melihat Tuan kayak kemarin." Aku mencoba memberikan nasihatku padanya. Bagaimanapun Nyonya Natasha sudah menitipkan Ghiffa padaku, bukan?
"Kalau lo gak mau liat gue kayak kemarin lagi, lo harus janji jangan nyuekin gue dan jangan ninggalin gue lagi."
Maksudnya alasan Ghiffa mabuk itu karena bertengkar denganku?
"Juga ciuman 1 hari sekali diberlakukan lagi." imbuhnya.
"Kok jadi kesana sih, Tuan?" Aku meletakkan sendok yang sedang aku pegang dan menatapnya dengan serius, "Saya bener-bener pengen nanya sekarang sama Tuan. Tolong Tuan jawab dengan jujur."
"Nanya apa?" sahutnya dengan santai.
"Gini ya Tuan, Tuan itu bilang Tuan punya pacar, Tuan bilang Tuan sayang sama pacar Tuan, tapi kenapa Tuan tetep minta saya untuk mencium Tuan? Tuan mencium dan memeluk saya seakan itu bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan. Saya gak ngerti kenapa Tuan seperti itu?"
"Lo sendiri gimana? Kenapa mau nyium gue?" Ghiffa malah bertanya balik padaku.
Hatiku kembali berdesir aneh.
"Siapa yang mau?!" sanggahku, "Tuan yang suka tiba-tiba nyium saya. Tiba-tiba meluk saya. Terus perjanjian 1 hari 1 cium juga karena Tuan yang ngancem saya di balkon Tuan waktu itu."
Ghiffa menyeka mulutnya dengan tisu dan meminum segelas air putih, kemudian menatapku, "Lo bisa nolak kok. Gue gak tiba-tiba nyium lo. Di danau, gue udah kasih sinyal sama lo, gue liatin lo dan bibir lo sebelum gue nyium lo. Di hutan pinus waktu itu juga sama. Kecuali yang di resort itu emang sepenuhnya inisiatif dari gue. Tapi ciuman sebelumnya, lo punya kesempatan buat ngehindar tapi gak lo pake."
Kata-kata itu sukses membungkamku. Pintar sekali ia memutar balikkan keadaan. Kenapa juga sekarang aku malah merasa terpojok?
"Lo ngebiarin gue nyium lo, Ay." Sorot matanya tidak menunjukkan keraguan. "Itu karena lo ada rasa 'kan sama gue?"