
Aku duduk bersila di lantai ruang tengah apartemen Ghiffa yang ditutupi karpet berbulu. Tangisku masih saja pecah. Aku membersihkan hidungku dengan tisu dan entah ini tisu keberapa yang aku ambil dari tempat tisu yang memang tersedia di ruang tengah itu.
"Lo mau nangis sampe kapan?" Ghiffa yang sejak tadi duduk dengan sabar di sebelahku kini mulai menggerutu.
Aku masih sesenggukan dan kembali menyeka hidungku dengan tisu. "Maaf, Tuan." ucapku di tengah isakku.
"Ini udah lebih dari 15 menit. Liat tisunya hampir abis, belum lagi liat baju gue basah gini gara-gara air mata lo. Terus liat mata lo udah kayak bola pingpong, bengkak banget."
"Saya sedih sekali, Tuan. Sampai rasanya air mata saya gak bisa berhenti. " Aku terbata-bata karena suara yang tercekat.
"Lo beneran ART paling ngerepotin." Ghiffa ikut menyeka air mataku dengan tisu yang dipegangnya.
Aku tertegun dengan sikap Ghiffa. Jalan pikirannya betul-betul tidak bisa ditebak. Kadang ia begitu galak dan menyebalkan sampai aku ingin berteriak di depan wajahnya dan angkat kaki dari apartemen ini. Kadang juga diam-diam ia begitu perhatian dan sangat manis hingga aku kerap kali salah paham.
Pernah suatu waktu, tanganku tidak sengaja terkena minyak panas saat aku menggoreng dan salep yang biasanya tersedia di kotak P3K justru habis. Kemudian tiba-tiba Ghiffa pergi begitu saja dan kembali dengan salep untuk luka bakar. Ia berdalih membeli rokok, sekalian membeli salep itu karena ia khawatir jika suatu waktu ia terkena luka bakar dan salep itu tidak ada, itu akan merusak kulitnya.
Pernah juga aku terlambat menyajikan makan malam karena perutku sakit. Saat itu adalah hari pertamaku menstruasi. Dia memarahiku seperti biasa. Sekuat tenaga aku menahan rasa sakit itu dan mulai bangkit dari tempat tidurku. Namun ia malah mengatakan tidak ingin makan di rumah karena tidak mau menungguku memasak. Iapun pergi dan makan di luar.
Satu jam kemudian dia kembali dengan membawa kompres anti nyeri dan jamu kemasan botol yang sering dijual di minimarket yang memang tersedia untuk meredakan nyeri haid. Juga, sebungkus nasi goreng yang ia beli di pedagang nasi goreng yang sering mangkal tidak jauh dari apartemen. Aku sampai tidak bisa berkata-kata, bagaimana bisa dia membeli hal-hal yang biasanya sangat enggan dibeli oleh seorang cowok.
Itu hanya beberapa saja. Tanpa aku sadari perhatian-perhatian kecilnya sering aku dapatkan selama bekerja disini. Di balik mulutnya yang selalu saja mendumel padaku, dia punya hati yang sangat hangat.
Tentunya itu semua terjadi sebelum kejadian di resort waktu itu.
Termasuk dengan yang dilakukannya kali ini. Cukup lama ia memelukku dan menenangkanku, hingga tanpa sadar bagian dada sebelah kiri dari kaos yang dikenakannya basah karena air mataku. Dia mengajakku duduk di ruang tengah dan menemaniku yang tak bisa berhenti menangis.
Aku tidak tahu sejak kapan aku dan Ghiffa menjadi sedekat ini. Aku benar-benar tidak menyadarinya. Interaksi yang sangat aneh antara ART dan majikannya, bukan?
"Lo kenapa sih nangis sampe kayak gini?" tanya Ghiffa yang sepertinya sejak tadi menahan rasa penasarannya.
Isakku sudah sedikit berkurang, "Saya, baru diputusin sama pacar saya, Tuan." Akhirnya aku memutuskan untuk memberitahukannya.
"Tuan gak tahu, saya itu sayang banget sama dia." kembali terisak.
"Sesayang itu lo sama si Zayyan?"
Aku mengangguk. "Iya, Tuan. Sayang banget. Saya belum mau putus, tapi dia malah putusin saya." aku kembali sesenggukan. "Tapi Tuan, pacar saya bukan Zayyan. Ternyata dia bohong. Dia tuh siswa di SMA Centauri juga, tapi minta Zayyan buat pura-pura jadi dia. Saya marah sama dia karena udah bohong makanya saya minta putus. Saya lagi emosi, saya gak bener-bener ngajak dia putus. Tapi.. Tapi.. Dia malah pengen putus beneran tanpa ngejelasin sama saya siapa dia sebenernya. Padahal.. Saya masih sayang sama dia.. Tapi kayaknya dia gak sesayang itu sama saya."
Aku malah curhat padanya. Entah mengapa saat Ghiffa menyebutkan nama Zayyan aku jadi ingin mengklarifikasi.
"Udah lo gak usah nangis lagi. Gue juga sama, semalem baru putus sama cewek gue."
Aku terperangah. Aku dan Ghiffa memiliki nasib yang begitu sama, "Kok bisa Tuan? Bukannya tanggal jadian saya dan Tuan juga sama? Sekarang putus juga di waktu yang sama?"
"Ya mana gue tahu." ucapnya santai.
"Makanya kemarin Tuan mabuk-mabukan ya?"
"Iya, dikit." Cicitnya.
"Dikit apanya, Tuan. Tuan itu sampai gak sadar dan ngomongnya ngelantur kemana aja. Tuan sadar gak sampai nyangkanya saya itu pacarnya Tuan."
"Masa sih?" Sepertinya Ghiffa tidak terlalu mengingatnya.
"Iya, Tuan bilang 'yang' ke saya. Kayaknya Tuan belum pengen putus juga ya sama pacarnya?" tanyaku.
Ekspresi wajah Ghiffa berubah serius. Ia menatapku dengan lekat, "Gue putusin dia bukan karena gue udah gak sayang sama dia. Tapi gue pengen sayang sama dia dengan cara yang berbeda."
"Cara yang beda gimana, Tuan?"
"Gue udah suka sama dia sejak beberapa bulan lalu. Tapi baru jadian selama sebulan terakhir. Selama itu gue gak sepenuhnya jujur sama dia. Ada hal yang gue sembunyiin dari dia. Jadi mulai sekarang gue bakal nyoba buat bikin dia kenal gue lebih jauh, luar dalem. Baru setelah itu, gue bakal nembak dia lagi."