The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 96: Tidak apa-apa



Perlahan aku membuka mataku. Kepalaku sakit sekali.


"Na? Lo udah sadar?" Terdengar suara sahabatku, Belva. Aku melihat ia disampingku menatapku khawatir.


Kesadaranku perlahan kembali sepenuhnya. Aku berbaring di sebuah ranjang, "Bel, aku..di rumah sakit?"


"Iya, Na. Lo pingsan sejak tadi dibawa dari apartemen V. Gue lega banget lo udah bangun." Belva mengusap rambutku pelan.


Apartemen V?


Aku baru ingat. Seseorang membekap mulutku dan membawaku ke tangga darurat. Aku terus meronta-ronta dan berhasil menggigit tangan orang yang membekapku hingga tiba-tiba ada orang lain di tangga darurat itu yang membekap mulutku dengan sesuatu. Aku mencium bau yang menyengat dan kemudian aku pingsan. Setelah itu aku tidak ingat apapun lagi.


"Sebenernya lo kenapa, Na? Ghaza ngapain bawa lo ke apartemen itu?"


Aku mengerutkan keningku, "Ghaza? Ghaza yang bawa aku? Apartemen apa? Aku sama sekali gak inget, Bel!" Seketika aku panik sekali.


"Lo gak usah khawatir, lo udah diperiksa kok. Dokter bilang lo baik-baik aja. Tapi Ghiffa... "


"Aa kenapa, Bel?" Seketika aku bangkit dari posisi berbaringku begitu mendengar nama suamiku disebut Belva, "Dimana A Ghiffa, Bel?"


"Ghiffa pingsan seudah nyelametin lo. Lambungnya sempet pendarahan, dia sampai muntah darah. Tapi udah transfusi dan sekarang lagi diinfus."


Ya Tuhan, Aa!


Air mataku berjatuhan melintasi pipiku mengetahui keadaan suamiku. "Aku mau ketemu Aa." Aku beringsut dari ranjang.


Dengan terburu aku berlari menuju pintu ruang inap. Di luar aku melihat Theo, Max, dan juga Om Lucas.


"Ay, kamu udah sadar?" Om Lucas segera menghampiriku.


"Aa mana Om?" Tanyaku panik.


"Ghiffa di dalem." Om Lucas menunjuk ke sebuah ruang inap yang terletak disebelah ruang inapku.


Aku segera masuk kesana. Aku melihat suamiku terbaring di ranjang, wajahnya pucat sekali. Sakit sekali hatiku melihatnya seperti itu. Aku menghampirinya perlahan dan duduk di sampingnya. Aku menguasai diriku, sekuat tenaga aku menahan isakku. Aku tidak ingin Ghiffa merasa sedih melihatku seperti ini.


Perlahan aku meraih tangan kanannya, sedangkan tangan sebelah kirinya diinfus. Kuletakkan tangannya yang besar dan hangat itu dipipiku.


Tidak bisa.


Aku tak bisa menahannya. Isakku lolos begitu saja dari bibirku. Tidak tega rasanya melihat Ghiffa terbaring lemah seperti ini. Suamiku yang selalu kuat, kini terbaring lemah tak berdaya.


Ghiffa perlahan membuka matanya, "Yang..." lirihnya.


"Aa..." Tangisku pecah. "Aa..." Terus aku sebut namanya di tengah tangisku.


"Hey... aku gak apa-apa." Ghiffa berusaha menenangkanku dengan wajahnya yang pucat pasi.


"Aa kenapa bisa kayak gini. Gara-gara aku..." Tangisku menjeda ucapanku.


"Aku gak apa-apa, Sayang. Yang penting aku udah nemuin kamu lagi. Kamu udah bareng aku lagi sekarang." Senyum merekah di bibirnya.


Semakin Ghiffa mengatakan tidak apa-apa aku semakin merasa bersalah dan tangisku semakin kencang. Aku menatap ke arah perutnya. "Tapi Aa sampai muntah darah..." tangisku terus pecah.


"Gak apa-apa, Yang. Ini dasar aja Om Lucas sama Theo maksa-maksa aku buat dirawat kayak gini. Padahal aku gak apa-apa, kok. Tuh liat....ah..." Ghiffa memaksakan diri untuk bangkit, baru juga setengah duduk ia sudah mengaduh kesakitan.


"Aa jangan bohong! Udah Aa jangan banyak gerak dulu. Gak usah bilang gak apa-apa terus. Muka Aa tuh pucet banget." Aku terus terisak. "Ya ampun kenapa Aa sampai kayak gini sih."


"Yang harus dikhawatirin itu kamu. Kamu gak tahu aku kayak orang gila waktu nyariin kamu. Aku takut banget terjadi apa-apa sama kamu, Yang."  Kini Ghiffa membawa tanganku menuju bibirnya dan mengecupnya. "Dokter sampai periksa kamu. Aku takut Ghaza nyentuh kamu. Tapi kata dokter gak ada sp*rma Ghaza di rahim kamu."


"Aku gak apa-apa, A. Sebenernya...aku gak inget apa-apa." ujarku seraya menyeka air mataku.


"Gak inget apa-apa?"


Aku mengangguk, "Belva barusan bilang kalau Tuan Ghaza yang bawa aku. Tapi aku gak inget apapun, A."


"Coba kamu ceritain sama aku dari awal."


"Waktu aku udah dari toilet itu aku gak nyampe 5 menit aku langsung keluar mau nemuin aa di lounge lobi hotel. Pas keluar dari toilet ada yang ngebekap mulut aku A terus nyeret aku ke arah tangga darurat. Aku gak tahu siapa. Tapi aku sempet gigit tangannya sampai dia lepasin aku tapi ternyata dia gak sendirian. Ada orang lain yang bekap aku pake kain gitu dan aku nyium bau yang nyengat banget. Terus aku pusing dan udah itu aku gak inget apa-apa lagi sampai aku sadar barusan." Kedua mataku terasa panas kembali, "Aku malah gak sadar pas Aa susah payah nyariin aku. Maafin aku, A."


"Sini." Ghiffa merentangkan tangan kanannya.


Aku merubah posisi dudukku dan merebahkan kepalaku diantara dada dan tangannya. Kuangkat kakiku ke atas ranjang dan memeluknya. Ku usap pelan perutnya. "Yang ini yang sakit, A?" Air mataku kembali menetes.


"Iya. Tapi udah gak sakit kok." Ghiffa mengelus rambutku, "Aku bakal bikin perhitungan sama Ghaza."


"Aa jangan kebawa emosi. Lagian aku 'kan gak apa-apa."


"Nggak, Yang. Dia harus aku kasih pelajaran. Dengan nyulik kamu kayak gini dia udah ngibarin bendera perang. Liat aja dia bakal nyesel udah ngelakuin ini sama kamu. "


Aku tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi aku memang merasa perbuatan Ghaza keterlaluan. Tapi disisi lain aku tak ingin membuat masalah ini semakin besar.


Sudahlah yang terpenting sekarang adalah aku sudah selamat. Ghiffa juga sudah membaik. Kita pikirkan hal itu nanti.


Keesokan harinya Ghiffa sudah diperbolehkan pulang. Ia beristirahat di rumah sementara aku pergi ke kampus. Ada bimbingan dengan dosen pembimbing akademikku mengenai semester depan. Ini juga hari terakhir aku ke kampus sebelum libur semester.


Hari ini aku tidak bersama dengan Belva, selain dosen pembimbing akademik kami berbeda juga ia ada pemotretan hari ini. Setelah bimbingan itu selesai aku berniat untuk secepatnya pulang. Ghiffa masih sakit, jadi aku ingin cepat bertemu dengannya.


Tadi pagi juga aku pergi bersama dengan dua orang anggota Centaur Squad, Seno dan Victor. Ghiffa mengatakan mulai sekarang kemanapun aku pergi aku harus dikawal. Ia tidak ingin mengambil resiko.


Aku yang memang masih trauma hanya bisa menurut. Aku juga belum begitu merasa aman jika pergi sendiri.


"Mbak perpus, balik sekarang?" Tanya Seno saat aku keluar dari ruang pertemuan. Seno dan Victor memang menunggu di luar ruangan sejak tadi. Aku mengatakan pada mereka untuk menunggu di kantin fakultas saja, tapi mereka bersih keras harus ada pada jarak sedekat mungkin denganku.


Seperti itu pesan Ghiffa. Sampai seperti itu Ghiffa membuat penjagaan untukku sekarang.


"Iya. Kasian A Ghiffa nunggu." jawabku seraya berjalan menuju lift.


Tiba-tiba ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk.


Bulu kudukku berdiri tatkala melihat notifikasi yang muncul itu adalah pesan dari Ghaza.


Seketika aku terpaku, menelan salivaku. Dengan jantung bergemuruh aku membuka pesan itu. Ia mengirimkanku sebuah video.


Aku menunduhnya. Video apa ini?


Akupun menyentuh tanda play pada video yang sudah selesai terunduh itu.


Baru dua detik segera aku hentikan video itu. Berusaha aku untuk terlihat biasa di depan Seno dan Victor yang sudah siap memasuki lift yang sudah terbuka, "Maaf kayaknya aku pengen ke toilet dulu."


Aku segera berlari ke toilet di lantai itu. Sebenarnya dua detik pertama dalam video itu sudah menjawab semuanya.


Perasaanku yang sudah lega kembali kalut. Dan hatiku sungguh remuk.


Aku harus menonton video itu sampai habis. Aku harus tahu apa yang terjadi padaku selama aku tak sadarkan diri.