
"Mau gue cium biar lo berhenti ketawa?" ancamnya.
Seketika aku berhenti tertawa dan mengatupkan bibirku. "Ya udah saya telepon supir aja buat antar Tuan ke sekolah."
Aku segera membuka ponselku dan menghubungi Bi Susi.
"Gimana?" Tanya Ghiffa saat aku mematikan teleponku.
Aku menghela nafas, "Tuan dilarang juga menggunakan supir."
"Terus gue harus gimana?!" Ucapnya frustasi.
"Pilihannya, Tuan saya antar atau jalan." tegasku.
"Pesenin taksi online aja."
Kadang aku heran kenapa aku bisa jatuh cinta pada cowok manja ini.
"Tuan mau bayar pakai apa taksi onlinenya?" tanyaku.
"Gue minjem uang lo dulu. Bulan depan gue ganti."
Aku mendecak, "Gak boleh. Nanti Tuan kebiasaan tiap hari harus pake taksi. Kalau uang saya gak bisa buat sampai ke akhir bulan gimana? Udah sekarang Tuan mau saya anterin, atau jalan?"
Ghiffa malah mengacak-acak rambutnya.
"Saya udah terlambat, Tuan. Kalau mau ikut saya, sekarang ayo berangkat. Kalau nggak, saya duluan." ucapku sambil berlalu.
"Ya udah gue ikut!" sahutnya.
Beberapa saat kemudian kami sudah sampai di depan gerbang SMA Centauri. Aku turun dari motorku yang dikendarai oleh Ghiffa.
"Lo mau ketawa sampai kapan sih, Ay?" protesnya sambil melepas helmnya.
"Abisnya... Abisnya... " Aku kesulitan bicara karena tawaku tak mau berhenti. Aku tertawa bahkan sampai air mataku keluar.
"Abisnya.. Abisnya.. " beo Ghiffa tak terima karena sejak kami pergi aku tak berhenti mentertawakannya.
"Maaf, Tuan. Abisnya.. Tuan lucu banget. Beneran kayak anak kecil lagi main motor-motoran. Mana pake helm fullface lagi. Lagian Tuan punya kaki panjang banget. Saya aja pake motor ini tuh masih jinjit." Akhirnya tawaku sedikit mereda.
Ghiffa turun dari motor dengan jengkel. "Ngapain lo liatin gue?" ucapnya galak pada beberapa siswa yang melihat ke arah kami.
"Tuan, udah dong jangan galak lagi." tegurku.
"Lo beliin gue helm yang biasa. Biar gue gak saltum pake motor pendek lo itu tapi pake helm begini." Dumelnya sambil menenteng helm fullfacenya.
"Beli yang sesuai budget saya tapi ya. Tuan jangan banyak protes nanti kalau gak sesuai sama kepengennya Tuan." ucapku.
Ghiffa terlihat berpikir. "Tapi gue gak percaya sama selera lo. Ntar gue pulang lo jemput gue. Kita beli helmnya bareng-bareng."
"Tuan jangan merendahkan ya." Aku tidak terima dengan ucapannya. "Saya punya selera tinggi, loh."
"Masa?" ucapnya tak percaya.
"Kalau selera saya gak tinggi, saya gak akan suka sama tuan!"
Seketika Ghiffa tersenyum penuh arti. Berbeda denganku yang malah gelagapan.
"Jadi lo udah ngakuin kalau lo suka sama gue? Kemarin lo udah berani nyium gue. Sekarang lo bilang suka. Bentar lagi pasti lo bakal mau jadi pacar gue." ujar Ghiffa sumringah.
"Apa, sih Tuan." Aku salah tingkah. "Saya harus berangkat sekarang." Aku segera mengambil alih kemudi motorku. Kali ini justru Ghiffa yang tidak berhenti tertawa melihat tingkahku.
"Nih, Tuan. Makan siang untuk Tuan. Dimakan ya nanti. Jangan sampai Tuan gak makan karena gak ada uang jajan."
Ghiffa menerima kotak makan siang itu dengan wajah tercengang. Sepertinya ia tidak menyangka aku menyiapkan bekal untuknya. Sudah lama aku ingin melakukan hal-hal seperti ini, tapi sayangnya aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Aku merasa percaya diri, Ghiffa pasti terharu karena aku begitu perhatian padanya. Lihat saya wajahnya yang tidak berkata-kata.
"Ay, Gue bukan anak TK, malu gue makannya nanti." Ucapnya dengan 'tiis'nya.
Seketika senyumku memudar.
Ternyata aku berharap terlalu banyak. Aku sempat lupa betapa menyebalkannya Tuan mudaku ini!
"Ya udah sini! Buat saya aja. Biar Tuan kelaperan aja sana!" ujarku jengkel sekali, tanganku mengulur padanya.
Ghiffa malah tertawa jahil, "Lo sensi amat sih." Ia menyembunyikan kotak makan siangnya di belakang punggungnya. "Ini kan udah lo kasih buat gue. Malah diminta lagi."
Aku memajukan sedikit bibirku, kesal sekali padanya. "Saya pergi."
"Dadah, Aya. Hati-hati ya bawa motornya. Belajar yang rajin." Ia menepuk pelan helm yang aku gunakan.
Emang aku anak kecil apa?!
Segera aku melajukan motorku. Bisa darah tinggi lama-lama jika aku terlalu lama berada bersamanya.
Siang harinya seperti biasa, ada jeda waktu sekitar satu jam sebelum kelas selanjutnya. Aku dan Belva memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran yang cukup high class di dekat kampus.
"Bel, serius kamu mau traktir aku makan disini?" Aku melihat menu dan tercengang dengan harganya.
"Pesen aja sih, Na. Gue traktir." Ia masih sibuk melihat-lihat buku menu.
"Kamu terus yang traktir. Aku jadi gak enak." Keluhku.
"Ya gak apa-apa dong. Ntar juga kalau lo ada kesempatan harus traktir gue."
"Iya deh. Makasih ya. Tadinya aku udah niat pengen traktir kamu makan. Tapi bulan ini aku harus hemat."
"Hemat buat apa lagi sih, Na? Lo itu udah hemat banget. Lo di kampus jarang banget jajan, kebanyakannya bekel. Lo minta naik gaji napa sih sama si Ghiffa."
"Naik gaji apaan, Bel. Dia malah sekarang juga lagi dihukum gak dikasih uang jajan. Lagian yang ngegaji aku itu 'kan Nyonya Natasha, bukan Ghiffa."
"Dihukum? Gara-gara dia nolak saham itu kemarin di depan semua orang?" Belva mengetahui kejadian itu dari Jonathan. Kami sempat mengobrol mengenai pertemuanku dengan Jonathan tadi pagi saat kami bertemu.
"Iya. Dan aku yang jadi kena getahnya juga. Tadi aja dia minta dipesenin taksi gara-gara mobil sama motornya disita. Manja banget emang dia." gerutuku.
"Ya ampun, sabar ya." Belva bersimpati, "Eh, Na. Tau gak, Jo cerita sama gue kalau Ghaza kaget banget. Bener-bener yang shock banget Ghiffa nolak saham yang dikasih ayahnya ke dia. Sampai-sampai Ghaza sempet ngelamun lama banget seudah ngeliat Ghiffa kayak gitu. Padahal katanya biasanya Ghaza itu gak pernah kayak gitu."
"Oh ya? Kenapa Tuan Ghaza kayak gitu?"
"Gue gak berani nanya. Gue 'kan belum sedeket itu sama dia. Kita ngobrolin itu juga sekedar ngobrol aja."
Aku teringat wajah Ghaza yang memang terlihat sangat shock saat itu. Juga tetiba terbersit kejadian perdebatannya dengan Ghiffa. Yang bisa aku tangkap, Ghaza bukan merebut Olivia dari Ghiffa karena Ghaza mencintai Olivia. Tapi karena Ghaza membutuhkan pertunangan itu agar bisa menjalin semacam kerjasama dengan perusahaan milik ayah Olivia.
Kalau benar begitu, berarti Ghaza benar-benar jahat.
Aku juga teringat Ghiffa seperti menahan segala ucapan dan emosinya saat itu. Apakah karena ada aku disana?
"Na," Belva tertegun melihat sesuatu sambil memegang lenganku.
"Kenapa, Bel?"
Tangannya menunjuk sesuatu, spontan akupun melihat ke arah yang ia tunjukkan. "Itu, Olivia." ucap Belva.