The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 40: Ghiffa Rasa Hyuga



Tok...tok...tok...


"Ay, gue udah pulang." Terdengar suara Ghiffa mengetuk pintu kamar.


Bukan kamar pembantu yang biasa kutempati, tapi kamar baruku.


Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur. Baru sekitar 2 menit aku merebahkan tubuhku setelah aku mandi sore itu.


Aku membuka pintu dan melihat wajah tampan itu tersenyum dengan manisnya, tangannya merentang di kedua sisi tubuhnya. Dengan enggan aku mendekat pada Ghiffa dan melingkarkan tanganku di sekeliling pinggangnya, sedetik kemudian aku merasakan tangan Ghiffa merengkuh tubuhku.


"Gue kangen banget sama lo gak ketemu seharian." ucapnya, seraya mencium pundak dan mengendus leherku beberapa kali. Sekuat tenaga aku menahan diriku untuk tidak terpengaruh dengan apa yang Ghiffa lakukan terhadapku.


Ghiffa melepas pelukannya dan mencubit pipiku dengan gemas, "Senyum dong. Mau sampai kapan lo pura-pura gak seneng kalo gue peluk?"


Aku meringis kecil, "Sakit." Aku melepaskan kedua tangan Ghiffa yang mencubit pipiku.


Ghiffa kembali menaruh tangannya di kedua pipiku, namun kali ini ia mengelusnya, "Maaf."


"Saya masak dulu." Aku melangkah menuju dapur, namun Ghiffa malah menarik tanganku dan membawaku ke ruang tengah.


"Lo gak usah masak. Gue beli ini tadi." Ia meletakkan sebuah paperbag dengan logo sebuah restoran sushi. "Kita makan sushi, ya."


"Tuan gak akan mandi dulu?" tanyaku.


"Kenapa emang? Gue bau?" Ghiffa mencubit kaos latihan futsal yang ia gunakan dibalik jaket denim robek-robeknya.


Sungguh aku tidak terganggu mau dia bau keringat, wangi parfum atau shampo, mandi atau tidak. Dalam keadaan apapun, harum tubuh Ghiffa selalu bisa membuat jantungku berdetak tak karuan. Tapi aku hanya ingin dia terlihat segar saja. Mandi juga bisa membuat lelah yang Ghiffa rasakan setelah latihan futsal menjadi hilang. Sehingga ia bisa makan dengan lebih nyaman.


"Iya. Tuan bau sekali." Ucapku ketus.


Ia tersenyum melihat wajah masamku. "Ya udah gue mandi dulu."


"Kenapa gak langsung mandi seudah latihan tadi?" Biasanya Ghiffa langsung mandi setelah ia latihan futsal. Di SMA Centauri setiap ekskul olahraga memiliki ruang ganti sendiri dan terdapat kamar mandi di dalamnya khusus untuk para anggota ekskul.


"Gue buru-buru pulang soalnya pengen cepet ketemu sama lo." ucapnya ringan.


Sekarang aku harus terbiasa mendengar kata-kata 'uwu' dari Ghiffa. Kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya kapan saja, dimana saja, dan aku harus siap menerimanya.


Sudah seminggu lebih semua ini berlangsung. Setelah ia membongkar rahasianya itu dan mengatakan akan membuatku jatuh cinta sebagai Ghiffa, ia benar-benar berubah. Seperti janjinya yang akan membuatku kewalahan, ia benar-benar membuktikan perkataannya.


Lama-lama aku benar-benar harus membuat janji dengan dokter jantung jika Ghiffa terus seperti ini!


Sambil menunggu Ghiffa mandi, aku menyajikan sushi yang dibawanya di meja ruang tengah. Kini ia lebih suka makan di ruang tengah daripada di meja makan. Aku menatap sushi-sushi yang nampak indah itu. Namun aku sama sekali belum pernah memakannya. Makan ikan mentah? Aku mengernyit, benar-benar tidak penasaran dengan bagaimana rasanya.


Tak lama Ghiffa keluar dari kamarnya dengan kaos dan celana boxer. Sebuah handuk kecil ia pakai untuk mengeringkan rambutnya.


Ia duduk di sampingku, "Sekarang gue wangi 'kan?" tanyanya seperti seorang anak kecil kepada ibunya.


"Iya, Tuan sudah wangi sekarang." ucapku setuju, dengan nada yang aku coba tidak berlebihan. "Silahkan, Tuan dimakan."


Ia meraih sumpit dan mulai mengapit salah satu sushi yang ada di tray dengan berbagai macam jenis dan bentuk itu. Ghiffa mencelupkannya ke kecap asin, dan memasukkannya ke dalam mulutnya dalam sekali suap.


Ia mulai mengunyahnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya, "Enak. Lo cobain juga, Ay." Ghiffa mengambil satu sushi lagi dan mengarahkannya ke mulutku.


Aku menggelengkan kepalaku dengan pasti, "Enggak, Tuan. Makasih."


"Kenapa?" tanyanya kecewa.


"Saya gak suka sushi." cicitku.


Ghiffa terdiam sejenak. Kemudian ia seperti kelabakan, dan menutup tray sushi dengan tutupnya.


"Kenapa diberesin, Tuan? Tuan makan aja, saya gak apa-apa." ujarku tidak enak melihat Ghiffa yang langsung membereskan tray sushi itu dan memasukkannya kembali ke keresek.


Entahlah aku salah atau tidak, Ghiffa terlihat merasa sangat bersalah.


"Tuan apa sih." aku kembali membuka keresek itu, "Udah sekarang Tuan makan lagi. Sayang sushinya gak dimakan."


"Nggak, Ay. Gue gak akan makan sushi lagi." tegasnya.


Apa-apaan Ghiffa ini? Kenapa ia begitu berlebihan?


"Tapi, Tuan..."


"Kita pesen online aja ya? Atau kita keluar aja yuk. Cari makanan yang lo suka." ajaknya dengan semangat. Sebelum aku menjawab dia sudah berjalan menuju kamarnya dan tak lama keluar dengan celana ripped jeansnya dan juga jaket kulit hitamnya.


"Ayo, Ay. Lo pake jaket lo."


"Tuan, sushinya dimakan ya, sayang udah dibeli." Aku merasa bersalah juga karena aku tidak menyukainya, Ghiffa sampai tidak memakannya lagi.


"Nggak. Gue gak akan makan sushi lagi. Seumur hidup gue."


"Kok jadi gitu sih, Tuan? Masa karena saya bilang gak suka sushi Tuan jadi gak makan sushi lagi?"


Ghiffa menggelengkan kepalanya, "Maaf ya, Ay." ia meraih pipiku.


Ada apa sih dengan Ghiffa. Perihal sushi aja sampai berlebihan begini.


Tak ingin berdebat lebih panjang, akupun menurutinya untuk membawa jaketku dan kamipun pergi mengendarai motor Ghiffa untuk berkeliling mencari makanan. Karena Ghiffa memaksaku untuk memilih makanan apapun yang ingin aku makan, aku asal saja mengatakan ingin makan pecel lele, saat melihat tenda pinggir jalan ada di depan kami. Ghiffapun membelokkan motornya dan memarkirkan motornya disamping tenda.


"Tuan serius mau makan disini?" Aku tidak yakin makanan pinggir jalan seperti ini akan cocok dengan selera Ghiffa.


"Kenapa? Gue pernah kok makan di pinggir jalan gini." Ia mulai masuk dalam tenda dan memesan dua porsi pecel lele.


Kami duduk di meja panjang, di samping kanan, karena di samping kiri sudah ada pelanggan lain yang juga sedang menikmati makanan itu juga.


"Saya gak nyangka Tuan pernah makan di pinggir jalan gini." ucapku tanpa melihat ke arahnya.


"Dulu waktu masih chat sama lo sebagai Hyuga. Gue sering ikut-ikutan lo. Dulu lo pernah bilang lagi makan bubur ayam pas hari minggu di pasar kaget, gue juga nyobain."


Aku tersedak salivaku sendiri mendengar Ghiffa mengatakan itu.


"Terus pernah juga lo sarapan kupat tahu, gue juga nyobain. Lo sarapan ketoprak, gue nyobain juga. Terus lo pernah beli sate madura pas malem-malem buat bokap lo, gue juga nyobain. Bahkan gue juga jadi tahu makanan kayak seblak, cimol, dan 'jajanan per-aci-an' gara-gara pengen nyobain makanan yang sering lo makan."


Tak habis pikir aku mendengar Ghiffa yang mencoba berbagai makanan itu hanya karena aku mengatakan sedang memakannya.


Mang penjual pecel lele menghidangkan dua porsi pecel lele lengkap dengan nasi, sambal, dan juga lalaban. Ada juga dua buah mangkuk berisi air yang diberi irisan jeruk nipis.


"Kenapa? Lo tercengang segitunya gue sama lo? Udah gue bilang, Ay. Gue ini bucin sama lo." ucap Ghiffa dengan ringannya mengatakan itu dengan senyum andalannya yang selalu sukses membuatku merasakan kupu-kupu itu beterbangan lagi di dalam perutku.


"Ini unik banget minumannya dipakein mangkuk kayak gini." Ghiffa mengangkat mangkuk itu dan berniat meminumnya.


Aku segera menahan tangannya, "Jangan diminum Tuan! Itu air buat kobokan, itu buat Tuan cuci tangan."


Ghiffa tercengang dengan apa yang aku katakan, dan meletakkan kembali mangkuk berisi air itu. Aku tertawa terbahak-bahak melihat wajah Ghiffa yang begitu shock.


Ia tersenyum malu-malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aduh, Tuan ada-ada aja." Aku menghapus air yang keluar dari mataku karena terlalu puas tertawa.


Ghiffa menopang dagunya dan menatapku lekat dengan ujung bibir terangkat ke atas, "Nah gitu dong, ketawa, senyum kalo lagi bareng gue. Makin cantik tau."


Tawaku berhenti sepenuhnya.


Sial.


Kamu lengah, Ayana. Bagus sekali.